Allah Pelindung Kami

Yuk bagikan infonya...

islamic2001

Allah SWT dalam surat Ali Imran ayat 173 berfirman :

الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

(Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung”

Janganlah kalian mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki, mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia yang besar dari Allah, dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman. (Yaitu) orang-orang yang menaati perintah Allah dan Rasul-Nya sesudah mereka mendapat luka (dalam peperangan Uhud).

Artikel pilihan : 27 Ayat-ayat Motivasi Terdahsyat dalam Al Qur’an dan Tafsirnya

Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan di antara mereka dan yang bertakwa ada pahala yang besar. (Yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan, “”Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kalian. Karena itu, takutlah kepada mereka,”” maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, “”Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.”” Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa, mereka mengikuti keridaan Allah.

Dan Allah mempunyai karunia yang besar. Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah setan yang menakut-nakuti (kalian) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy). Karena itu, janganlah kalian takut kepada mereka; tetapi takutlah kepada-Ku, jika kalian benar-benar orang yang beriman. Allah menceritakan perihal para syuhada, bahwa sekalipun mereka gugur terbunuh dalam kehidupan dunia ini, sesungguhnya arwah mereka tetap hidup diberi rezeki di alam yang kekal. Muhammad ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Marzuq, telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Yunus, dari Ikrimah, telah menceritakan kepada kami Ishaq ibnu Abu Talhah, telah menceritakan kepadaku Anas ibnu Malik perihal sahabat-sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dikirim beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada penduduk Bir Ma’unah.

Artikel pilihan : 100 Artikel Motivasi Islam Penyejuk Hati

Sahabat Anas ibnu Malik mengatakan bahwa ia tidak mengetahui apakah jumlah mereka empat puluh atau tujuh puluh orang, sedangkan yang menjadi pemimpin dari penduduk tempat air itu adalah Amir ibnu Tufail Al-Jafari. Maka berangkatlah sejumlah sahabat Rasul itu hingga mereka sampai di sebuah gua yang berada di atas tempat air tersebut, lalu mereka duduk istirahat di dalam gua itu.

Kemudian sebagian dari mereka berkata kepada sebagian yang lain, “”Siapakah di antara kalian yang mau menyampaikan risalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada penduduk tempat air ini?”” Maka seseorang yang menurut dugaan perawi dia adalah Abu Mulhan Al-Ansari berkata, “”Akulah yang akan menyampaikan risalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam”” Lalu ia berangkat hingga sampai di sekitar rumah-rumah mereka, kemudian ia duduk bersideku di hadapan pintu ramah-rumah itu, dan berseru, “”Wahai penduduk Bi-r Ma’unah, sesungguhnya aku adalah utusan Rasulullah kepada kalian.

Sesungguhnya aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba serta utusan-Nya. Karena itu, berimanlah kalian kepada Allah dan Rasul-Nya!”” Maka keluarlah dari salah satu rumah itu seorang lelaki seraya membawa sebuah tombak menuju kepadanya, lalu lelaki itu langsung menghunjamkan tombaknya ke lambung Abu Mulhan hingga tembus ke sisi yang lain.

Artikel pilihan : 250 Artikel Aa Gym Pilihan Penyejuk Hati  

Maka Abu Mulhan berseru (sebelum meregang nyawanya): Allahu Akbar (Allah Mahabesar), aku beruntung (mendapat mati syahid) demi Tuhan Ka’bah! Kemudian seluruh penduduk Bir Ma’unah mengikuti jejak Abu Mulhan hingga mereka sampai kepada teman-teman Abu Mulhan yang berada di dalam gua tersebut. Maka Amir ibnu Tufail (bersama kaumnya) membunuh mereka semuanya. Ibnu Ishaq mengatakan, telah menceritakan kepadaku Anas ibnu Malik, bahwa Allah telah menurunkan ayat Al-Qur’an berkenaan dengan nasib mereka itu, yang isinya mengatakan: Sampaikanlah dari kami kepada kaum kami, bahwasanya kami telah menjumpai Tuhan kami, dan Dia rida dengan kami serta kami pun rida (puas) dengan (pahala)-Nya.

Kemudian ayat tersebut dimansukh dan diangkat kembali sesudah kami membacanya selama beberapa waktu, dan sebagai gantinya Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan firman-Nya: Janganlah kalian mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki. (Ali Imran: 169) Imam Muslim meriwayatkan di dalam kitab sahihnya, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdullah ibnu Numair, telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah, telah menceritakan kepada kami Al-A’masy, dari Abdullah ibnu Murrah, dari Masruq yang menceritakan bahwa sesungguhnya kami pernah menanyakan kepada Abdullah tentang ayat ini, yaitu firman-Nya: Janganlah kalian mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mad, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya de-ngan mendapat rezeki.(Ali Imran: 169) Maka Abdullah menjawab, bahwa sesungguhnya kami pernah menanyakan hal yang sama kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau bersabda: Arwah mereka (para syuhada) berada di dalam perm burung hijau, baginya terdapat pelita-pelita yang bergantungan di bawah Arasy.

Ia terbang di bagian surga dengan bebas menurut kehendaknya, kemudian hinggap pada pelita-pelita tersebut. Maka Tuhan mereka menjenguk keadaan mereka sekali kunjungan, lalu berfirman, “”Apakah kalian menginginkan sesuatu?”” Mereka menjawab, “”Apakah yang kami inginkan lagi, bukankah kami terbang dengan bebas di dalam surga ini menurut kehendak kami?”” Allah melakukan hal tersebut kepada mereka sebanyak tiga kali.

Artikel pilihan : 100 Artikel Keislaman tentang Adab, Aqidah, Bisnis, Jihad, Pidana, Nikah, Hukum, Waris, dll

Setelah mereka merasakan bahwa diri mereka tidak dibiarkan oleh Allah melainkan harus meminta, maka berkatalah mereka, “”Wahai Tuhan kami, kami menginginkan agar Engkau mengembalikan arwah kami ke jasad kami, hingga kami dapat terbunuh lagi demi membela jalan-Mu sekali lagi.”” Setelah Allah melihat bahwa mereka tidak mempunyai keperluan lagi, maka barulah mereka ditinggalkan. Hadits yang semisal diriwayatkan pula melalui hadits Anas dan Abu Sa’id.

Hadits yang lain diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Disebutkan bahwa telah menceritakan kepada kami Abdus Samad. telah menceritakan kepada kami Hammad, telah menceritakan kepada kami Sabit, dari Anas, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: Tiada seorang pun yang meninggal dunia, sedangkan di sisi Allah dia memperoleh kebaikan yang menggembirakannya, lalu ia menginginkan dikembalikan ke dunia, kecuali hanya orang yang mati syahid. Karena sesungguhnya dia sangat gembira bila dikembalikan ke dunia, lalu gugur sekali lagi (di jalan Allah) karena apa yang dirasakannya dari keutamaan mati syahid.

