SPACE AVAILABLE

Beriman Kepada Rububiyah Allah SWT Terhadap Segala Sesuatu

islamic12

[Rububiyah berasal dari kata Rabb; Makna rububiyah Allah terhadap segala sesuatu adalah Allah sebagai Rabbnya. Maksudnya, Allah adalah Pencipta, Pemilik, Pengatur dan Pemelihara segala sesuatu]

Seorang Muslim beriman dan meyakini rububiyah Allah SWT atas segala sesuatu, tiada sekutu bagiNya di dalam rububiyahNya terhadap alam semesta. Yang demikian itu adalah berkat petunjuk Allah SWT kepadanya, kernudian karena dalil-dalil naqli dan ‘aqli berikut ini:

Dalil-dalil Naqli

  1. Berita dari Allah SWT sendiri tentang kerububiyahanNya. Dia telah berfirman tentang pujianNya terhadap DiriNya,

“Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam.” (Al-Fatihah: 2).

FirmanNya di dalam menegaskan rubabiyahNya,

“Katakanlah, ‘Siapakah Rabb langit dan bumi?’ Jawablah, ‘Allah‘.” (Ar-Ra‘d: 16).

FirmanNya di dalam menegaskan rububiyah dan uluhiyahNya, [Uluhiyah berasal dari kata ilah. Artinya adalah sesembahan yang haq]

“Rabb yang memelihara langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, jika kamu adalah orang yang meyakini. Tiada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia yang menghidupkan dan yang mematikan (Dia-lah Rabbmu) dan Rabb bapak-bapakmu yang terdahulu.“ (Ad-Dukhan: 7-8).

FirmanNya di dalam mengingatkan kembali perjanjian awal yang diambil dari manusia ketika mereka masih berada di dalam sulbi bapak mereka, yaitu bahwa mereka beriman kepada rububiyah Allah terhadap mereka dan akan beribadah kepadaNya dengan tidak menyekutukan sesuatu apa pun denganNya, seraya berfirman,

“Dan (ingatlah), ketika Rabbmu mengeluarkan anak keturunan Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), ‘Bukankah Aku ini Rabbmu’ Mereka menjawab, ‘Betul (Engkau Rabb kami), kami menjadi saksi’.” (Al-A’Raf: 172).

FirmanNya di dalam menegakkan hujjah (argumen) terhadap kaum musyrikin dan menegaskannya terhadap mereka, “Katakanlah, ‘Siapakah Yang Empunya langit yang tujuh dan Yang Empunya ‘Arasy yang besar?‘ Mereka akan menjawab, ‘Kepunyaan Allah.’ Katakanlah, ‘Maka apakah kamu tidak bertakwa?'” (Al-Mu`minun: 86-87).

  1. Informasi dari para nabi dan rasul tentang rububiyah Allah SWT, kesaksian mereka dan pengakuan mereka tentangnya. Sebagai contoh: Nabi Adam AS di dalam doanya mengucapkan,

“Wahai Rabb kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, pastilah kami termasak orang-arang yang rugi.” (Al-A’raf: 23).

Nabi Nuh AS pun di dalam pengaduannya kepada Allah mengucapkan,

“Ya Rabbku, sesungguhnya mereka telah mendurhakaiku dan telah mengikuti orang-orang yang harta dan anak-anaknya tidak menambah baginya kecuali kerugian belaka” (Nuh: 21).

Beliau juga mengucapkan,

“Ya Rabbku, sesungguhnya kaumku telah mendustakan aku, oleh karena itu adakanlah suatu keputusan antara aku dan mereka, dan selamatkanlah aku dan orang-orang yang Makmin besertaku.” (Asy-Syu’ara`: 117-118).

Nabi Ibrahim AS di dalam doanya untuk tanah suci Makkah dan untuk diri serta anak keturunannya mengucapkan,

“Ya Rabbku, jadikanlah negeri (Makkah) ini negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak keturunanku dari penyembahan berhala.” (Ibrahim: 35).

