Jangan Bersedih Selama Anda Beriman Kepada Allah

allah11

Keimanan adalah rahasia di balik kerelaan, ketenangan dan rasa aman. Sebaliknya, kebingungan dan kesengsaraan selalu mengiringi kekufuran dan keraguan. Sering saya melihat orang-orang pandai -bahkan jenius- yang jiwa mereka hampa dari cahaya risalah. Sehingga pernyataan-pernyataan mereka terhadap hal-hal yang berhubungan dengan syariat sangat menyakitkan.

Pendapat Abul A’la al-Ma’arri tentang syariah: ”(Semua yang ada hanyalah) pertentangan, dan kita hanya bisa diam.”

Sedangkan pendapat ar-Razi: “Puncak dari keberanian akal adalah keterbelengguan.”

Al-Juwaini mengatakan, “Dia tidak tahu di mana Allah berada: Al-Hamadani telah membuatku bingung, Al-Hamadani membuatku bingung, al-Hamadani membuatku bingung.”

lbnu Sina berujar, ”Sungguh, akal yang aktiflah yang akan berpengaruh di dunia ini.”

Elia Abu Madhi berkata, “Aku tak tahu dari mana aku datang, tapi aku datang. Kulihat jejak-jejak membentuk jalan, lalu aku pun berjalan.”

Masih banyak lagi ungkapan-uugkapan lain yang memiliki makna serupa. Banyak pula ungkapan kata dengan kadar kedekatan dan kejauhan yang berbeda terhadap kebenaran. Saya menjadi tahu bahwa dengan keimanan, manusia akan dapat menggapai bahagia. Sebaliknya, dengan kebingungan dan keraguannya dia menjadi sengsara.

Ungkapan-ungkapan berikut sama artinya dengan yang telah disebutkan di atas. Yakni, kata-kata sombong yang diucapkan oleh Fir’aun, si pelaku dosa besar: “Aku tidak mengetuhui Rabb bagimu selain Aku.” (QS. Al-Qashash: 38), (Seraya) berkata: ”Akulah Rabb-mu yang paling tinggi.” (QS. An-Nazi’at: 24)

Sungguh, sebuah kekufuran yang telah memporakporandakan dunia.

James Allen, penulis buku How Man Thinks, mengatakan, “Manusia akan tahu bahwa setiap kali dia mengubah cara pandangnya terhadap sesuatu dan orang lain, maka sesuatu dan orang lain itu akan berubah sikap terhadap dirinya…   Biarkanlah orang akan mengubah cara berpikirnya dan kita akan terperanjat, betapa cepat kehidupan materialnya berubah. Sesuatu yang sakral untuk membentuk tujuan kita adalah diri kita sendiri.”

Tentang pemikiran yang salah dan pengaruh yang ditimbulkannya, Allah berfirman,

“Tetapi mereka menyangka bahwa Rasul dan orang-orang mukmin tiduk sekali-kali akan kembali kepada keluarga mereka selama-lamanya dan syaitan telah menjadikan kamu memandang baik dalam hatimu persangkaan itu, dan kamu telah menyangka dengan sangkaan buruk dan kamu menjadi kaum yang binasa” (QS. Al-Fath: 12)

“Mereka menyangka dengan sangkaan yang tidak benar kepada Allah seperti sangkaan orang-orang jahiliyah” (QS. Ali ‘Imran: 154)

Kembali James Allen, ”Semua yang telah direalisasikan oleh manusia tak lain merupakan hasil langsung dari pemikiran-pemikiran pribadinya.

Manusia mampu bangkit, menang dan meraih tujuan-tujuan hidupnya dengan pikirannya, Dia akan senantiasa lemah dan celaka jika menolak untuk memahami ini semua.”

Allah berfirman tentang tekad yang kuat dan pemikiran yang benar,

“Dan, jika mereka mau berangkat, tentulah mereka akan menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka” (QS. At-Taubah: 46)

Dalam firman-Nya yang lain,

“Kalau kiranya Allah mengetahui kebaikan ada pada mereka, tentulah Allah akan menjadikan mereka mendengar” (QS. Al-Anfal: 23)

“Maka Allah mengetahui apa yang ada di hati mereka, lalu Dia turunkan ketenangan atas mereka ” (QS. Al-Fath: 18)

Referensi : Dr. ‘Aidh al-Qarni, Jangan Bersedih, Qisthi Press, Jakarta, 2013

Baca juga : 

Hello. Add your message here.