SLEEKR ACCOUNTING AND HR

Jokowi dan Prabowo Masih Capres Terkuat

Presiden Joko Widodo berbincang dengan Ketua Umum DPP Partai Gerakan Indonesia Raya Prabowo Subianto (kanan) di teras belakang Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (17/11). Keduanya melakukan pertemuan membahas sejumlah masalah kebangsaan serta terus meneguhkan komitmen menjaga keutuhan NKRI dan "Bhinneka Tunggal Ika" berdasarkan UUD 1945 dan Pancasila. ANTARA FOTO/Widodo S. Jusuf/kye/16.

JAKARTA — Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Ketua Umum Partai Gerakan Indonesia Raya Prabowo Subianto masih menjadi figur terkuat untuk menjadi capres pada Pemilu 2019. Hal itu berdasarkan survei yang digelar Poltracking Indonesia pada 27 Januari-3 Februari 2018.

Direktur Eksekutif Poltracking Indonesia Hanta Yuda di Jakarta, Ahad (18/2), jarak elektabilitas kedua figur itu tidak terlalu berbeda dengan survei sebelumnya pada November 2017, yakni elektabilitas Jokowi 45-57 persen, sementara Prabowo 20-33 persen. “Di luar dua figur tersebut, semua tokoh elit politik lama yang pernah tampil dan baru yang muncul dalam dinamika elektoral tiga tahun terakhir elektabilitasnya kurang dari lima persen,” kata Hanta Yuda.

Baca juga : Kenali Partai Politik Pilihanmu! Inilah Profil 27 Partai Politik yang Ada di Indonesia Saat Ini

Meskipun elektabilitas Jokowi jauh di atas Prabowo dengan selisih 20 persen atau lebih, hal tersebut masih belum aman karena elektabilitasnya di bawah 60 persen. Terkait dengan kandidat cawapres, survei pada 1.200 responden dengan margin error 2,83 persen itu menunjukkan terdapat enam figur untuk cawapres selain pejawat Jusuf Kalla yang memiliki elektabilitas di atas lima persen dengan gap signifikan dengan calon lain.

Enam figur tersebut adalah Agus Harimurti, Gatot Nurmantyo, Anies Baswedan, Ridwan Kamil, Muhaimin Iskandar dan Khofifah Indar Parawansa. Namun, jika Jusuf Kalla masuk dalam bursa cawapres, maka ia tetap menjadi figur paling kuat dibanding figur lainnya.

Baca juga : Kamu Orang Indonesia? Wajib Baca Ini : Joko Widodo Presidenku!

Hanta Yuda mengatakan berdasarkan konstruksi hukum dan konstitusi di Indonesia dan pergerakan partai dalam beberapa bulan terakhir, ia menyebut mengerucut pada empat skenario koalisi. Skenario koalisi tersebut, pertama adalah tiga poros Jokowi, Prabowo dan SBY, kedua adalah dua poros Jokowi-SBY melawan Prabowo, ketiga Jokowi melawan Prabowo-SBY dan empat Jokowi-Prabowo melawan SBY.

Sumber : Antara

***

Ayo bagikan sebagai sedekah…

Hello. Add your message here.