Beriman Kepada Para Rasul

islamic-art-7

Seorang Muslim beriman bahwasanya Allah SWT telah memilih dari bangsa manusia sebagai rasul-rasulNya, dan Dia telah menurunkan wahyu tentang ajaran-ajaranNya kepada mereka, lalu mewajibkan kepada mereka agar menyampaikannya (kepada manusia) agar tidak ada hujjah (alasan) bagi mereka di hadapan Allah di Hari Kiamat kelak. Allah mengutus mereka kepada kaumnya diperkuat dengan bukti-bukti dan berbagai mukjizat Allah, mulai dari pengangkatan Nuh AS sebagai rasul dan kemudian ditutup dengan kenabian Muhammad SAW.

Seorang Muslim meyakini, sekalipun para rasul itu adalah manusia biasa yang berlaku bagi mereka apa yang berlaku bagi manusia lainnya, seperti makan dan minum, sehat dan sakit, lupa dan ingat, hidup dan mati, namun (seorang Muslim meyakini) bahwa mereka adalah manusia-manusia pilihan dan paling sempurna, mereka adalah manusia paling utama tanpa terkecuali. Dan beriman bahwasanya tidak akan sempurna iman seseorang kecuali dengan beriman kepada para rasul, secara global maupun rinci. Yang demikian itu karena berbagai dalil naqli dan ‘aqli berikut ini.

Dalil-dalil Naqli

  1. Berita dari Allah SWT tentang rasul-rasulNya dan tentang penetapan mereka menjadi rasul dan risalah-risalah (misi) yang mereka bawa, sebagaimana FirmanNya,

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut itu’.” (An-Nahl: 36).

“Allah memilih utusan-utusan(Nya) dari malaikat dan dari manusia, sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Al-Hajj: 75).

“Sesungguhnya Kami telah memberikan wahya kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahya (pula) kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Ya’qub dan anak cucunya, Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zubar kepada Dawud. Dan (Kami telah mengatus) rasal-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahalu, dan rasal-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu. Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung. (Mereka Kami utas) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manasia membantah Allah sesudah diutasnya rasal-rasal itu. Dan Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (An-Nisa`: 163-165).

“Sesungguhnya Kami telah mengutas rasal-rasal Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka al-Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan.” (Al-Hadid: 25).

“Dan (ingatlah kisah) Ayyub, ketika ia menyeru Rabbnya, ‘(Ya Rabb-ku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Rabb Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang’.” (Al-Anbiya`: 83).

“Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu, melainkan mereka memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar.” (Al-Furqan: 20).

“Dan sungguh Kami telah memberikan kepada Musa sembilan buah mukjizat yang nyata, maka tanyakanlah kepada Bani Isra`il, tatkala Musa datang kepada mereka.” (Al-Isra`: 101).

“Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari nabi-nabi dan dari kamu (sendiri), dari Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa putra Maryam, dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang teguh, agar Dia menanyakan kepada orang-orang yang benar tentang kebenaran mereka dan Dia menyediakan bagi orang-arang kafir siksa yang pedih.” (Al-Ahzab: 7-8).

  1. Berita dari Rasulullah SAW tentang dirinya dan tentang saudara-saudaranya para rasul dan para nabi, sebagaimana sabda beliau,

“Tidaklah Allah mengutus seorang nabi melainkan dia telah memperingatkan kaumnya akan si buta sebelah matanya lagi pendusta, yaitu al-Masih Dajjal.” [Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 7131; Muslim, no. 2933]

“Janganlah kalian mengistimewakan sebagian nabi atas lainnya.” [Muttafaq ’alaih dengan beberapa redaksi yang berbeda; al-Bukhari, no. 3414; Muslim, no. 2373]

Ketika Rasulullah SAW ditanya oleh Abu Dzar tentang jumlah para nabi dan rasul, beliau menjawab,

“Seratus dua puluh ribu nabi dan yang menjadi rasul di antara mereka sebanyak tiga ratus tiga belas (rasul)” [Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban di dalam Shahihnya]

