Beriman Kepada Kerasulan Muhammad SAW 

muhammad14

Seorang Muslim beriman bahwasanya nabi yang ummi (buta huruf), yaitu Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muththalib al-Hasyimi al-Qurasyi al-Arabi yang berasal dari keturunan Nabi Isma’il bin Ibrahim al-Khalil AS adalah hamba Allah dan RasulNya yang diutus kepada segenap umat manusia, baik yang berkulit merah maupun yang berkulit putih, dan dengan kenabiannya Allah menutup dan mengakhiri kenabian dan kerasulan. Maka tidak ada nabi dan tidak pula rasul sesudah beliau.

Nabi Muhammad telah didukung dengan beberapa mukjizat dan diutamakan atas segenap nabi, sebagaimana umumya telah diutamakan atas segenap umat. Allah telah mewajibkan cinta kepadanya, memastikan taat kepadanya dan mengharuskan mutaba’ah (mengikuti)nya. Allah SWT juga telah memberikan kelebihan-kelebihan (khasha’ish) kepada beliau yang belum pernah diberikan kepada siapa pun selain beliau, yang di antaranya adalah al-Wasilah, al-Kautsar (telaga di padang mahsyar), al-Haudh (kolam) dan al-Maqam al-Mahmud (kedudukan yang termulia). lman yang demikian itu karena adanya dalil-dalil naqli dan ‘aqli berikut ini:

Dalil-dalil Naqli

  1. Kesaksian Allah dan para malaikat bagi Nabi Muhammad bahwasanya beliau menerima wahyu, sebagaimana Firman Allah,

“(Mereka tidak mau mengakui yang diturunkan kepadamu itu), tetapi Allah mengakui al-Qur’an yang diturunkanNya kepadamu. Allah menurunkannya dengan ilmuNyu; dan malaikat-malaikat pun menjadi suksi (pula), cukuplah Allah yang mengakuinya.” (An-Nisa`: 166).

  1. Informasi dari Allah mengenai universalitas kerasulan Nabi Muhammad, akhir kenabian, kewajiban taat dan mencintainya dan sebagai nabi penutup, sebagaimana difirmankanNya,

“Wahai manusia, sesungguhnya telah datang Rasul (Muhammad) itu kepadamu dengan (membawa) kebenaran dari Rabbmu, maka berimanlah kamu, itulah yang lebih baik bagimu.” (An-Nisa`: 170).

Dan FirmanNya,

“Hai Ahli Kitab, sungguh telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan (syariat Kami) kepadamu ketika (pengiriman) rasul-rasul terputus, agar kamu tidak mengatakan, ‘Tidak datang kepada kami baik seorang pembawa berita gembira maupun seorang pemberi peringatan! Sesungguhnya telah datang kepadamu pembawa berita gembira dan pemberi peringatan.” (Al-Ma`idah: 19).

Demikian pula FirmanNya,

“Dan tidaklah Kami mengutusmu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (Al-Anbiya`: 107).

“Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang bula huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayatNya kepada mereka, menyucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan hikmah. Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-behar dalam kesesatan yang nyata.” (Al-Jumu‘ah: 2).

FirmanNya pula,

“Muhammad adalah utusan Allah.” (Al-Fath: 29).

Allah juga berfirman,

“Mahasuci Allah yang telah menurunkan al-Furqan (al-Qur’an) kepada hambaNya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.” (Al-Furqan: 1).

Allah juga berfirman,

“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasalullah dan penutap nabi-nabi. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Al-Ahzab: 40).

Allah juga berfirman tentang mukjizatnya,

“Telah dekat (datangnya) saat itu dan bulan telah terbelah.“ (Al-Qamar: 1).

Di dalam FirmanNya ditegaskan tentang al-Kautsar,

“Sesunggahnya Kami telah memberikan kepadamu al-Kaatsar.“ (Al-Kautsar: 1).

Di dalam FirmanNya ditegaskan tentang karunia besar kepada Nabi Muhammad,

“Dan kelak pasti Rabbmu memberikan karuniaNya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas.“ (Adh-Dhuha: 5).

Di dalam FirmanNya ditegaskan tentang al-Maqam al-Mahmud,

“Dan pada sebagian malam hari shalat tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Rabbmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.” (Al-lsra`: 79).

Allah juga berfirman tentang kewajiban taat kepada Rasulullah,

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul(Nya), dan ulil amri di antara kamu.” (An-Nisa`: 59).

