Adab Terhadap Diri Sendiri

islamic-art1

Seorang Muslim meyakini bahwa kebahagiaannya di dalam dua kehidupannya, yaitu kehidupan dunia dan kehidupan akhirat tergantung pada bagaimana ia mendidik dirinya, membaguskannya, menyucikan dan membersihkannya, sebagaimana kesengsaraannya tergantung pada kerusakan, kekeruhan, dan kebusukannya. Demikian itu berdasarkan dalil-dalil sebagai berikut:

Firman Allah SWT,

“Sungguh beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sungguh merugilah orang yang mengotorinya.” (Asy-Syams: 9-10).

FirmanNya,

“Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan. Mereka mempunyai tikar tidur dari api neraka dan di atas mereka ada selimut (api neraka). Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang zhalim. Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal shalih, Kami tidak memikulkan kewajiban kepada diri seseorang melainkan sekedar kesanggupannya, mereka itulah penghuni-penghuni surga; mereka kekal di dalamnya.” (Al-A’raf: 40-42).

FirmanNya,

“Demi masa. Sesungguhnya manusiu itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.” (Al-‘Ashr: 1-3).

Sabda Rasul SAW,

“Setiap dari kalian akan masuk surga kecuali yang enggan.“ Para Sahabat bertanya, “Siapakah orang yang enggan itu, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Barangsiapa yang menaatiku, niscaya masuk surga dan barangsiapa yang mendurhakaiku maka sungguh ia telah enggan (masuk surga).” [Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 7280]

Sabda beliau pula,

“Setiap manusia berusaha dan beramal (dengan dirinya sendiri), maka (di antara mereka) ada yang menjual dirinya (kepada Allah dengan taat kepadaNya) sehingga dia membebaskan dirinya (dari azab Allah) atau (di antara mereka) ada yang menjual dirinya (kepada setan) sehingga dia menghancurkan dirinya.” [Diriwayatkan oleh Muslim, no. 223]

Sebagaimana seorang Muslim meyakini bahwa sesuatu yang dapat membersihkan dan menyucikan jiwa adalah kebaikan iman dan amal shalih, dan sesuatu yang dapat menodai, mengotori dan merusak adalah keburukan kekufuran dan kemaksiatan.

Firman Allah SWT,

“Dan dirikanlah shalat ilu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan dari malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbualan yang buruk.” (Hud: 114).

“Sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka.” (Al-Muthaffifin: 14).

Rasulullah SAW bersabda,

“Sesungguhnya apabila seorang Mukmin melakukan suatu dosa, maka akan ada noda hitam di dalam hatinya. Apabila dia bertaubat, berhenti dan meninggalkan (maksiat tersebut), maka hatinya akan cemerlang kembali. Apabila dia menambah (dosa itu) maka (nada hitam itu) akan bertambah sehingga menutupi hatinya.” [Diriwayatkan oleh an-Nasa’i, dalam as-Sunan al-Kubra, 6/110, at-Tirmidzi, no. 3334, dan beliau berkata tentang hadits tersebut, “Hasan shahih.”]

Demikian itulah noda yang disebutkan oleh Allah,

“Sekali-kali tidak, sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka” (Al-Muthaffifin: 14).

Beliau bersabda,

“Bertakwalah kalian kepada Allah di mana pun kamu berada dan ikutilah perbuatan buruk dengun perbuatan baik, niscaya akan menghapuskannya dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.” [Diriwayatkan oleh Ahmad, no. 20847; at-Tirmidzi, no. 1987, dan al-Hakim, 1/121]

Oleh karena itu, seorang Muslim hidup sebagai orang yang senantiasa berusaha mendidik dirinya, menyucikan, dan membersihkannya, karena dialah yang paling berhak untuk mendidik dirinya terlebih dahulu, maka dia menghiasinya dengan adab yang dapat menyucikannya dan membersihkan kotoran-kotorannya, sebagaimana dia menjauhkannya dari hal-hal yang dapat menodai dan merusaknya berupa keyakinan yang sesat, ucapan, dan perbuatan yang batil, kemudian dia menundukkannya siang dan malam, mengintrospeksinya setiap saat, mendorongnya melakukan amal kebaikan, dan ketaatan sebagaimana dia memalingkan dan membentenginya dari keburukan dan kerusakan, dan hendaknya dia mengikuti langkah-langkah berikut ini di dalam memperbaiki dan mendidiknya agar ia menjadi bersih dan suci:

  1. TAUBAT

Taubat maksudnya, membersihkan (diri) dari segenap dosa dan maksiat, menyesali setiap dosa yang telah dilakukannya, dan bertekad untuk tidak mengulangi perbuatan dosa itu di dalam sisa umurnya.

