Beriman Kepada Allah SWT  

islamic12

Pasal ini merupakan pasal yang paling penting kedudukannya dan paling agung nilainya. Sebab, seluruh kehidupan seorang Muslim berpusar di situ dan terbentuk karenanya. Ia adalah dasar segala prinsip di dalam sistem umum bagi kehidupan seorang Muslim secara keseluruhan. Seorang Muslim beriman kepada Allah SWT dalam arti, dia meyakini wujud (adanya) Allah Yang Mahasuci, dan bahwa sesungguhnya Dia adalah pencipta langit dan bumi, Maha Mengetahui yang ghaib dan yang tampak, Rabb (Pencipta, Penguasa, Pengatur) segala sesuatu dan Pemiliknya. Tiada tuhan (sembahan) yang berhak disembah kecuali Dia, dan tiada rabb selain Dia. Dan (meyakini) bahwasanya Dia bersifat dengan segala sifat kesempurnaan, dan suci dari segala kekurangan. Yang demikian itu adalah karena petunjuk Allah SWT kepadanya (seorang Muslim) [Sebagai dalilnya adalah Firman Allah SWT, “Dan sungguh kami tidak akan mendapat petunjuk sekiranya Allah tidak memberi petunjuk kepada kami.” (Al-A’raf: 43)], kemudian karena dalil-dalil naqli dan ‘aqli berikut ini:

Dalil-dalil Naqli

  1. Allah sendiri memberitakan tentang wujudNya, tentang rububiyahNya atas makhlukNya dan tentang asma`Nya (nama-namaNya) dan sifat-sifatNya. Berita tersebut ada di dalam Kitab Suci al-Qur’an.

Di antaranya adalah FirmanNya,

“Sesunggahnya Rabbmu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, lala Dia bersemayam di atas ‘Arasy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakanNya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang, (masing-masing) tundak dengan perintahNya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha penuh berkah Allah, Rabb semesta alam” (Al-A‘raf: 54).

Juga FirmanNya tatkala Dia menyeru Nabi Musa AS dari sebatang pohon, di tepi kanan sebuah lembah, di suatu tempat yang diberkahi,

“Hai Musa, sesungguhnya Aku adalah Allah, Rabb semesta alam.” (Al-Qashash: 30).

Juga FirmanNya,

“Sesungguhnya Aku adalah Allah, tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingatKu.” (Thaha: 14).

Juga FirmanNya dalam mengagungkan DiriNya serta menyebutkan nama-nama dan sifat-sifatNya,

“Dia-lah Allah Yang tiada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang Mengetahai yang ghaib dan yang nyata, Dia-lah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Dia-lah Allah Yang tiada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Raja, Yang Mahasaci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Mahaperkasa, Yang Mahakuasa, Yang Memiliki Segala Keagungan, Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Dia-lah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Nama-nama Yang Paling baik. Bertasbih kepadaNya apa yang ada di langit dan di bami. Dan Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (Al-Hasyr: 22-24).

Dan firmanNya di dalam memuji DiriNya,

“Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam; Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang; Yang menguasai Hari Pembalasan.” (Al-Fatihah: 2-4).

Juga firmanNya kepada kita kaum Muslimin,

“Sesungguhnya (agama tauhid) inilah agamamu, agama yang satu, dan Aku adalah Rabbmu, maka sembahlah Aku.” (Al-Anbiya`: 92).

Dalam surat Al-Mu`minun ayat 52 disebutkan,

“Dan Aku adalah Rabbmu, maka bertakwalah kepadaKu.”

Juga firmanNya di dalam membatalkan klaim adanya rabb selain Dia, atau adanya ilah (sembahan) selain Dia di langit ataupun di bumi, “Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, niscaya hancurlah keduanya. Maka Mahasuci Allah yang mempunyai ‘Arasy dari apa yang mereka sifatkan.” (Al-Anbiya’: 22).

  1. Berita dari lebih 124.000 nabi dan rasul tentang wujud Allah rububiyahNya bagi semesta alam, tentang penciptaanNya terhadap alam semesta ini dan penguasaanNya; dan tentang asma’ dan sifat-sifatNya.