Allah berfirman tentang kewajiban mencintai Rasulullah,

“Katakanlah, ‘Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluarga, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah ternpat tinggal yang kamu sakai adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan RasulNya dan (dari) berjihad di jalanNya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusanNya,’ Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (At-Taubah: 24).

Firman Allah tentang keutamaan umat Nabi Muhammad,

“Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.” (Ali lmran: 110).

Demikian pula FirmanNya,

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.” (Al-Baqarah: 143).

Dan FirmanNya lagi tentang kewajiban patuh dan taat kepada Nabi Muhammad SAW,

“Katakanlah, ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.“ (Ali Imran: 31).

  1. Berita dari Rasulullah SAW sendiri tentang kenabiannya, yang dengannya kenabian diakhiri, kewajiban patuh dan taat kepadanya, dan keumuman (universalitas) risalah (kerasulan)nya, sebagaimana disabdakannya,

“Aku adalah Nabi, tiada dusta; aku adalah cucu Abdul Muththalib.” [Muttafaq ’alaih; al-Bukhari, no. 2864; Muslim, no. 1776]

“Sesungguhnya aku adalah seorang hamba Allah dan penutup para nabi; dan sesungguhnya Nabi Adam masih terletak di tanah.” [Diriwayatkan oleh al-Bukhari di dalam kitabnya at-Tarikh, Imam Ahmad, no. 16700; dan Ibnu Hibban di dalam Shahihnya]

“Perumpamaanku dengan para nabi (sebelumku) adalah seperti orang yang membangun sebuah rumah, ia pun membangunnya dengan baik dan indah kecuali satu tempat batu bata. Lalu orang-orang mengitari rumah itu dan sangat terkagum-kagum kepadanya, seraya berkata, ‘Kenapa tidak dipasang batu bata di sini?’ Maka akulah batu bata itu dan aku adalah penutup para nabi.” [Muttafaq ’alaih; al-Bukhari, no. 3535; Muslim, no. 2286]

“Demi Dzat yang jiwaku ada di TanganNya, tidaklah seseorang beriman (dengan sempurna) sehingga aku menjadi yang paling ia cintai daripada anaknya, orang tuanya dan selurah manusia.” [Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 15; tanpa lafazh “walladzi nafsi biyadih”]

“Tiap-tiap kalian akan masuk surga, kecuali orang yang enggan.” Para sahabat bertanya, “Siapa yang enggan, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Barangsiapa yang mematuhiku niscaya masuk surga, dan barangsiapa yang mendurhakaiku maka dia telah enggan.” [Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no, 7280]

“Sesungguhnya kerasulan dan kenabian telah terputus (dihentikan), maka tidak ada rasul dan tidak ada nabi sesudahku.” [Diriwayatkan oleh Ahmad, no. 13412; dan at-Tirmidzi, no. 2272; dan ia menilainya shahih]

“Aku diutamakan atas para nabi dengan enam perkara: Aku dikaruniai Jawami’ al-Karim (kemampuan berbicara singkat dan padat), aku diberi pertolongan (atas musuh) dengan rasa takut, dihalalkan bagiku harta rampasan perang, bumi ini dijadikan masjid dan suci bagiku, aku diutus kepada seluruh munusia dan denganku kenabian ditutup.” [Diriwayatkan oleh Muslim, no. 523; dan at-Tirmidzi, no. 1553]

“Barangsiapa yang taat kepadaku berarti ia taat kepada Allah, dan barangsiapa yang durhaka kepadaku, maka berarti ia telah durhaka kepada Allah; dan barangsiapa yang taat kepada pemimpin (pilihan)ku, maka ia berarti telah taat kepadaku, dan barangsiapa yang durhaka kepada pemimpin (pilihan)ku, maka ia telah durhaka kepadaku.” [Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 2957]

“Sesungguhnya surga dharamkan atas seluruh nabi sehingga aku memasukinya, dan diharamkan pula atas seluruh umat sebelum umatku memasukinya.” [Diriwayatkan oleh ad-Daraquthni. Hadits ini mempunyai beberapa jalan sehingga menjadikannya hasan]

“Pada Hari Kiamat nanti aku menjadi pemimpin para nabi, juru bicara mereka dan pemberi syafa’at kepada mereka. (Perkataanku) ini bukanlah suatu kesombongan.” [Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, no. 3613; Ibnu Majah, no. 4314; dan Ahmad, no. 20748]

“Aku adalah pemimpin anak cacu Adam (manasia) pada Hari Kiamat kelak, orang pertama yang kabarannya terbuka pada Hari Kiamat, orang pertama yang memberi syafa’at dan orang pertama yang dikabulkan syafa’atnya.” [Diriwayatkan oleh Muslim, no. 2278]

  1. Kesaksian kitab Taurat dan lnjil tentang kerasulan dan kenabian Nabi Muhammad SAW serta berita dari Nabi Musa dan Nabi Isa sebagaimana difirmankan oleh Allah SWT tentang apa yang diceritakan oleh Nabi Isa,

“Dan ingatlah ketika Isa putra Maryam berkata, ‘Hai Bani Isra’il, sesunggahnya aku adalah utasan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)” (Ash-Shaff: 6).

