ETIKA JIHAD

perang-islam

Dalam jihad terdapat etika yang harus dijaga, karena hal itu termasuk faktor penyebab diperolehnya kemenangan di dalamnya:

  1. Tidak menyebarluaskan rahasia pasukan dan strategi perang yang akan dijalankan. Kebiasaan Rasulullah SAW jika akan pergi berperang, maka beliau akan merahasiakannya, seakan-akan beliau bermaksud melakukan perbuatan yang lain, sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadits shahih. [Al-Bukhari, no. 2947]
  2. Memakai kode, simbol atau isyarat di antara anggota pasukan dalam melakukan komunikasi antara sebagian mereka dengan sebagian lainnya pada saat berbaur dengan musuh atau posisi rnereka dekat dari tempat persembunyian musuh. Suatu ketika Rasulullah SAW bersabda,

“Apabila musuh menyergapmu di waktu malam, maka katakanlah, “Hamim la yunsharun (Haa Miim, mereka tidak ditolong).”

Adapun kode yang dipakai oleh pasukan tentara yang berperang di bawah pimpinan Abu Bakar RA ialah lafazh: amit, amit (matilah, matilah).” [Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, no. 1682 dan yang lainnya. Hadits tersebut dikategorikan sebagai hadits shahih]

  1. Tutup mulut ketika memasuki medan perang. Kegaduhan serta teriakan adalah dua sebab yang menyebabkan kegagalan, menceraiberaikan kekuatan dan mengacaukan pikiran. Hal itu sebagaimana dijelaskan dalam salah satu hadits yang telah diriwayatkan oleh Abu Dawud [Hadits, no. 2656], bahwa para sahabat Rasulullah SAW tidak menyukai suara teriakan saat berperang.
  2. Memilih lokasi perang yang strategis, menertibkan pasukan dan memilih waktu yang tepat dalam menyerang musuh. Karena di antara petunjuk Rasulullah SAW dalam soal perang adalah memilih lokasi dan waktu yang tepat dalaln melakukan peperangan. [Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi]
  3. Menyeru orang-orang kafir untuk memeluk agama Islam terlebih dahulu sebelum mengumumkan perang terhadap mereka atau menyerang rnereka, atau membuat perdamaian dengan mereka dengan ketentuan bahwa mereka diharuskan memberikan upeti. Jika mereka menolaknya, maka mereka harus diperangi. Karena kebiasaan Rasulullah SAW ketika mengutus seorang komandan perang yang dilengkapi dengan pasukan dari kaum Muslimin, maka beliau rnenasihati mereka mengenai kebaikan; khususnya terhadap komandannya dan umumnya terhadap pasukannya supaya bertakwa kepada Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda,

“Jika kamu bertemu dengun musuhmu dari kaum musyrikin, maka serulah mereka kepada salah satu dari tiga perkara. Seruan yang mana saja yang mereka penuhi dari ketiga seruanmu, maka kamu harus menerimanya dari mereka serta urungkanlah memerangi mereka. Serulah mereka kepada agama Islam. Jika mereka memenuhi seruanmu, maka terimalah dari mereka serta urungkanlah memerangi mereka. Jika mereka menolak, maka serulah mereka sapaya memberikan upeti. Jika mereka memenuhi seruanmu, maka terimalah dari mereka dan urangkanlah memerangi mereka. Jika mereka (tetap) menolak, maka mohonlah pertolongan kepada Allah dan perangilah mereka.” [Diriwayatkan oleh Muslim, no. 1731]

  1. Tidak mencuri harta rampasan perang, tidak membunuh wanita, anak-anak, orang yang sudah renta dan pendeta jika mereka tidak terlibat dalam perang, akan tetapi jika mereka terlibat dalam perang, maka mereka boleh dibunuh. Hal itu berdasarkan sabda Rasulullah SAW yang ditujukan kepada para komandannya,

“Berangkatlah dengan membaca, ‘Bismillahi wa billahi wa ‘ala millati Rasulillahi (dengan menyebut nama Allah dan menetapi agama Rasulullah).’

Janganlah kamu membunuh orang yang sudah renta, anak-anak, bayi dan wanita, dan janganlah kamu mengambil ghanimah secara khianat, dan kumpulkanlah harta rampasan perangmu. Lakukanlah perbuatan yang mendatangkan kemaslahatan dan berbuat baiklah. Sesungguhnya Allah sangat menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.”

[Diriwayatkan oleh Abu Dawud, no. 2614, dan makna hadits di atas terkandung dalam salah satu hadits shahih]

  1. Tidak berkhianat kepada orang yang berada di bawah perlindungan seorang Muslim. Rasulullah SAW bersabda,

“Janganlah kamu berkhianat.” [Diriwayatkan oleh Muslim, no. 1731]

Kemudian sabda Rasulullah SAW,

“Sesungguhnya orang yang berkhianat, panjinya akan dipasang untuknya pada Hari Kiamat, seraya dikatakan, ‘Inilah pengkhianatan fulan bin fulan’.” [Muttafaq ’alaih; al-Bukhari, no. 6177; Muslim, no. 1735]

  1. Tidak membakar musuh, berdasarkan sabda Rasulullah SAW,

“Jika kamu bertemu dengan fulan, maka bunuhlah ia, tetapi janganlah kamu membakarnya, karena tidak ada yang berhak rnenyiksa dengan api, kecuali hanya Tuhan Pemilik api (Allah).” [Diriwayatkan oleh al-Bukhari, Abu Dawud, no. 2673]

  1. Tidak memutilasi musuh yang sudah terbunuh. Hal itu berdasarkan keterangan yang diutarakan Imran bin Hushain,

“Rasulullah SAW telah memerintahkan kepada karni supaya bersedekah serta melarang kami melakukan mutilasi.” [Diriwayatkan oleh Abu Dawud, no. 2667 dengan sanad yang shahih]

Kemudian sabda Rasulullah SAW,

“Orang yang paling santun dalam membunuh musuh (dalam suatu peperangan) adalah orang-orang yang beriman.” [Diriwayatkan oleh Abu Dawud, no. 2666 dengan sanad yang baik]

  1. Berdoa semoga dapat meraih kemenangan serta mampu menaklukkan musuh. Karena biasanya setelah Rasulullah SAW mengerahkan pasukan tentara ke medan perang, niscaya beliau berdoa,

“Ya Allah, Dzat yang menurankan al-Qar’an dan yang memperjalankan awan serta yang mengalahkan pasukan musuh, kalahkanlah mereka, serta berilah kami kemenangan atas mereka.” [Muttafaq ’alaih; al-Bukhari, no. 2966; Muslim, no. 1742]

Juga sabda Rasulullah SAW,

“Dua macam doa yang tidak akann ditolak atau hampir tiduk pernah ditolak, yaitu: Doa ketika adzan dan doa ketika di medan perang pada saat sebagian dari mereka membunuh sebagian yang lainnya (ketika pertempuran sedang berkecamuk).” [Diriwayatkan oleh Abu Dawud, no. 2540 dengan sanad yang shahih]

Oleh : Syaikh Abu Bakar Jabir Al Jaza’iri

Baca juga : 

Pasang Iklan di Website Ini +6285773713808
Hello. Add your message here.