Hadits ini hanya diriwayatkan oleh Imam Muslim melalui jalur Hammad. Hadits yang lain diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Dikatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Abdullah Al-Madini, telah menceritakan kepada kami Sufyan ibnu Muhammad ibnu Ali ibnu Rabi’ah As-Sulami, dari Abdullah ibnu Muhammad ibnu Aqil, dari Jabir yang menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda kepadanya: Aku telah diberi tahu bahwa Allah menghidupkan kembali ayahmu, lalu berfirman kepadanya.Mintalah kamu!”” Ayahmu berkata kepada-Nya, “”Aku ingin dikembalikan ke dunia dan gugur lagi di jalan-Mu sekali lagi.”” Allah berfirman, “”Sesungguhnya Aku telah memutuskan bahwa mereka tidak akan dikembalikan lagi ke dunia.”” Ditinjau dari segi ini, hanya Imam Ahmad sendirilah yang meriwayatkannya.

Artikel pilihan : Amalan Doa Pembuka Pintu Rezeki, Panjang Umur dan Kemudahan Hidup

Telah ditetapkan di dalam kitab Shahihain dan lain-lainnya bahwa ayah Jabir (yaitu Abdullah ibnu Amr ibnu Haram Al-Ansari ) gugur dalam Perang Uhud sebagai syuhada. Imam Al-Bukhari mengatakan bahwa Abul Walid meriwayatkan dari Syu’bah, dari Ibnul Munkadir, bahwa ia pernah mendengar Jabir menceritakan hadits berikut: Ketika ayahku gugur (dalam Perang Uhud), aku menangis dan membuka kain penutup wajahnya. Maka sahabat-sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarangku berbuat demikian. Tetapi Rasulullah sendiri tidak melarang, melainkan beliau bersabda: Jangan engkau tangisi dia atau mengapa engkau tangisi dia para malaikat masih terus menaunginya dengan sayap-sayap mereka hingga ia diangkat (ke langit).

Hadits ini di-musnad-kan (disandarkan) langsung kepada Jabir oleh Imam Al-Bukhari, Imam Muslim, dan Imam An-Nasai melalui berbagai jalur, dari Syu’bah, dari Muhammad ibnul Munkadir, dari Jabir yang menceritakan, “”Ketika ayahku gugur dalam peperangan Uhud, aku membuka kain wajahnya, lalu aku menangisinya,”” hingga akhir hadits dengan lafal yang semisal. Hadits lain diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Dikatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Ya’qub, telah menceritakan kepada kami ayahku, dari Abu Ishaq, telah menceritakan kepada kami Ismail ibnu Umayyah ibnu Amr ibnu sa’id ibnu Abuz Zubair Al-Makki, dari Ibnu Abbas yang menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: Ketika saudara-saudara kalian gugur dalam peperangan Uhud, maka Allah menjadikan arwah mereka di dalam perut burung hijau yang selalu mendatangi sungai-sungai surga dan memakan buah-buahannya, hingga pada lampu-lampu emas yang ada di bawah naungan Arasy.

Ketika mereka merasakan makanan dan minuman mereka yang sangat enak dan tempat mereka yang sa-ngat baik itu, maka mereka mengatakan, “”Aduhai, sekiranya teman-teman kita mengetahui apa yang dilakukan oleh Allah terhadap kita, agar mereka tidak enggan dalam berjihad dan tidak malas dalam melakukan peperangan.”” Maka Allah ber-firman, “”Akulah Yang akan menyampaikan berita kalian kepada mereka.”” Maka Allah menurunkan ayat ini, yaitu firman-Nya: Janganlah kalian mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki. (Ali Imran: 169) dan ayat sesudahnya.

Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Ibnu Jarir meriwayatkannya dari Yunus, dari Ibnu Wahb, dari Ismail ibnu Iyasy, dari Muhammad ibnu Ishaq dengan lafal yang sama. Imam Abu Dawud dan Imam Hakim di dalam kitab Mustadrak-nya meriwayatkannya melalui hadits Abdullah ibnu Idris, dari Muhammad ibnu Ishaq dengan lafal yang sama. Imam Abu Dawud dan Imam Hakim meriwayatkannya dari Ismail ibnu Umayyah, dari Abuz Zubair, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas r.a lalu disebutkan hadits yang sama, sanad ini lebih kuat.

Hal yang sama diriwayatkan oleh Sufyan Ats-Tsauri. dari Salim Al-Aftas, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas. Imam Hakim di dalam kitab Mustadrak-nya meriwayatkan dari hadits Abu Ishaq Al-Fazzari, dari Sufyan, dari Ismail ibnu Abu Khalid, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan sahabat Hamzah dan teman-temannya (yang gugur dalam Perang Uhud), yaitu firman-Nya: Janganlah kalian mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki. (Ali Imran: 169) Kemudian Imam Hakim mengatakan bahwa hadits ini shahih dengan syarat Syaikhain, tetapi keduanya tidak mengetengahkannya.

Hal yang sama dikatakan pula oleh Qatadah, Ar-Rabi””, dan Adh-Dhahhak, bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan orang-orang yang gugur dalam Perang Uhud. Hadits lain diriwayatkan oleh Abu Bakar ibnu Mardawaih. Disebutkan bahwa telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Ja’far, telah menceritakan kepada kami Harun ibnu Sulaiman, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Abdullah Al-Madini, telah menceritakan kepada kami Musa ibnu Ibrahim ibnu Kasir ibnu Basyir ibnul Fakih Al-Ansari yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Talhah ibnu Khirasy ibnu Abdur Rahman ibnu Khirasy ibnus Sumt Al-Ansari mengatakan bahwa ia pernah mendengar Jabir ibnu Abdullah menceritakan hadits berikut, yaitu: Pada suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memandang diriku, lalu bertanya, “”Mengapa kulihat kamu sedih, wahai Jabir?”” Aku menjawab, “”Wahai Rasulullah, ayahku telah gugur dan meninggalkan utang serta anak-anak yang banyak.”” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “”Ingatlah, aku akan menceritakan kepadamu bahwa tiada seorang pun yang berbicara dengan Allah, melainkan di balik hijab (penghalang), dan sesungguhnya ayahmu berbicara secara berhadapan (dengan-Nya).”” Menurut Ali ibnu Abdullah Al-Madini, arti kifahan ialah berhadap-hadapan secara langsung tanpa hijab -.

Allah berfirman, “”Mintalah kepada-Ku, niscaya Aku beri.”” ia menjawab, “”Aku meminta kepada-Mu agar mengembalikan diri-ku ke dunia, lalu aku gugur lagi di jalan-Mu untuk kedua kali-nya.”” Maka Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “”Sesungguhnya telah ditetapkan oleh-Ku suatu keputusan, bahwa mereka tidak akan dikembalikan lagi kepadanya (ke dunia).”” Ia berkata, “”Wahai Tuhan-ku, kalau demikian sampaikanlah kepada orang-orang yang ada di belakangku.”” Maka Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan firman-Nya: Janganlah kalian mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki. (Ali Imran: 169) Kemudian Abu Bakar ibnu Mardawaih meriwayatkannya melalui jalur lain dari Muhammad ibnu Sulaiman ibnu Salit Al-Ansari, dari ayahnya, dari Jabir hal yang semisal.

