Cara Dari Ngontrak Sampai Beli Rumah, Tips Untuk Pasangan Muda di Perkotaan

rumah-3

Memiliki rumah sendiri pastinya menjadi idaman semua orang. Terutama bagi mereka yang sudah memasuki fase pernikahan.

Biasanya, sebelum memiliki rumah sendiri para pasangan muda akan tinggal di rumah kontrakan atau kos pasutri. Nah, sekarang waktunya bagi Anda pasangan muda untuk mengetahui bagaimana caranya untuk membuat perencanaan yang konkrit untuk dapat memiliki rumah sendiri.

Pindah ke kontrakan yang lebih kecil

Menjalani gaya hidup sederhana dan berhemat adalah pasti jika Anda ingin memiliki rumah. Tidak hanya soal mengurangi jalan-jalan atau hiburan, menahan diri untuk tinggal di kontrakan yang nyaman pun bisa jadi cara berhemat yang jitu untuk Anda.

Kontrakan yang lebih luas pastinya memiliki biaya sewa yang lebih mahal pula. Jadi untuk sementara bertahanlah di kontrakan yang lebih kecil. Alternatif lain yang bisa dilakukan adalah dengan tinggal di kos untuk suami istri (kos pasutri). Dimana untuk kisaran kos untuk pasutri di area Jakarta adalah Rp 1,3 juta per bulannya. Sedangkan untuk kontrakan sederhana, kisaran harganya Rp 1 juta sampai Rp 1,5 juta.

Jika, misalnya, penghasilan Anda dan pasangan Rp 7,2 juta, mengingat UMR Jakarta Rp 3,6 juta. Maka pengeluaran Anda untuk tempat tinggal tidak boleh lebih dari Rp 1,3 juta. Karena Anda harus bisa menyisihkan 30% penghasilan (Rp 2.160.000) untuk tabungan membeli rumah. Dengan demikan, Anda bisa menargetkan 14 bulan masa menabung untuk bisa membayar uang muka pembelian rumah yang harganya dikisaran Rp 300 juta. Karena pihak Bank Indonesia (BI) sendiri sudah mengesahkan kebijakan untuk program KPRdengan minimal uang muka 10% untuk bank syariah dan 15% untuk bank konvensional, maka menemukan KPR dengan uang muka rendah sangat memungkinkan.

Cari wilayah yang bukan di tengah kota

Setiap area memiliki tren harganya masing-masing. Misalnya untuk area DKI Jakarta terbagi menjadi Jakarta Selatan, Barat, Timur, dan Utara. Masing-masing area ini memiliki tren harga rumahnya masing-masing.

Dari keempat area di atas, yang memiliki tren harga paling murah adalah area Jakarta Timur. Di area ini Anda masih bisa menemukan rumah dengan pasaran Rp 7,9 juta per meter persegi. Sedangkan di area Jakarta lainnya, harga rumah sudah diatan Rp 10 juta per meter persegi.

Namun jika Anda tidak keberatan dengan perjalanan ke tempat kerja yang agak jauh, maka area di luar Jakarta bisa menjadi pilihan. Di Depok misalnya, harga rumah di angka Rp 6 juta per meter persegi masih bisa ditemukan.

Tipe rumah 45 (tipe minimalis) sudah bisa mengakomodasi sebuah keluarga. Dimana dengan tipe ini, Anda sudah bisa memiliki ruang tamu, dua kamar tidur, kamar mandi, dan dapur. Jika dilihat dari kisaran harga per meter persegi, untuk area Jakarta Timur kisaran harga dimulai dari Rp 450 juta. Sedangkan area Depok dimulai dari kisaran Rp 270 juta atau Rp 300 jutaan.

Kredit Pemilikan Rumah (KPR) hunting

Selanjutnya adalah jangan lelah untuk jadi KPR hunter. Bandingkan beberapa tawaran KPR yang Anda terima dari bank. Gunakan simulasi perhitungan cicilan KPR dan bunga yang disediakan oleh berbagai website perbandingan produk keuangan.

Misalnya, pendapatan bulanan Rp 8 juta dan Anda hendak membeli rumah dengan harga Rp 350 juta. Agar pengeluaran untuk cicilan rumah ini tidak melebihi dari 30% pendapatan Anda, Anda bisa mengambil KPR dengan tenor 15 tahun dengan bunga tidak lebih dari 8%. Sehingga jika disimulasikan, cicilan yang harus dibayar per bulan sekitar Rp 2,3 juta.

Jika pendapatan keluarga di bawah Rp 7 juta per bulan, maka bisa menunggu realisasi dari program kerja Gubernur DKI Jakarta untuk pengadaan rumah dengan uang muka 0%. Dimana saat ini proyeknya masih dalam tahap pengerjaan. Untuk informasi, rumah dari program ini nantinya akan dijual dengan harga Rp 350 juta per unit.

