Wali Allah dan Karamahnya, Wali Setan dan Tipu Dayanya

islamic-art-5

A. Wali Allah SWT

Seorang Muslim beriman bahwasanya di antara manusia ini ada yang menjadi wali Allah yang Dia pilih semata-mata untuk mengabdi dan beribadah kepadaNya, hidup mereka hanya untuk taat kepadaNya, mereka mendapat kehormatan untuk mencintaiNya dan dianugerahi karamahNya. Maka Allah adalah wali mereka, Allah rnencintai dan mendekat kepada mereka, dan mereka adalah wali-wali Allah yang mencintai dan mengagungkanNya.

Mereka sangat patuh menjalankan perintahNya dan mengajak manusia untuk menunaikan perintahNya.

Mereka juga menjauhi laranganNya dan mencegah manusia dari melakukan laranganNya.

Mereka mencintai dan membenci karena Allah. Maka apabila mereka memohon kepadaNya pasti diberi dan apabila mereka meminta pertolongan pasti Dia menolongnya, dan apabila mereka berlindung kepadaNya, pasti mereka dilindungi.

Seorang Muslim beriman bahwa mereka adalah Ahli Iman wa at-Taqwa (orang-orang yang beriman dan bertakwa sejati), orang-orang yang mendapat karamah dan kabar gembira di dunia dan di akhirat. Seorang Muslim berkeyakinan bahwa setiap orang beriman yang bertakwa adalah waliyullah, hanya saja tingkatan dan derajat mereka berbeda-beda tergantung kepada kualitas ketakwaan dan keimanan masing-masing. Setiap orang yang sisi keimanan dan ketakwaannya lebih sempurna, maka derajatnya di sisi Allah lebih tinggi dan karamahnya lebih sempurna. Maka dari itu, para pemuka wali itu adalah para rasul dan para nabi serta orang-orang Mukmin sesudah mereka.

Seorang Muslim beriman bahwa apa yang ditampakkan oleh Allah SWT pada mereka berupa karamah, seperti makanan sedikit bisa menjadi banyak, penyembuhan berbagai penyakit, berjalan di atas lautan, tidak terbakar api dan lain sebagainya adalah bagian dari jenis mukjizat, hanya saja mukjizat itu selalu dibarengi dengan tantangan [Tantangan yang dimaksud adalah di mana seorang rasul mengatakan kepada kaumnya, “Bagaimana jika aku datangkan tanda-tanda kepada kalian, apakah kalian beriman kepadaku? Lalu jika tidak maka Allah akan menimpakan azabNya terhadap kalian atas kekafiran kalian setelah datangnya mukjizat kepada kalian.”], sedangkan karamah tidak (harus) ada tantangannya dan tidak terikat dengannya.

Seorang Muslim beriman pula bahwasanya karamah yang paling agung itu adalah sikap istiqamah (konsisten) di dalam menjalankan ketaatan-ketaatan, tekun mengerjakan perintah-perintah agama dan menjauhi segala yang diharamkan dan dilarang.

Iman yang demikian itu dilandasi dalil-dalil berikut ini:

  1. Informasi dari Allah SWT tentang para waliNya dan karamah mereka, seperti di dalam FirmanNya berikut ini:

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidapan di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar.” (Yunus: 62-64).

FirmanNya,

“Allah Pelindang orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman).” (Al-Baqarah: 257).

“Dan mereka bukanlah orang-orang yang berhak menguasainya. Orang-orang yang berhak menguasai(nya), hanyalah orang-orang yang bertakwa.” (Al-Anfal: 34).

FirmanNya,

“Sesungguhnya pelindungku adalah Allah yang telah menurunkan al-Kitab (al-Qur’an) dan Dia melindungi orang-orang yang shalih.” (Al-A’raf: 196).

FirmanNya,

“Demikianlah, agar Kami memalingkan darinya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya (Yusuf) itu termasak hamba-hamba kami yang terpilih.” (Yusuf: 24).

