SPACE AVAILABLE

Beriman Kepada Para Malaikat

islamic-art-9

Seorang Muslim beriman kepada malaikat-malaikat Allah. Dia meyakini bahwa mereka merupakan makhluk Allah yang paling mulia, hamba-hamba Allah yang dimuliakan. Mereka diciptakan dari nur (cahaya), sedangkan manusia diciptakan dari tanah kering seperti tembikar dan jin diciptakan dari nyala api. Beriman bahwasanya Allah telah memberi mereka tugas-tugas, dan mereka pun melaksanakannya.

Di antara para malaikat itu ada yang bertugas menjaga manusia dan ada juga yang bertugas mencatat amal perbuatannya. Ada pula yang bertugas mengurus surga dengan segala kenikmatan yang ada di dalamnya, ada pula yang mengurus neraka dengan segala azab yang ada padanya, dan ada pula yang tugasnya hanya bertasbih, menyucikan dan memuji Allah sepanjang siang dan malam, tidak pernah jemu.

Seorang Muslim juga berkeyakinan bahwa Allah SWT telah memberikan kelebihan kepada sebagian di antara mereka, maka di antara mereka ada para malaikat muqarrabun (yang didekatkan kepadaNya) seperti malaikat Jibril, Mika’il dan Israfil, sedangkan yang lainnya berada pada deretan berikutnya.

Keyakinan yang demikian itu dimiliki oleh seorang Muslim berkat hidayah Allah kepadanya. Ini yang pertama, dan karena dalil-dalil naqli dan ‘aqli berikut ini:

Dalil-dalil Naqli

  1. Perintah Allah SWT agar beriman kepada para malaikat dan informasi dariNya tentang mereka, seperti tertera di dalam FirmanNya,

“Dan barangsiapa yang kafir (tidak beriman) kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya dan Hari Kemudian, maka sungguh orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.” (An-Nisa`: 136).

Dan FirmanNya,

“Barangsiapa yang menjadi musuh bagi Allah, malaikat-malaikatNya, rasul-rasulNya, Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir.” (Al-Baqarah: 98).

Dan FirmanNya,

“Al-Masih sekali-kali tidak enggan menjadi hamha bagi Allah, dan tidak (pula enggan) malaikat-malaikat yang terdekat (kepada Allah). Barangsiapa yang enggan dari menyembahNya dan menyombangkan diri, nanti Allah akan mengumpulkan mereka semua kepadahya.” (An-Nisa`: 172).

FirmanNya pula,

“Dan pada hari itu delapan orang malaikat menjunjung `Arasy Rabb-mu di atas (kepala) mereka.” (Al-Haqqah: 17).

FirmanNya,

“Dan Kami tidak menjadikan penjaga neraka itu kecuali dari malaikat.” (Al-Muddatstsir: 31).

FirmanNya,

“Sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu (sambil mengucapkan), ‘Salamun ‘alaikum bima Shabartum (keselamatan atasmu berkat kesabaranmu)’.” (Ar-Ra’d: 23-24).

Di dalam ayat lain juga Dia berfirman,

“Ingatlah ketika Rabbmu berfirman kepada para Malaikat, ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi’ Mereka berkata, ‘Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan mernbuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji dan menyucikanMu?’ Rabb berfirman, ‘Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui’.” (Al-Baqarah: 30).

  1. Berita dari Rasulullah tentang mereka berdasarkan sabdanya dalam doanya ketika shalat malam:

“Ya Allah, Rabb bagi Jibril, Mikail dan Israfil, Pencipta langit dan bumi, Yang Maha Mengetahui alam ghaib dan alam nyata, Engkaulah yang akan memberikan keputusan di antara hamba-hambaMu di dalam apa yang mereka perselisihkan. Tunjukkanlah aku, dengan izinMu, kepada kebenaran yang diperselisihkan itu. Sesungguhnya Engkaulah yang dapat memberi petunjuk kepada siapa saja yang Engkau kehendaki kepada jalan yang lurus.” [Diriwayatkan oleh Muslim]

Beliau bersabda,

“Langit berbunyi (bagaikan bunyi unta yang menanggung beban berat), dan sangat layak baginya untuk berbunyi seperii itu. Tidaklah di dalamnya ada tempat seluas empat jari, melainkan pasti ada malaikat yang sedang sujud.“

[Diriwayatkan oleh Ahmad, no. 20539; Ibnu Abi Hatim, dan hadits ini berillat. At-Tirmidzi, no. 2312; Ibnu Majah, no. 4190; Ahmad, no. 21005]

“Sesungguhnya Baitul Ma’mur itu, setiap hari dimusuki oleh 70.000 malaikat, lalu mereka tidak kembali lagi.” [Asal hadits ini dalam ash-Shahihain; al-Bukhari, no. 3207; Muslim, no. 164]

[Baitul Ma’mur: Sebuah Masjid di langit ketujuh yang dikelilingi malaikat yang letaknya sejajar dengan Ka’bah, (Ed.T)]