Dan FirmanNya,

“Yaitu orang-orang yang mengikuti rasul seorang nabi yang ummi (buta huruf) yang namanya mereka temukan tertulis di dalam kitab Taurat dan lnjil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereku mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkur serta menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk.” (Al-A’raf: 157).

Di dalam kitab Taurat disebutkan, “Seorang nabi akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara saudara mereka, seperti engkau ini; Aku akan menaruh FirmanKu dalam mulutnya, dan dia akan menyampaikan kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadanya. Orang yang tidak mendengarkan segala FirmanKu yang akan diucapkan nabi itu atas NamaKu, maka Aku akan menuntut pertanggungjawaban.” [Kitab Ulangan 18: 18-19, Lembaga al-Kitab lndonesia, 1983].

Itulah berita gembira nyata yang ada di dalam kitab Taurat yang ada sekarang yang memberikan kesaksian tentang kenabian nabi kita, yaitu Nabi Muhammad SAW dan kerasulannya, kewajiban mengikutinya dan keharusan mematuhinya. Kesaksian ini merupakan hujjah (argumen) atas orang-orang Yahudi, sekalipun telah mereka ta‘wil dan mereka ingkari.

Jadi, Firman Allah yang menyebutkan, “Seorag nabi akan Kubungkitkan bagi mereka” membuktikan kenabian dan kerasulan Nabi Muhammad SAW tanpa diragukan lagi. Sebab orang yang diajak bicara di sini adalah Musa AS seorang nabi dan rasul. Dan siapa saja yang serupa dengan Nabi Musa maka dia adalah nabi dan rasul. Sedangkan Firman Allah yang mengatakan, “dari antara saudara mereka” sudah sangat tegas bahwa maksudnya adalah Nabi Muhammad SAW. Sedangkan FirmanNya, “Aku akan menaruh firmanKu dalam mulutnya” tidak pas kecuali kepada nabi kita, Nabi Muhammad, karena beliaulah yang membacakan Firman Allah dan menghafalnya, yaitu al-Qur`an al-Karim. Kemudian FirmanNya, “Ia akan menyampaikan kepada mereka segala yang Kuperintahkan” juga sebagai bukti lainnya, sebab Nabi Muhammad SAW telah membicarakan tentang masalah-masalah ghaib yang tidak pernah dibicarakan oleh seorang nabi pun selain beliau. Beliau telah membicarakan apa-apa yang telah terjadi dan apa-apa yang akan terjadi di Hari Kiamat kelak.

Disebutkan juga di dalam Taurat sebagai berikut, “Hai nabi, sesungguhnya Kami mengutus kamu sebagai pembawa berita gembira, pemberi peringatan dan pelindung bagi orang-orang yang ummi (buta huruf). Engkau adalah hamba dan utusanKu; Aku menamaimu al-Mutawakkil, tidak berperangai kasar dan tidak pula keras hati, tidak pula bersuara keras di pasar-pasar dan tidak membalas keburukan dengan keburukan, akan tetapi memaafkan, berlapang dada dan mengampuni; dan Allah sekali-kali tidak akan mencabut ruhnya (mewafatkannya) sehingga dengannya Allah menegakkan agama yang telah menyimpang itu, di mana ia menyeru agar (umat) mengucapkan, “Tiada tuhan yang berhak disembuh selain Alluh.” Lalu dengannya Allah membuka mata yang buta dan telinga yang tuli serta hati yang tertutup.” [Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari, no. 2125]

Disebutkan juga di dalamnya, “Mereka membangkitkan cemburuku dengan sebab kecemburuan Allah, mereka menimbulkan sakit hatiku dengan berhala mereka. Sebab itu aku akan membangkitkan cemburu mereka dengan sebab kecemburuan suatu umat dan akan menyakiti hati mereka dengan bangsa yang bebal.” [Kitab Ulangan 32: 21]

