Fikih Shalat Lengkap

shalat-3

Shalat yang Diwajibkan dan Waktunya

Shalat yang diwajibkan ada 5 macam:

  1. Shalat Zuhur, adapun waktunya mulai dari tergelincirnya matahari, sampai ketika bayang-bayang suatu benda panjangnya seukuran benda aslinya setelah tergelincirnya matahari.
  2. Shalat Asar, adapun waktunya dimulai dari bayang-bayang suatu benda, panjangnya lebih panjang dari benda aslinya, sampai waktu al-ikhtiyar (berdasarkan waktu yang terpilih): panjangnya bayang-bayang suatu benda lebih panjang 2 kali lipat dari benda aslinya, waktu al-jawaz (berdasar waktu yang diperbolehkan): sampai pada waktu terbenamnya matahari.
  3. Shalat Maghrib, waktunya cuma satu, yaitu: terbenamnya matahari, dengan kadar kira-kira digunakan untuk azan, wudhu, menutup aurat, dan kadar kira-kira melaksanakan 5 rakaat shalat.
  4. Shalat Isya, waktunya dimulai dari hilangnya mega merah (yang berada di belahan barat di langit), sedangkan akhirnya berdasarkan waktu aI-ikhtiyar (waktu yang terpilih), sampai 1/3 (sepertiga) malam. Sedangkan berdasarkan waktu al-jawaz (waktu yang diperbolehkan) sampai terbitnya fajar kedua.
  5. Shalat Subuh, waktunya dimulai terbitnya fajar yang kedua, sedangkan akhirnya berdasarkan waktu ikhtiyar (waktu yang terpilih) sampai waktu fajar terlihat terang. Sedangkan berdasarkan waktu aI-jawaz (waktu yang diperbolehkan), sampai terbitnya matahari.

Syarat Wajib Shalat

Syarat wajib shalat ada 3 macam:

  1. Islam
  2. Baligh [Bagi anak kecil yang belum baligh tidak diwajibkan shalat, akan tetapi bagi kedua orang tuanya dianjurkan memerintahnya. Tanda baligh ada 3 : Telah sempurna berumur 15 tahun bagi laki-laki; Bermimpi (mimpi basah) bagi laki-laki dan perempuan; Haid bagi perempuan atau telah berusia 9 tahun]
  3. Berakal

Ketiga hal di atas adalah batasan taklif (pembebanan hukum Syar’i),

Shalat-shalat Sunah

Shalat-shalat sunah ada 5 macam:

  1. Shalat ldul Fitri
  2. Shalat Idul Adha
  3. Shalat Gerhana Matahari
  4. Shalat Gerhana Bulan
  5. Shalat Istisqa’ (shalat memohon hujan)

Shalat Sunah yang Mengiringi Shalat Fardhu

Shalat sunah yang mengiringi shalat fardhu ada 17 rakaat:

  1. 2 rakaat shalat sunah sebelum shalat Subuh.
  2. 4 rakaat shalat sunah sebelum shalat Zuhur.
  3. 2 rakaat shalat sunah setelah shalat Zuhur.
  4. 4 rakaat shalat sunah sebelum shalat Asar.
  5. 2 rakaat shalat sunah setelah shalat Maghrib.
  6. 3 rakaat shalat sunah setelah shalat Isya, dan satu rakaat dari 3 rakaat tersebut terbilang shalat Witir.

Shalat Sunah Muakat

Shalat sunah yang muakat ada 3:

  1. Shalat Malam [Jika dilakukan setelah tidur disebut shalat Tahajud, jika dilakukan sebelum tidur disebut shalat Lail (shalat malam)]
  2. Shalat Dhuha [Shalat Dhuha adalah shalat sunah yang dilakasanakan paling sedikit dua rakaat, dan paling banyak 12 rakaat, ketika matahari mulai naik kurang lebih 7 hasta sejak terbitnya (kira-kira pukul tugjuh pagi hingga waktu zawal. Adapun dasar hukum shalat Dhuha sangatlah banyak, diantaranya hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah ra., beliau berkata, ‘Kekasihku (Nabi Muhammad saw.) mewasiatkan kepadaku untuk berpuasa tiga hari dalam tiap bulan, melakukan dua rakaat shalat Dhuha dan melakukan shalat Witir sebelum tidur” (HR. Bukhari Muslim)]
  3. Shalat Tarawih

Syarat-syarat Sebelum Shalat

Syarat-syarat yang wajib terpenuhi sebelum mengerjakan shalat ada 5:

  1. Sucinya anggota badan dari hadas dan najis.
  2. Menutup aurat dengan pakaian yang suci.
  3. Bertempat pada tempat yang suci.
  4. Mengetahui sudah masuk waktu shalat yang dikerjakan.
  5. Menghadap kiblat.