Nabi Yusuf AS di dalam pujian dan doanya kepada Allah mengucapkan,

“Ya Rabbku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebagian kerajaan dan telah mengajarkan kepadaku sebagian ta’bir mimpi. (Ya Rabb) Pencipta langit dan bumi, Engkau-lah Pelindungku di dania dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabangkanlah aku dengan orang-orang yang shalih.” (Yusuf: 101).

Nabi Musa AS di dalam beberapa permintaannya berseru,

“Ya Rabbku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku, dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku.” (Thaha: 25-29).

Nabi Harun AS juga berkata kepada Bani Isra’il,

“Dan sesungguhnya Rabbmu adalah Dzat Yang Maha Pengasih, maka ikutilah aku dan patuhilah perintahku.” (Thaha: 90).

Nabi Zakariya AS ketika memohon rahmatNya berkata,

“Ya Rabbku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah memutih dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepadaMu, Ya Rabb.” (Maryam: 4).

Dan di dalam doanya beliau berkata,

“Ya Rabbku, janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri, dan Engkau-lah pewaris yang paling baik.” (Al-Anbiya`: 89).

Nabi Isa AS berkata ketika menjawab pertanyaan Allah,

“Aku sama sekali tidak pernah mengatakan kepada mereka selain apa yang Engkau perintahkan kepadaku untak mengatakannya, yaita sembahlah Allah, Rabbku dan Rabbmu.” (Al-Ma`idah: 117).

Beliau juga berkata kepada kaumnya,

“Hai Bani Isra`il. Semhahlah Allah, Rabku dan Rabbmu, karena sesungguhnya orang yang menyekutukan sesuatu dengan Allah, maka sesungguhnya Allah telah mengharamkan surga baginya, dan tempatnya adalah neraka dan tiada seorang penolong pun bagi orang-orang zhalirn.” (Al-Ma`idah: 72).

Nabi kita, Nabi Muhammad SAW ketika dalam keadaan sulit beliau berdoa, [Diriwayatkan oleh Imam Muslim, no. 2730, pada Bab Du’a al-Karb]

“Tiada tuhan yang herhak disembah selain Allah Yang Mahaagang lagi Maha Penyantun, tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah, Rabb bagi ‘Arasy yang agung, tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah, Rabb bagi langit dan bumi dan Rabb bagi ‘Arasy yang mulia.” [Diriwayatkan oleh Muslim]

Semua nabi dan rasul di atas dan para nabi lainnya mengakui rububiyah Allah SWT mereka berdoa kepadaNya dengan menyebut-nyebut rububiyahNya, sedangkan mereka adalah manusia yang paling sempurna pengetahuannya, paling cemerlang akalnya, paling jujur ucapannya dan paling mengenal Allah dengan segala sifat-sifatNya daripada manusia biasa lainnya yang ada di permukaan bumi.

  1. Keyakinan dan keimanan milyaran ulama dan hukama` (ahli hikmah) tentang rububiyah Allah SWT terhadap mereka dan terhadap segala sesuatu, pengakuan mereka tentangnya dan i’tiqad mereka kepadanya yang merupakan i’tiqad yang pasti.
  2. Keyakinan dan keimanan milyaran manusia dan jumlah yang tak terhitung dari para cerdik cendikia, serta orang-orang shalih tentang rububiyah Allah SWT atas segenap makhluk.

Dalil-dalil ‘Aqli

Di antara dalil-dalil akal sehat yang logis tentang rububiyah Allah SWT terhadap segala sesuatu adalah sebagai berikut:

  1. Keesaan Allah di dalam menciptakan segala sesuatu. Merupakan hal yang sudah dimaklumi bersama oleh segenap umat manusia bahwa tidak ada yang mampu melakukan penciptaan itu dan tidak pernah diklaim oleh seorang pun selain Allah SWT sekalipun sesuatu yang diciptakan itu sangat kecil, seperti sehelai rambut di tubuh manusia atau hewan, atau bulu kecil pacla sayap burung, atau selembar daun pada ranting yang sangat kecil, apalagi menciptakan suatu benda yang utuh atau hidup, atau planet yang besar ataupun yang kecil.