Ungkapan, “dengan bangsa yang bebal (jahil, bodoh)” adalah jelas bahwa yang dimaksud adalah bangsa Arab, karena bangsa Arab merupakan bangsa yang jahil sebelum Nabi Muhammad SAW diutus. Orang-orang Yahudi pun menyebut bangsa Arab dengan sebutan “ummiyyun” (bangsa yang tidak kenal baca tulis), sebagaimana disebutkan juga dalam Taurat: “Tongkat kerajaan ataupun lambang pemerintahan tidak akan beranjak dari Yehuda dari antara kakinya, sampai datang yang berhak atasnya, maka kepadanya akan takluk bangsa-bangsa.” [Kejadian 49: 10].

Siapakah orang yang ditunggu-tunggu oleh umat manusia selain dari Nabi Muhammad SAW apalagi bangsa Yahudi yang sangat menunggu-nunggu kedatangarmya berdasarkan pengakuan-pengakuan nyata mereka. Akan tetapi iri hatilah (rasa dengki) yang menghalangi mereka untuk beriman dan mengikuti ajarannya. Allah telah menjelaskan tentang hal itu di dalam al-Qur’an dengan FirmanNya,

“Padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, lalu mereka ingkar kepadanya. Maka laknat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu.” (Al-Baqarah: 89).

Di dalam Injil pun terdapat berita gembira berikut ini:

  1. Pada waktu itu tampillah Yohanes pembaptis di padang gurun Yudea dan Yakriz [Yakriz dari bahasa Suryani yang artinya menasihati dan menyerykan akan kedatangan seorang nabi] (memberitakan): Bertobatlah, sebab kerajaan surga (malakutus samawat) sudah dekat.” Malakutus samawat di sini maksudnya adalah isyarat kepada Nabi Muhammad SAW dan ini merupakan kabar gembira tentang dekatnya waktu kenabian beliau, sebab beliaulah yang menguasai dan memutuskan segala masalah dengan hukum-hukum dari langit.
  2. Yesus membentangkan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, katanya: “Hal kerajaan surga (malakutus samawat) itu seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di ladangnya. Memang biji itu yang paling kecil dari segala jenis benih, tetapi apabila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar daripada sayuran yang lain.” [Matius 13: 31-32]. Ungkapan ini persis dengan ungkapan yang disebutkan oleh Allah SWT di dalam al-Qur`an,

“Dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah ia dan tegak luras di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir.” (Al-Fath: 29).

Yang dimaksud di dalam ayat ini adalah Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya.

  1. Adalah lebih berguna bagimu jika aku pergi, sebab jika aku tidak pergi, penghibur (paracletos [Bahasa Yunani (yang sudah disimpangkan dari bacaan yang sebenarnya, periclytos. Ed. T.) yang artinya dalam bahasa Arab adalah orang yang banyak dipuji. lni searti dengan makna “Muhammad” atau “Ahmad”]) itu tidak akan datang kepadaMu, tetapi jikalau aku pergi, aku akan mengutusnya kepadamu. Dan kalau dia datang, dia akan menginsafkan dunia akan dosa.” [Injil Yohanes 16: 7-8).

Tidakkah kalimat-kalimat lnjil di atas sangat jelas dalam mengungkapkan kerasulan Nabi Muhammad SAW lalu siapakah yang disebut paracletos kalau bukan Nabi Muhammad SAW. Siapa pula yang “menginsafkan dunia akan dosa” kalau bukan beliau? Sebab beliaulah yang diutus, sedangkan dunia pada saat itu tenggelam di dalam lautan kehancuran dan keburukan; penyembahan terhadap berhala membudaya hingga pada ahli kitab!? Dan siapakah yang datang sesudah Nabi Isa AS yang mengajak beribadah kepada Allah, Rabb semesta alam kalau bukan Nabi Muhammad SAW?!