FirmanNya,

“Sesungguhnya hamba-hambaKu, kamu tidak dapat berkuasa atas mereka. Dan cukuplah Rabbmu sebagai Penjaga.” (Al-Isra`: 65).

FirmanNya,

“Setiap Zakariya masuk antuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata, ‘Hai Maryam, dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?’ Maryam menjawab, ‘Makanan itu dari sisi Allah’.” (Ali Imran: 37).

FirmanNya,

“Sesungguhnya Yunus benar-benar salah seorang rasul, (ingatlah) ketika ia lari ke kapal yang penuh muatan, kemudian ia ikut berundi lalu dia termasuk orang-orang yang kalah dalam undian. Maka ia ditelan oleh ikan yang besar dalam keadaan tercela. Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai Hari Berbangkit.” (Ash-Shaffat: 139-144).

FirmanNya,

“Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah, ‘Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Rabbmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan goyangkanlah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu. Maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah, ‘Sesungguhnya aku telah bernadzar berpuasa untuk Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manasia pun pada hari ini’.” (Maryam: 24-26).

FirmanNya,

“Kami berfirman, ‘Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim,’ mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka orang-orang yang paling merugi.” (Al-Anbiya`: 69-70).

FirmanNya,

“Apakah kamu mengira bahwa orang-orang yang mendiami gua dan (yang mempanyai) raqim itu, mereka termasak tanda-tanda kekuasaan Kami yang mengherankan. (lngatlah) tatkala pemuda-pemada ita mencari tempat berlindang ke dalam gua lala mereka berdoa, ‘Wahai Rabb kami berikanlah rahmat kepada kami dari sisiMu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini).’ Maka Kami tutup telinga mereka beberapa tahun dalam gua itu, kemadian Kami bangunkan mereka.” (Al-Kahfi: 9-12).

  1. Informasi dari Rasulullah SAW tentang para waliyullah dan karamah mereka, sebagaimana sabdanya di dalam salah satu hadits Qudsi, Allah berfirman,

“Barangsiapa yang memusuhi waliKu, maka sunggah Aku telah memaklumkan perang terhadapnya. Tidaklah hambaKu mendekatkan diri kepadaKu dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada mengerjakan apa yang Aku wajibkan kepadanya. HambaKu senantiasa mendekatkan diri kepadaKu dengan melakukan amalan-amalan Sunnah sehingga Aku mencintainya; maka apabila Aku telah mencintainya, Aku menjadi penjaga pendengarannya yang dengannya ia mendengar, menjadi penjaga penglihatannya yang dengannya ia melihat, menjadi penjaga tangannya yang dengannya ia berbuat dan menjadi penjaga kakinya yang dengannya ia berjalan. Jika ia minta kepadaKu, niscaya Aku beri, dan jika ia memohon perlindungan kepadaKu, niscaya Aku melindunginya.” [Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 6502]

FirmanNya di dalam sebuah Hadits Qudsi,

“Sesungguhnya Aku benar-benar membalas dendam untuk wali-waliKu, sebagaimana macan membalas dendam.“

“Sesunggahnya Allah mempunyai orang-orang yang sekiranya mereka bersumpah atas Nama Allah (untuk mendapatkan kemuliaanNya), niscaya Allah mengabulkannya.” [Muttafaq ’alaih, al-Bukhari, no. 2703; Muslim, no. 1675]

[Dengan redaksi yang artinya, “Sesungguhnya di antara hambaKu itu ada orang yang sekiranya ia bersumpah atas NamaKu (untuk mendapatkan kemulian), niscaya Aku kabulkan.”]

“Sunggah pada umat-umat sebelum kalian terdapat orang-orang yang mendapat ilham, dan jika di antara umatku terdapat seseorang yang mendapatkan ilham, maka dia adalah Umar.” [Muttafaq ’alaih; al-Bukhari, no. 3465]

“Ada seorang perempuan sedang menyusui anaknya, lalu ia melihat seorang lelaki menunggangi kudanya yang sangat indah, maka ia berkata, ‘Ya Allah, jadikanlah anakku ini seperti orang itu.’ Maka si bayi itu menoleh kepada lelaki itu sambil menyusu, dan ia berdoa, ‘Ya Allah, jangan Engkau jadikan aku seperti dia’.” [Muttafaq ’alaih, al-Bukhari, no. 3436; Muslim, no. 2550]

Bayi tersebut berbicara sebagai karamah baginya dan ibunya.

