Beriman Kepada Nama-nama dan Sifat-sifat Allah SWT

islamic12

Seorang Muslim beriman kepada Asma` al-Husna (Nama-nama yang terbaik) yang dimiliki Allah SWT dan sifat-sifatNya yang teragung, dengan tidak mempersekutukan siapa pun denganNya di dalam Asmu’ al-Husna dan sifat-sifat tersebut. Ia tidak menta’wilkannya (menginterpretasikannya dengan arti yang tidak sesuai dengan maksudnya, pent.) sehingga menta’thil (meniadakan sifat tersebut), dan tidak pula melakukan tasybih (menyerupakan nama dan sifat Allah) dengan sifat-sifat makhluk, lalu menanyakan hakikat sifatNya (takyif) atau menyerupakan dengan sifat-sifat makhluk, karena yang demikian itu mustahil adanya.

Jadi, seorang Muslim itu meyakini dan menetapkan semua nama dan sifat yang ditetapkan oleh Allah SWT bagi DiriNya dan yang ditetapkan oleh RasulNya untukNya; ia menafikan (meniadakan) segala cela dan kekurangan yang dinafikan oleh Allah dariNya atau dinafikan oleh RasulNya dariNya, baik secara global maupun secara terperinci. Yang demikian itu berdasarkan dalil-dalil naqli dan ‘aqli berikut ini:

Dalil-dalil Naqli

  1. Adanya berita dari Allah SWT tentang nama-nama dan sifat-sifatNya, di mana Dia berfirman,

“Hanya milik Allah Asma’ al-Husna, maka bermohonlah kepadaNya dengun menyebut Asma` al-Husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-namaNya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (Al-A‘raf: 180).

Dan FirmanNya juga,

“Katakanlah, ‘Serulah Allah, atau serulah ar-Rahman (Yang Maha Pengasih). Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai Asma` al-Husna (nama-nama yang terbaik)’.” (Al-lsra`: 110).

Allah SWT telah menegaskan bahwa DiriNya Maha Mendengar (Sami’) lagi Maha Melihat (Bashir); Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana; Mahakuat lagi Mahaperkasa; Mahalembut lagi Maha Mengetahui segala sesuatu yang tersembunyi; Maha Mensyukuri lagi Maha Penyantun; Maha Pengampun lagi Maha Penyayang; dan sesungguhnya Dia telah berbicara kepada Nabi Musa, bersemayam (istiwa`) di atas Arasy dan menciptakan dengan kedua TanganNya dan bahwasanya Dia mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan, meridhai orang-orang yang beriman, dan sifat-sifat dzatiyah (yang berhubungan dengan DiriNya) dan sifat-sifat fi‘liyahNya (sifat-sifat yang berhubungan dengan perbuatanNya yang lain, seperti kedatanganNya, turun (nuzul)Nya) yang Dia tegaskan di dalam kitab suci al-Qur`an dan yang diucapkan oleh Rasulullah SAW

  1. Berita dari Rasulullah SAW tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah yang tertera di dalam hadits-hadits shahih yang sangat jelas, seperti sabda beliau,

“Allah tertawa kepada dua orang lelaki, yang salah seorang dari keduanya membunuh yang lain, namun keduanya masak surga.“ [Muttafaq ‘alaih; al-Bukhari, no. 2826; Muslim, no. 1890]

“Neraka Jahanam terus diisi, dan ia berkata, ’Apakah masih ada tambahan lagi?‘ Hingga (Allah) Rabb yang Mahaagang meletakkan kakiNya padanya. (dalam satu riwayat: telapak kakiNya). Maka merapatlah bagiannya yang satu dengan bagian yang lain. Lalu Neraka Jahanam berkata, ‘Cukup, cukup’.” [Muttafaq ‘alaih; al-Bukhari, no. 7384; Muslim, no. 2848]

“Rabb kita turun ke langit dania setiap malam ketika tersisa sepertiga malam yang akhir, lalu Dia berfirman, ‘Siapa yang berdoa kepadaKu, niscaya Aku mengabulkannya. Siapa yang meminta kepadaKu, niscaya Aku memberinya. Siapa yang merninta ampun kepadaKu, niscaya Aku mengampuninya’.” [Muttafaq ‘alaih; al-Bukhari, no. 7494; Muslim, no. 758]