Hal ini berdasarkan Firman Allah SWT,

“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.” (At-Tahrim: 8).

FirmanNya,

“Dan bertaubatlah kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (An-Nur: 31).

Rasulullah SAW bersabda,

“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah, sesungguhnya aku bertaubat seratus kali dalam sehari.” [Diriwayatkan oleh Muslim, no. 2702]

“Barangsiapa yang bertaubat sebelum matahari terbit dari barat, niscaya Allah akan menerima taubatnya” [Diriwayatkan oleh Muslim, no. 2703]

Sabda beliau,

“Sesungguhnya Allah rnembentangkan TanganNya pada malam hari untuk menerima taubat orang yang berbuat kesalahan pada siang hari dan membentangkan TanganNya pada siang hari untuk menerima taubat orang yang berbuat kesalahan pada malam hari, (demikian), hingga matahari terbit dari barat.” [Diriwayatkan oleh Muslim, no. 2759]

Sabda beliau SAW,

“Allah lebih gembira dengan taubat seorang hambaNya yang beriman daripada gembiranya seorang lelaki yang berada di padang pasir tak bertuan dan membinasakan, di mana dia bersama tunggangannya yang di punggungnya terdapat makanan dan minumannya, lalu dia tidur lalu bangun ternyata tunggangannya telah pergi, lalu dia mencarinya sehingga dia merasa sangat kehausan. Kemudian dia berkata, ‘Aku akan kembali ke tempatku semula, lalu aku tidur hingga mati.’ Maka dia meletakkan kepalanya di atas lengannya agar dia bisa mati, tetapi kemudian dia bangun dan ternyata tunggangannya itu sudah di depannya yang di atasnya terdapat bekalnya, makanan dan minumannya. Maka Allah lebih gembira dengan taubatnya seorang hambaNya yang beriman daripada orang tersebut yang telah menemukan kembali tunggangannya beserta bekalnya.” [Muttafaq ‘alaih; al-Bukhari, no. 6308, Muslim, no. 2744]

Juga telah diriwayatkan bahwa para malaikat mengucapkan selamat kepada Adam karena taubatnya ketika Allah menerima taubatnya. [Disebutkan oleh al-Ghazali dalam al-Ihya’]

  1. MURAQABAH

Yaitu seorang Muslim merasa dirinya diawasi oleh Allah SWT, ia senantiasa merasakannya di setiap saat dari kehidupannya sehingga keyakinannya menjadi sempurna bahwa Allah selalu melihatnya, mengetahui rahasia-rahasianya, memperhatikan amal-amalnya, menegakkan putusan terhadapnya dan terhadap setiap jiwa dengan apa yang telah dilakukan. Oleh karena itu, dirinya tenggelam dalam pengawasan keagungan dan kesempurnaan Allah, merasa damai dengan mengingatNya, memperoleh kenyamanan dengah menjalankan ketaatan kepadaNya, mengharapkan pahala di sisiNya, menghadap kepadaNya dan berpaling dari selainNya. Inilah makna “menyerahkan diri” di dalam Firman Allah SWT,

“Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan.” (An-Nisa`: 125).

FirmanNya,

“Dan barangsiapa yang menyerahkah dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya dia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh.” (Luqman: 22).

ltu semua semakna dengan apa yang Allah serukan dalam FirmanNya,

“Dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada di dalam hatimu; maka takutlah kepadaNya, dan ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.” (Al-Baqarah: 235).

“Dan Allah Maha Mengawasi segala sesuatu.” (Al-Ahzab: 52).

“Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari al-Qur’an dan kamu tidak mengajakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di wakta kamu melakukannya.” (Yunus: 61)

Dan sabda beliau,

“Beribadahlah kepada Allah seakan-akan kamu melihatNya, jika kamu tidak bisa melihatNya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.” [Muttafaq ‘alaih; al-Bukhari, no. 50; Muslim, no. 9]

ltulah jiwa yang dimiliki as-Sabiqun al-Awwalun (generasi pertama) dari as-Salaf ash-Shalih umat ini ketika mereka merasakan jiwanya seperti itu sehingga keyakinan mereka sempurna dan mereka sampai pada derajat orang-orang yang didekatkan kepada Allah. Berikut ini atsar-atsar mereka:

  1. Dikatakan kepada Junaid RA “Dengan apa kita menundukkan pandangan?” Beliau menjawab, “Dengan ilmumu bahwa pandangan Dzat yang melihatmu lebih mendahului daripada pandanganmu terhadap objek yang dituju.”
  2. Sufyan ats-Tsauri berkata, “Hendaknya engkau selalu merasa diawasi oleh Dzat yang segala sesuatu tidak tersembunyi dariNya; hendaknya engkau selalu berharap kepada Dzat yang pasti menepati (janjiNya), dan hendaknya engkau selalu takut kepada Dzat yang kuasa memberi hukuman”
  3. lbnul Mubarak berkata kepada seseorang, “Hai pemuda, merasalah selalu diawasi Allah.” Pemuda tersebut bertanya kepadanya tentang muraqabatullah (merasa selalu diawasi Allah), maka ia berkata kepadanya, “Jadikanlah dirimu seakan-akan senantiasa melihat Allah SWT.”
  4. Abdullah bin Dinar berkata, “Aku keluar bersama Umar bin al-Khaththab ke Makkah, lalu kami singgah untuk istirahat di salah satu jalan, tiba-tiba seorang penggembala turun dari gunung melewati kami. Umar berkata kepadanya, ‘Hai penggembala, juallah kepada kami seekor kambing dari kumpulan kambing itu’, lalu si penggembala berkata, ‘Sesungguhnya kambing itu ada yang punya.’ Umar berkata, ‘Katakan saja kepada tuanmu bahwa kambing tersebut telah dimangsa serigala.’ Budak (penggembala) itu berkata, ‘Di manakah Allah?’ Lalu Umar menangis, dan keesokan harinya Umar mendatangi tuan si penggembala tersebut, kemudian membeli budak tersebut dari tuannya lantas beliau memerdekakannya”
  5. Diceritakan dari seorang yang shalih bahwasanya ia melalui suatu kaum yang saling berlemparan, ada salah seorang yang duduk jauh dari mereka, lalu orang shalih mendatanginya dan hendak menanyainya. Ia berkata kepadanya, “Dzikrullah lebih lezat.” Ia berkata, “Engkau sendirian?” Ia berkata, “Tuhanku dan kedua malaikatku bersamaku.” Ia berkata kepadanya, “Siapakah yang lebih unggul dari mereka?” Ia berkata, “Orang yang diampuni Allah.” Ia berkata, “Kemana arah jalan?” Lalu ia menunjuk ke arah langit, lantas ia berdiri dan berjalan.
  6. Diceritakan bahwa Zulaikha ketika berduaan dengan Nabi Yusuf AS ia berdiri lalu menutupi wajah berhalanya. Nabi Yusuf bertanya, “Ada apa denganmu ini? Apakah kamu malu dari pengawasan benda mati sedang aku tidak malu dari pengawasan Raja Yang Mahaperkasa?”

Seorang shalih bersenandung:

Apabila engkau menyendiri pada suatu hari,

maka jangan engkau katakan aku menyendiri,

tetupi katakan ada pengawas yang selalu mengintaiku.

Jangan engkau mengira Allah lalai walaupun sesaat

dan jangan engkau mengira bahwa apa yang engkau sembunyikan luput dariNya.

Bukankah engkau melihat bahwa hari itu cepat berlalu

dan besok itu amat cepat datangnya

bagi orang-orang yang menunggu.

  1. MUHASABAH (INTROSPEKSI DIRI)

Sesungguhnya seorang Muslim itu beramal dalam kehidupan ini siang malam untuk mendapat kebahagiaan di kampung akhirat, dan menekuninya untuk memperoleh kemuliaannya dan keridhaan Allah di dalamnya.