Kemudian pada sabda beliau tentang Juraij dan ibunya, tatkala ibunya berdoa, “Ya Allah, jangan Engkau matikan Juraij sebelum Engkau perlihatkan kepadanya wajah-wajah wanita tuna susila”, maka Allah pun mengabulkan permohonannya sebagai karamah baginya dari Allah SWT.

Dan ketika Juraij dituduh bahwa bayi wanita tuna susila itu adalah darah dagingnya, maka Juraij berkata kepada sang bayi, “Siapakah ayahmu yang sebenarnya?” Bayi itu menjawab, “Ayahku adalah si penggembala kambing.” [Al-Bukhari, no. 2582]

Bayi itu berbicara sebagai karamah bagi Juraij yang ahli ibadah.

Cerita Rasulullah SAW tentang tiga orang yang terperangkap di dalam gua yang tertutup oleh batu besar. Mereka semua berdoa kepada Allah dan bertawassul dengan amal shalih yang pernah mereka lakukan, lalu kemudian Allah mengabulkan doa mereka, maka mereka pun keluar dari perut gua itu dengan selamat, sebagai karamah bagi mereka.” [Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 5974 dan Muslim, no. 2743]

Cerita yang dijelaskan oleh Rasulullah SAW juga tentang seorang rahib dan seorang anak remaja, yang di dalam cerita tersebut disebutkan: Anak remaja itu melempar binatang buas yang berada di jalanan umum yang menghalangi masyarakat yang hendak lewat di situ. Anak remaja itu melemparnya dengan batu hingga mati dan masyarakat pun dapat melintas di jalan itu dengan aman. Peristiwa ini merupakan karamah baginya.

Sang raja pun telah berupaya keras untuk membunuh anak remaja itu dengan segala macam cara, namun gagal total. Ia dilempar dari puncak gunung, namun anak itu tidak terbunuh. Lalu raja membuangnya ke laut, namun ia selamat, ia keluar dari laut dengan berjalan kaki. Semua itu adalah karamah bagi anak remaja Mukmin nan shalih itu.” [Muslim, no. 3005]

  1. Riwayat-riwayat dan kesaksian ribuan ulama tentang para wali dan karamah-karamah yang tak terhitung jumlahnya

[Kebanyakan riwayat-riwayat tersebut ada di dalam Shahih al-Bukhari dan Muslim, Kitab-kitab Sunan Shahihah dan berbagai atsar yang dinukil secara mutawatir]. Di antaranya adalah riwayat tentang para malaikat yang memberi salam kepada Imran bin Hushain RA [Ahmad, no. 19332], juga Salman al-Farisi dan Abu ad-Darda’ RA ketika mereka makan pada piring besar, lalu piring besar atau makanan yang ada di dalamnya bertasbih. [Lihat Siyar A’lam an-Nubala’, 2/348] Demikian pula Hubaib RA ketika ditawan oleh orang-orang kafir Quraisy selalu menemukan dan memakan buah anggur, padahal di Makkah tidak ada buah anggur [Al-Bukhari, no. 3045]. Juga diriwayatkan bahwa al-Bara` bin Malik RA setiap kali ia bersumpah atas Nama Allah dalam suatu masalah, maka Allah selalu mengabulkannya. Dalam perang Qadisiyah beliau bersumpah kepada Allah agar kaum Muslimin dapat mematahkan perlawanan kaum kafir musyrikin dan harapannya untuk menjadi syahid pertama di dalam pertempuran itu, maka semuanya berjalan seperti apa yang beliau harapkan. [Lihat Siyar A’lam an-Nubala’, 1/376]

