ADAB TERHADAP KEDUA ORANG TUA

islamic-background2

ADAB TERHADAP KEDUA ORANG TUA

Seorang Muslim percaya akan adanya hak kedua orang tua terhadap dirinya serta kewajiban berbakti, menaati dan berbuat baik terhadap keduanya. Tidak hanya karena mereka berdua menjadi sebab keberadaannya, atau karena mereka telah memberikan perlakuan baik terhadapnya dan memenuhi kebutuhannya, tapi juga karena Allah SWT telah menetapkan kewajiban atas anak untuk berbakti dan berbuat baik kepada kedua orang tuanya, bahkan Allah menyebutkan kewajiban berbakti kepada orang tua setelah penyebutan kewajiban terhadapNya yang merupakan ibadah kepadaNya semata, tanpa kepada yang selainNya, sebagaimana FirmanNya,

“Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengun sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan, “Ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan endahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah, ‘Wahai Rabbku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua mendidik aku waktu kecil’.” (Al-Isra`: 23-24).

Dan FirmanNya,

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepudaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepadaKu-lah kembalimu” (Luqman: 14)

Ketika Rasulullah SAW ditanya oleh seorang laki-laki, “Siapakah orang yang paling berhak mendapatkan baktiku?” Beliau menjawab, “Ibumu.” Laki-laki itu bertanya lagi, “Kemudian siapa lagi?“ Beliau menjawab, “Ibumu.” Ia bertanya lagi, “Kemudian siapa lagi?” Beliau menjawab, “Ibumu.” Ia bertanya lagi, “Kemudian siapa lagi?” Beliau menjawab, “Kemudian bapakmu” [Muttafaq ‘alaih; al-Bukhari, no. 5971; Muslim, no. 2548]

Beliau juga telah bersabda,

“Sesungguhnya Allah telah mengharamkan atas kalian durhaka terhadap ibu-ibu kalian, tidak memberi kepada yang membutuhkan, mengubur hidup-hidup anak-anak perempuan dan Allah membenci adanya ucapan-ucapan yang tidak jelas sumber dan kebenarannya pada kalian, banyak bertanya-tanya dan menyia-nyiakan harta” [Muttafaq ‘alaih; al-Bukhari, no. 2408; Muslim, no. 593]

Dalam sabda lainnya disebutkan,

“Maukah kalian aka beritahukan tentang dosa besar yang paling besar?” Para sahabat menjawab, “Tentu wahai Rasulullah” Beliau bersabda, “Mempersekutukan Allah, durhaka terhadap kedua orang tua” saat itu beliau sedang bersandar, lalu beliau duduk, kemudian melanjutkan, “Ingatlah, dan perkataan dusta serta persaksian palsu, ingatlah, dan perkataan dusta serta persaksian palsu” Beliau terus mengulaag-ulangnya sampai Abu Bakrah bergumam, “Mudah-mudahan beliau diam” [Muttafaq ‘alaih; al-Bukhari, no. 6919; Muslim, no. 87]

Dalam sabda lainnya disebutkan,

“Seorang anak tidaklah dapat membalas (jasa) orang tuanya kecuali apabila ia mendapatinya sebagai budak lalu ia membelinya kemudian memerdekakannya” [Muttafaq ‘alaih; Muslim, no. 1510]

Abdullah bin Mas’ud RA berkata,

“Aku bertanya kepada Nabi SAW, ‘Amal apakah yang paling dicintai Allah?’ Beliau menjawab, ‘Berbakti kepada kedua orang tua’ Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Jihad di jalan Allah’.” [Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 5970]

Pernah suatu ketika seorang laki-laki menghampiri beliau dan meminta izin untuk berjihad, beliau bertanya,

“Apakah kedua orang tuamu masih hidup?” Laki-laki itu menjawab, “Ya” Beliau bersabda, “(Kalau begitu) berjihadlah (dengan berbakti) pada keduanya.” [Muttafaq ‘alaih; al-Bukhari, no. 3004; Muslim, no. 2549]

“Seorang laki-laki dari kaum Anshar datang lalu berkata, ‘Wahai Rasulullah, masih adakah yang tersisa kewajiban baktiku terhadap kedua orang tuaku yang harus aku lakukan setelah mereka meninggal?’ Beliau menjawab, ’Ada, yaitu empat hal :Mendoakan keduanya, memohonkan ampunan bagi keduanya, melaksanakan janji keduanya, menghormati teman-teman keduanya dan menyambung tali persaudaraan (silaturahim) yang tidak ada hubungan rahim denganmu kecuali melalui keduanya. Itulah sisa bakti yang harus kau lakukan terhadap keduanya setelah mereka meninggal dunia” [Diriwayatkan oleh Abu Dawud, no. 5142]

Beliau pun telah bersabda,

“Sesungguhnya di antara sebaik-baik bakti adalah seseorang menyambung hubungan dengan keluarga teman dekat ayahnya setelah meninggalnya.” [Diriwayatkan oleh Muslim, no. 2552]

Jika seorang Muslim mengakui hak-hak terhadap kedua orang tuanya dan melaksanakannya dengan sempurna dalam rangka menaati Allah Ta’ala dan melaksanakan wasiatNya, maka di samping itu ia pun berkewajiban memuliakan kedua orang tuanya dengan adab-adab berikut:

  1. Mematuhi setiap yang diperintahkan atau dilarang oleh keduanya dalam hal-hal yang bukan kemaksiatan terhadap Allah SWT dan tidak menyelisihi syariatNya, karena tidak boleh menaati makhluk dalam bermaksiat terhadap Allah, hal ini berdasarkan Firman Allah SWT,

“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukanKu dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengun baik.” (Luqman: 15)

Dan sabda Rasulullah SAW,

“Kewajiban taat itu hanya dalam hal kebaikan” [Diriwayatkan oleh Muslim, no. 1840]

Serta sabaanya,

“Tidak ada (kewajiban) taat bagi makhluk dalam kemaksiatan terhadap Khaliq (Allah)” [Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam al-Kabir, 18/170]

  1. Memuliakan dan mengagungkan keduanya; bersikap santun terhadap keduanya, menghormati keduanya dengan perkataan dan perbuatan, tidak menghardik keduanya dan tidak mengangkat suara terhadap mereka, (jika berjalan bersama, maka) mereka tidak berjalan di depan mereka, tidak lebih mengutamakan istri dan anak daripada keduanya, tidak memanggil mereka dengan nama mereka tapi dengan panggilan ‘ayah’ dan ‘ibu’ serta tidak bepergian kecuali dengan izin dan kerelaan mereka.
  2. Berbuat baik terhadap keduanya dengan segala sesuatu yang mampu dilakukan, seperti memberi makanan, pakaian, mengobati dan mencegah marabahaya serta mempertaruhkan jiwa untuk melindungi mereka.
  3. Menyambung hubungan silaturahim yang tidak ada hubungan rahim kecuali melalui mereka berdua, mendoakan dan memohonkan ampun bagi keduanya serta melaksanakan janji keduanya dan menghormati teman-teman mereka.

Referensi : Syaikh Abu Bakar Jabir Al Jaza’iri, Minhajul Muslim, Darul Haq, Jakarta, 2016

Baca juga : 

Pasang Iklan di Website Ini +6285773713808
Hello. Add your message here.