Hari-hari Akan Terus Berputar

islamic-art1

Diriwayatkan bahwa Ahmad ibn Hanbal menjenguk Baqi’ ibn Mukhallad yang sedang terbaring sakit. Ahmad menyapa Baqi’, ”Wahai Abu Abdur Rahman, bergembiralah dengan ganjaran yang Allah janjikan, Yakni, Hari-hari sehat yang tidak akan ada sakit di dalamnya, dan hari-hari sakit yang tidak ada lagi kesehatan di dalamnya …. “

Arti ungkapan itu: Di saat sehat tidak pernah terlintas dalam benak manusia tentang sakit. Hal ini menyebabkan keinginan manusia menjadi demikian kuat, cita-cita yang akan diraih makin banyak, ambisi yang hendak dicapai makin membesar, dan obsesinya kian tumbuh subur. Sebaliknya, sewaktu sakit keras tidak pernah terlintas dalam pikirannya tentang sehat. Hal ini membuat jiwa diliputi harapan yang tak berdaya, semangat yang terpenjara, dan putus asa yang menggejala.

Perkataan Imam Ahmad itu diambil dari firman Allah berikut ini,

“Dan, jika Kami rasakan kepada manusia suatu rahmat (nikmat) dari Kami, kemudian rahmut itu Kami cabut daripadanya, pastilah dia menjadi putus asa lagi tidak berterima kasih. Dan jika Kami rasakan kepadanya kebahagiaan sesudah bencana yang menimpanya, niscaya dia akan berkata: ”Telah hilang bencana-bencana itu daripadaku”, sesungguhnya dia sangat gembira lagi bangga. Kecuali orang-orang yang sabar (terhadap bencana) dan mengerjakan amal-amal salih; mereka itu beroleh ampunan dan pahala yang besur” (QS. Hud; 9-11)

Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata, ‘Allah Yang Maha Tinggi memberitahukan tentang manusia dan sifat-sifat tercela yang ada dalam diri mereka, kecuali mereka yang diberi rahmat, yakni hamba-hambaNya yang mukmin. Allah memberitahukan bahwa jika dia mendapatkan suatu kesulitan setelah adanya limpahan nikmat, maka dia akan segera menjadi putus asa dan patah semangat untuk mencapai kebaikan di masa depan. Pada saat yang sama ia mengingkari apa yang terjadi di masa lalu seakan-akan dia belum pernah melihat kebaikan dan seakan-akan tidak pernah mengharapkan jalan keluar.”

Demikian pula halnya, ketika mendapat limpahan nikmat setelah sebelumnya dililit bencana.

“Telah hilang bencana-bencana itu dariku: (QS. Hud : 10)

“Sesungguhnya dia sangat gembira lagi bangga” (QS. Hud : 10)

Ayat ini menjelaskan bahwa dia bangga dengan yang telah diraihnya, sombong dan selalu membanggakan diri kepada sesama.

“Keculi orang-orang yang sabar (terhadap bencana), dan mengerjakan amal-amal salih; mereka itu memperoleh ampunan dan pahala yang besar” (QS. Hud: 11)

Oleh : ‘Aidh al-Qarni

Baca juga :

Hello. Add your message here.