Dunia adalah ladang beramalnya, maka seyogyanya dia memperhatikan ibadah-ibadah fardhu yang diwajibkan kepadanya sebagaimana seorang pedagang memperhatikan modal hartanya, dan memperhatikan ibadah-ibadah sunnahnya sebagaimana seorang pedagang memperhatikan keuntungan tambahan atas modal hartanya, serta memperhatikan maksiat dan dosa seperti layaknya kerugian di dalam perdagangan, lalu dia menyendiri sesaat di akhir setiap harinya guna memuhasabah (mengintrospeksi) dirinya atas amal yang telah dilakukan sepanjang harinya.

Apabila dia melihat kekurangan di dalam menjalankan ibadah-ibadah fardhunya, dia akan mencela dan menyatakannya jelek lantas bergegas menutup kekurangannya tersebut. Jika ibadah tersebut termasuk ibadah yang boleh diqadha’ maka dia segera mengqadhanya. Jika bukan maka dia akan menutupinya dengan memperbanyak ibadah-ibadah sunnahnya. Apabila dia melihat kekurangan di dalam menjalankan ibadah-ibadah sunnah, maka dia akan menggantinya dan menutup kekurangannya. Apabila dia melihat kerugian akibat menerjang larangan-larangan, maka dia segera memohon ampunan, menyesal, kembali kepada Allah dan mengerjakan kebaikan yang menurutnya mampu memperbaiki apa yang telah dia rusak.

Inilah tujuan dari muhasabah diri. Muhasabah merupakan salah satu metode memperbaiki, melatih, menyucikan dan membersihkan diri. Dalil-dalil yang menerangkan tentang muhasabah diri banyak sekali, di antaranya:

Firman Allah SWT,

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhaiikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al-Hasyr: 18).

“Dan hendaknya setiap diri memperhatikan, ini adalah perintah untuk muhasabah diri atas apa yang telah dikerjakan untuk hari esoknya yang sedang menanti.

FirmanNya,

“Dan bertaubatlah kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (An-Nur: 31).

Sabda Rasulullah SAW,

“Sesungguhnya aku betul-betul bertaubat kepada Allah dan memohon ampunan kepadaNya seratas kali dalam sehari.” [Diriwayatkan oleh Muslim]

Umar bin al-Khaththab RA berkata, “Hisablah dirimu sebelum (amalan) kamu dihisab.”

[Telah diriwayatkan sebuah hadits yang semakna dengan ucapan Umar tersebut oleh at-Tirmidzi, no. 2459, dengan sanad yang hasan dari Nabi SAW, “Orang cerdik adalah orang yang (mampu) menundukkan dirinya dan beramal untuk bekal setelah mati, sedangkan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan kepada Allah dengan banyak angan-angan.”]

Dan apabila malam telah menyelimutinya, beliau memukul kedua telapak kakinya dengan sebuah tongkat dan berkata kepada dirinya, “Apa yang telah kamu lakukan hari ini?”

Abu Thalhah RA ketika disibukkan oleh kebunnya sehingga menyibukkannya dari shalatnya, beliau mengeluarkan sedekah dari kebunnya untuk Allah SWT, beliau melakukan ini karena semata-mata muhasabah diri dan sebagai celaan dan pendidikan bagi dirinya.

Dikisahkan dari al-Ahnaf bin Qais, bahwasanya beliau mendatangi suatu lampu (yang bersumbu) lalu meletakkan jari jemarinya di dalamnya sehingga merasakan (panasnya) api, lantas beliau berkata, “Hai Hunaif, apa yang mendorong dirimu berbuat kala itu? Apa yang mendorong dirimu berbuat kala itu?”

Dikisahkan bahwa seorang yang shalih sedang berperang, lalu tiba-tiba seorang perempuan tersingkap auratnya di hadapannya dan ia melihatnya, maka ia mengangkat tangannya dan menampar matanya sehingga matanya keluar. Ia berkata, “Sesungguhnya kamu sangat memperhatikan hal-hal yang mencelakakan dirimu.”

Suatu ketika salah seorang dari mereka melalui sebuah bilik, lalu ia berkata, “Kapankah bilik ini dibangun?” Kemudian ia balik bertanya kepada dirinya, “Apakah kamu bertanya kepadaku tentang sesuatu yang tidak bermanfaat bagimu, niscaya akan aku hukum kamu dengan puasa setahun penuh”, maka ia berpuasa setahun penuh.