Dalil-dalil ‘Aqli

  1. Apa gerangan yang menjadi penghalang bagi Allah untuk mengangkat Muhammad sebagai rasul, padahal Allah sebelumnya telah mengangkat ratusan rasul dan ribuan nabi? Jika tidak ada penghalang, baik secara nalar maupun secara syar’i, maka atas dasar apa kerasulan Nabi Muhanunad SAW diingkari dan kenabiannya kepada seluruh manusia ditolak?
  2. Kondisi yang menyelimuti kerasulan Nabi Muhammad SAW sangat menuntut adanya suatu risalah samawi (risalah dari langit) dan seorang rasul yang memperbaharui kembali ajaran tauhid bagi segenap umat manusia, mengenalkan kepada mereka Pencipta mereka.
  3. lslam tersebar luas dengan cepat di segala penjuru dunia, banyak manusia berbondong-bondong menerimanya dan memilihnya daripada agama yang lain. Ini merupakan bukti nyata atas kebenaran kenabian Nabi Muhammad SAW.
  4. Prinsip-prinsip ajaran yang dibawa dan diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW itu shahih, benar dan sangat sesuai dengan segala tempat dan waktu, ia telah membuahkan hasil yang sangat baik dan menonjol sekali. lni membuktikan bahwa ajaran-ajaran itu berasal dari Allah SWT dan orang yang membawa dan mengajarkannya adalah utusan (rasul) Allah dan nabiNya.
  5. Juga adanya mukjizat-mukjizat yang diberikan kepada beliau di mana akal menolak kalau hal-hal seperti itu keluar dan berasal dari selain nabi dan rasul.

Berikut ini sebagian mukjizat yang diberikan kepada beliau, sebagaimana diungkapkan oleh hadits-hadits shahih yang mendekati derajat mutawatir dan tidak akan mendustakannya kecuali orang yang lemah akal pikirarmya atau tidak berakal sama sekali.

  1. Bulan terbelah menjadi dua bagian. [Hadits-hadits yang menjelaskan mukjizat ini ada di dalam Shahih al-Bukhari, no. 4864; dan Shahih Muslim, no. 2800] Ketika al-Walid bin al-Mughirah dan para pemuka Quraisy lainnya meminta kepada beliau agar menunjukkan satu bukti “mukjizat” yang menunjukkan kebenaran dakwaannya sebagai nabi dan rasul, maka (Allah memberinya mukjizat) yaitu bulan terbelah menjadi dua bagian, sebelah ada di atas bukit dan sebelah lagi ada di bawahnya. Maka pada saat itu Rasulullah SAW berkata kepada rnereka, “Saksikanlah” Lalu di antara mereka ada yang mengatakan, “Aku melihat bulan terbelah di antara gunung Abi Qubais.” Lalu orang-orang Quraisy menanyakannya kepada penduduk negeri lain, apakah mereka juga telah menyaksikan bulan terbelah menjadi dua? Maka mereka pun menyatakan benar-benar melihatnya terbelah dua sebagaimana mereka lihat. Maka pada saat itu Allah menurunkan ayatNya,

“Telah dekat (datangnya) saat itu dan bulan telah terbelah. Dan jika mereka (orang-orang musyrikin) melihat sesuatu tanda (mukjizat), mereka berpaling dan berkata, ‘(Ini adalah) sihir yang terus menerus.’ Dan mereka mendustakan (Nabi) dan mengikuti hawa nafsu mereka.” (Al-Qamar: 1-3).

