Adab Terhadap Kalam Allah SWT (Al-Qur’an Al-Karim)

al-quran

Seorang Muslim beriman terhadap kemahasucian kalam Allah SWT kemuliaannya, dan keutamaannya atas segala perkataan. Sesungguhnya al-Qur`an itu adalah kalam Allah yang tidak membawa kebathilan, baik dari arah depan maupun belakang. Barangsiapa berkata dengannya, niscaya dia benar dan barangsiapa yang berhukum dengannya, niscaya ia akan adil. Ahli al-Qur`an adalah Ahli Allah (wali Allah) dan manusia pilihanNya. Orang yang berpegang teguh dengannya, niscaya akan selamat dan beruntung, sedangkan orang yang berpaling darinya, niscaya akan binasa dan rugi.

Keimanan seorang Muslim terhadap keagungan Kitab Allah SWT, kemahasucian dan kemuliaannya akan bertambah dengan riwayat hadits yang berasal dari manusia yang mana al-Qur’an diturunkan kepadanya, yang diberikan wahyu kepadanya, makhluk pilihan dan Penghulu kita, Muhammad bin Abdullah, Rasulullah SAW yang menerangkan tentang keutamaannya, seperti sabda beliau,

“Bacalah al-Qur’an, karena sesungguhnya ia nanti pada Hari Kiamat akan datang sebagai pemberi syafaat kepada ahlinya (penghafal al-Qur’an).” [Diriwayatkan oleh Muslim, no. 804]

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari al-Qur`an dan mangajarkannya.” [Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 5027]

Sabda beliau,

“Ahli al-Qur`an adalah orang yang dekat dengan Allah dan orang-orang kepercayaannya.” [Diriwayatkan oleh an-Nasa’i, Ibnu Majah, no. 215; dan al-Hakim 1/743 dengan isnad hasan]

Juga sabda beliau,

“Sesungguhnya hati itu bisa berkarat sebagaimana layaknya besi bisa berkarat,” ditanyakan (kepada beliau), “Wahai Rasulullah, bagaimanu caranya menjadikannya mengkilau lugi?” Beliau menjawub,” (Dengan) membaca al-Qur’an dan mengingat kematian.” [Diriwayatkan oleh al-Baihaqi di dalam Syu’ab al-Iman, 2/353, dengan isnad dhaif]

Suatu ketika salah seorang musuh bebuyutan datang kepada Rasulullah SAW ia berkata, “Hai Muhammad, bacakanlah kepadaku al-Qur’an”, kemudian beliau membaca, “Sesungguhnyu Allah memerintahkan kamu berlaku adil, berbuat kebaikan, memberi kepada kerabat dekat; melarang perbuatan keji, mungkar dan permusuhan” (An-Nahl: 90).

Belum selesai Rasulullah SAW membacanya, musuh tersebut meminta beliau mengulangi bacaannya karena kagum akan keagungan lafazhnya, kesucian makna-maknanya, terpesona dengan kejelasannya (al-bayan) dan karena tertarik dengan kekuatan pengaruhnya, belumlah dia meninggalkan tempat kecuali dia mengakui dan menyatakan kesaksiannya atas kemahasucian kalam Allah SWT dan keagungannya; ia berkata dengan kalimat: Demi Allah, sesungguhnya ia memiliki kelezatan dan keindahan. Dan sesungguhnya bawahnya itu berdaun rindang dan atasnya berbuah lebat. Tiada seorang pun yang mampu berbicara seperti ini! [Diriwayatkan oleh lbnu Jarir. Musuh tersebut adalah al-Walid bin al-Mughirah sebagaimana diriwayatkan oleh al-Baihaqi dengan isnad jayyid]

Oleh karena itu, seorang Muslim selain ia menghalalkan apa yang dihalalkannya, mengharamkan apa yang diharamkannya, berpegang teguh dengan adabnya dan berakhlak dengan akhlaknya, maka ketika membacanya ia juga berpegang teguh dengan adab-adab sebagai berikut:

  1. Membacanya dalam keadaan dan kondisi yang paling sempurna, yaitu suci, menghadap kiblat, duduk dengan sopan dan penuh tenang.
  2. Membacanya dengan tartil (perlahan-lahan) dan tidak tergesa-gesa. Tidak membaca (mengkhatamkan)nya dalam waktu kurang dari tiga malam, berdasarkan sabda beliau,

“Barangsiapa yang membaca al-Qu’ran dalam waktu kurang dari tiga malam, niscaya ia tidak memahami makna-maknanya.” [Diriwayatkan oleh Ashhab as-Sunan, Abu Dawud, no. 1390; Ibnu Majah, no. 1347; dan at-Tirmidzi, no. 2949 dan beliau menshahihkannya]

Rasul SAW memerintahkan Abdullah bin Amr RA untuk mengkhatamkan al-Qur`an dalam waktu tujuh hari sekali [Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 5052, Muslim, no. 1159], sebagaimana pula Abdullah bin Mas’ud, Utsman bin Affan, Zaid bin Tsabit mengkhatamkannya setiap pekan sekali.