Diriwayatkan bahwa seorang yang shalih pergi ke gurun pasir yang panas lalu ia bergulung-gulung di atasnya, ia berkata kepada dirinya, “Rasakanlah ini, dan api Neraka Jahanam lebih panas lagi. Apakah kamu ingin menjadi bangkai di malam hari dan sebagai pengangguran di siang hari?” Suatu hari seorang yang shalih mendongakkan kepalanya ke atas atap, lalu ia melihat seorang wanita dan memandangnya, maka ia bertekad tidak akan melihat ke langit selagi ia masih hidup.

Demikian itulah orang-orang shalih dari umat ini, mereka memuhasabah diri mereka dari menyia-nyiakannya, mencelanya atas keteledorannya, menetapi sifat takwa, dan menahan dirinya dari hawa nafsunya sebagai pengamalan FirmanNya,

“Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya” (An-Nazi’at: 40-41).

  1. MUJAHADAH (PERANG TERHADAP NAFSU/JIWA)

Yaitu hendaknya seorang Muslim mengetahui bahwa musuh bebuyutannya adalah nafsu (diri)nya sendiri. Nafsu menurut tabi’atnya selalu condong kepada keburukan, dan lari dari kebaikan serta senantiasa menyuruh kepada kejelekan. Allah SWT berfirman (tentang perkataan hambaNya)

“Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan.” (Yusuf: 53).

Nafsu (jiwa) menyukai santai-santai (leha-leha) dan menganggur, larut bersama hawa nafsu, dilalaikan oleh keinginan-keinginan sementara meskipun di dalanmya terdapat kebinasaan dan kesengsaraannya.

Apabila seorang Muslim mengetahui hal ini, niscaya dia akan menyiapkan dirinya kemudian mengumumkan peperangan terhadapnya, mengangkat senjata untuk memeranginya, bercita-cita tetap untuk melawan kebodohannya dan memerangi syahwatnya.

Apabila nafsu itu menyukai leha-leha, maka dia membuatnya lelah (dengan mengalihkannya ke aktivitas yang positif, Ed.T). Apabila nafsu itu menginginkan syahwatnya, maka dia menghalanginya. Apabila ia teledor dalam menjalankan ketaatan atau kebaikan, maka dia menghukum dan mencelanya, kemudian memerintahkannya untuk mengerjakan apa yang telah diteledorkalnnya lalu mengqadha’ apa yang telah luput atau hilang darinya. Dia menerapkan pendidikan ini kepadanya sehingga jiwanya menjadi tenang, bersih dan baik. Inilah tujuan mujahadah nafs (perang terhadap nafsu atau jiwa). Firman Allah SWT,

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.” (Al-‘Ankabut: 69)

Seorang Muslim -ketika memerangi nafsu (jiwa)nya di jalan Allah agar jiwanya itu baik, bersih, suci, tentram dan layak menjadi pemilik kemuliaan Allah SWT dan keridhaanNya- mengetahui bahwa hal itu merupakan kebiasaan orang-orang shalih dan jalan orang-orang yang beriman dengan sebenarnya, maka dia akan mengikuti jalan mereka dan menelusuri jejak-jejak mereka. Rasulullah SAW melakukan shalat malam sehingga kedua telapak kaki beliau yang mulia bengkak, beliau pernah ditanya mengapa melakukan seperti itu, maka beliau bersabda, “Tidak senangkah aku menjadi hamba yang bersyukur?” [Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 1130]

Perjuangan macam apa yang lebih besar daripada perjuangan ini, demi Allah (tidak ada), Ali RA pernah bercerita tentang para sahabat Rasulullah SAW beliau berkata, “Demi Allah, aku melihat para sahabat Muhammad SAW dan tidak ada sesuatu pun yang menyamai mereka, pada pagi harinya mereka dalam keadaan kusut, berdebu dan kekuning-kuningan (pucat pasi); sungguh mereka telah menghidupkan malam hari dengan sujud dan shalat, membaca Kitab Allah dengan berganti-ganti mengistirahatkan antara kaki mereka dan dahi-dahi mereka. Apabila disebutkan nama Allah, mereka bergoyang laksana bergoyangnya pepohonan di hari yang berangin dan air mata mereka menetes sehingga membasahi baju mereka.”

Abu ad-Darda’ RA berkata, “Seandainya kalau bukan karena tiga perkara, maka saya tidak ingin hidup meskipun sehari: Dahaga untuk Allah pada siang hari yang panas (maksudnya puasa), sujud kepadaNya di tengah malam dan duduk-duduk dengan suatu kaum yang memilih perkataan yang paling baik sebagaimana memilih buah yang paling baik.”