Hal yang sama diriwayatkan oleh Imam Al-Baihaqi di dalam kitab Dalailun Nubuwwah-nya melalui jalur Ali ibnul Madini dengan lafal yang sama. Imam Al-Baihaqi meriwayatkan melalui hadits Abu Ubadah Al-Ansari, yaitu Isa ibnu Abdullah, insya Allah, dari Az-Zuhri, dari Urwah, dari Siti Aisyah yang menceritakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda kepada Jabir: “”Wahai Jabir, maukah engkau aku kabarkan berita gembira? Jabir menjawab, “”Tentu saja mau, semoga Allah mengabarkan kebaikan kepadamu.”” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “”Aku merasakan bahwa Allah menghidupkan ayahmu, lalu berfirman, ‘Mintalah kepada-Ku apa yang kamu inginkan, wahai hamba-Ku, niscaya Aku memberikannya kepadamu.’ Ayahmu menjawab, “”Wahai Tuhanku, aku belum pernah beribadah kepada-Mu dengan ibadah yang sesungguhnya, aku memohon kepada-Mu sudilah kiranya Engkau mengembalikan diriku ke dunia, maka aku akan berperang bersama Nabi-Mu dan gugur dalam membela agama-Mu sekali lagi.’ Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, ‘Sesungguhnya telah ditetapkan oleh-Ku bahwa tiada seorang pun (yang telah mati) dikembalikan lagi ke dunia’.”” Hadits lain diriwayatkan oleh Imam Ahmad.

Dinyatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Ya’qub, telah menceritakan kepada kami ayahku, dari Ibnu Ishaq, telah menceritakan kepada kami Al-Haris ibnu Fudail Al-Ansari, dari Mahmud ibnu Labid, dari Ibnu Abbas yang menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: Orang-orang yang mati syahid berada di tepi sungai yang ada di pintu surga, padanya terdapat kubah hijau, rezeki mereka dikeluarkan dari dalam surga setiap pagi dan petang. Hadits ini hanya diriwayatkan oleh Imam Ahmad sendiri.

Tetapi telah diriwayatkan pula oleh Ibnu Juraij, dari Abu Kuraib yang mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnu Sulaiman dan Ubaidah, dari Muhammad ibnu Ishaq dengan lafal yang sama. Sanadnya dinilai jayyid. Dari pembahasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa seakan-akan para syuhada itu terdiri atas berbagai macam. Di antara mereka ada yang arwahnya terbang dengan bebas di seantero surga, ada pula yang tinggal di tepi sungai yang ada di pintu surga.

Akan tetapi, dapat diinterpretasikan bahwa perjalanan mereka berakhir di sungai ini, lalu mereka berkumpul di tempat tersebut dan menyantap rezeki mereka di tempat itu, setelah itu mereka berangkat lagi. Telah diriwayatkan kepada kami di dalam kitab Musnad Imam Ahmad sebuah hadits yang isinya mengatakan berita gembira bagi setiap mukmin, bahwa rohnya berada di dalam surga dan terbang dengan bebas di dalam surga, memakan buah-buahan, dan melihat-lihat keindahan yang ada di dalamnya yang hijau segar.

juga kegembiraan yang meliputi suasananya, serta menyaksikan kemuliaan yang telah disediakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala buat dirinya. Sanad hadits ini shahih, jarang ada, lagi mengandung hal yang besar. Di dalam sanadnya terdapat tiga orang Imam dari empat orang Imam yang menjadi panutan. Karena sesungguhnya Imam Ahmad meriwayatkannya dari Muhammad ibnu Idris Asy-Syafii rahimahullah, dari Malik ibnu Anas Al-Asbahi rahimahullah, dari Az-Zuhri Abdur Rahman ibnu Kab ibnu Malik, dari ayahnya yang menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: Jiwa orang mukmin merupakan burung yang bergantungan di pepohonan surga sebelum Allah mengembalikannya ke jasadnya pada hari Allah membangkitkannya. Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mengatakan, “”Yu’alliqu,”” artinya bergantungan. Makna yang dimaksud ialah memakan buah-buahan surga. Dari hadits ini disimpulkan bahwa roh orang mukmin itu dalam bentuk burung di dalam surga.

Adapun mengenai arwah para syuhada, seperti yang disebut di atas, berada di dalam perut burung hijau. Perihalnya sama dengan bintang-bintang bila dibandingkan dengan arwah orang mukmin secara umum, karena sesungguhnya arwah orang mukmin terbang dengan sendirinya. Kami memohon kepada Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Pemberi anugerah, semoga Dia mematikan kami dalam keadaan beriman. Firman Allah subhanahu wa ta’ala: Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka. (Ali Imran: 170), hingga akhir ayat.

Dengan kata lain, orang-orang yang mati syahid di jalan Allah itu hidup di sisi Tuhan mereka, sedangkan mereka dalam keadaan gembira karena kenikmatan dan kebahagiaan yang mereka peroleh. Mereka merasa gembira dan amat bangga kepada saudara-saudara mereka yang masih tetap berperang di jalan Allah sesudah mereka; mereka telah mendahuluinya, dan bahwa mereka yang belum sampai tidak usah takut dalam menghadapi apa yang ada di depan mereka dan tidak usah bersedih hati atas apa yang mereka tinggalkan di belakang mereka nanti.

Kami memohon surga kepada Allah. Muhammad ibnu Ishaq mengatakan sehubungan dengan firman-Nya: dan mereka bergirang hati. (Ali Imran: 170) Artinya, mereka merasa bahagia bila ada di antara saudara-saudara mereka yang berjihad menyusul mereka, agar ia ikut merasakan pahala yang dianugerahkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala kepada mereka. As-Suddi mengatakan bahwa disampaikan kepada orang yang telah mati syahid sebuah kitab yang di dalamnya bertuliskan ‘akan datang kepadamu si Fulan pada hari anu dan hari anu, dan akan datang kepadamu (menyusulmu) si Fulan pada hari anu dan hari anu’.

Maka ia merasa gembira dengan berita tersebut sebagaimana penduduk dunia yang gembira bila bersua dengan orang yang telah lama berpisah darinya. Sa’id ibnu Jubair berkata bahwa ketika para syuhada masuk ke dalam surga dan melihat semua yang ada di dalamnya berupa penghormatan yang diperoleh para syuhada, mereka berkata, “”Aduhai, seandainya saudara-saudara kita yang berada di dunia mengetahui apa yang kita ketahui sekarang berupa penghormatan yang kita peroleh, niscaya apabila mereka menghadapi peperangan di jalan Allah, mereka langsung menghadapinya dengan mengorbankan diri mereka hingga mati syahid, lalu mereka segera memperoleh kebaikan seperti yang kita peroleh sekarang.”” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diberi tahu perihal mereka dan kehormatan yang mereka peroleh di sisi Tuhannya.

Allah memberitahukan kepada para syuhada, “”Aku telah menyampaikan kepada Nabi kalian dan telah Kuberitakan kepadanya keadaan kalian dan apa yang sedang kalian lakukan sekarang. Karena itu, mereka merasa gembira dengan berita tersebut.”” Yang demikian itu disebutkan oleh firman-Nya: Dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka. (Ali Imran: 170), hingga akhir ay at.