  1. Khusyu’ ketika membacanya, menampakkan kesedihan, menangis atau berusaha menangis jika tidak bisa menangis, berdasarkan sabda Rasul SAW,

“Bacalah al-Qur`an dan menangislah, jika kalian tidak bisa, maka berusahalah menangis.” [Diriwayatkan oleh Ibnu Majah, no. 1337 dengan isnad jayyid]

  1. Membaguskan suara ketika membacanya, Rasulullah SAW bersabda,

“Hiasilah al-Qur’an dengun suara kalian.“ [Diriwayatkan oleh Ahmad, no, 18024; Ibnu Majah, no. 1342; an-Nasa`i, no. 1015; al-Hakim 1/761 dan beliau menshahihkannya]

Sabda beliau,

“Bukanlah termasuk golongan kami orang yang tidak melagukan (memperindah bacaan) al-Qur`an.” [Muttafaq ’alaih; al-Bukhari, no. 7527]

Sabda beliau yang lain,

“Allah tidak mendengarkan sesuatu sebagaimana Dia mendengarkan NabiNya melagukan al-Qur`an.” [Muttafaq ’alaih; al-Bukhari, no. 5024, Muslim, no. 792]

  1. Menyembunyikan bacaannya, jika khawatir timbul riya` atau sum’ah di dalam dirinya atau khawatir mengganggu orang yang sedang shalat, berdasarkan sabda beliau SAW,

“Orang yang mengeraskan bacaan al-Qur’an laksana orang yang menampakkan terang-terangan sedekahnya.” [Diriwayatkan oleh Abu Dawud, no. 1333, at-Tirmidzi, no. 2919]

Telah dimaklumi bahwa sedekah itu dianjurkan untuk dirahasiakan, kecuali jika mendatangkan faidah yang hendak dituju, seperti memotivasi orang-orang untuk melakukannya, demikian juga mem baca al-Qur’an.

  1. Membacanya dengan merenungkan dan memikirkannya disertai rasa pengagungan kepadanya, menghadirkan hatinya, serta memahami makna dan rahasia yang dikandungnya.
  2. Hendaknya ketika membacanya, ia tidak termasuk orang-orang yang lalai dan menyelisihinya, karena kadangkala hal tersebut menyebabkan laknat terhadap dirinya sendiri, demikian itu karena ketika ia membaca,

“Kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang mendustakan (al-Qur`an).” (Ali Imran: 61)

“Laknat Allah atas orang-orang yang berbuat zhalim.” (Al-A’raf: 44)

apabila ia seorang pendusta atau berbuat zhalim, maka berarti ia telah melaknat dirinya sendiri. Riwayat berikut ini menjelaskan kadar kesalahan orang-orang yang berpaling dari Kitab Allah dan orang-orang yang lalai darinya serta orang-orang yang disibukkan dengan selainnya. Telah diriwayatkan bahwa di dalam Taurat, sesungguhnya Allah telah berfirman, “Apakah kamu tidak malu terhadapku, bahwa telah datang kepadamu sebuah kitab dari sebagian saudaramu, padahal kamu sedang berjalan di jalan, lantas kamu berhenti lalu duduk karenanya, membacanya dan mentadaburinya huruf demi huruf hingga tiada satu pun darinya yang luput darimu? lni adalah kitabKu yang Aku turunkan kepadamu. Lihatlah bagaimana Aku memerinci perkataan di dalamnya untumu, berapa kali Aku ulang di dalamnya untukmu agar kamu memperhatikan panjang dan lebarnya, kemudian kamu berpaling darinya? Maka jadilah Aku lebih rendah dalam pandanganmu daripada sebagian saudaramu, wahai hambaKu! Sebagian saudaramu duduk di sisimu lalu kamu menghadapnya dengan penuh perhatian dan kamu dengarkan pembicaraannya dengan segenap hati. Apabila seseorang sedang berbicara atau ada seseorang yang menyibukkan dirimu dari mendengarkan pembicaraannya, maka kamu memberi isyarat kepadanya agar diam. Dan inilah Aku yang datang kepadamu dan rnengajak berbicara, tetapi kamu berpaling dengan segenap hati dariKu. Apakah kamu hendak menjadikan diriKu lebih rendah (hina) daripada sebagian saudaramu di sisimu?”

  1. Berupaya semaksimal mungkin untuk meneladani sifat-sifat ahli al-Qur`an (yaitu penghafal al-Qur`an) yang mereka itulah Ahli Allah (Wali Allah) dan manusia pilihanNya, serta berkarakter seperti karakter mereka, sebagaimana Abdullah bin Mas’ud pernah berkata, “Seyogyanya seorang qari’ (orang yang gemar membaca) al-Qur`an itu dikenal dengan (menghidupkan) malam harinya (dengan shalat malam) ketika orang-orang lelap tertidur, (menyemarakkan) siang harinya (dengan puasa) ketika manusia asyik makan minum, (menghiasi hari-harinya) dengan ratapan tangisnya ketika manusia larut dalam canda dan tawa, dengan kewara’annya ketika manusia mencampurkan (antara yang haq dengan yang bathil dan yang haram dengan yang halal), dengan diamnya ketika manusia tenggelam berbincang-bincang, dengan kekhusyu’annya (di dalam shalat) ketika manusia merusaknya, dan dengan kesedihannya ketika manusia bergembira ria.”

Muhammad bin Ka’ab berkata, “Dahulu kami mengenal qari’ al-Qur`an itu pucat warna (kulit muka)nya yang menunjukkan sering bergadang malam dan panjang tahajjudnya.“

Wuhaib bin al-Ward berkata, “Pernah dikatakan kepada seseorang, ’Mengapa kamu tidak tidur?’ la menjawab, ‘Sesungguhnya keajaiban-keajaiban al-Qur`an telah menyirnakan tidurku’, Dzun Nun pernah bersenandung:

Al-Qur’an dengan janji dan ancamannya

telah menghalangi biji mata dengan malam harinya,

ia tidak tidur di malam hari.

Mereka memahumi perkataan Raja Yang Mahaagung

dengun pemahaman yang membuat leher merasa hina dina

dan tunduk patuh kepadaNya.

Referensi : Syaikh Abu Bakar Jabir Al Jaza’iri, Minhajul Muslim, Darul Haq, Jakarta, 2016

Hello. Add your message here.