Jangan Bersedih Karena Kematian Tidak Akan Datang Sebelum Waktu yang Ditentukan

islamic-art-53

“Maka apabila telah datang ajalnya, mereka tidak dapat mengundurkannya dan tidak (pula) memajukannya” (QS. Al-A’raf: 34)

Ayat ini merupakan peringatan keras terhadap para pengecut yang merasa mati berkali-kali sebelum kematian mereka benar-benar datang.

Mereka harus sadar bahwa di sana ada ajal yang telah ditentukan: yang tidak akan dimajukan maupun diundur.

Tidak seorang pun yang mampu memajukan kematian, meski hanya sebentar. Tiada pula yang sanggup mengundurnya, meski hanya sedetik.

Walaupun seluruh penduduk langit dan bumi bersatu untuk melakukannya, tetap tak akan bisa. Sebenarnya, keniscayaan-keniscayaan ini telah memberikan perasaan tenang dan ketetapan hati.

“Dan, datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya” (QS. Qaf: 19)

Ketahuilah bahwa bergantung pada selain Allah adalah sebuah kesengsaraan.

“Maka tidak ada baginya suatu golongun pun yang menolongnya terhadap azab Allah dan tidaklah ia termasuk orang-orang yang (dapat) membela (dirinya)” (QS. Al-Qashash: 81)

Buku Siyaru a’lamin Nubala’ – terdiri dari 23 jilid – karya Imam Adz-Dzahabi, mengurai perjalanan hidup orang-orang terkenal. Baik dari kalangan ulama, khulafa’, raja-raja, pemimpin, para menteri, orang-orang kaya maupun para penyair. Dengan membaca buku ini kita akan mendapatkan dua hakikat penting.

Pertama, barangsiapa bergantung pada selain Allah, baik pada harta benda, anak-anak, kedudukan atau pekerjaan tertentu, maka Allah akan jadikan orang itu sangat cendenmg pada semua itu. Dan, itu akan menjadi penyebab kesengsaraan, adzab dan kecelakaannya.

“Dan, sesungguhnya syaitan-syaitan itu benar-benur menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapatkan petunjuk” (QS. Az-zukhruf: 37)

Fir’aun celaka karena kedudukannya. Qarun binasa sebab hartanya Umayyah ibn Khalaf hancur lantaran bisnisnya. Demikian pula Al-Walid ia sengsara karena anak-anaknya.

“Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku telah menciptakannya sendiri” (QS. Al-Muddatstsir: 11)

Abu Jahal binasa karena kedudukannya. Abu Lahab hancur akibat terlalu bangga dengan keturunannya. Abu Muslim jatuh karena kekuasaannya. Al-Mutanabbi runtuh karena kemasyhurannya. Al-Hajjaj tercampakkan lantaran sikapnya yang congkak di atas bumi. Dan, lbnul Furaat ambruk lantaran kelalimannya sebagai menteri.

Kedua, barangsiapa bergantung kepada Allah, bekerja semata-mata untuk-Nya dan untuk mendekatkan diri kepada-Nya, maka Dia akan memuliakan dan mengangkatnya. Meski orang tersebut bukan dari keturunan yang baik: tanpa kedudukan, kerabat terhormat, maupun harta berlimpah. Bilal diangkat oleh Allah dengan adzan. Salman dimuliakan oleh Allah dengan akhirat. Shuhaib dengan pengorbanan. Dan, Atha’ dengan ilmu pengetahuannya.

“Dan, Allah menjadikan seruan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS. At-Taubah: 40)

Referensi : Dr. ‘Aidh al-Qarni, Jangan Bersedih, Qisthi Press, Jakarta, 2013

Ayo bagikan sebagai sedekah…

Baca juga : 

Hello. Add your message here.