Telah ditetapkan di dalam kitab Shahihain dari sahabat Anas sehubungan dengan kisah yang dialami oleh tujuh puluh orang sahabat yang dikirim ke Bi-r Ma’unah, mereka semua dari kalangan Anshar dan semua terbunuh dalam satu hari. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan doa qunut untuk kebinasaan orang-orang yang telah membunuh mereka, dan beliau melaknat mereka. Sahabat Anas mengatakan bahwa sehubungan dengan mereka telah diturunkan ayat Al-Qur’an yang selama beberapa waktu kami baca sebelum dimansukh.

Ayat tersebut berbunyi: Sampaikanlah kepada kaum kami dari kami, bahwa sesungguh-nya kami telah menjumpai Tuhan kami, maka Dia rida kepada kami dan kami pun merasa puas dengan pahala-Nya. Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia yang besar dari Allah, dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman. (Ali Imran: 171) Muhammad ibnu Ishaq mengatakan bahwa mereka merasa gembira ketika menyaksikan dan merasakan janji yang telah ditunaikan dan pahala yang berlimpah dari Allah subhanahu wa ta’ala kepada mereka. Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam mengatakan bahwa makna ayat ini mencakup semua orang mukmin, baik yang mati syahid atau-pun yang tidak mati syahid.

Jarang sekali Allah menyebutkan suatu keutamaan (pahala) yang Dia berikan kepada para nabi, melainkan Allah menyebutkan pula pahala yang akan diberikan kepada ovang-orang mukmin sesudah mereka. Firman Allah subhanahu wa ta’ala: (Yaitu) orang-orang yang menaati perintah Allah dan Rasul-Nya sesudah mereka mendapat luka (dalam peperangan Uhud). (Ali Imran: 172) Hal ini terjadi dalam Perang Hamra-ul Asad. Pada mulanya setelah kaum musyrik beroleh kemenangan atas kaum muslim (dalam Perang Uhud) dan mereka kembali ke negeri tempat tinggal mereka, maka ketika mereka sampai di pertengahan jalan, mereka merasa menyesal, mengapa mereka tidak meneruskan pengejaran sampai ke Madinah, kemudian segala sesuatunya diselesaikan sehingga tidak ada masalah lagi bagi mereka? Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar berita tersebut, beliau menyerukan kepada semua kaum muslim untuk berangkat mengejar mereka (kaum musyrik) guna menakut-nakuti mereka dan sekaligus memperlihatkan kepada mereka bahwa kaum muslim masih memiliki kekuatan dan ketabahan untuk menghadapi mereka.

Kali ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memberi izin untuk tidak berangkat kepada seseorang pun di antara mereka yang mengikuti Perang Uhud selain Jabir ibnu Abdullah karena alasan yang akan kami terangkan kemudian. Maka kaum muslim pun bersiap-siap. Sekalipun di antara mereka ada yang luka dan keberatan, tetapi demi taat kepada Allah dan Rasul-Nya, mereka berangkat pula. Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdullah ibnu Yazid, telah menceritakan kepada kami Sufyan ibnu Uyaynah, dari Amr, dari Ikrimah yang menceritakan bahwa ketika kaum musyrik kembali dari Perang Uhud, mereka mengatakan, “”Muhammad tidak sempat kalian bunuh, dan kaki tangannya tidak kalian tawan.

Alangkah buruknya apa yang telah kalian lakukan itu, sekarang kembalilah kalian.”” Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar berita tersebut, maka beliau menyerukan kepada kaum muslim untuk siap berperang lagi, lalu mereka bersiap-siap dan berangkat. Ketika sampai di Hamra-ul Asad atau di Bi-r Abu Uyaynah (ragu dari pihak Sufyan), maka kaum musyrik berkata (kepada sesama mereka), “”Kita kembali lagi tahun depan saja.”” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali pula ke Madinah. Peristiwa ini dianggap sebagai suatu peperangan (perang urat syaraf, pent.). Sehubungan dengan peristiwa ini Allah menurunkan firman-Nya: (Yaitu) orang-orang yang menaati perintah Allah dan Rasul-Nya sesudah mereka mendapat luka (dalam peperangan Uhud). Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan di antara mereka dan yang bertakwa ada pahala yang besar. (Ali Imran: 172) Ibnu Mardawaih meriwayatkan melalui hadits Muhammad ibnu Mansur, dari Sufyan ibnu Uyaynah, dari Amr, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, lalu ibnu Mardawaih menuturkan hadits ini.

Muhammad ibnu Ishaq mengatakan bahwa Perang Uhud terjadi pada hari Sabtu pertengahan bulan Syawwal. Pada keesokan harinya yaitu pada hari Ahad, tanggal enam belas bulan Syawwal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyerukan melalui juru serunya kepada kaum muslim agar bersiap-siap mengejar musuh. Juru seru Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengumumkan, “”Tidak boleh ada yang berangkat bersama kami seseorang pun kecuali orang-orang yang ikut bersama kami kemarin (dalam Perang Uhud). Lalu Jabir ibnu Abdullah ibnu Amr ibnu Haram meminta izin kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk tidak ikut. Untuk itu ia berkata, “”Wahai Rasulullah, sesungguhnya ayahku telah meninggalkan di belakangku tujuh orang saudara perempuanku.”” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Wahai anakku, tidak layak bagiku dan bagimu juga bila meninggalkan wanita-wanita tersebut tanpa laki-laki di antara mereka yang menjaganya. Aku bukanlah orang yang lebih mementingkan kamu untuk berjihad bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketimbang diriku sendiri. Sekarang engkau boleh tetap tinggal menjaga saudara-saudara perempuanmu.”” Maka ia tetap tinggal di Madinah menjaga saudara-saudara perempuannya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan izin kepada Jabir untuk tidak ikut, sedangkan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berangkat bersama mereka. Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kali ini berangkat hanya semata-mata untuk menakut-nakuti musuh, agar sampai kepada mereka bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berangkat untuk mengejar mereka, hingga mereka mengira bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masih memiliki kekuatan, bahwa apa yang dialami oleh kaum muslim dalam Perang Uhud tidak membuat mereka lemah dalam menghadapi musuh-musuhnya. Muhammad ibnu Ishaq mengatakan, telah menceritakan kepadaku Abdullah ibnu Kharijah ibnu Zaid ibnu Sabit, dari Abus Saib maula Aisyah binti Usman, bahwa seorang lelaki dari kalangan sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari kalangan Bani Abdul Asyhal pernah mengikuti Perang Uhud, ia menceritakan bahwa kami ikut dalam Perang Uhud bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamDalam peperangan Uhud, aku dan saudara laki-lakiku mengalami luka-luka. Ketika juru seru Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengumumkan berangkat lagi mengejar musuh, aku berkata kepada saudaraku, atau saudaraku berkata kepadaku, ‘Apakah peperangan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kali ini akan terlewatkan oleh kami?’ Demi Allah, kala itu kami tidak mempunyai seekor unta kendaraan pun, sedangkan kami dalam keadaan luka berat. Tetapi pada akhirnya kami tetap bertekad berangkat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Keadaanku saat itu lebih ringan lukanya ketimbang saudaraku. Di tengah jalan saudaraku jatuh pingsan atau lemas digendong oleh Uqbah, hingga kami pun sampai di tempat pasukan kaum muslim sampai (yaitu Hamra-ul Asad).”” Imam Al-Bukhari mengatakan: telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Salam.

