SPACE AVAILABLE

Parenting Nabawi : Mubadzir dalam Belajar

keluarga-muslim

Sumber gambar : bersamadakwah.net

Diantara metode belajar yang terbaik adalah mengajarkan kepada anak didik ilmu yang bermanfaat baginya dalam kehidupan yang akan ia jalani.

Maka jangan memubadzirkan waktu dan pikiran untuk belajar ilmu yang sangat tidak dibutuhkan dan yang tidak bermanfaat.

Perlu diketahui bahwa umur manusia sangat pendek dan ilmu sangat lah banyak bagaikan lautan yang tak bertepi.

Maka sebuah kebijaksanaan ketika waktu yang ada digunakan untuk mempelajari ilmu yang paling urgent.

Salman al Farisi pernah menasehati Hudzaifah ibnul Yaman dengan ucapan:

Wahai Hudzaifah ketahuilah bahwa ilmu sangat banyak dan umur sangat pendek, maka ambil lah ilmu yang engkau sangat butuhkan dalam urusan agama engkau, dan tinggalkan selain itu dan jangan engkau sibukkan dengannya” (Hilyatul Auliya’:624)

Syaikh Ibrohim ar Ruhaili (al Hikmah:44 – 45) berkata:

Dan termasuk perkara yang harus diperhatikan juga dalam perkara ini (dunia pendidikan), seberapa besar kebutuhan anak terhadap ilmu tersebut atau ketidak butuhannya.

Jika anak tersebut sangat membutuhkan ilmu tersebut dan ilmu akan sangat bermanfaat baginya jika ia pelajari, maka hendaknya ia mempelajarinya.

Akan tetapi jika tidak dibutuhkan maka sibukanlah anak itu kepada ilmu yang lebih dibutuhkan.

Rosulullah berdo’a dengan sebuah do’a:

Wahai Tuhanku berikan manfaat terhadap apa yang engkau ajarkan kepadaku, ajarkanlah apa yang bermanfaat bagiku, dan karuniakan kepadaku ilmu yang bermanfaat ” (H.R Tirmidzi, Ibnu Majah, Nasa’i, dan Hakim. Dishohihkan oleh syaikh Albani dalam ash Shohihah: 7/425)

Coba perhatikan dalam hadits ini, bahwa Rosulullah meminta kepada Allah agar Allah memberikan manfaat kepadanya dari apa yang ia dapatkan dari ilmu dan agar Allah mengajarkan kepadanya ilmu yang bermanfaat baginya.

Hal ini menandakan bahwa buah dari ilmu adalah manfaat yang diambil darinya.

Oleh sebab itu para ulama Salaf memperingatkan dari mempelajari apa yang tidak bermanfaat atau meluaskan ilmu yang tidak ia butuhkan.

Dari Mughiroh bin Muqossim ad Dhobbi berkata:

Saya pergi untuk bertanya kepada Imam asy Sya’bi tentang nasab Quroisy. Maka beliau berkata: “Engkau bertanya tentang ilmu yang tidak bermanfaat di dunia dan di akhirat” (al Madkhol:178 karya imam al Baihaqi)

Ketahuilah.. Belajar nasab sangatlah bagus , karena Rosulullah bersabda:

Belajar lah dari nasab kalian ilmu yang kalian bisa menyambung tali silaturahim” (H.R Tirmidzi dan dishohihkan oleh syaikh Albani dalam as Shohihah : 276)

Akan tetapi bagi seorang penuntut ilmu pemula mempelajari nasab sangat tidak dibutuhkan, masih banyak ilmu yang lebih layak untuk dicurahkan waktu dan pikiran seperti hafalan Qur’an, belajar ibadah, bahasa arab, dan lainnya.

Imam Malik bin Dinar berkata:

“Siapa yang menuntut ilmu untuk dirinya maka sedikit yang ia pelajari sudah sangat banyak, akan tetapi siapa yang menuntut ilmu karena kebutuhan manusia maka kebutuhan manusia sangat lah banyak” (kitab az Zuhd:451)

Maksud dari ucapan imam Malik bin Dinar adalah : siapa yang belajar ilmu yang memang sangat ia butuhkan dan ilmu tersebut sangat bermanfaat baginya maka ia akan mendapatkan banyak faedah.