Allah SWT pun telah menegaskan keesaanNya yang mutlak di dalam penciptaan,

“Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah, Mahaberkah (Mahabaik) Allah, Rabb semesta alam.“ (Al-A‘raf: 54).

Dia juga berfirman,

“Padahal Allah-lah yang telah menciptakan kamu dan apa yang kamu lakukan.” (Ash-Shaffat: 96).

Allah juga memuji DiriNya atas keesaanNya di dalam menciptakan, seraya berfirman,

“Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan langit dan bami, dan mengadakan gelap dan terang.” (Al-An‘am: 1).

“Dan Dia-lah yang menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian mengembalikan (menghidapkanhya kembali, dan menghidupkan kembali itu adalah lebih mudah bagiNya. Dan bagiNya-lah sifat yang Mahatiaggi di langit dan di bumi; dan Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. ” (Ar-Rum: 27).

Jika demikian, bukankah keesaan Allah di dalam menciptakan segala sesuatu merupakan bukti atas wujud dan rububiyahNya?! Benar, wahai Rabb kami, kami menjadi saksi atas semua itu.

  1. Keesaan Allah di dalam memberi rizki. Tidak ada seekor hewan pun yang melata di permukaan bumi ini atau berenang di dalam air atau yang tersembunyi di semak-semak melainkan Allah-lah yang menciptakan rizkinya (makanannya) dan yang memberikan petunjuk untuk mengetahui bagaimana cara mendapatkan, memakan dan menggunakannya. Mulai dari seekor semut yang merupakan hewan paling kecil hingga manusia yang merupakan makhluk paling sempurna dan paling maju, semuanya membutuhkan Allah SWT untuk keberadaannya, pembentukannya dan untuk makanan dan rizkinya. Allah SWT sematalah penciptanya, yang membentuknya, memberinya makanan dan rizki.

Berikut ini beberapa ayat yang menegaskan kenyataan tersebut dan menetapkannya secara jelas:

“Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya. Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit), kemadian Kami belah bami dengan sebaik-baiknya, lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu, anggar dan sayar-sayuran, zaitun dan pohon kurma, kebun-kebun (yang) lebat, dan buah-buahan serta rumput-rumputan.” (Abasa: 24-31).

FirmanNya,

“Dan (Dia) menurunkan air (hujan) dari langit, maka Kami tumbuhkan dengan air hujan itu berbagai macam jenis tumbuh-tumbuhan yang beraneka ragam. Makan dan gembalakanlah binatang-binatang ternakmu.” (Thaha: 53-54).

Dia Yang tiada sesembahan yang berhak disembah selain Dia dan tiada Rabb selain Dia, juga berfirman,

“Dan Kami turunkan hujan dari langit, lalu Kami beri minum kamu dengan air itu, dan sekali-kali bukanlah kamu yang menyimpannya” (Al-Hijr: 22).

Dia juga berfirman, yang tiada pemberi rizki selain Dia,

“Dan tiada seekor binatang melata pun di muka bumi ini melainkan Allah-lah yang memberi rizkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiamnya binatang itu dan tempat penyimpanannya.” (Hud: 6).

Apabila sudah terbukti tanpa ada yang dapat rnenyanggahnya bahwa tidak ada yang memberi rizki selain Allah, maka hal itu menjadi bukti atas rabubiyahNya terhadap segala sesuatu.

  1. Kesaksian fitrah manusia yang bersih atas rububiyahNya dan pengakuannya yang sangat jelas akan hal itu.

Sesungguhnya setiap manusia yang fitrahnya belum rusak akan merasakan di dalam lubuk hatinya bahwa dia adalah seorang yang sangat lemah dan hina di hadapan tuhan pemilik kekuasaan Yang Mahakaya lagi Mahaperkasa, dan merasakan bahwa dirinya tunduk kepada aturan dan kebijakanNya pada dirinya, di mana ia menyatakan tanpa keraguan sedikit pun bahwasanya Dia adalah Allah, Rabb-nya dan Rabb segala sesuatu.

