Kenapa Orang Kaya 10X Lebih Inovatif Dibanding yang Gajinya Pas-pasan?

kenapa-orang-kaya-10x-lebih-inovatif-dibanding-yang-gajinya-pas-pasan

Sebuah hasil riset yang dilakukan team gabungan peneliti ekonomi dari Stanford dan Harvard, menunjukkan fakta yang rada kelam : ternyata orang-orang kaya itu 10 kali lebih inovatif dan kreatif dibanding mereka yang penghasilannya pas-pasan.

Kenapa bisa begitu? Kenapa daya inovasi orang-orang tajir 1000 persen lebih baik dibanding Anda yang merasa penghasilannya pas-pasan?

Mari kita ulik jawabannya dalam sajian pagi yang renyah ini.

Penelitian itu dilakukan oleh team dalam Equality Project, dan dipimpin oleh Prof Raj Chetty, profesor muda belia Stanford, yang diprediksi kelak akan memenangkan nobel ekonomi.

Dalam riset itu, mereka menemukan fakta bahwa jumlah paten temuan baru inovatif yang diciptakan rich people (top 20% rich) ternyata 10 kali lebih banyak dibanding mereka yang penghasilannya termehek-mehek (bottom 20% income).

Dengan kata lain, daya inovasi orang-orang tajir itu JAUH LEBIH DAHSYAT dibanding orang-orang kismin.

Fakta itu muram, sebab daya inovasi dan kreativitas adalah kunci untuk mengembangkan masa depan yang gemilang. Tanpa daya inovasi dan kreativitas yang cetar membahana, masa depan Anda bisa terus stagnan dalam duka dan keperihan.

Pertanyaanya, kenapa daya inovasi rich people itu 10 kali lebih hebat dibanding poor people? Ada 3 penjelasan yang layak direnungkan.

Innovation Gap # 1 : Great Education Will Create Great People

Alasan yang pertama sangat simpel : orang-orang kaya (termasuk anak-anaknya) punya akses dan kemampuan finansial untuk menikmati pendidikan yang berkualitas, lengkap dengan segala fasilitas pendukungnya (perpustakaan dengan buku yang melimpah, ruang praktek dan lab yang lengkap, kurikulum yang bagus, pengajar yang sejahtera, dll).

Dengan dukungan kualitas edukasi yang ekselen, maka probabilitas anak-anak orang kaya untuk kelak menjadi inovator akan jauh lebih tinggi dibanding mereka yang menikmati pendidikan alakadarnya.

Sebaliknya, sejumlah orang dengan penghasilan pas-pasan (termasuk anak-anaknya) mungkin hanya bisa menikmati kualitas pendidikan apa adanya.

Yang muram, bahkan banyak orang tua miskin yang lebih mementingkan belanja buat rokok, dibanding menggunakan dana tersebut untuk membeli buku bagus buat anak-anaknya. Bagi mereka, kenikmatan asap rokok leih maknyuss dibanding masa depan dan kreativitas anak-anaknya. Sedap.

(Dan pemilik perusahaan rokoknya jadi orang terkaya di tanah air. Wajar, sebab ya itu tadi, kreativitas orang kaya 10X lebih bagus dibanding orang miskin).

Maka siklusnya bagi orang tajir adalah begini :

orang kaya > bisa akses pendidikan bagus buat anak-anaknya > anaknya akan makin pintar dan kreatif > karena kreatif maka kelak akan makin kaya.

Sebaliknya lingkaran setan bagi golong pas-pasan adalah seperti ini :

orang kismin > tidak bisa akses pendidikan dengan kualitas terbaik > anak-anaknya tidak berkembang dengan optimal > maka kreativitas akan stagnan > dan karena kreativitas stagnan, maka nasibnya akan tetap kelam.

Siklus yang kedua diatas adalah realitas yang muram nan pahit, namun itulah kenyataan yang acap kita jumpai.

Innovation Gap # 2 : Cognitive Depletion

Faktor kedua yang bisa menjelaskan kenapa kemampuan daya inovasi orang dengan penghasilan pas-pasan 10 kali lebih buruk daripada orang kaya adalah ini : orang yang penghasilanya kecil dalam jangka panjang, sel otaknya akan mengalami kemunduran (alias degradasi sel otak).

Benar, daya kognisi (atau kemampuan berpikir) orang yang penghasilannya pas-pasan memang pelan-pelan makin tulalit, sejalan dengan kondisi keuangannya yang termehek-mehek.