Umar bin al-Khaththab RA mencaci dirinya karena ketinggalan Shalat Ashar secara berjamaah, lalu bersedekah dengan sebidang tanah seharga dua ratus ribu dirham karenanya. Abdullah bin Umar RA ketika beliau ketinggalan suatu shalat secara berjamaah, maka beliau menghidupkan malam harinya (dengan shalat malam) semalam suntuk; pada suatu hari beliau ketinggalan Shalat Maghrib sehingga terbitlah dua bintang lalu beliau memerdekakan dua budak sahaya.

Ali RA berkata, “Semoga Allah merahmati kaum-kaum yang mana manusia mengira bahwa mereka sedang sakit padahal mereka tidak sakit.” Demikian itu karena dampak dari mujahadah nafs. Rasulullah SAW bersahda,

“Sebaik-baik manusia adalah yang panjang umurnya dan baik amalnya.” [Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, no. 2329 dan beliau menghasankannya]

Uwais al-Qarni RA berkata, “Malam ini adalah malam rukuk”, maka beliau menghidupkan semalam suntuk dalam rukuk. Malam berikutnya, beliau berkata, “Malam ini adalah malam sujud”, maka beliau menghidupkan semalam suntuk dalam sujud.

[Atsar-atsar yang baik ini diriwayatkan oleh al-Imam al-Ghazali di dalam al-Ihya’]

Tsabit al-Bunani berkata, “Aku menjumpai banyak laki-laki, salah seorang dari mereka shalat sehingga ia tidak mampu mendatangi tempat tidurnya melainkan dengan merangkak; ada yang shalat malam sehingga kedua kakinya bengkak karena lamanya berdiri, dia mencapai kesungguhan dalam beribadah dengan kesungguhan yang kalau dikatakan kepadanya, “Kiamat akan terjadi esok hari” maka dia tidak dapat menambah (ibadahnya) lagi. Dan apabila datang musim dingin, ia berdiri di atas atap rumah yang datar agar ditimpa hawa dingin sehingga tidak tidur, dan apabila datang musim panas, ia berdiri di bawah atap sehingga hawa panas menghalanginya dari tidur; dan ada sebagian dari mereka yang meninggal dunia dalam keadaan sujud.

lstri Masruq RA berkata, “Dahulu tidaklah Masruq didapatkan melainkan pasti kedua betisnya dalam keadaan bengkak karena lamanya berdiri dalam shalat. Demi Allah, seandainya aku (shalat bersamanya) pasti aku duduk di belakangnya sedangkan dirinya masih berdiri shalat, lalu aku menangis karena iba terhadapnya.”

Ada seorang di antara mereka yang ketika umurnya telah mencapai empat puluh tahun, ia melipat kasurnya lalu tidak tidur di atasnya selamanya.

Diriwayatkan bahwasanya seorang wanita shalihah dari kalangan orang-orang shalih terdahulu, dipanggil dengan nama “Ujrah si buta” apabila tiba waktu sahar (waktu sebelum terbitnya fajar Shubuh) ia menyeru dengan suaranya yang parau (sedih), “KepadaMu-lah orang-orang yang beribadah menerjang kegelapan malam, mereka berlomba-lomba menuju rahmatMu dan keluasan ampunanMu. KepadaMu-lah wahai Ilahi, aku meminta, bukan kepada selainMu, semoga Engkau menjadikan diriku dalam golongan pertama (as-Sabiqin), Engkau mengangkatku di sisiMu di dalam ‘Illiyyin, pada derajat orang-orang yang didekatkan (muqarrabin), dan Engkau kumpulkan diriku dengan hamba-hambaMu yang shalih. Sesungguhnya Engkau sebaik-baik Dzat Yang Maha Penyayang, seagung-agung Dzat Yang Mahaagung dan semulia-mulia Dzat Yang Mahamulia, Wahai Dzat Yang Mahamulia”, kemudian ia menyungkur sujud, terus menerus berdoa dan menangis hingga terbit fajar Shubuh.

Referensi : Syaikh Abu Bakar Jabir Al Jaza’iri, Minhajul Muslim, Darul Haq, Jakarta, 2016

Hello. Add your message here.