SPACE AVAILABLE

Adab Terhadap Allah ‘Azza wa Jalla 

allah11

  • Seorang Muslim memperhatikan segala sesuatu yang telah diberikan Allah kepadanya dengan tiada terhingga, yakni berupa kenikmatan yang tak terhitung, terlindungnya dia pada saat menempel di dalam rahim ibunya ketika berupa nuthfah (air mani), menentukan perjalanan hidupnya hingga hari bertemu dengan Rabbnya. Maka ia bersyukur kepada Allah atas nikmat itu dengan lisannya, yakni memuji dan menyanjungNya secara semestinya. Juga bersyukur kepada Allah dengan anggota badan dengan cara menggunakannya di dalam ketaatan kepada Allah SWT, maka ini menjadi adab seorang Muslim kepada Allah, dan bukan bagian dari adab yang baik seseorang mengingkari nikmat, tidak mengakui karunia pemberi, dan mengingkariNya, serta kebaikan dan nikmatNya.

Allah SWT berfirman,

“Dan apa saja nikmat yang ada padamu maka dari Allah-lah datangnya.” (An-Nahl: 53).

Juga FirmanNya,

“Dan jika kalian menghtung nikmat Allah, maka kalian tidak akan sanggup menghitungnya” (An-Nahl: 18).

“Karena itu, ingatlah kalian kepadaKu niscayu Aku ingat (pula) kepada kalian, dan bersyukurlah kepadaKu dan janganlah kalian mengingkuri (nikmat)Ku.” (Al-Baqarah: 152).

  • Seorang Muslim memperhatikan bahwa Allah mengetahui apa yang dilakukan dan mengawasi seluruh tindak tanduknya, maka hatinya akan dipenuhi dengan keagunganNya, dan jiwanya menjadi tunduk dan selalu mengagungkanNya. Lalu dia akan takut untuk bermaksiat kepadaNya, malu untuk menyelisihi perintahNya, dan keluar dari ketaatan terhadapNya. lni semua merupakan adab kepada Allah SWT karena bukan termasuk adab yang baik seorang hamba terang-terangan bermaksiat kepada Rabbnya, atau membalas kebaikanNya dengan berbagai keburukan dan perilaku rendahan padahal Dia menyaksikan dan melihatnya, Allah SWT berfirman,

“Mengapa kalian tidak percaya akan kebesaran Allah. Padahal Dia sesungguhnya telah menciptakan kalian dalam beberapa tingkatan kejadian?” (Nuh: 13-14).

“Dia (Allah) mengetahui apa-apa yang kalian rahasiakan dan apa-apa yang kalian perlihatkan.” (An-Nahl: 19).

“Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari al-Qur’an dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. Tidak luput dari pengetahuan Rabbmu biar pun sebesar dzarrah (atom) di bumi ataupun di langit.” (Yunus: 61).

  • Seorang Muslim yakin bahwa Allah berkuasa atasnya, Dialah yang memegang ubun-ubunnya (menguasainya) dan bahwasanya tidak ada tempat berlindung dan lari dariNya kecuali hanya kepadaNya semata. Maka hendaknya ia lari menuju Allah, menghambur ke hadapanNya, menyerahkan seluruh urusan hanya kepadaNya, dan bertawakal kepadaNya. lni semua merupakan adab kepada Rabb dan Penciptanya.

Oleh karena itu tidaklah beradab jika seseorang lari kepada sesuatu yang tidak memiliki tempat pelarian, bersandar kepada yang tidak memiliki kemampuan apa pun serta bertawakal kepada yang tidak memiliki daya upaya dan kekuatan. Allah SWT berfirman,

“Tidak ada suatu binatang melata pun melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya.” (Hud: 56).

FirmanNya yang lain,

“Maka segeralah kembali kepada (menaati) Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu.” (Adz-Dzariyat: 50).

Juga FirmanNya,

“Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (Al-Ma’idah: 23).

  • Seorang Muslim juga memperhatikan kelemahlembutan Allah SWT kepadaNya di setiap urusannya, memperhatikan kasih sayang Allah kepada dirinya dan seluruh makhlukNya, lalu berkeinginan kuat untuk mendapatkan tambahan kelembutan dan kasih sayang itu. Sehingga dirinya akan selalu merendahkan diri kepadaNya dengan kerendahan yang murni dan dengan doa, bertawassul kepadaNya dengan perkataan yang baik dan amal shalih.

Ini semua merupakan adab terhadap Allah yang menguasaiNya, maka bukanlah orang yang beradab orang yang berputus asa dari mencari tambahan rahmatNya yang luasnya meliputi segala sesuatu, berputus asa dari kebaikan Allah yang tak terhingga yang mencakup seluruh alam semesta, serta kelembutanNya yang tercurah untuk segenap makhluk. Allah SWT berfirman,

“Dan rahmatKu meliputi segala sesuatu.” (Al-A’raf: 156).