Pada suatu saat Umar bin al-Khaththab RA berkhutbah di atas mimbar Rasulullah SAW di Madinah, di situ beliau berkata (memimpin peperangan yang sedang terjadi di Persia): “Hai Batalyon (Muslim), ke bukit! ke bukit!” Beliau memerintahkan kepada panglima perang batalyon Muslim (agar mengerahkan pasukannya ke bukit). Maka dia mendengar seruan beliau (di Madinah, pent), kemudian mengarahkan pasukannya ke arah perbukitan, sehingga di situ mereka memperoleh kemenangan dan kekalahan musuh-musuhnya, kaum musyrikin. Ketika dia kembali ke Madinah, dia menceritakan tentang suara Umar RA yang didengarnya kepada Umar dan kepada para sahabat lainnya” [Al-Lalika’i dalam Karamah al-Auliya’, hal. 120-122]

Demikian pula halnya yang terjadi pada al-‘Ala’ al-Hadhrami RA ketika beliau akan menyeberangi sungai besar bersama pasukannya beliau berdoa, “Ya Allah Yang Maha Mengetuhui lagi Mahabijaksana, ya Allah Yang Mahatinggi lagi Mahaagung”, lalu beliau bersama pasukannya menyeberangi sungai dan pelana-pelana kuda yang mereka tunggangi tidak basah sedikit pun. [Al-Lalika’i dalam Karamah al-Auliya’, hal. 149-150]

Pernah pada suatu saat, al-Hasan al-Bashri berdoa kepada Allah agar membinasakan seseorang yang selalu menyakiti beliau. Maka pada saat itu juga orang itu mati tersungkur mengenaskan.” [Al-Lalika’i dalam Karamah al-Auliya’, hal. 206]

Ada seorang lelaki dari suku an-Nakha’i, ketika dalam suatu perjalanan keledai tunggangannya mati. Maka beliau berwudhu lalu shalat dua rakaat dan berdoa kepada Allah agar menghidupkan kembali keledai tunggangannya. Maka Allah pun menghidupkan kembali keledainya dan beliau kembali menungganginya beserta perbekalannya. (Disebutkan oleh Ibnu Taimiyah dalam al-Furqan Baina Auliya’ ar-Rahman wa Auliya’ asy-Syaithan).

Banyak lagi contoh-contoh karamah yang tidak terhitung jumlahnya dan disaksikan oleh ribuan, bahkan jutaan manusia.

B. Wali Setan

Seorang Muslim juga beriman dan meyakini bahwa setan itu mempunyai wali-wali dari kalangan manusia yang ia kendalikan dan membuat mereka lupa mengingat Allah dan terjerumus di dalam kejahatan dan membisikkan kepada mereka berbagai kebatilan. Maka mereka menjadi tuli, tidak dapat rnendengarkan kebenaran, dan buta, tidak dapat melihat dalil-dalil kebenaran. Mereka selalu tunduk kepada kehendak setan, patuh kepada segala perintahnya. Setan menipu mereka dengan keburukan dan membuat rnereka senang kepada kerusakan dengan cara memandang indah kerusakan itu, sehingga memandang yang mungkar menjadi ma’ruf dan yang ma’ruf menjadi mungkar. Dengan demikian, mereka menentang, melawan, dan memerangi para wali Allah.

Para wali Allah sangat loyal, membela dan mencintai Allah, sedangkan para wali setan memusuhiNya. Para wali Allah mencintai dan meridhai Allah, sedangkan para wali setan membenci dan murka kepadaNya. Maka mereka sangat berhak mendapat kutukan Allah dan murka dariNya.

Jika tampak pada mereka hal-hal yang luar biasa (kesaktian), seperti dapat terbang di angkasa atau berjalan di permukaan air, maka itu adalah istidraj (tanda kebinasaan) dari Allah atas mereka, atau merupakan tipudaya setan bagi orang yang loyal kepadanya.