Tidak ada seorang nabi atau rasul pun di antara mereka melainkan Allah telah berfirman kepadanya, atau mengutus seorang utusan kepadanya atau diwahyukan kepada hati dan akalnya sesuatu yang memastikan bahwa apa yang disampaikanNya itu adalah Firman (kalam) dan wahyu dari Allah kepadanya.

Berita yang disampaikan oleh sejumlah besar manusia pilihan tersebut tidak memungkinkan bagi akal sehat untuk mendustakannya, sebagaimana tidak mungkin jumlah sebesar itu sepakat untuk berdusta dan menyampaikan berita tentang sesuatu yang tidak mereka ketahui, tidak mereka yakini dan tidak memastikan kebenarannya, palahal mereka adalah manusia pilihan, manusia yang paling suci jiwanya, paling cerdas akal pikirannya dan paling benar pembicaraannya.

  1. Keyakinan dan kepercayaan milyaran manusia tentang wujud (adanya) tuhan pencipta alam semesta serta ibadah dan ketundukan mereka kepadaNya. Biasanya manusia dapat mempercayai satu atau dua orang, maka apalagi kalau dari sekelompok, satu umat dan jumlah manusia yang tidak terhitung, ditambah dengan kesaksian akal dan fitrah atas validitas (keshahihan) tuhan yang mereka yakini dan mereka beritakan, dan mereka beribadah serta bertaqarrub (mendekatkan diri) kepadaNya.
  2. Berita yang disampaikan oleh jutaan ulama tentang wujud Allah, sifat-sifat dan nama-namaNya, rububiyahNya atas segala sesuatu, dan kekuasaanNya atas segala sesuatu, maka dari itu mereka beribadah, menyembah dan patuh kepadaNya, cinta karenaNya dan benci karenaNya pula.

Dalil-dalil ‘Aqli

  1. Adanya alam semesta dan makhluk yang beraneka ragam memberikan kesaksian akan wujud sang pencipta, yaitu Allah SWT, karena tidak ada seorang pun di alam raya ini yang mengklaim telah menciptakan alam raya ini beserta isi-isinya selain dari Allah SWT. Akal manusia pun menyatakan mustahil (tidak mungkin) adanya sesuatu tanpa adanya sang pencipta (yang mengadakan), bahkan juga akan menyatakan mustahil akan adanya sesuatu yang sangat sederhana tanpa ada yang mengadakannya, seperti adanya makanan tanpa adanya orang yang berupaya untuk memasaknya, atau adanya hamparan di bumi tanpa adanya yang menghamparkannya. Maka bagaimana dengan alam raya yang luar biasa besarnya yang terdiri dari langit dengan segala planet-planet yang dikandungnya, matahari, bulan dan bintang-bintang, semuanya berbeda besar dan kecilnya, bentuk dan rupanya, dimensi-dimensinya dan pergerakarmya; bumi dengan segala apa yang ada di permukaannya, seperti manusia, jin dan berbagai hewan dengan segala jenis dan spesiesnya dan dengan segala perbedaan warna dan bahasa, perbedaan pengetahuan dan pemahaman, karakteristik dan ciri, dan dengan segala apa yang dikandungnya seperti barang-barang tambang yang bermacam-macarn warna dan kegunaannya; dengan segala sungai yang mengalir, daratan yang diliputi lautan dan samudera, serta dengan segala macam tumbuh-tumbuhan, pepohonan yang beraneka macam buah-buahannya, yang berbeda-beda pula macam dan jenisnya, rasa dan baunya, kekhususan dan kegunaannya.
  2. Adanya firmanNya pada kita yang selalu kita baca dan kita hayati serta kita pahami maknanya merupakan bukti atas wujud Allah, karena sangat mustahil ada pembicaraan (kalam) tanpa adanya pembicara (mutakallim) atau adanya ucapan tanpa adanya yang mengucapkan.