Sekalipun ini telah menjadi kenyataan yang diterima yang tidak dapat diingkari atau dibantah oleh setiap orang yang masih mempunyai fitrah suci, akan tetapi ada baiknya disebutkan di sini, sebagai pendukung, apa yang direkam oleh al-Qur’an al-Karim tentang pengakuan para tokoh pemuka kaum paganis (penyembah berhala) terhadap kenyataan di atas, yaitu kerububiyahan Allah SWT atas semua makhluk dan atas segala sesuatu, seraya berfirman,

“Dan sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka, ‘Siapa yang telah menciptakan langit dan bumi?’ Niscaya mereka akan menjawab, ‘Semuanya telah diciptakan oleh Dzat Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui’.” (Az-Zukhruf: 9).

Allah juga berfirman,

“Dan sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka, ‘Siapakah yang telah menciptakan langit dan bumi, dan yang telah menundukkan matahari dan bulan?’ Niscaya mereka akan menjawab, ‘Allah’.” (Al-Ankabut: 61).

Allah berfiman,

“Katakanlah, ’Siapakah Rabb yang mempunyai langit yang tujuh dan Rabb yang mempunyai ‘Arasy yang besar?’ Maka mereka akan menjawab, ‘Kepunyaan Allah‘.” (Al-Mu`minun: 86-87).

  1. Keesaan Allah di dalam kepemilikan atas segala sesuatu, otoritasNya yang absolut atas segala sesuatu dan pengelolaanNya atas segala sesuatu adalah bukti atas rububiyahNya. Sebab sudah menjadi sesuatu yang disepakati oleh segenap umat manusia bahwasanya manusia itu sama dengan makhluk hidup lainnya di alam ini, pada hakikatnya tidak memiliki sesuatu apa pun. Sebagai buktinya adalah; ia dilahirkan ke dunia ini dengan badan telanjang, tidak bertutup kepala dan tidak beralas kaki. Dan ketika meninggalkan dunia pun, ia tidak membawa apa-apa kecuali sehelai kain kafan yang membungkus seluruh jasadnya. Maka bagaimana mungkin dikatakan bahwa pada hakikatnya manusia memiliki segala sesuatu di dalam kehidupan ini?!

Apabila sudah dipastikan bahwa manusia bukan pemilik yang sebenarnya atas apa pun yang ada di alam ini, maka siapakah pemilik yang sebenarnya? Pemiliknya adalah Allah dan hanya Allah semata, tidak ada perdebatan dan tidak ada pula keraguan. Apa yang sudah disebutkan dan disepakati dalam kepemilikan berlaku juga di dalam otoritas dan pengelolaan seluruh masalah kehidupan ini. Demi Allah, ini benar-benar merupakan sifat rububiyah, yaitu menciptakan, memberi rizki, memiliki, menguasai, bertindak dan mengelola. Semua itu telah diakui dan diyakini oleh para pemuka kaum penyembah berhala (paganis) dan al-Qur’an telah merekam pengakuan mereka di dalam beberapa suratnya. Seperti di dalam Firman Allah SWT,

“Katakanlah, ‘Siapakah yang memberi rizki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan yang mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan?’ Maka mereka menjawab, ‘Allah.’ Maka katakanlah, ‘Mengapa kamu tidak bertakwa (kepadanya)?’ (Dzat yang demikian) itulah Allah, Rabbmu yang sebenarnya; maka tidak ada sesadah kebenaran itu, melainkan kesesatan.” (Yunus: 31-32).

Referensi : Syaikh Abu Bakar Jabir Al Jaza’iri, Minhajul Muslim, Darul Haq, Jakarta, 2016

Baca juga : 

Hello. Add your message here.