telah menceritakan kepada kami Ahu Mu’awiyah, dari Hisyam, dari ayahnya. dari Siti Aisyah sehubungan dengan firman-Nya: (Yaitu) orang-orang yang menaati perintah Allah dan Rasul-Nya. (Ali Imran: 172), hingga akhir ayat. Aku (Siti Aisyah) berkata kepada Urwah.Wahai anak lelaki saudara perempuanku, ayahmu termasuk salah seorang di antara mereka, yaitu Az-Zubair, juga Abu Bakar Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengalami musibah dalam Perang Uhud dan pasukan kaum musyrik pulang meninggalkan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam merasa khawatir bila mereka kembali lagi menyerang. Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “”Siapakah yang mau mengejar mereka? Maka beliau memilih tujuh puluh orang lelaki, di antara mereka terdapat Abu Bakar dan Az-Zubair. Hal yang sama diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari secara menyendiri dengan konteks yang sama. Imam Hakim meriwayatkannya di dalam kitab mustadrak-nya melalui Al-Asam, dari Abul Abbas Ad-Dauri. dari Abun Nadi dari Abu Said Al-Muaddib, dari Hisyam ibnu Urwah dengan lafal yang sama.

Kemudian Imam Hakim mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih, tetapi keduanya (Al-Bukhari dan Muslim) tidak mengetengahkannya. Ibnu Majah meriwayatkannya dari Hisyam ibnu Ammar dan Hudbah ibnu Abdul Wahhab, dari Sufyan ibnu Uyaynah, dari Hisyam ibnu Urwah dengan lafal yang sama. Hal yang sama diriwayatkan oleh Sa’id ibnu Mansur dan Abu Bakar Al-Humaidi di dalam kitab musnadnya, dari Sufyan. Imam Hakim meriwayatkannya pula melalui hadits Ismail ibnu Abu Khalid, dari At-Taimi, dari Urwah yang menceritakan bahwa Siti Aisyah pernah berkata kepadanya: Sesungguhnya ayahmu termasuk di antara orang-orang yang menaati perintah Allah dan Rasul-Nya sesudah mereka mendapat luka (dalam peperangan Uhud).

Kemudian Imam Hakim mengatakan bahwa hadits ini shahih dengan syarat Syaikhain, tetapi keduanya tidak mengetengahkannya. Abu Bakar ibnu Mardawaih mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Ja’far dari pokok kitabnya, telah menceritakan kepada kami Samuwaih, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Zubair, telah menceritakan kepada kami Sufyan, telah menceritakan kepada kami Hisyam, dari ayahnya, dari Siti Aisyah yang mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda kepadanya: Sesungguhnya kedua orang tuamu benar-benar termasuk orang-orang yang menaati perintah Allah dan Rasul-Nya sesudah mereka mendapat luka, yaitu Abu Bakar dan Az-Zubair.

Predikat marfu’ hadits ini merupakan suatu kekeliruan yang besar bila ditinjau dari segi sanadnya, karena sanadnya bertentangan dengan riwayat orang-orang yang tsiqah yang menyatakan bahwa hadits ini mauquf hanya sampai kepada Siti Aisyah (dan tidak sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), seperti yang disebutkan di atas. Bila ditinjau dari segi’ maknanya, sesungguhnya Az-Zubair bukan merupakan orang tua Siti Aisyah. Sesungguhnya yang mengatakan demikian tiada lain adalah Aisyah, kepada Urwah ibnuz Zubair yang merupakan anak lelaki saudara perempuannya, Asma binti Abu Bakar

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Sa’d, telah menceritakan kepadaku pamanku, telah menceritakan kepadaku ayahku, dari ayahnya, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa sesungguhnya Allah telah menanamkan ke dalam hati Abu Sufyan rasa takut dalam Perang Uhud sesudah ia berhasil meraih kemenangan yang diperolehnya. Karena itu, ia kembali ke Mekah. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya Abu Sufyan telah memperoleh suatu kemenangan dari kalian, dan sekarang ia pulang karena Allah menanamkan rasa takut dalam hatinya.

Perang Uhud terjadi dalam bulan Syawwal, sedangkan pada waktu itu merupakan kebiasaan setahun sekali para pedagang datang ke Madinah pada bulan Zul Qa’dah, lalu mereka menggelarkan dagangannya di Badar Sugra. Mereka tiba (di Madinah) sesudah peperangan Uhud. Saat itu kaum muslim mendapat luka dari Perang Uhud, lalu mereka mengadu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mereka merasa berat dengan luka yang baru mereka alami itu. Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyerukan kepada orang-orang agar berangkat bersamanya, sekalipun keadaan mereka tidak mendorong mereka untuk mengikutinya. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “”Sesungguhnya mereka sekarang berangkat (pulang ke Mekah) untuk menunaikan hajinya. dan mereka tidak akan mampu melakukan semisal dengan apa yang mereka lakukan dalam peperangan Uhud kecuali tahun depan nanti.”” Akan tetapi, setan menakut-nakuti kekasih-kekasih Allah.

ia mengatakan, “”Sesungguhnya manusia (kaum musyrik) telah menghimpun kekuatannya untuk menyerang kalian.”” Maka orang-orang tidak mau mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “”Sesungguhnya aku tetap akan berangkat, sekalipun tidak ada seorang pun yang mengikutiku untuk menggerakkan orang-orang yang mau ikut.”” Maka ikutlah bersamanya Abu Bakar, Umar, Usman, Ali, Az-Zubair, Sa’d, Talhah, Abdur Rahman ibnu Auf, Abdullah ibnu Mas’ud, Huzaifah ibnul Yaman. dan Abu Ubaidah ibnul Jarrah bersama tujuh puluh orang, lalu mereka berangkat hingga sampai di As-Safra, dan Allah menurunkan firman-Nya: (Yaitu) orang-orang yang menaati perintah Allah dan Rasul-Nya sesudah mereka mendapat luka. (Ali Imran: 172), hingga akhir ayat.

Ibnu Ishaq mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akhirnya berangkat hingga sampai di Hamra-ul Asad yang jauhnya kurang lebih delapan mil dari Madinah. Ibnu Hisyam menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat Ibnu Ummi Maktum menjadi amir di Madinah (selama kepergian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tinggal selama tiga hari di Hamra-ul Asad, yaitu pada hari Senin, Selasa, dan Rabu, setelah itu kembali ke Madinah Menurut apa yang diceritakan kepadaku oleh Abdullah ibnu Abu Bakar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersua dengan Ma’bad ibnu Abu Ma’bad Al-Khuza’i. Kabilah Khuza’ah, baik yang muslim maupun yang masih musyrik, bersikap netral. Mereka mempunyai hubungan erat dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sejak mereka melakukan transaksi perdagangan dengan beliau di Tihamah, dan mereka tidak pernah menyembunyikan sesuatu pun darinya. Ma’bad saat itu masih musyrik: ketika bersua dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia mengatakan, “”Wahai Muhammad, demi Allah, kami berbelasungkawa atas musibah yang menimpa dirimu sehubungan dengan luka yang dialami oleh sahabat-sahabatmu, dan kami berharap mudah-mudahan Allah menyelamatkan engkau bersama mereka.”” Kemudian Ma’bad melanjutkan perjalanannya, sedangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap berada di Hamra-ul Asad, hingga Ma’bad bersua dengan Abu Sufyan ibnu Harb bersama pasukannya di Rauha.