  1. Pada perang Uhud, mata Qatadah terkena senjata musuh hingga tercongkel dan bergelantungan pada pipinya. Maka Rasulullah SAW mengembalikannya sebagaimana sedia kala, bahkan lebih baik dari sebelumnya.
  2. Kedua mata Ali bin Abi Thalib RA sakit pada peristiwa Perang Khaibar, lalu Rasulullah SAW menyemburnya dengan ludahnya, maka keduanya sembuh total seperti tidak pernah sakit.
  3. Dalam peristiwa perang Badar, kaki lbnul Hakam patah, lalu Rasulullah SAW menyemburnya dengan ludah beliau, maka pada saat itu juga kakinya sembuh dan ia tidak merasakan sakit sama sekali.
  4. Berbicaranya pohon kepada Rasulullah (al-Kisah), seorang Badui mendekat kepada beliau. Maka Rasulullah berkata kepadanya, “Hai Badui, mau kemana engkau?” Ia menjawab, “Saya mau pulang ke keluargaku.” Beliau bertanya, “Apakah kamu mau menuju kebaikan?” Ia menjawab, “Apa itu?” Rasulullah menjawab, “Engkau bersaksi bahwasanya tiada tuhan yang berhak disembah kecuali hanya Allah semata, tiada sekutu bagiNya dan bahwasanya Muhammad adalah hamba dan RasulNya.” Lalu si Badui itu berkata, “Siapa yang memberi kesaksian untukmu terhadap apa yang engkau katakan itu?” Lalu Rasulullah SAW bersabda, “Pohon ini”, sambil menunjuk kepada satu pohon yang ada di tepi lembah. Lalu pohon itu bergeser hingga berdiri tegak di hadapan orang Badui itu. Kemudian si Badui meminta kepada pohon itu untuk memberikan kesaksian sebanyak tiga kali, dan pohon itu pun memberikan kesaksian, sebagaimana dituturkan oleh Rasulullah SAW sendiri.
  5. Rintihan dan tangisan pohon kurma kepada beliau hingga didengar oleh semua orang yang ada di dalam masjid beliau. Hal itu terjadi setelah beliau meninggalkannya di mana sebelumnya beliau berkhuthbah dengan bersandar kepadanya sebagai mimbar dan ketika telah dibuatkan mimbar khusus bagi beliau, beliau tidak memakai pohon itu lagi sebagai mimbar, maka pohon itu pun menangis karena sayang dan rindu kepada Rasulullah SAW, suara tangisan pohon itu terdengar seperti lenguhan unta yang sedang hamil 10 bulan. Pohon itu tidak berhenti menangis sampai Rasulullah SAW mendatanginya lalu meletakkan tangannya yang mulia padanya. Maka pohon itu pun diam. [Riwayat tentang rintihan pohon kurma disebutkan dalam ash-Shahihain; al-Bukhari, no.3583]
  6. Doa Rasulullah SAW untuk kehancuran kerajaan Kisra. Tidak lama kemudian kerajaannya pun runtuh.
  7. Doa beliau untuk lbnu Abbas agar menjadi orang yang faqih di dalam agama. Maka dari itu lbnu Abbas RA menjadi ulama bagi umat Islam.
  8. Makanan dapat menjadi banyak, berkat doa beliau, sehingga makanan sebanyak 2 mud [1,35 kg] gandum dapat dimakan oleh lebih dari 80 orang.
  9. Air menjadi banyak berkat doa beliau. Ketika para sahabat kehausan di waktu peristiwa Hudaibiyah, Rasulullah SAW hanya mempunyai satu rakwah (bejana kecil terbuat dari kulit) air untuk wudhu beliau. Para sahabat datang menghampiri beliau dan berkata, “Kami tidak mempunyai air kecuali air yang ada di dalam bejanamu (ya Rasulullah).” Maka beliau meletakkan tangannya ke dalam bejana tersebut, dan dengan serta merta air memancar dari celah jari-jemari tangan beliau bagaikan mata air. Maka semua sahabat pun minum dan berwudhu dari air tersebut, padahal jumlah mereka mencapai 1500 orang.
  10. Isra’ dan Mi’raj yang beliau alami dari Masjidil Haram (di Makkah) ke Masjidil Aqsha (di Palestina) lalu naik ke langit yang paling tinggi hingga Sidrutul Muntaha. Kemudian beliau kembali ke tempat tidurnya dalam keadaan belum dingin (masih hangat).
  11. Kitab Suci al-Qur’an, yaitu kitab yang di dalamnya terdapat berita tentang orang-orang sebelum kita dan orang-orang yang sesudah kita serta hukum-hukum yang ada di antara kita. Di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya Al-Qur’an merupakan mukjizat beliau yang paling agung dan terbesar, merupakan tanda bukti abadi bagi kenabiannya yang akan tetap utuh sepanjang masa, agar tetap menjadi bukti dan dalil yang membuktikan kebenaran kenabian beliau dan sebagai hujjuh (dalil) kepada manusia hingga Allah mewarisi bumi ini.

Al-Qur’an adalah mukjizat terbesar yang diberikan kepada Nabi Muhammad SAW dan mengenai hal itu beliau bersabda,

“Tidak ada seorang pun nabi melainkan telah (diberi) ayat-ayat (mukjizat) yang semisal dengan mukjizat nabi sebelumnya yang dengannya manusia akan beriman. Dan sesungguhnya yang dikaruniakan kepadaku itu berupa wahyu yang diwahyukan oleh Allah kepadaku. Maka aku berharap menjadi nabi yang terbanyak pengikutnya pada Hari Kiamat kelak.”

[Diriwayatkan oleh Abu Ya’la dengan redaksi yang berbeda. Lihat al-Bukhari, no. 4981; Kebanyakan mukjizat-mukjizat tersebut diriwayatkan di dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim. Dan yang tidak ada di situ maka ada di dalam kitab-kitab hadits shahih lainnya]

Referensi : Syaikh Abu Bakar Jabir Al Jaza’iri, Minhajul Muslim, Darul Haq, Jakarta, 2016

Baca juga : 

Hello. Add your message here.