“Sungguh, Allah lebih berbahagia karena taubat seorang hambaNya daripada salah seorang kamu (yang menemakan kembali) hewan tunggangannya (yang hilang di padang sahara).” [Diriwayatkan oleh Muslim, no. 2747]

Pertanyaan Nabi SAW kepada budak wanita,

“Di manakah Allah?” Ia menjawab, “Di langit” Beliau bertanya, “Siapa aku?” Badak itu menjawab, “Engkau adalah utusan Allah.” Lalu beliau bersabda, “Merdekakan dia, karena dia seorang wanita yang beriman.” [Diriwayatkan oleh Muslim, no. 537]

“Pada Hari Kiamat kelak Allah menggenggam bumi dan menggulung langit dengan Tangan kananNya, kemuaian Dia berfirman, ‘Akulah Raja Penguasa! Mana para raja di bumi?'” [Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 4812]

  1. Pengakuan kaum as-Salaf ash-Shalih dari generasi Sahabat, Tabi’in dan para tokoh madzhab yang empat (Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam asy-Syafi’i dan Imam Ahmad bin hanbal, pent.) tentang sifat-sifat Allah SWT dan mereka tidak menta’wilkannya, tidak pula menolaknya atau mengeluarkannya dari makna lahirnya.

Tidak seorang pun dari sahabat Nabi yang menta’wil salah satu sifat Allah SWT atau mengatakan bahwa zahir sifat itu bukan yang dimaksud. Akan tetapi mereka beriman kepada maknanya dan mengartikannya sebagaimana zahirnya. Mereka mengetahui bahwa sifat-sifat Allah SWT itu tidak seperti sifat-sifat makhluk. Maka dari itu, ketika Imam Malik ditanya tentang Firman Allah,

“Rabb Yang Maha Pemarah bersemayam di atas Arasy.” (Thaha: 5)

Beliau menjawab, “Istiwa` (bersemayam) itu sudah diketahui (artinya), kaifiyahnya (hakikat sifatNya) tidak diketahui, dan mempertanyakannya adalah bid’ah.”

Imam asy-Syafi’i pernah berkata, “Aku beriman kepada Allah dan kepada sesuatu yang datang dari Allah sesuai dengan maksud yang diinginkan Allah; dan aku beriman kepada Rasulullah dan kepada sesuatu yang datang dari Rasulullah sesuai dengan maksud yang diinginkan Rasulullah.”

Imam Ahmad bin Hanbal juga mengatakan, berkaitan dengan sabda-sabda Rasulullah SAW seperti: “Sesungguhnya Allah turun ke langit yang terendah; dan bahwasanya Allah dapat dilihat pada Hari Kiamal; Allah takjub, tertawa dan marah, meridhai, tidak menyukai dan mencintai” beliau berkata, “Kami beriman kepada semua itu dan membenarkannya, tanpa takyif (tanpa mempertanyakan bagaimana hakikatnya) dan tanpa (mempertanyakan) makna (hakikatnya).” Maksudnya adalah, kita beriman bahwasanya Allah SWT turun (yanzil) dan dapat dilihat kelak di akhirat; Dia berada di atas ‘ArasyNya terpisah dari makhlukNya, akan tetapi kita tidak dapat mengetahui hakikat (kaifiyah) turunNya, ru‘yah (melihat)Nya, cara bersemayamNya dan makna yang hakiki untuk itu semua. Semua pengetahuan tentang masalah itu kita serahkan sepenuhnya kepada Allah yang telah memfirmankannya dan telah mewahyukannya kepada Nabi Muhammad SAW kita tidak menentang Rasulullah, tidak pula menetapkan sifat bagi Allah SWT lebih dari apa yang ditetapkan oleh Allah SWT bagi DiriNya dan dari apa yang ditetapkan oleh RasulNya bagiNya, tanpa batasan. Namun kita tetap mengetahui bahwasanya Allah SWT tidak menyerupai sesuatu apa pun, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