Studi yang dilakukan team ekonomi Princeton menemukan fakta kelam itu : yakni saat seseorang berada dalam kondisi keterbatasan (termasuk keterbatasan finansial), maka kemampuan berpikir orang ini akan menurun drastis.

Fenomena diatas disebut juga sebagai “cognitive depletion”. Bahasa awamnya, orang dengan income pas-pasan ini akan makin goblok.

Realitas semacam diatas mungkin pernah atau bahkan sering kita alami. Saat seseorang merasa penghasilannya kurang, sementara biaya hidup makin tinggi, atau apalagi jika dia memiliki banyak hutang, maka pikirannya pasti akan stress. Saat pikiran orang itu stress, maka biasanya pikirannya akan galau dan stuck.

Dan persis dalam kondisi semacam itulah, dalam kondisi kelelahan mental akibat keterbatasan finansial, maka daya kreativitas dia akan nyungsep, dan pelan-pelan mati.

Sebaliknya, orang dengan kekayaan yang melimpah mungkin tak pernah terjebak dalam kondisi semacam itu. Dia tak terlalu pusing memikirkan biaya pendidikan anak-anaknya kelak. Dia juga tak pusing mikir bagaimana cara bayar cicilan rumah atau aneka hutang lainnya (sebab dia bisa beli dengan cash kontan).

Pendeknya, dia tak pernah merasa kekurangan uang dan investasi finansialnya lebih dari cukup.

Karena kapasitas otaknya TIDAK dibebani stress kekurangan uang atau harus bayar hutang ini itu, maka orang kaya ini jadi masih punya ruang berpikir yang longgar. Ibaratnya : otak dia masih fresh, dan tidak mengalami cognitive depletion seperti orang kismin.

Dalam kondisi semacam itu, maka daya inovasi dan daya kreativitas orang tajir ini bisa tumbuh berkembang dengan pesat.

Daya kreativitas mereka melesat 10 kali lebih unggul dibanding daya kreativitas orang kismin yang otaknya sudah lelah memikirkan aneka cicilan, termasuk cicilan Vario yang belum lunas-lunas 🙁 🙁

Innovation Gap # 3 : Circle of Rich People and Opportunities

Lingkaran pergaulan mungkin juga ikut menentukan pertumbuhan daya inovasi Anda.

Saat bergaul dengan orang-orang dengan kondisi finansialnya yang melimpah, biasanya yang menjadi subyek pembicaraan adalah : peluang, peluang dan peluang.

Peluang apa lagi yang bisa kita kejar dan kerjakan, agar kita bisa terus tumbuh. Mereka bisa bicara tentang peluang dan peluang (opportunities) sebab mereka punya sumber daya finansial yang amat memadai. Mereka tak perlu lagi pusing mikir modalnya darimana.

Dan saat bicara tentang mengejar peluang, maka daya eksplorasi dan daya kreativitas biasanya akan jadi mekar. Sebab memang proses “mengejar peluang” adalah taman indah untuk menumbuhkan daya eksplorasi dan daya inovasi.

Sebaliknya, saat bergaul dengan orang yang penghasilannya pas-pasan, maka biasanya tema pembicaraan yang muncul adalah ini : kondisi serba kekurangan, merasa gaji kurang, penghasilannya kurang memadai, mengeluh biaya hidup makin mahal, mengeluh harga rumah makin selangit, dst, dst…..

Dan saat pembicaran dan pergaulan lebih banyak fokus pada kekurangan dan keluhan, maka daya eksplorasi dan kreativitas biasanya justru akan macet. Sebab sel otak kita terus digempur dengan keluhan, rasa kekurangan, fokus pade problem, dan pesimisme.

Maka kelelahan mental jadi makin sempurna : sudah terus dihimpit stress karena keterbatasan finansial, lalu dihajar dengan aneka keluhan dan pikiran yang fokus pada problem; bukan pada solusi. Alhasil, daya kreativitas jadi benar-benar terkapar tak berdaya.

DEMIKIANLAH, tiga narasi penjelasan yang bisa menunjukkan kenapa daya inovasi orang kaya 10X lebih bagus dibanding orang dengan penghasilan pas-pasan.

Saya tidak tahu dimana level kreativitas dan inovasi Anda saat ini. Kalau selama ini Anda merasa daya kreativitas Anda agak mampet, mungkin penjelasan diatas adalah penyebabnya. Mungkin.

Selamat bekerja, teman. Selamat mengejar peluang demi masa depan yang lebih cetar membahana.

Oleh : Yodhia Antariksa, Sumber : strategimanajemen.net

 

Hello. Add your message here.