Saat itu mereka sepakat kembali memerangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sahabat-sahabatnya. Mereka mengatakan, “”Kita telah mengalami kemenangan atas Muhammad dan sahabat-sahabatnya, juga para pemimpin dan orang-orang terhormat kaum muslim, apakah kita kembali sebelum memberantas mereka? Kita benar-benar harus kembali untuk mengikis habis sisa-sisa kekuatan mereka hingga kita benar-benar aman dari mereka.”” Ketika Abu Sufyan melihat Ma’bad, ia bertanya.Wahai Ma’bad. apakah yang ada di belakangmu?”” Ma’bad menjawab.Muhammad dan sahabat-sahabatnya sedang memburu kalian bersama sejumlah pasukan yang belum pernah kulihat sebanyak itu.

Mereka benar-benar merasa dendam terhadap kalian. Telah bergabung bersamanya orang-orang yang tadinya tidak ikut berperang, dan mereka menyesal atas ketidakberangkatan mereka. Mereka benar-benar merasa dendam terhadap kalian sehingga membawa pasukan yang kekuatannya tidak pernah aku lihat sebelumnya.”” Abu Sufyan berkata, “”Celakalah kamu ini, apa maksudmu dengan kata-katamu itu?”” Ma’bad berkata, “”Demi Allah, menurutku engkau masih belum pulang sebelum engkau melihat pasukan berkuda mereka.”” Abu Sufyan berkata, “”Demi Allah, sesungguhnya kami sepakat kembali menyerang mereka guna mengikis habis sisa-sisa kekuatan mereka.”” Ma’bad menjawab, “”Sesungguhnya aku melarangmu melakukan hal tersebut.

Demi Allah, sesungguhnya telah mendorongku untuk mengatakan beberapa bait syair yang menggambarkan kekuatan mereka (kaum muslim) sesudah aku melihatnya.”” Abu Sufyan bertanya, “”Apakah yang engkau katakan itu?”” Ma’bad menjawab, “”Rahilah (pelana) untaku hampir jatuh karena getaran ketika kuda-kuda Ababil mengalir bergerak di bumi membawa para pendekar yang gagah berani lagi pantang mundur dalam peperangan dan tidak pernah mundur barang setapak pun. Maka aku memacu kendaraanku karena aku mengira bahwa bumi ini seakan-akan berguncang, mereka berada di bawah pimpinan seorang pemimpin yang tidak pernah terhina.

Maka aku katakan, ‘Celakalah, wahai Ibnu Harb, bila bersua dengan kalian,’ mengingat Lembah Batha bergetar karena pasukan berkuda. Sesungguhnya aku memberikan peringatan kepada penduduk lembah, janganlah mereka mengorbankan nyawanya, yaitu kepada setiap orang yang ragu dan memakai akal pikirannya di antara mereka. Hati-hatilah kalian terhadap pasukan Ahmad yang tidak terkalahkan itu. Apa yang aku peringatkan ini bukan berdasarkan berita (melainkan aku saksikan dengan mata kepalaku sendiri).”” Maka Abu Sufyan dan orang-orang yang bersamanya merasa berterima kasih kepada Ma’bad atas berita itu.

Lalu Abu Sufyan berpapasan dengan kafilah dari Abdul Qais. Abu Sufyan bertanya, “”Hendak ke manakah kalian?”” Mereka menjawab, “”Kami hendak ke Madinah.”” Abu Sufyan bertanya, “”Untuk apa?”” Mereka menjawab, “”Kami hendak mencari makanan.”” Abu Sufyan berkata, “”Maukah kalian menyampaikan pesanku kepada Muhammad melalui surat yang akan kukirimkan melalui kalian? Sebagai imbalannya aku akan membawakan barang ini buat kalian (yakni zabib) di Ukaz bila kalian bersua dengan kami nanti.”” Mereka menjawab, “”Ya.”” Abu Sufyan berkata, “”Apabila kalian bertemu dengan Muhammad, ‘sampaikanlah kepadanya bahwa kami telah bersiap-siap untuk menyerang dia dan sahabat-sahabatnya dan mengikis habis sisa-sisa kekuatan mereka.”” Lalu rombongan kafilah Abdul Qais itu bersua dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di Hamra-ul Asad, kemudian mereka menceritakan kepadanya apa yang dikatakan oleh Abu Sufyan dan teman-temannya.

Maka Nabi dan para sahabatnya berkata, “”Cukuplah Allah sebagai Penolong kami, Dia sebaik-baik Pelindung.”” Ibnu Hisyam meriwayatkan melalui Abu Ubaidah yang pernah mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ketika disampaikan kepadanya berita yang mengatakan bahwa pasukan kaum musyrik kembali datang menyerang: Demi Tuhan yang jiwaku berada di dalam genggaman kekuasaan-Nya, sesungguhnya aku telah memberi tanda buat mereka pada sebuah batu. Seandainya mereka pada pagi harinya berada di situ, niscaya keadaan mereka seperti kemarin yang telah lalu.

Al-Hasan Al-Basri mengatakan sehubungan dengan firman-Nya: (Yaitu) orang-orang yang menaati perintah Allah dan Rasul-Nya sesudah mereka mendapat luka (dalam peperangan Uhud). (Ali Imran: 172) Bahwa Abu Sufyan dan teman-temannya berhasil memperoleh kemenangan atas pasukan kaum muslim, lalu mereka kembali. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya Abu Sufyan kembali (ke Mekah), sedangkan Allah telah menanamkan rasa takut di dalam hatinya. Maka siapakah yang mau ikut mengejarnya? Ternyata yang mau melakukannya adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri, Abu Bakar, Umar, Usman, Ali, dan sejumlah sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam; lalu mereka berangkat mengejar Abu Sufyan dan pasukannya. Ketika sampai berita kepada Abu Sufyan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang mengejarnya dan ia bersua dengan suatu iringan kafilah pedagang, maka ia berkata (kepada mereka), “”Kembalikanlah Muhammad, nanti kalian akan kuberi persen sekian, dan sampaikanlah kepadanya bahwa aku telah menghimpun sejumlah besar pasukan, dan aku akan kembali memerangi mereka.”” Ketika rombongan pedagang itu datang dan menyampaikan berita tersebut kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Cukuplah Allah menjadi Penolong kami, dan Allah sebaik-baik Pelindung.

Lalu Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan ayat ini. Hal yang sama dikatakan oleh Ikrimah dan Qatadah serta lain-lainnya yang bukan hanya seorang, semuanya mengatakan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan peristiwa Hamra-ul Asad. Menurut pendapat lain, ayat ini diturunkan berkenaan dengan Perang Badar yang dijanjikan, tetapi pendapat yang benar adalah pendapat pertama. Firman Allah subhanahu wa ta’ala: (Yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan, “”Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kalian. Karena itu, takutlah kalian kepada mereka.”” Maka perkataan itu menambah keimanan mereka. (Ali Imran: 173), hingga akhir ayat.