Iman seperti itu karena dilandasi dalil-dalil berikut ini:

  1. Informasi dari Allah tentang mereka, sebagaimana dinyatakan di dalam FirmanNya,

“Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya (wali-walinya) ialah setan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (Al-Baqarah: 257).

“Sesunggahnya setan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik.” (Al-An’am: 121).

Juga firman-firman lainnya,

“Dan (ingatlah) hari di waktu Allah menghimpunkan mereka semuanya, (dan Allah berfirman), ‘Hai golongan jin (setan), sungguh kamu telah banyak (menyesatkan) manusia,’ lalu berkatalah kawan-kawan mereka dari golongan manusia, ‘Ya Rabb kami, sesunggahnya sebagian dari kami telah mendapat kesenangan dari sebagian (yang lain) dan kami telah sampai kepada waktu yang telah Engkau tentukan bagi kami.’ Allah berfirman, ‘Neraka itulah tempat diammu, sedang kamu kekal di dalamnya, kecuali kalau Allah menghendaki (yang lain)’.” (Al-An’am: 128).

“Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran (Rabb) Yang Maha Pemurah (al-Qur’an), Kami adakan baginya setan (yang menyesatkan) maka setan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. Dan sesungguhnya setan-setan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk.” (Az-Zukhruf: 36-37).

“Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman.” (Al-A’raf: 27).

“Sesunggahnya mereka menjadikan setan-setan pelindung (mereka) selain Allah, dan mereka mengira bahwa mereka mendapat petunjuk.” (Al-A’raf: 30).

“Dan Kami tetapkan bagi mereka teman-teman yang menjadikan mereka memandang bagus apa yang ada di hadapan dan belakang mereka.” (Fushshilat: 25).

Dan FirmanNya,

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, ‘Sujudlah kamu kepada Adam,’ maka sujudlah mereka kecuali iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Rabbnya. Patutkah kamu menjadikannya dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain dariKu, sedang mereka adalah musuhmu?” (Al-Kahfi: 50).

  1. Informasi dari Rasulullah SAW tentang Wali Allah dan wali setan, sebagaimana tersebut di dalam sabdanya di saat beliau melihat satu bintang terbang. Beliau bersabda kepada para sahabatnya,

“Apa yang biasa kalian katakan terhadap hal semacam ini di dalam tradisi jahiliyah?” Mereka menjawab, “Kami dahulu berkeyakinan itu pertanda ada seorang pembesar yang mati atau pertanda akan dilahirkannya seorang bayi yang akan menjadi pembesar.” Lalu Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya bintang itu tidak dilemparkan karena kematian seseorang atau kehidupan seseorang, akan tetapi yang terjadi adalah, Tuhan kita, apabila telah memutuskan suatu perkara, maka para pemikul ‘Arasy bertasbih, kemudian para penghuni langit di bawahnya pun turut bertasbih, dan demikian pula penghuni langit di bawahnya lagi hingga tasbih (menyucikan Allah) itu sampai kepada penghuni langit yang paling rendah. Kemudian para penghuni langit itu bertanya kepada para malaikat petugas yang memikul ‘Arasy, ‘Apa yang difirmankan oleh Rabb kita?’ Maka mereka pun memberitakannya, demikian pula penghuni langit berikutnya hingga berita itu sampai kepada penghuni langit yang paling rendah. Lalu pada saat itu setan-setan mencuri pendengaran, oleh karenanya mereka dilempari dengan bintang. Kemudian setan-setan itu membisikkan berita itu kepada para walinya (manusia yang setia kepada mereka). Berita yang setan sampaikan kepada manusia itu benar, akan tetapi mereka menambahinya.” [Diriwayatkan oleh Muslim, no. 2229; Ahmad, no. 1885; dan lain-lain]

Ketika beliau ditanya tentang dukun (tukang tenung), beliau bersabda,

“Mereka tidak ada apa-apanya.” Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, mereka kadang-kadang memberitakun kepada kami tentang sesuatu, dan berita itu ternyata benar.” Beliau bersabda, “Ucapan itu bagian dari kebenaran yang dicuri oleh jin, lalu ia membisikkannya pada telinga walinya (manusia yang setia kepadanya) dan bersamaan dengan itu jin membumbuinya dengan seratus kedustaan” [Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 5762]