Beliau juga bersabda,

“Demi Dzat yang jiwaku berada di TanganNya, kalau sekiranya Nabi Musa itu musih hidup, niscaya tiada jalan lain baginyu kecuali mengikuti aku” [Diriwayatkan oleh Ahmad, no. 14736. Hadits hasan]

Beliau juga bersabda, “ltulah Ibrahim” di saat dikatakan kepada beliau “Hai manusia terbaik”, [Diriwayatkan oleh Muslim, no. 2369] karena beliau berendah hati. Beliau juga bersabda,

“Tidak pantas bagi seseorang mengatakan, ‘Aku lebih baik daripada Nabi Yunus bin Matta’.” [Diriwayafkan oleh Ahmad, no. 9002; al-Bukhari, no. 3416; dan Muslim, no. 2373; dari Abu Hurairah]

Dalam cerita yang beliau sampaikan tentang mereka pada malam isra’ di mana para nabi dan rasul berkumpul di Baitul Maqdis dan Rasulullah SAW menjadi imam shalat mereka, beliau juga bertemu dengan Nabi Yahya, Nabi Isa, Nabi Yusuf, Nabi Idris, Nabi Harun, Nabi Musa dan Nabi Ibrahim. Rasulullah telah menceritakan tentang mereka dan apa yang beliau saksikan tentang kondisi mereka.” [Lihat Muslim, no. 162]

Di dalam sabda beliau juga disebutkan,

“Sesungguhnya nabiyullah Dawud makan dari hasil pekerjaan tangannya sendiri.” [Muttafaq ‘alaih; al-Bukhari, no. 2073]

  1. Berimannya milyaran umat manusia dari kaum Muslimin dan ahli Kitab, baik umat Yahudi maupun Nasrani kepada para utusan (rasul) Allah dan keyakinan mereka yang kokoh kepada kerasulan (risalah) yang mereka bawa serta keyakinan mereka tentang kesempurnaan para rasul itu dan bahwasanya para rasul adalah manusia pilihan Allah.

Dalil-dalil ‘Aqli

  1. Rububiyah Allah dan RahmatNya memastikan pengangkatan para rasul dariNya untuk segenap umat manusia agar memperkenalkan Tuhan (Rabb) kepada mereka dan membimbing mereka menuju jalan yang di situ terdapat kesempurnaan kemanusiaan mereka dan kebahagiaan mereka dalam kehidupan dunia dan akhirat.
  2. Allah SWT menciptakan manusia supaya beribadah kepadanya, sebagaimana FirmanNya,

“Dan Aku sekali-kali tidak menciptakun jin dan manusiu kecuali supaya mereka beribadah kepadaKu.” (Adz-Dzariyat: 56).

Maka hal ini menuntut adanya pemilihan manusia sebagai rasul agar mengajarkan kepada rnanusia bagaimana mereka seharusnya beribadah kepada Allah SWT dan patuh kepadaNya. Sebab itulah tugas dan tujuan dari penciptaan manusia.

  1. Adanya pahala dan hukuman adalah konsekuensi dari ketaatan dan kemaksiatan pada jiwa (hati).

Hal ini merupakan perkara yang menuntut memastikan pengutusan para rasul dan pengangkatan manusia menjadi nabi, agar di Hari Kiamat kelak tidak ada manusia yang mengatakan, “Sesungguhnya kami, ya Tuhan kami, tidak mengetahui cara patuh kepadaMu sehingga kami bisa mematuhiMu, dan kami pun tidak mengetahui sisi kedurhakaan kepadaMu sehingga kami menjauhinya; dan pada hari ini tidak ada kezhaliman di sisiMu, maka janganlah Engkau menyiksa kami.“ Maka jika begitu mereka akan mempunyai hujjah (alasan dan argumen) terhadap Allah SWT. Oleh karena itu, ini adalah suatu kondisi yang rnenuntut adanya keharusan pengangkatan para rasul untuk memutus berbagai kemungkinan hujjah. Demikian Allah menegaskan,

“(Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (An-Nisa`: 165).

Referensi : Syaikh Abu Bakar Jabir Al Jaza’iri, Minhajul Muslim, Darul Haq, Jakarta, 2016

Baca juga : 

Hello. Add your message here.