alnita-006

Jangan Bersedih Selama Anda Memahami Islam

islamic-art-60

Sungguh menderita manusia yang tidak memahami Islam dan tak mendapat petunjuk untuk memeluknya. Islam membutuhkan promosi dari kaum muslimin dan orang-orang yang mendukungnya. Islam butuh iklan yang mendunia. Sebab Islam adalah sebuah kabar agung. Dan seruan kepada Islam, hendaknya merupakan sesuatu yang bermutu: bernilai tinggi, sistemis dan penuh daya tarik. Sebab kebahagiaan manusia tak akan ditemukan, kecuali dalam agama yang benar dan abadi ini.

“Barangsiapa mencari agama lain selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)” (QS.  Ali Imran: 85)

Ada seorang dai muslim kondang tinggal di kota Munich, Jerman. Di pintu masuk kota itu ada sebuah papan pengumuman besar yang memuat kalimat dalam bahasa Jerman: Anda tidak tahu tebusan untuk Yokahama!

Menanggapi itu, dai tersebut meletakkan sebuah papan pengumuman yang besar di samping papan pengumuman tadi. Di situ tertulis: Anda tidak mengerti Islam? Jika Anda ingin mengetahuinya, maka hubungilah kami pada nomor telepon ini dan ini!

Sejak itu, berderinganlah telepon dari berbagai wilayah di Jerman. Hingga hanya dalam waktu setahun ratusan ribu orang Jerman – laki-laki maupun perempuan – masuk Islam melalui dai tersebut. Tak lama kemudian, ia mendirikan sebuah mesjid, Islamic Centre, dan lembaga pendidikan.

Manusia zaman sekarang kerap bingung. Mereka sangat membutuhkan agama yang agung ini agar mereka bisa menikmati rasa aman, kedamaian dan ketenangan.

“Dengan kitab itu Allah menunjukkan orang-orang yang mengikuti keridhaanNya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab ita pula) Allah mengeluarkan orang-orang ita dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjukkan mereka ke jalan yang lurus” (QS. Al-Ma’idah: 16)

Salah seorang ahli agama terkemuka pernah berujar, “Saya tidak pernah membayangkan bahwa di dunia ini ada seseorang yang disembah selain Allah.”

Namun,

“Hanya sedikit dari hamba-hambaKu yang bersyukur” (QS. Saba’: 13)

“Dan, jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya rnereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)” (QS. Al-An’am: 116)

“Dan, sebagian besar manusia tidak akan beriman walaupun kamu sangat menginginkannya” (QS. Yusuf: 103)

Salah seorang ulama mengabarkan kepada saya bahwa seorang muslim berkebangsaan Sudan datang dari kampung ke ibu kota, pada masa kolonialisme Inggris. Dia melihat seorang berkebangsaan Inggris di tengah kota. Kemudian si muslim itu bertanya, “Siapa dia?” Mereka menjawab dia adalah seorang kafir. ”Kafir kepada apa?” tanya dia lagi. Mereka menjawab,

“Kepada Allah!”

Si muslim ibu lantas tegas bertanya, “Apakah ada seseorang yang kafir kepada Allah?” Setelah itu, dia memegang perutnya. Dan kontan saja muntah lantaran apa yang dia dengar dan lihat. Sudah itu, dia memutuskan kembali ke kampung.

“Mengapa mereka tidak mau beriman?” (QS. Al-Insyiqaq: 20)

Al-Ashma’i berkata, “Seorang Badui mendengar seorang yang membaca ayat ini”:

“Maka demi Rabb langit dan bami, sesunggahnya yang dijanjikan itu adalah benar-benar (akan terjadi) seperti perkataan yang kamu acapkan” (QS. Adz-Dzariyat: 20)

Maka berkatalah orang Badui itu: Subhanallah, siapa yang membutuhkan Yang Maha Agung hingga Dia harus bersumpah?

Ini adalah prasangka baik dan kepekaan terhadap kemurahan Sang Maha Pencipta, kebaikan, kelembutan dan rahmat-Nya.

Disebutkan dalam hadits sahih, Rasulullah bersabda, “Rabb kita tertawa.” Maka berkatalah seorang Badui Arab, ”Kita tidak akan kehilangan harapan dari Rabb yang selalu tertawa dengan indah.”

“Dan, Dialah yang menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa” (QS. Asy-Syura: 28)

“Sesunggahnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik” (QS. Al-A’raf: 56)

“Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat” (QS. Al-Baqarah: 214)

Siapa pun yang membaca biografl orang-orang besar pasti bisa mengambil beberapa faedah penting. Antara lain:

  1. Bahwa nilai manusia terdapat dalam perbuatan baik yang dia lakukan. Kalimat ini diungkapkan Ali ibn Abi Thalib. Maknanya, ilmu pengetahuan manusia, adab kesopanannya, ibadah, kedermawanan serta akhlak dan moralitasnya adalah nilai diri yang sebenarnya dan bukan wajah, gaya dan kedudukannya:

“Dia (Muhammad) bermuka masam dan herpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya” (QS. ‘Abasa: 1-2)

“Sesunggahnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu” (QS. Al-Baqarah: 221)

  1. Manusia itu dinilai sesuai semangat, kepedulian, usaha keras dan pengorbanannya untuk mencapai posisinya. Dan kemuliaan itu tidak cuma-cuma.

Referensi : Dr. ‘Aidh al-Qarni, Jangan Bersedih, Qisthi Press, Jakarta, 2013

Ayo bagikan sebagai sedekah…

Baca juga : 

Hello. Add your message here.