Yakni mereka yang diperingatkan oleh orang-orang bahwa ada pasukan besar yang akan menyerang mereka, dan ditakut-takuti akan kedatangan musuh yang banyak jumlah pasukannya. Akan tetapi, mereka tidak menghiraukan berita tersebut, bahkan mereka bertawakal kepada Allah serta meminta pertolongan kepada-Nya. dan mereka menjawab, “”Cukuplah Allah menjadi Penolong kami, dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.”” (Ali Imran: 173) Imam Al-Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Yunus; yang menurut Imam Al-Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Bakar, dari Abu Husain, dari Abud Duha, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman-Nya: Cukuplah Allah menjadi Penolong kami, dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung. (Ali Imran: 173) Doa inilah yang dibaca oleh Nabi Ibrahim ‘alaihissalam

ketika dilemparkan ke dalam api. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkannya pula ketika orang-orang berkata kepadanya, “”Kaum musyrik telah menghimpun pasukannya untuk menyerang kalian. Karena itu, takutlah kalian kepada mereka.”” Tetapi keimanan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya bertambah kuat dan mengatakan: Cukuplah Allah menjadi Penolong kami, dan Allah sebaik-baik Pelindung. Imam An-Nasai meriwayatkannya dari Muhammad ibnu Ismail ibnu Ibrahim dan Harun ibnu Abdul’ah yang keduanya menerima hadits ini dari Yahya ibnu Abu Bakar, dari Abu Bakar (yakni Ibnu Iyasy) dengan lafal yang sama. Tetapi hal yang mengherankan ialah Imam Hakim Abu Abdullah telah meriwayatkannya melalui hadits Ahmad ibnu Yunus dengan lafal yang sama.

Kemudian ia mengatakan bahwa hadits ini shahih sanadnya dengan syarat Syaikhain, tetapi keduanya tidak mengetengahkannya. Kemudian Imam Al-Bukhari meriwayatkannya melalui Abu Gassan Malik ibnu Ismail, dari Israil, dari Abu Husain, dari Abud Duha, dari Ibnu Abbas yang menceritakan bahwa ucapan terakhir Nabi Ibrahim ‘alaihissalam ketika dilemparkan ke dalam api ialah: Cukuplah Allah menjadi Penolong kami, dan Allah sebaik-baik Pelindung.

Abdur Razzaq mengatakan bahwa Ibnu Uyaynah mengatakan, telah menceritakan kepadaku Zakaria, dari Asy-Sya’bi, dari Abdullah ibnu Amr yang mengatakan bahwa ayat ini merupakan doa yang diucapkan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihissalam ketika dilemparkan ke dalam api. Hal ini diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir. Abu Bakar ibnu Mardawaih mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ma’mar, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Musa Ats-Tsauri, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahim ibnu Muhammad ibnu Ziyad As-Sukari, telah menceritakan kepada kami Abu Bakar ibnu Iyasy, dari Humaid At-Tawil, dari Anas ibnu Malik, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Pernah dikatakan kepadanya seusai Perang Uhud, “”Pasukan kaum musyrik telah menghimpun kekuatannya untuk menyerang kalian lagi, maka takutlah kalian kepada mereka.”” Lalu Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan ayat ini.

Ibnu Mardawaih meriwayatkan pula berikut sanadnya melalui Muhammad ibnu Abdullah Ar-Rafi’i, dari ayahnya, dari kakeknya (yaitu Abu Rafi’), bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirimkan sahabat Ali bersama sejumlah pasukan untuk mengejar Abu Sufyan. Lalu di tengah jalan mereka bersua dengan seorang Badui dari Khuza’ah, dan lelaki Badui itu berkata, “”Sesungguhnya kaum musyrik telah menghimpun kekuatannya untuk menyerang kalian.”” Maka sahabat Ali dan teman-temannya mengatakan: Cukuplah Allah menjadi Penolong kami, dan Allah adalah se-baik-baik Pelindung. lalu turunlah ayat ini, sehubungan dengan mereka.

Ibnu Mardawaih mengatakan, telah menceritakan kepada kami Da’laj ibnu Ahmad, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan ibnu Sufyan, telah menceritakan kepada kami Abu Khaisamah ibnu Mus’ab ibnu Sa’d, telah menceritakan kepada kami Musa ibnu A’yan, dari Al-A’masy, dari Abu Saleh, dari Abu Hurairah yang mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: Apabila kalian mengalami suatu urusan yang besar, maka ucapkanlah,””Cukuplah Allah menjadi Penolong kami, dan Allah adalah sebaik-baik- Pelindung.”” Hadits ini dinilai garib bila ditinjau dari segi ini.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Haiwah ibnu Syuraih dan Ibrahim ibnu Abul Abbas. Keduanya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Baqiyyah. telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Sa’id, dari Khalid ibnu Madan. dari Saif, dari Auf ibnu Malik yang menceritakan kepada mereka bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memutuskan peradilan di antara dua orang lelaki. Lalu lelaki yang kalah urusannya ketika pergi mengucapkan, “”Cukuplah Allah menjadi Penolong kami, dan Allah adalah sebaik-baik Penolong.”” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “”Panggillah kembali lelaki itu untuk menghadap kepadaku.”” Lalu beliau bersabda, “”Apa tadi yang baru kamu katakan?”” Lelaki itu menjawab, “”Cukuplah Allah menjadi Penolong kami, dan Allah adalah sebaik-baik Penolong.”” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya Allah mencela (tidak menyukai) sikap lemah, tetapi kamu harus bersikap cerdik.

Untuk itu apabila terkalahkan oleh suatu urusan, maka ucapkanlah, “”Cukuplah Allah menjadi Penolongku, dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung. Hal yang sama diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dan Imam An-Nasai melalui hadits Baqiyyah, dari Yahya ibnu Khalid, dari Saif (yakni Asy-Syami), tetapi tidak disebutkan dari Auf ibnu Malik, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan lafal yang semisal. Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Asbat, telah menceritakan kepada kami Mutarrif, dari Atiyyah, dari ibnu Abbas yang menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: “”Mana mungkin aku merasa enak, sedangkan malaikat pemegang sangkakala telah bersiap-siap meniup sangkakalanya dan mengerutkan dahinya menunggu perintah (dari Allah), lalu ia akan meniup(nya).”” Maka sahabat-sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “”Lalu apakah yang harus kami ucapkan?”” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. Ucapkanlah oleh kalian, ‘Cukuplah Allah menjadi Penolong kami, dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung, hanya kepada Allah-lah kami bertawakal’.”” Hadits ini diriwayatkan pula melalui berbagai jalur.