Memang belum ada pengumuman resmi dari pemerintah provinsi mengenai skema cicilan per bulan untuk rumah DP 0%. Namun bisa kita ulas secara singkat sebagai berikut. Misalnya diasumsikan tenor 20 tahun. Cicilan per bulannya mencapai Rp 2,6 juta karena merupakan jumlah dari cicilan pokok dan bunganya (5%).

Buat perhitungan untuk matangkan perencanaan

Langkah selanjutnya yang pasti harus dilakukan adalah membuat perhitungan. Anda bisa membagi menjadi perhitungan untuk pembayaran uang muka (DP) dan perhitungan untuk cicilan bulanan.

Menabung untuk DP

Sebagaimana yang sempat disebutkan sebelumnya, bahwa kebijakan BI memperbolehkan pembayaran DP untuk KPR bank syariah sebesar 10% dan 15% untuk bank konvensional. Artinya, Anda bisa mencari program KPR dengan DP yang ringan. Namun kebanyakan program KPR masih menerapkan sistem DP 20%.

Untuk itu, misalnya Anda memiliki penghasilan keluarga Rp 7,2 juta, dan mau membeli rumah dengan harga Rp 300 juta. Artinya, Anda harus menyiapkan setidaknya Rp 30 juta untuk DP 10% atau Rp 45 juta untuk Dp 15%.

Jika Anda menyisihkan 30% dari penghasilan (Rp 2.160.000) per bulannya maka dalam Anda membutuhkan 13 bulan untuk mengumpulkan DP 10%.

Rp 2.160.000 x 14 = Rp 30.240.000

 

Cara tercepat mengumpulkan uang untuk DP rumah adalah dengan tabungan berjangka.

Setoran Awal Rp 1.000.000
Setoran Bulanan Rp 2.400.000
Jangka Waktu 1 tahun
(12 bulan)
Bunga per Tahun 7% per tahun
Total Uang Keluar
(total uang yang anda keluarkan selama ini)
Rp 26.920.000,00
Total Akumulasi Bunga Rp 1.076.420,88
Nilai Saat Jatuh Tempo
(total uang yang anda terima pada saat jatuh tempo)
Rp 27.996.420,88
Sumber : simulasideposito.com

Rp 27.996.420 + Rp 2.160.000 = Rp 30.156.420

Dari perhitungan di atas bisa disimpulkan bahwa dengan menggunakan tabungan berjangka, Anda hanya butuh 13 bulan untuk mengumpulkan DP.

Perlu diingat juga bahwa membeli rumah dengan jasa KPR ada biayanya, yaitu 4% sampai 5% dari plafon pinjaman. Anda tidak perlu membayar biaya KPR kalau rumah dibeli dengan cara tunai.

Perhitungan untuk cicilan

Untuk lebih mudah dalam menghitung atau membuat perkiraan, gunakanlah simulasi perhitungan yang ada pada website resmi milik bank atau platform online lainnya seperti atuduit.com, rumah123.com, atau simulasikredit.com. Namun secara sederhana dapat dilihat pada contoh berikut.

Harga Properti Rp 300.000.000
Jangka waktu pelunasan 15 tahun
Estimasi bunga 7,25% per tahun
Uang muka / DP
(menggunakan perhitungan 20%)
Rp 60.000.000
Jumlah pinjaman Rp 240.000.000
Angsuran per bulan Rp 2.190.871
Sumber : aturduit.com

Tentunya simulasi perhitungan di atas belum termasuk biaya lain dalam proses jual beli rumah. Adapun biaya saat proses pembelian rumah adalah:

  1. Pengecekan sertifikat
  2. Akta Jual Beli
  3. Biaya Balik Nama
  4. Penerimaan Negara Bukan Pajak
  5. Pajak Penghasilan (Pph)
  6. Bea Perolehan Hak Tanah dan Bangunan (BPHTB)
  7. Biaya KPR
  8. Jasa notaris

Oleh karena itu, menyiapkan uang lebih untuk proses pembelian rumah adalah langkah yang tepat. Mulailah proses menabung untuk rumah ini sebelum Anda dan pasangan menikah, sehingga tidak perlu tinggal di kontrakan terlalu lama.

Begitu proses awal pembelian rumah selesai, Anda sudah bisa menempati rumah walaupun proses pembayaran cicilan masih berjalan. Bagaimanapun juga, menempati rumah milik sendiri pasti lebih nyaman dan tenang.

Ditulis oleh : Dyah Ikhsanti (aturduit.com) 

Artikel Pilihan

Ayo bagikan sebagai sedekah…

Kosmetik Terbaik Wanita Indonesia Selengkapnya...
Hello. Add your message here.