“Apabila Hari Jum‘at tiba, maka pada setiap pintu masjid ada malaikat yang mencatat setiap orang masuk yang paling awal, lalu yang lebih awal (daripada yang setelahnya). Lalu apabila imam telah duduk (di mimbar), maka mereka menutup lembaran-lembaran catatan itu dan mereka turut datang untuk mendengarkan nasihat (khutbah)” [Diriwayatkan oleh Malik dengan sanad shahih; al-Bukhari, no. 3211]

“Kadang-kadang malaikat Jibril itu tampak kepadaka (dalam bentuk manusia), lalu ia berbicara kepadaku, dan aku pun menyadari apa yang ia katakan” [Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 2]

“Para malaikat malam dan malaikat siang itu bergantian mengawasi kalian” [Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 555]

“Malaikat diciptakan dari nur (cahaya), jin diciptakan dari nyala api dan Adam diciptakan dari apa yang telah dijelaskan kepada kalian” [Diriwayatkan oleh Muslim, no. 2996]

  1. Penglihatan sejumlah besar para sahabat Nabi SAW kepada malaikat di dalam Perang Badar; juga penglihatan mereka secara kolektif tidak hanya satu kali kepada malaikat Jibril pembawa wahyu yang terpercaya, di mana kadang-kadang Jibril datang dalam rupa sahabat nabi yang bernama Dihyah al-Kalbi, maka dari itu mereka dapat menyaksikannya. Di antara riwayat yang paling masyhur dalam hal ini adalah hadits Umar bin al-Khaththab RA yang di dalamnya disebutkan sabda Rasulullah SAW “Apakah kalian mengetahui siapa gerangan orang yang bertanya tudi?” Para sahabat menjawab, “Allah dan RasulNya yang lebih tahu.” Rasulullah bersabda, “Dia adalah Jibril, ia datang kepada kalian untuk mengajarkan kepada kalian tentang Din (agama) kalian” [Diriwayatkan oleh Muslim, no. 8]
  2. Berimannya milyaran manusia pengikut para rasul pada setiap zaman dan tempat kepada para malaikat. Mereka meyakini dan membenarkan apa yang diberitakan oleh para rasul tentang malaikat tanpa keraguan sedikit pun.

Dalil-dalil ‘Aqli

  1. Sesungguhnya akal sehat tidak akan mengingkari wujud malaikat dan tidak akan menafikannya. Sebab akal tidak akan mengingkari atau menafikan, kecuali apabila ada dua hal yang saling bertentangan, seperti sesuatu dikatakan ada dan tidak ada dalam waktu yang bersamaan, atau ada dua hal yang kontradiktif, seperti ada gelap dan terang secara bersamaan. Sedangkan beriman kepada malaikat sama sekali tidak demikian.
  2. Apabila sudah diakui bersama oleh segenap orang yang berakal bahwa adanya bekas (jejak) sesuatu menunjukkan adanya sesuatu tersebut, maka sesungguhnya para malaikat mempunyai banyak bekas dan tanda yang memastikan wujud mereka dan menegaskannya. Di antaranya adalah:

Pertama, sampainya wahyu ilahi kepada para nabi dan para rasul. Sebab, kebanyakan wahyu itu sampai kepada rnereka melalui ar-Ruh al-Amin, yaitu malaikat Jibril, malaikat yang bertugas menyampaikan wahyu. Ini adalah bekas atau tanda yang sangat jelas, tidak dapat diingkari. lni membuktikan dan menegaskan akan adanya malaikat.

Kedua, kematian manusia karena ruhnya dicabut, juga merupakan tanda yang sangat jelas yang membuktikan eksistensi malaikat maut (malaikat pencabut nyawa) dan para pembantunya, sebagaimana Firman Allah SWT,

“Katakanlah, ‘Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawamu) akan mematikan kamu’.” (As-Sajdah: 11).

Ketiga, terjaganya manusia dari gangguan dan kejahatan jin dan setan sepanjang hidupnya, padahal manusia hidup di sekeliling mereka dan mereka dapat melihatnya, namun manusia tidak dapat melihatnya. Jin dan setan dapat menyakiti dan mengganggu manusia, sedangkan manusia tidak dapat menyakiti atau mengganggu mereka atau menolak kejahatan mereka. Itu semua merupakan bukti akan adanya malaikat penjaga manusia. Mereka selalu memelihara manusia dan melindunginya. Allah SWT berfirman,

“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah.” (Ar-Ra‘d: 11).

  1. Tidak dapat melihat sesuatu karena kelemahan pandangan mata atau karena tidak mempunyai kesiapan yang sempurna untuk melihat sesuatu itu tidak menafikan wujud sesuatu tersebut. Sebab banyak sekali sesuatu yang ada di alam nyata ini yang tidak bisa dilihat dengan kasat mata, namun kini bisa dilihat jelas dengan menggunakan kaca pembesar (mikroskop).

Referensi : Syaikh Abu Bakar Jabir Al Jaza’iri, Minhajul Muslim, Darul Haq, Jakarta, 2016

Baca juga : 

Hello. Add your message here.