“Tidak seorang pun dari kalian melainkan telah ditetapkan qarin (teman dekat dari setan) baginya.” [Diriwayatkan oleh Muslim, no. 2814]

“Sesungguhnya setan itu mengalir di tubuh manusia melalui aliran darah pada urat-uratnya, maka persempitlah tempat-tempat keluar masuknya itu dengan cara berpuasa.” [Diriwayatkan di dalam ash-Shahihain dengan redaksi lain]

  1. Ribuan manusia yang melihat dan menyaksikan kejadian-kejadian aneh di berbagai tempat dan waktu yang tampak pada para wali setan (paranormal). Di antara mereka ada yang dapat mendatangkan bermacam-macam makanan dan minuman dalam sekejap mata, adapula orang yang segala kebutuhannya dipenuhi oleh setan, ada lagi orang yang diberitahu oleh setan tentang masalah-masalah ghaib dan tentang sesuatu yang bersifat rahasia. Ada juga orang yang dibantu oleh setan hingga senjata tidak mempan terhadapnya, ada pula orang yang didatangi oleh setan dalam bentuk seorang shalih di saat ia sedang beristighatsah (meminta keselamatan) kepada orang shalih yang sudah mati dengan maksud mengelabui dan menyesatkannya serta menggiringnya kepada perbuatan syirik dan maksiat kepada Allah. Dan ada pula orang yang dibawa oleh setan ke suatu negeri yang jauh, atau setan datang kepadanya dengan membawa orang-orang tertentu atau kebutuhan-kebutuhan tertentu dari tempat yang sangat jauh; dan banyak lagi perbuatan-perbuatan yang mampu dilakukan oleh setan dan jin-jin jahat.

Hal-hal seperti itu bisa terjadi sebagai akibat dari sangat buruknya jiwa seseorang disebabkan perbuatannya melakukan berbagai kejahatan, keburukan, kekufuran dan kemaksiatan yang sangat jauh dari kebenaran dan kebaikan, jauh dari iman, takwa dan keshahihan hingga mencapai tingkat kebusukan dan keburukan jiwa yang dapat menyatukannya dengan ruh-ruh setan yang busuk lagi jahat. Maka pada saat itulah kesetiaan antara dia dengan setan bersemi, lalu setan membisikkan berbagai kejahatan kepadanya dan masing-masing siap untuk saling berkhidmat dengan segala kemampuan yang dimilikinya. Maka dari itu, kelak di Hari Kiarnat dikatakan kepada mereka,

“Hai golongun jin (setan), sungguh kamu telah banyak (menyesatkan) manusia,” lalu berkatalah kawan-kawan mereka dari golongan manusia, “Ya Rabb kami, sesungguhnya sebagian dari kami telah mendapat kesenangan dari sebagian (yang lain) dan kami telah sampai kepada waktu yang telah Engkau tentukan bagi kami.” (Al-An’am: 128).

Perbedaan antara karamah al-Auliya’ dengan perilaku-perilaku setan akan tampak pada etika dan perihal seseorang. Jika dia adalah dari golongan orang-orang yang beriman dan bertakwa yang berpegang teguh kepada syariat agama secara lahir dan batin, maka kejadian-kejadian ajaib yang tampak pada dirinya adalah karamah dari Allah baginya, namun jika ia adalah orang jahat dan busuk lagi jauh dari takwa serta tenggelam di dalam berbagai kemaksiatan, kekufuran dan kedurjanaan, maka kejadian-kejadian aneh yang tampak pada dirinya itu adalah bagian dari istidraj atau merupakan bantuan dan pertolongan setan baginya.

Referensi : Syaikh Abu Bakar Jabir Al Jaza’iri, Minhajul Muslim, Darul Haq, Jakarta, 2016

Baca juga : 

Pasang Iklan di Website Ini +6285773713808
Hello. Add your message here.