Jadi, kalam atau firman Allah SWT itu menunjukkan wujudNya, apalagi firmanNya itu mengandung ajaran yang paling kokoh dan sempurna yang pernah diketahui oleh manusia, dan undang-undang (aturan) yang paling bijaksana yang merealisasikan berbagai kebaikan bagi umat manusia. Ia juga meliputi teori-teori ilmiah yang paling benar, serta meliputi berbagai masalah ghaibiyah dan peristiwa-peristiwa bersejarah. Dan di dalam sernua hal itu ia sangat tepat dan benar; tidak ada suatu hukum (aturan) pun dari hukum-hukum yang dikandungnya yang tidak merealisasikan kegungan dan manfaatnya sepanjang zaman, sekalipun waktu dan tempat berbeda. Tidak ada satu teori pun dari teori-teori yang ada di dalamnya yang kadaluarsa, dan tidak ada satu masalah ghaib pun yang tidak terbukti dari perkara-perkara ghaibiyah yang diberitakannya. Dan tidak ada seorang pun ahli sejarah yang berani membatalkan satu kisah dari kisah-kisah yang dimuat di dalam FirmanNya, lalu kemudian ia mendustakannya, atau mampu mendustakan atau menafikan (meniadakan) satu kejadian dari kejadian-kejadian bersejarah yang disebutkan dan diinformasikan secara rinci.

Ucapan (kalam) yang bijaksana lagi benar seperti itu membuat akal menjadi mustahil akan menisbatkannya kepada seorang manusia, karena kalam seperti itu di luar kemampuan manusia dan di luar tingkat pengetahuan mereka. Maka apabila sudah tidak mungkin lagi dikatakan bahwa kalam (Firman, al-Qur`an) adalah ucapan manusia, maka ia adalah kalum (Firman) Sang Pencipta manusia dan sekaligus sebagai dalil atas wujud, ilmu, Qudrat (kekuasaanNya), dan kebijaksanaanNya.

  1. Adanya sistem yang sangat teratur rapi seperti ini, yang tercermin pada sunnah kauniyah (sunnatullah) di dalam penciptaan, pembentukan, pertumbuhan dan pengembangan bagi seluruh makhluk hidup yang ada di alam semesta ini. Sesungguhnya, semuanya patuh dan tunduk kepada sunnatullah, tidak dapat keluar darinya bagaimana pun jua. Sebagai contoh adalah manusia, ia diciptakan bermula dari sperma yang tercurahkan ke dalam rahim, kemudian melalui beberapa fase yang sangat ajaib di mana tidak ada seorang pun selain Allah yang ikut campur di situ, lalu keluar darinya sebagai sosok manusia yang sempurna. ltu adalah dalam masa penciptaan dan pembentukannya.

Demikian pula pertumbuhan dan perkembangannya, dari bayi dan anak-anak hingga menjadi seorang remaja dan dewasa, dan terus berlanjut memasuki masa tua.

Sunnah umum yang terjadi pada manusia dan hewan seperti tersebut di atas juga berlaku pada pepohonan dan tumbuh-tumbuhan.

Demikian pula langit dan benda-benda yang ada di dalamnya, semuanya tunduk dan patuh kepada aturan dan sunnah yang telah ditetapkan kepadanya, tidak pernah menyimpang darinya dan tidak pernah keluar dari jalurnya. Maka, kalau saja terjadi penyimpangan atau sejumlah planet keluar dari garis edarnya, niscaya hancurlah alam semesta ini dan berakhirlah kehidupan ini!

Berdasarkan dalil-dalil ‘aqli yang logis dan naqli seperti di atas, maka seorang Muslim beriman kepada Allah SWT kepada rububiyahNya atas segala sesuatu dan ilahiyahNya bagi manusia terdahulu dan manusia masa kini. Atas dasar dan prinsip keimanan dan keyakinan ini pulalah kehidupan seorang Muslim dengan segala aspeknya terbentuk.

Referensi : Syaikh Abu Bakar Jabir Al Jaza’iri, Minhajul Muslim, Darul Haq, Jakarta, 2016

Baca juga : 

Hello. Add your message here.