Hadits ini berpredikat jayyid. Telah diriwayatkan kepada kami melalui Ummul Mukminin Zainab dan Siti Aisyah , bahwa keduanya saling membanggakan dirinya. Siti Zainab berkata, “”Allah telah menikahkan diriku, sedangkan kalian dinikahkan oleh orang-orang tua kalian.”” Siti Aisyah berkata, “”Pembebasanku diturunkan dari langit di dalam Al-Qur’an.”” Pada akhirnya Siti Zainab menyerah kepada Siti Aisyah, kemudian ia bertanya, “”Apakah yang engkau ucapkan ketika engkau mengendarai unta Safwan ibnul Mu’attal?”” Siti Aisyah menjawab, “”Aku mengucapkan, ‘Cukuplah Allah menjadi Penolong kami, dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung’.”” Siti Zainab berkata, “”Engkau telah mengucapkan kalimah yang biasa diucapkan oleh orang-orang mukmin.”” Karena itulah maka dalam firman selanjutnya disebutkan: Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa. (Ali Imran: 174) Yakni ketika mereka bertawakal kepada Allah, maka Allah memberikan kecukupan kepada mereka dari semua masalah yang menyusahkan mereka dan menolak dari mereka rencana orang-orang yang hendak berbuat makar terhadap mereka.

Akhirnya mereka kembali ke tempat tinggalnya: dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa. (Ali Imran: 174) Yaitu bencana yang telah direncanakan oleh musuh-musuh mereka terhadap diri mereka. mereka mengikuti keridaan Allah. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. (Ali Imran: 174) Imam Al-Baihaqi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Abdullah Al-Hafidzh, telah menceritakan kepada kami Abu Bakar ibnu Daud Az-Zahid, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Na’im, telah menceritakan kepada kami Bisyr ibnul Hakam, telah menceritakan kepada kami Mubasysyir ibnu Abdullah ibnu Razin, telah menceritakan kepada kami Sufyan ibnu Husain, dari Ya’la ibnu Muslim, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala: Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah. (Ali Imran: 174) Yang dimaksud dengan nikmat ialah mereka kembali dengan selamat.

Yang dimaksud dengan karunia ialah ada serombongan kafilah yang lewat pada hari-hari musim, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membelinya (dan menjualnya kembali di Madinah) hingga mendapat keuntungan yang cukup banyak, lalu beliau membagi-bagikannya di antara sahabat-sahabatnya. Ibnu Abu Nujaih meriwayatkan dari Mujahid sehubungan dengan firman-Nya: (Yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan, “”Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kalian. Karena itu, takutlah kepada mereka.”” (Ali Imran: 173) Yang dimaksud adalah Abu Sufyan. ia mengatakan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, “”Kalian kami tunggu di Badar tempat kalian telah membunuh teman-teman kami.”” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “”Baiklah.”” Maka berangkatlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memenuhi janji Abu Sufyan, hingga turun istirahat di Badar dan secara kebetulan beliau menjumpai pasar yang sedang menggelarkan barang dagangannya, maka beliau berbelanja di pasar tersebut.

Yang demikian itulah yang dimaksud oleh firman-Nya: Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa. (Ali Imran; 174) Menurutnya peristiwa ini terjadi dalam Perang Badar kecil (yakni sebelum Perang Badar Kubra). Ibnu Jarir meriwayatkannya, dan dia meriwayatkannya pula dari Al-Qasim, dari Al-Husain, dari Hajjaj, dari Abu Juraij yang menceritakan bahwa ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menuju tempat yang telah dijanjikan oleh Abu Sufyan, maka beliau dan para sahabatnya setiap bersua dengan orang-orang musyrik selalu menanyakan kepada mereka apa yang dilakukan oleh orang-orang Quraisy.

Maka mereka yang ditanya menjawab, Orang-orang Quraisy telah menghimpun pasukan untuk menghadapi kalian.”” Mereka menjawab demikian dengan maksud untuk menakut-nakuti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan pasukan kaum muslim. Akan tetapi, orang-orang mukmin menjawabnya dengan ucapan, “”Cukuplah Allah menjadi Penolong kami, dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.”” Hingga mereka tiba di Badar dan ternyata mereka menjumpai pasar-pasarnya dalam keadaan aman, tidak seorang pun yang menyaingi mereka. Lalu datanglah seorang lelaki dari kalangan kaum musyrik ke Mekah dan memberitahukan kepada penduduk Mekah tentang pasukan berkuda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ia mengatakan hal tersebut kepada mereka melalui bait-bait syairnya seperti berikut:

“”Unta kendaraanku menjadi lari ketakutan karena pasukan berkuda Muhammad. Dan pasukan untanya yang sangat banyak, maka aku mengambil Qadid sebagai tempat tujuanku.””‘ Ibnu Jarir mengatakan bahwa demikianlah apa yang dikatakan oleh Al-Qasim. Sebenarnya hal ini keliru, Sesungguhnya yang benar adalah seperti berikut: “”Aku terpisah dari teman-temanku karena Muhammad, dan pasukan untanya yang dari Yasrib begitu banyak jumlahnya.

Mereka membela agama ayahnya yang dahulu (Nabi Ibrahim ‘alaihissalam), maka aku menjadikan Qadid sebagai tujuanku.”” Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah setan yang menakut-nakuti (kalian) dengan kawan-kawannya. (Ali Imran: 175) Yakni meneror kalian dengan kawan-kawannya dan memberikan kesan kepada kalian bahwa mereka adalah pasukan yang mempunyai kekuatan dan keperkasaan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: Karena itu janganlah kalian takut kepada mereka; tetapi takutlah kepada-Ku, jika kalian benar-benar orang yang beriman. (Ali Imran: 175) Jika setan menggoda kalian dan menakut-nakuti kalian dengan ilusi-nya, maka bertawakallah kalian kepada-Ku dan mohonlah perlindungan kepada-Ku, karena sesungguhnya Aku pasti mencukupi kalian dan menolong kalian dari mereka. Sebagaimana yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya: Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-hamba-Nya.

Dan mereka menakuti kalian dengan (sesembahan-sesembahan) selain Allah? (Az-Zumar: 36) sampai dengan firman-Nya: Katakanlah, “”Cukuplah Allah bagiku.”” Kepada-Nyalah bertawakal orang-orang yang berserah diri. (Az-Zumar: 38) Demikian pula firman Allah subhanahu wa ta’ala: Sebab itu, perangilah kawan-kawan setan itu, karena sesungguhnya tipu daya setan itu adalah lemah.(An-Nisa: 76) Mereka itulah golongan setan. Ketahuilah bahwa sesungguhnya golongan setan itulah golongan yang merugi. (Al-Mujadilah: 19) Allah telah menetapkan, “”Aku dan rasul-rasul-Ku pasti menang.”” Sesungguhnya Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa. (Al-Mujadilah: 21) Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. (Al-Hajj: 40) Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolong kalian. (Muhammad: 7), hingga akhir ayat.

Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat), (yaitu) hari yang tidak berguna bagi orang-orang zalim permintaan maafnya dan bagi merekalah laknat dan bagi merekalah tempat tinggal yang buruk. (Al-Mumin: 51-52)

Referensi : Tafsir Ibnu Katsir Surat Ali Imran Ayat 173

Artikel Pilihan

Ayo bagikan sebagai sedekah…

 


Yuk bagikan infonya...

About Auther:

Info Biografi

BUKU TES TNI POLRI AKMIL AKPOL 2024
Hello. Add your message here.