Kedewasaan

islamic-art-51

Semoga Allah yang mengenggam langit dan bumi, membuka pintu hati kita agar dapat memahami hikmah di balik kejadian apapun. Semoga pula Allah membimbing kita agar menjadi pribadi-pribadi yang dewasa.

Ada sebuah iklan menarik, “Menjadi tua itu pasti, menjadi dewasa itu pilihan”. Ya, tidak semua mampu berlaku dewasa, walaupun dari segi usia tergolong tua. Sebabnya, untuk menjadi dewasa diperlukan kesadaran, kemauan, dan proses untuk berkembang terus-menerus. Berkembang di sini, bukan sekadar fisik, tapi juga ilmu dan amal.

Apa ciri manusia dewasa itu? Ciri pertama manusia dewasa adalah diam aktif, yaitu kemampuan untuk menahan diri dalam berkomentar. Orang yang memiliki kedewasaan dapat dilihat dari sikap dan kemampuannya dalam mengendalikan lisannya.

Orang tua yang kurang dewasa mulutnya sangat sering ”berbunyi”, semua hal dikomentari. Ketika melihat sesuatu, ia langsung mengomentarinya. Misal, saat nonton televisi. Komentarnya akan mengalahkan suara televisi yang ia tonton. Penonton televisi yang dewasa senantiasa men-tafakuri tayangan yang dilihatnya, tentunya acara yang bermanfaat. Ia pun akan mohon pada Allah agar dibukakan pintu hikmah. Subhanallah.

Ciri kedewasaan selanjutnya adalah Empati. Anak-anak biasanya belum dapat meraba perasaan orang lain, orang yang bertambah umurnya tetapi tidak dapat meraba perasaan orang lain berarti belum dapat disebut dewasa. Kedewasan seseorang terlihat dari keberanian melihat dan meraba perasaan orang lain.

Seorang ibu yang dewasa dan bijaksana dapat dilihat  dari sikapnya terhadap pembantu dengan tidak semena-mena dalam menyuruh dan memberi gaji. Semakin mampu kita meraba perasaan orang lain, Insya Allah kita akan semakin bijak. Percayalah tidak akan bijaksana orang yang hidupnya hanya memikirkan perasaannya sendiri.

Orang yang dewasa, cirinya hati-hati (wara’), dalam bertindak. Orang yang dewasa akan berhitung tentang segala sesuatunya tidak hanya dari benda, tapi dari waktu; tiap detik, tiap tutur kata. Ia tidak mau jika harus menanggung risiko karena salah dalam mengambil sikap. Anak-anak atau remaja biasanya sangat tidak hati-hati dalam bercakap dan mengambil keputusan.

Orang yang bersikap atau memiliki kepribadian dewasa (wara’) dapat dilihat dalam kehati-hatian memilih kata, mengambil keputusan, mengambil sikap, karena orang yang tidak dewasa cenderung untuk bersikap ceroboh.

Orang yang dewasa terlihat pula dari kesabarannya (sabar). Kita ambil contoh, di dalam rumah seorang ibu mempunyai 3 orang anak, yang satu menangis, kemudian yang lainnya pun ikut menangis sehingga lama-kelamaan menjadi empat orang yang menangis. Mengapa? karena ternyata ibunya menangis pula.

Ciri orang yang dewasa adalah sabar. Dengan kesabaran, dalam situasi sesulit apapun, insya Allah kita akan lebih tenang, mantap, dan stabil. Orang yang dewasa akan memiliki sikap amanah, memiliki kemampuan untuk bertanggung jawab. Kedewasaan seseorang dapat dilihat dari kemampuannya bertanggung jawab dalam mencari nafkah yang halal dan mendidik anak istrinya.

Tanggung jawab terbesar bukan dalam masalah dunia, masalah terbesar adalah bagaimana ia mempertanggungjawabkan anak dan istrinya tatkala pulang ke akhirat nanti? Oleh karena itu, orang tua harus bekerja keras  untuk  menjadi jalan kesuksesan anak-anaknya di dunia dan akhirat.

Pernah ada seorang teman menyekolahkan anak-anaknya ke luar negeri, ketika ditanya tentang shalatnya? Ternyata tidak berjalan dengan baik, karena di sana orang-orangnya tidak ada yang shalat.

Lalu kenapa disekolahkan ke luar negeri? Alasannya, sebentar lagi globalisasi dan era perdagangan bebas, sehingga anak harus disiapkan. Tapi bagaimana jika sebelum perdagangan bebas anaknya meninggal dunia? Sudah disiapkan belum pulang ke akhirat? Orang yang dewasa akan berpikir keras bagaimana anak-anaknya bisa selamat? Jangan sampai di dunia berprestasi tapi di akhirat celaka.

Saudaraku, tidak cukup merasa bangga dengan menjadi tua, mempunyai kedudukan, jabatan, karena semua itu sebenarnya hanyalah topeng, bukan tanda prestasi. Prestasi itu adalah ketika kita  semakin matang dan semakin dewasa. Kesuksesan kita adalah bagaimana kita bisa memompa diri kita dan mensukseskan orang-orang di sekitar kita.

Kalau ingin tahu  kesuksesan kita, coba lihat perkembangan keluarga kita, istri dan anak-anak kita, lebih maju ataukah tidak? Lihat pula sanak saudara kita. Jangan sampai kita sendirian yang maju, tapi sanak saudara kita hidup dalam kesulitan, ekonominya seret, pendidikan seret, sedang kita tidak ada kepedulian. Itu adalah sebuah kegagalan. Sekali lagi, kedewasaan seseorang itu dilihat dari bagaimana kemampuan memegang amanah?  Wallahu a’lam bish-shawab. 

Oleh: KH Abdullah Gymnastiar, Sumber: republika.co.id

Pasang Iklan di Website Ini +6285773713808
Hello. Add your message here.