alnita-006

Keridhaan Hati Menghilangkan Kesedihan

 Tafaqquh Video

islamic-background1

Dalam sebuah hadits disebutkan: “Kami tidak pernah mengatakan kecuali apa yang membuat Rabb-ku ridha”

Anda menanggung tugas yang suci, yakni tunduk dan pasrah pada saat Anda dihadapkan pada takdir agar hasil yang diperoleh menjadi kemaslahatan, dan akibat baiknya juga untuk diri Anda. Sebab, dengan kesadaran seperti ini Anda akan terhindar dari kerugian di hari ini dan kebangkrutan di masa mendatang.

Seorang penyair berkata,

“Tatkala kulihat uban tampak

pada bagian depan kepala dan pusaran kepala,

kukatakun: Selamat datang wahai uban.

Walaupun aku khawatir,

jika kupenuhi salamku maka dia akan menyimpang dariku,

dan sebenarnya aku juga ingin dia menyimpang.

Namun, jika telah datang sebuah cobaan, jiwaku merasa lapang

karena satu hari nanti bencana akan hilang jua”

Satu-satunya jalan adalah Anda harus beriman kepada takdir Allah, sebab takdir pasti akan diberlakukan. Meski, Anda harus mengelupaskan dari kulit dan keluar dari baju Anda.

Dinukilkan dari Harry Emerson Fosdick dalam bukunya The Power to See It Through, dia pernah mengajukan sebuah pertanyaan: Dari mana kita mendapatkan ide yang mengatakan bahwa kehidupan yang indah dan tenang, yang terhindar dari segala kesulitan dan rintangan, akan melahirkan orang-orang yang paling bahagia dan orang-orang besar?

Sesungguhnya yang terjadi adalah sebaliknya. Orang yang terbiasa menempatkan dirinya dalam kesedihan akan tetap berada dalam kesedihan, walaupun sedang tidur di atas sutera yang lembut. Sejarah memberi kesaksian kepada kita bahwa keagungan dan kebahagiaan telah menyerahkan pusat kendalinya kepada orang-orang dari latar belakang lingkungan yang berbeda. Yakni lingkungan yang di dalamnya ada kebaikan dan kejahatan, dan lingkungan yang tidak memisahkan antara kebaikan dan kejahatan secara tegas. Di lingkungan itu tumbuh manusia-manusia yang mampu memikul tanggung jawab di atas pundak mereka dan bukan yang melepas tanggung jawab.

Orang-orang yang mengangkat panji hidayah rabbaniyah pada masa-masa awal dakwah Rasulullah adalah justru para budak, orang-orang miskin dan tidak beruntung. Sebaliknya, orang-oraug yang menentang keimanan yang suci adalah orang-orang terpandang dan punya kedudukan terhormat.

Bacalah firman-firman Allah di bawah ini:

“Dan, apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang terang (muksudnya) niscaya orang-orang yang kafir berkata kepada orang-orang yang beriman: ‘Manakah di antara kedua golongan (kafir dan mukmin) yang lebih baik tempat tinggalnya dan lebih indah pertemuan(nya)” (QS. Maryam: 91)

“Dan, mereka berkata: “Kami lebih banyak mempunyai harta dan anak-anak (daripada kamu) dan kami sekali-kali tidak akan diadzab” (QS. Saba: 35)

“urang-orang yang semacam inikah di antara kita yang diberi anugerah oleh Allah kepada mereka? (Allah berfirman): ”Tidakkah Allah lebih mengetuhui tentang orang-orang yang bersyukur (kepada-Nya)?” (QS. Al-An’am: 53)

“Dan, orang-orang kafir berkata kepada orang-orang yang beriman: ”Kalau sekiranya dia (al-Qur’an) adalah suatu yang baik, tentulah mereka tidak mendahului kami (beriman) kepadanya” (QS. Al-Ahqaf: 11)

“Orang-orang yang menyombongkan diri berkata: ”Sesungguhnya kami adalah orang yang tidak percaya kepada apa yang kamu imani itu” (QS. Al-A’raf: 76)

“Dan, mereka berkata: ”Mengapa al-Qur’an ini tidak diturunkan kepada seorang pembesar dari salah satu dua negeri (Mekah dan Thaif) ini?” Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Rabb-mu?” QS. Az-Zukhruf: 31-32)

Saya menjadi teringat dengan sebuah bait syair yang digubah Antarah, saat dia memberitahukan kepada kita bahwa harga dirinya terletak dalam karakter dan kebaikannya, bukan pada asal-usul dan garis keturunannya. Kata dia,

“Jika aku adalah seorang hamba,

maka aku adalah tuan dalam derma.

Atau jika aku berkulit hitam,

tapi akhlakku berwarna putih”

Referensi : Dr. ‘Aidh al-Qarni, Jangan Bersedih, Qisthi Press, Jakarta, 2013

Ayo bagikan sebagai sedekah…

Hello. Add your message here.