“Allah Mahalembut terhadap hamba-hambaNya.” (Asy-Syura: 19).

“Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah” (Yusuf: 87).

“Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.” (Az-Zumar: 53).

  • Seorang Muslim memperhatikan bagaimana dahsyatnya siksaan Rabbnya, kerasnya azab dan kecepatan hisabNya, sehingga dia bertakwa (takut) kepadaNya dengan menaatiNya, dan menjaga diri terhadapNya dengan meninggalkan segala kemaksiatan, maka ini pun merupakan bentuk adab kepada Allah. Sehingga tidaklah seseorang itu beradab, menurut orang yang berakal, apabila ia menentang Allah dan berlaku aniaya (zhalim), padahal ia seorang hamba yang lemah namun justru menentang Rabb yang Mahaperkasa lagi Mahakuasa, Mahakuat lagi Mahaperkasa, Dia telah berfirman,

“Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (Ar-Ra’d: 11).

“Sesungguhnya azab Rabbmu benar-benar keras.” (Al-Buruj: 12).

“Allah Mahaperkasa lagi mempunyai balasan (siksa).” (Ali Imran: 4).

  • Seorang Muslim hendaknya memandang kepada Allah SWT ketika ia berbuat maksiat atau keluar dari ketaatan kepadaNya, bahwa seakan-akan ancamanNya telah sampai kepadanya, azabNya seakan telah turun, dan balasanNya telah tiba di sekitarnya. Demikian pula ketika dia melakukan ketaatan dan mengikuti syariatNya, maka seakan-akan Allah telah membuktikan janjiNya kepadanya. Seolah-olah keridhaanNya telah diberikan, sehingga dengan itu jadilah ia seorang Muslim yang berbaik sangka kepada Allah. Dan baik sangka (husnuzhzhan) kepada Allah merupakan salah satu adab seorang Muslim kepada Allah, maka bukan merupakan adab kepada Allah jika seorang Muslim berburuk sangka (su’udzhan) kepadaNya, sehingga dia keluar dari ketaatan kepadaNya, mengira bahwa Allah tidak memperhatikannya serta tidak akan memberikan balasan atas dosa yang dia kerjakan itu, padahal Allah SWT telah berfirman,

“Bahkan kamu mengira bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kamu kerjakan. Dan yang demikian itu adalah prasangkamu yang telah kamu sangka terhadap Rabbmu, prasangka itu telah membinasakan kamu, maka jadilah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (Fushshilat: 22-23).

  • Juga bukan merupakan adab kepada Allah jika seseorang bertakwa kepada Allah, menaatiNya namun berprasangka bahwa Allah tidak akan memberikan balasan kepadanya atas amal baik yang telah dia kerjakan itu, atas ketaatan, dan ibadahnya, padahal Allah SWT telah berfirman,

“Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan RasulNya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepadaNya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan.” (An-Nur: 52)

“Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (An-Nahl: 97).

Dan FirmanNya,

“Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan yang jahat, maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikit pan tidak dianiaya (dirugikan)” (Al-An’am: 160).

Kesimpulan dari pembahasan ini adalah bahwa syukurnya seorang Muslim kepada Rabbnya atas nikmat yang diberikan, rasa malu kepadaNya ketika condong kepada perbuatan maksiat, kembali kepadaNya secara benar, bertawakal kepadaNya serta mengharap rahmatNya, kemudian takut terhadap siksaNya, berbaik sangka kepadaNya akan kebenaran janjiNya serta pelaksanaan ancaman bagi siapa yang dikehendaki di antara hamba-hambaNya, maka ini semua merupakan adab-adab terhadap Allah SWT. Semakin tinggi tingkat tamassuk (berpegang teguh) dengan adab ini dan semakin seseorang menjaganya, maka akan semakin tinggi derajatnya, makin naik kedudukannya dan terus menanjak posisinya, serta kemuliaannya makin besar sehingga jadilah dia termasuk di antara orang-orang yang berada dalam wilayah (cinta dan pembelaan) Allah, dalam pemeliharaanNya, diliputi rahmatNya serta berhak mendapatkan kenikmatan-kenikmatan dariNya.

Inilah yang senantiasa didamba-dambakan oleh seorang Muslim dan yang menjadi angan-angannya sepanjang hidup.

Ya Allah, berikanlah kepada kami cinta dan pembelaanMu, janganlah Engkau halangi kami dari penjagaanMu, dan jadikanlah kami semua di sisiMu sebagai al-muqarrabin (orang yang dekat denganMu), ya Allah, ya Rabb seru sekalian alam.

Referensi : Syaikh Abu Bakar Jabir Al Jaza’iri, Minhajul Muslim, Darul Haq, Jakarta, 2016

Baca juga : 

Hello. Add your message here.