Meninggalkan Menghadap Kiblat dalam Shalat

Boleh meninggalkan (tidak) menghadap kiblat saat mengerjakan shalat pada 2 keadaan:

  1. Ketika dalam keadaan takut yang sangat.
  2. Ketika mengerjakan shalat sunah pada kendaraan saat musyafir (perjalanan).

Rukun Shalat

Rukun-rukun shalat ada 18:

  1. Niat.
  2. Berdiri bagi yang mampu.
  3. Takbiratul ihram (membaca takbir pembuka shalat)
  4. Membaca surat al-Fatihah dan basmalah termasuk ayat Surat al-Fatihah.
  5. Rukuk.
  6. Thumakninah (berdiam) dalam rukuk.
  7. lktidal (bangun dari rukuk).
  8. Thumakninah (berdiam) dalam iktidal (bangun dari rukuk).
  9. Sujud.
  10. Thumakninah (bediam) dalam sujud.
  11. Duduk antara 2 sujud.
  12. Thumakninah (berdiam) dalam duduk antara 2 sujud.
  13. Duduk tahiyat akhir.
  14. Membaca syahadat dalam duduk tahiyat akhir.
  15. Membaca shalawat Nabi dalam duduk tahiyat akhir.
  16. Membaca salam yang pertama.
  17. Niat keluar dari shalat.
  18. Tartib (urut berdasarkan urutan pertama sampai terakhir urutan ke-17).

Kesunahan Sebelum Shalat

Kesunahan sebelum mengerjakan shalat ada 2 macam:

  1. Azan
  2. Iqamah

Kesunahan dalam Shalat

Kesunahan setelah masuk dalam mengerjakan shalat ada 2 macam, yaitu:

  1. Tasyahud awwal
  2. Membaca doa qunut pada shalat Subuh dan shalat Witir pada pertengahan yang kedua pada bulan Ramadhan.

Sunah Haiat Shalat

Sunah Haiat dalam menggerakkan shalat ada 15 macam, yaitu:

  1. Mengangkat kedua tangan ketika takbiratul ihram, rukuk dan iktidal (bangun dari rukuk).
  2. Meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri.
  3. Tawajjuh (membaca doa iftitah).
  4. Membaca ta’awudz.
  5. Mengeraskan bacaan (al-Fatihah, surat-surat pendek, dan takbir) ketika shalat jahr, dan melirihkannya ketika shalat sirr.
  6. Membaca ”amiin”.
  7. Membaca surat-surat al-Qur’an setelah membaca al-Fatihah.
  8. Membaca takbir ketika rukuk dan bangun dari rukuk.
  9. Membaca ”sami’allahu liman hamidah, rabbana laka al-hamd” ketika iktidal (bangun dari rukuk).
  10. Membaca tasbih dalam rukuk dan sujud.
  11. Meletakkan tangan pada paha, ketika duduk.
  12. Mengembangkan jari-jemari tangan kiri dan menggenggam semua jari-jemari tangan kanan kecuali jari telunjuk, kemudian mengacungkannya ketika sampai bacaan syahadat.
  13. Duduk iftirasy pada semua duduk, kecuali duduk akhir [Duduk iftirasy adalah duduk dengan posisi menegakkan atau menghamparkan telapak kaki kanan dan menghamparkan telapak kaki kiri, sementara pantat duduk di atas hamparan telapak kaki kiri]
  14. Duduk tawaruk pada saat duduk akhir [Duduk tawaruk adalah duduk dengan posisi menegakkan atau menghamparkan telapak kaki kanan dan menyilangkan kaki kiri hingga telapaknya berada di bawah atau di atas betis kaki kanan]
  15. Membaca salam yang kedua.

Perbedaan Perempuan dengan Laki-laki Saat Shalat

Perbedaan perempuan dengan laki-laki pada saat shalat ada 5 macam:

Bagi laki-laki:

  1. Laki-laki merenggangkan kedua siku dari lambung pada saat rukuk dan sujud.
  2. Laki-laki mengecilkan lambungnya pada saat rukuk dan Sujud.
  3. Laki-laki mengeraskan bacaan pada bacaan jahr.
  4. Laki-laki membaca tasbih ketika mengingatkan imam.
  5. Aurat laki-laki antara pusar dan kedua lutut.

Bagi perempuan:

  1. Perempuan merapatkan kedua siku ke lambung pada saat rukuk dan sujud.
  2. Perempuan melirihkan bacaannya ketika ada laki-laki lain yang bukan muhrim.
  3. Perempuan bertepuk ketika mengingatkan imam.
  4. Aurat perempuan seluruh tubuh kecuali wajah dan kedua telapak tangan.
  5. Sedangkan bagi budak perempuan auratnya sama seperti laki-laki, yaitu antara pusar dan kedua lutut.

