SPACE AVAILABLE

Adab Terhadap Rasulullah SAW

muhammad

Seorang Muslim merasakan di lubuk hatinya yang paling dalam kewajiban beradab dengan sempurna terhadap Rasulullah SAW. Demikian itu karena beberapa sebab berikut:

  1. Sesungguhnya Allah telah mewajibkan atas setiap Muslim laki-laki maupun perempuan untuk beradab kepada beliau, sebagaimana ditegaskan di dalam Firman Allah SWT,

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mendahului Allah dan RasulNya.” (Al-Hujurat: 1)

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian meninggikan suara kalian melebihi suara Nabi, dan janganlah kalian berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kalian terhadap sebagian yang lain, supaya (pahala) amalan kalian tidak terhapus sedangkan kalian tidak menyadari.” (Al-Hujurat: 2).

“Sesungguhnya orang-orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah, mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertakwa. Bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Al-Hujurat: 3).

“Sesungguhnya orang-orang yang memanggilmu dari luar kamar(mu), kebanyakan mereka tidak mengerti. Dan kalau sekiranya mereka bersabar sampai kamu keluar menemui mereka sesungguhnya itu lebih baik bagi mereka” (Al-Hujurat: 4-5)

“Janganlah kamu jadikan panggilan Rasal di antara kamu seperti panggilan sebagian kamu kepada sebagian (yang lain).” (An-Nur: 63)

“Sesunggahnya orang-orang Mukmin yang sejati adalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya, dan apabila mereka berada bersama-sama Rasulullah dalam suatu urusan yang memerlukan pertemuan, mereka tidak meninggalkan (Rasulullah) sebelum meminta izin kepadanya.” (An-Nur: 62).

“Sesungguhnya orang-orang yang meminta izin kepadamu (Muhammad) mereka itulah orang-orang yang beriman kepaala Allah dan RasulNya, maka apabila mereka meminta izin kepadamu karena suatu keperluan, berilah izin kepada siapa saja yang kamu kehendaki di antara mereka” (An-Nur: 62).

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu mengadakan pembicaraan khusus dengan Rasul, hendaklah kamu mengeluarkan sedekah (kepada orang miskin) sebelum pembicaraan itu. Yang demikian ilu adalah lehih baik bagimu dan lebih bersih; jika kamu tiada memperoleh (yang akan disedekahkan), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-Mujadilah: 12).

  1. Sesungguhnya Allah SWT telah mewajibkan atas orang-orang Mukmin untuk menaati dan mencintainya. Firman Allah SWT,

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul.” (Muhammad: 33).

“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih” (An-Nur: 63).

“Dan apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah ia. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.” (Al-Hasyr: 7).

“Katakanlah, ‘jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu’.” (Ali Imran: 31).

Apabila ia wajib menaatinya dan diharamkan menyelisihinya, maka itu menuntut dirinya beradab terhadapnya di dalam segala kondisi.

  1. Sesungguhnya Allah telah menjadikan beliau sebagai al-Hakim (pemutus segala perkara), lalu Allah menjadikan beliau sebagai imam (pemimpin) dan al-Hakim. Allah SWT berfirman,

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu.” (An-Nisa`: 105).

“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka.” (Al-Ma’idah: 49).

“Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (An-Nisa’: 65).

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) Hari Kiamat.” (Al-Ahzab: 21).

Beradab dengan pemimpin dan penguasa diwajibkan oleh seluruh agama, ditetapkan oleh akal dan logika yang sehat.

  1. Sesungguhnya Allah telah mewajibkan untuk mencintainya, berdasarkan penuturan beliau,

“Demi Dzat yang jiwaku berada di TanganNya, salah seorang di antara kalian tidak beriman (dengan sempurna) sehingga aku lebih ia cintai daripada anak, orang tua dan seluruh manusia” [Muttafaq ’alaih; al-Bukhari, no. 15; Muslim, no. 44]

Barangsiapa yang wajib dicintai,maka wajib pula beradab di hadapannya dan bersopan santun kepadanya.

  1. Apa yang Allah istimewakan untuk beliau berupa keindahan jasad dan akhlak, dan apa yang Allah anugerahkan kepadanya berupa kesempurnaan jiwa dan dzat; beliau adalah makhluk yang paling tampan dan sempurna secara mutlak. Barangsiapa yang demikian kondisinya, maka bagaimana tidak wajib beradab terhadapnya?

Inilah beberapa faktor yang rnengharuskan beradab terhadap beliau dan selain itu masih banyak lagi, tetapi bagaimana tata cara beradab terhadapnya? Dan dengan bentuk apa? Inilah yang seyogyanya untuk kita ketahui!

Beradab terhadap beliau dapat dilakukan dengan hal-hal berikut ini:

  1. Menaatinya, mengikuti jejaknya, dan mengimplementasikan segenap langkah-langkahnya di dalam seluruh aktivitas kita, baik di dalam urusan dunia maupun agama.
  2. Mengutamakan kecintaan kepadanya, menghormatinya dan mengagungkannya melebihi kecintaan, penghormatan, dan pengagungan kepada makhluk lainnya.
  3. Mencintai orang yang beliau cintai, memusuhi orang yang beliau musuhi, ridha terhadap apa saja yang menjadi keridhaannya dan marah terhadap apa saja yang menyebabkan kemarahannya.
  4. Mengagungkan dan memuliakan namanya ketika disebut, bershalawat dan salam kepadanya, menghormatinya, menjunjung binggi akhlak dan keutamaannya.
  5. Membenarkan setiap apa yang beliau kabarkan, baik di dalam urusan dunia, agama maupun perkara ghaib di dalam kehidupan dunia dan akhirat.
  6. Menghidupkan sunnahnya, menerapkan syariatnya, menyebarkan dakwahnya dan menunaikan wasiat-wasiatnya.
  7. Merendahkan suara di sisi kuburnya dan di dalam masjidnya bagi orang yang Allah muliakan untuk menziarahinya, memuliakannya dengan berdiri di sisi kuburannya.
  8. Mencintai orang-orang yang shalih, membela dan menolong mereka dengan kecintaannya, dan membenci orang-orang yang berbuat fasik dan memusuhi mereka dengan kebenciannya.

lnilah beberapa fenomena beradab terhadap beliau.

Seorang Muslim selalu berupaya semaksimal mungkin untuk melaksanakan dan menjaganya dengan sempurna; karena kesempurnaan dan kebahagiaannya tergantung kepadanya. Semoga Allah memberikan taufik kepada kita agar kita dapat beradab terhadap Nabi kita dan menjadikan kita termasuk pengikut, penolong, dem golongan beliau.

Dan semoga Dia memberikan rizki kepada kita untuk menaatinya dan tidak menghalangi kita dari menclapatkan syafa’at beliau. Ya Rabb kami, kabulkanlah.

Referensi : Syaikh Abu Bakar Jabir Al Jaza’iri, Minhajul Muslim, Darul Haq, Jakarta, 2016

Hello. Add your message here.