Dalil-dalil ‘Aqli 

  1. Allah SWT telah menetapkan sifat-sifat bagi DiriNya dan telah menamakan DiriNya dengan nama-narna; Dia tidak melarang kita untuk menyebut dan menamakanNya dengan sifat-sifat dan nama-nama tersebut, dan tidak pernah menyuruh kita untuk melakukan ta’wil terhadap sifat-sifat dan nama-namaNya itu, atau mengartikannya di luar arti lahiriyahnya. Lalu apakah masuk akal apabila kita menyebut dan menyifati Allah dengan sifat dan nama-nama tersebut kita dikatakan telah menyerupakan Allah dengan makhlukNya, sehingga karena itu kita wajib melakukan ta‘wil dan mengartikannya di luar arti yang sebenarnya? Walaupun dengan begitu kita menjadi mu’aththilin (orang yang meniadakan sifatnya, pent.) serta menafikan sifat-sifat Allah SWT dan mengingkari nama-namaNya!!! Padahal Allah SWT telah mengancam orang-orang mulhidin (yang mengingkari), seraya berfirman,

“Dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-namaNya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang teluh mereka kerjakan.” (Al-A’raf: 180).

  1. Bukankah orang yang menafikan salah satu sifat Allah SWT karena takut dari tasybih (takut terjerumus kepada keyakinan menyerupakan atau menyamakan Allah dengan makhlukNya, pent.) itu berarti (pertama-tama) ia telah menyamakan sifat-sifat Allah dengan sifat-sifat makhluk? Kemudian, karena takut dari tasybih ia lari darinya dan terjebak di dalam nafi (meniadakan) dan ta’thil. Maka dengan begitu ia menafikan dan mengingkari sifat-sifat Allah SWT yang telah Dia tetapkan bagi DiriNya. Dan dengan demikian, berarti ia telah melakukan dua dosa besar sekaligus, yaitu tasybih dan ta’thil!

Jika demikian adanya, bukankah sesuatu yang masuk akal bila Allah SWT disifati dengan sifat-sifat yang telah Dia tetapkan bagi DiriNya dan dengan sifat-sifat yang diungkapkan oleh Rasulullah SAW dengan keyakinan bahwa sifat-sifat Allah SWT itu tetap tidak serupa dengan sifat-sifat makhluk, sebagaimana Dzat Allah itu sendiri tidak sama dan tidak serupa dengan dzat makhluk?

  1. Sesungguhnya beriman kepada sifat-sifat Allah SWT dan menyifati Allah dengannya tidak mengharuskan tasybih dengan sifat-sifat makhluk, sebab akal sehat itu sendiri tidak menolak kalau Allah SWT mempunyai sifat-sifat khusus bagiNya yang tidak serupa dengan sifat-sifat makhluk, tidak akan pernah sama kecuali hanya dalam sekedar nama dan sebutan saja. Maka Sang Pencipta memiliki sifat-sifat khusus bagiNya, sebagaimana bagi makhluk memiliki sifat-sifat yang khusus baginya.

Ketika seorang Muslim beriman kepada sifat-sifat Allah SWT dan menyifatiNya dengan sifat-sifat tersebut, ia sama sekali tidak berkeyakinan dan tidak pernah terlintas di dalam hatinya bahwa Tangan Allah SWT itu -misalnya- mirip atau sama dengan tangan makhluk dalam makna sepertl apa pun jua. Yang demikian itu, karena Sang Pencipta, Allah sangat berbeda dan tidak sama dengan makhlukNya, baik pada Dzat maupun perbuatanNya.

Allah SWT telah berfirman,

“Katakanlah, ‘Dia-lah Allah Yang Maha Esa, Allah adalah Rabb yang bergantung kepadaNya segala sesaatu, Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tiada seorang pan yang setara dengannya’.” (Al-Ikhlash: 14).

Dia juga telah berfirman,

“Tiada sesuatu apa pun yang serupa denganNya, dan Dia-lah Dzat Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (Asy-Syura: 11).

Artikel terkait : Asma’ul Husna

Referensi : Syaikh Abu Bakar Jabir Al Jaza’iri, Minhajul Muslim, Darul Haq, Jakarta, 2016

Baca juga : 

Hello. Add your message here.