Perkara yang Membatalkan Shalat

Perkara-perkara yang membatalkan shalat ada 11:

  1. Berbicara dengan sengaja.
  2. Banyak bergerak.
  3. Berhadas.
  4. Terkena najis.
  5. Terbukanya aurat.
  6. Berubahnya niat.
  7. Tidak menghadap kiblat.
  8. Makan.
  9. Minum.
  10. Tertawa sampai mengeluarkan suara.
  11. Murtad.

Jumlah Rakaat dan Rukun dalam Shalat Fardhu

Jumlah rakaat shalat fardhu ada 17 rakaat. Di dalam 17 rakaat tersebut terdapat rukun-rukun yang harus dipenuhi, yaitu:

  1. 34 kali sujud.
  2. 94 kali takbir.
  3. 9 kali tasyahud.
  4. 10 kali salam.
  5. 153 kali bacaan tasbih.

Sedangkan jumlah rukun-rukun pada tiap-tiap shalat fardhu sebanyak 126, perinciannya sebagai berikut:

  1. Di dalam shalat Subuh terdapat 30 rukun.
  2. Di dalam shalat Maghrib terdapat 42 rukun.
  3. Di dalam shalat yang jumlah rakaatnya 4 rakaat: Zuhur, Asar, dan Isya terdapat 54 (lima puluh empat) rukun.

Shalat Fardhu bagi yang Tidak Mampu Berdiri

Bagi orang yang tidak mampu untuk berdiri pada shalat fardhu, boleh melaksanakan shalat dengan cara duduk. Dan bagi orang yang tidak mampu untuk shalat dengan duduk diperbolehkan mengerjakan shalat dengan berbaring.

Sujud Sahwi

Perkara-perkara yang tertinggal (tidak dikerjakan) dari shalat meliputi 3 pembahasan:

  1. Fardhu.
  2. Sunah.
  3. Sunah Haiat.

Jika perkara yang tertinggal tersebut berupa fardhu, maka tidak cukup hanya digantikan dengan sujud sahwi, akan tetapi ketika teringat fardhu tersebut dalam waktu yang sebentar, maka orang tersebut cukup dengan mengerjakan perkara yang tertinggal tersebut dan kemudian melakukan sujud sahwi (sebelum salam).

Jika perkara yang tertinggal tersebut berupa sunah, maka tidak perlu menggerakkannya, akan tetapi sujud sunah melakukan sujudd sahwi (sebelum salam).

Jika perkara yang tertinggal tersebut berupa haiat, maka tidak perlu mengerjakannya kembali dan juga tidak disunahkan melakukan sujud sahwi.

Jika seorang mushalli (orang yang shalat) lupa pada jumlah bilangan shalat, maka dia harus mendasarkan pada bilangan yang diyakini, yaitu dengan memilih bilangan yang lebih sedikit dan (sebelum salam) dia disunahkan sujud sahwi.

Adapun sujud sahwi hukumnya sunah dan dikerjakan sebelum salam.

Keterangan:

Adapun bacaan sujud sahwi adalah sebagai berikut:

Suhaana ma laa yanaa mu wa laa yas-huu.

”Mahasuci Allah, Zat yang tidak tidur dan tidak lupa”

Waktu yang Terlarang untuk Mengerjakan Shalat

Ada 5 waktu yang tidak diperbolehkan mengerjakan shalat, kecuali shalat yang memiliki sebab:

  1. Setelah shalat Subuh sampai terbitnya matahari.
  2. Ketika terbitnya matahari, sehingga benar-benar sempurna terbitnya dan telah terangkat qadra rumhin (seukuran orang menombak).
  3. Ketika matahari benar-benar di pertengahan langit sampai waktu zawa/ (tergelincirnya matahari).
  4. Setelah shalat Asar sampai terbenamnya matahari.
  5. Ketika terbenamnya matahari sampai benar-benar sempurna terbenamnya.

Shalat yang memiliki sebab seperti shalat Jenazah, shalat Tahiyatul Masjid dan lain-lain. Maka shalat yang memiliki sebab tidak apa-apa meskipun dikerjakan pada waktu terlarang tersebut, selain itu larangan mengerjakan shalat tersebut tidak berlaku ketika dikerjakan di Tanah Haram (Makkah)

Referensi : Abu Syuja, Matan Al Ghayah Wat Taqrib

***

Ayo bagikan sebagai sedekah…

Kosmetik Terbaik Wanita Indonesia Selengkapnya...
Hello. Add your message here.