Akan tetapi siapa yang mencari ilmu untuk menutup kebutuhan manusia bukan kebutuhan dirinya, maka kebutuhan manusia sangat banyak dan berbeda-beda.

Renungan 

Oleh sebab itu maka hendaknya seorang pendidik memberikan ilmu kepada anak didiknya ilmu yang memang sangat ia butuhkan dalam kehidupannya, jangan memubadzirkan waktu dan pikiran untuk mempelajari ilmu yang hanya teori atau ilmu yang memang tidak begitu dibutuhkan.

Kita lihat di sekolah murid diajarkan semua ilmu secara detail, padahal kebanyakan ilmu tersebut tidak terlalu dibutuhkan bagi muridnya.

Anak dipaksa belajar matimatika, fisika, kimia, dan segudang ilmu secara detail dengan rumus – rumus yang sangat menguras pikiran padahal ketika lulus, ilmu tersebut tidak ia pakai dalam kehidupan setiap harinya.

Demikian juga di pondok pesantren kita dapatkan santri diajarakan semua ilmu baik ilmu agama yang berupa hafalan dan pemahaman, demikian ilmu umum dari berbagai macam disiplin ilmu secara detail kepada setiap anak dan setiap anak dipaksa untuk mengusai semua.

Hal ini yang membuat anak stres dan depresi karena pendidikan telah membebankan kepadanya ilmu yang tidak ia butuhkan dan anak dipaksa untuk menguasai semua bidang dan cabang ilmu.

Bukanlah ulama kita pernah berkata:

Siapa yang mengambil ilmu borongan, maka ilmu yang akan hilang dari nya juga borongan”.

Terlalu terkuras waktu anak didik kita untuk belajar ilmu, tapi kita melupakan penamanam adab dan karakter islami dalam diri tersebut. Padahal ulama salaf kita sudah menjelaskan sistem pendidikan mereka:

Dahulu ulama salaf mempelajari adab sebelum mereka mempelajari ilmu”

Maka mari kita buka lembaran baru dalam pendidikan kita, kita rubah arah pendidikan kita.

Biarkan anak kita menikmati pendidikan mereka, cukupkanlah bagi mereka untuk belajar ilmu yang akan mereka butuhkan ketika ia sudah baligh nanti, ilmu agama yang mereka butuhkan untuk mendekatkan diri mereka kepada Allah dan ilmu dunia yang akan membekali mereka menjadi kholifah (pemakmur) bumi ini.

Lihatlah hati dan kemampuan anak didik kita…

Janganlah sebuah instansi pendidikan melihat kepada sekolah lain, yang akan menjadikan persaingan, tapi justru acuh terhadap kondisi muridnya.

Pendidikan bukan obsesi orang tua atau sekolah

Akan tetapi pendidikan adalah memberikan kenyamanan bagi murid dalam mengambil ilmu sebagai bekal bagi kehidupanya.

Anak didik kita bukan robot yang bisa kita putar sesuai dengan keinginan kita.

Anak kita juga bukan mesin komputer yang bisa langsung kita masukan banyak file – file di dalamnya.

Anak kita juga bukan mobil yang bisa kita modif sesuai dengan keinginan kita.

Akan tetapi anak kita adalah manusia yang memiliki ruh untuk menggerakan jasadnya, Ruh inilah yang tidak dimiliki oleh mesin dan robot.

Pendidikan bukan hanya reparasi jasad semata, akan tetapi yang lebih penting bagaimana mendidik ruh, jiwa, dan hati.

Semoga tulisan ringkas ini bisa menambah ruh pendidikan kita terhadap anak – anak atau murid – murid kita.

Oleh : Ust Abul Abbas Thobroni (Pengasuh Pendidikan Berbasis Fitroh Dan Karakter “KUTTAB AL MADINAH” Pekalongan)

Tafsir Al Qur’an :: Hadits Arba’in :: Minhajul Muslim :: 100 Motivasi Islam

Ayo bagikan sebagai sedekah…

Hello. Add your message here.