Pondok Pesantren Nurul Jadid Probolinggo, Pondok Pesantren Terbaik di Jawa Timur 

pondok-pesantren-nurul-jadid-probolinggo

Sejarah Berdirinya Pondok Pesantren Nurul Jadid

Gambaran Umum Desa Karanganyar

Sebelum bernama Karanganyar, desa tempat Pondok Pesantren Nurul Jadid berdiri dikenal dengan nama Tanjung. Nama ini diambil dari sebuah pohon besar bernama Tanjung. Sejak zaman dulu, pohon besar, Tanjung, berdiri tegak di tengah-tengah desa. Kemudian, masyarakat setempat juga menganggap pohon tersebut mempunyai kelebihan dan keistimewaan. Tak heran, nama Tanjung kemudian diabadikan sebagai nama desa.

Karanganyar sendiri adalah sebuah Desa yang terletak di Kecamatan Paiton. Sebuah desa kecil yang berada sekitar 30 km ke arah timur Kota Probolinggo, Jawa Timur. Pada mulanya, sebagian besar tanah di desa ini tidak dapat dimanfaatkan. Banyaknya binatang buas yang mendiami desa menjadi salah satu alasannya. Di sisi lain, kehidupan penduduk desa sangat memprihatinkan. Dari sisi kepercayaan yang dianut, mereka lebih mendekati Animisme dan Dinamisme. Hal itu terlihat jelas, misalnya, dengan keberadaan beberapa pohon besar yang menurut mereka tidak boleh ditebang. Pohon-pohon itu diyakini sebagai pelindung mereka.

Upacara ritual dalam bentuk pemberian sesajen merupakan pemandangan biasa yang terjadi pada saat itu, utamanya ketika ada hajatan. Sesajen tersebut, dipersembahkan kepada roh yang diyakini berada di sekitar pohon besar. Biasanya, ritual pemberian sesajen dilakukan ketika musim tanam tiba. Sebelum panen, masyarakat menggelar ritual sesajenan dengan cara patungan. Beberapa anggota masyarakat meletakkan ayam di setiap titik yang dianggap sakral. Selain itu, setiap tahun, mereka mengadakan selamatan laut dengan melarung kepala kerbau.

Dalam kehidupan sosial, masyarakat Karanganyar sangat terbelakang. Mereka belum mengenal peradaban baru sama sekali. Hal itu terlihat dengan maraknya perjudian, perampokan, pencurian dan tempat Pekerja Seks Komersial (PSK).

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, masyarakat Karanganyar sangat bergantung pada alam. Mereka menganggap bahwa alam sudah menyediakan segalanya. Sehingga, jika alam sudah tidak lagi menyediakan sesuatu yang dapat dimakan, mereka akan pindah tempat atau mencari makan di daerah lain. Tempat yang mereka pilih biasanya daerah pinggiran laut (pantai) yang banyak pohon bakaunya. Sedangkan lahan pertanian, meski ada, hanya dikuasai oleh segelintir orang saja.

Dengan demikian, waktu itu Karanganyar merupakan desa “mati”. Di samping kondisi geografis yang tidak menghasilkan nilai ekonomis, kepedulian masyarakat terhadap alam sekitar juga sangat memprihatinkan. Padahal, dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat Karanganyar justru lebih cenderung hedonis. Dalam keyakinan mereka, kesenangan dan kebahagiaan hanya terdapat dalam perbuatan yang penuh dengan kemaksiatan dan kemungkaran.

Kedatangan Pendiri

Di tengah situasi dan kondisi sosial masyarakat desa Tanjung yang demikian, KH. Zaini Mun’im setelah mendapatkan restu dan perintah dari KH. Syamsul Arifin, ayah KH. As’ad Syamsul Arifin, Sukorejo—memutuskan untuk menetap dan bertempat tinggal bersama keluarga di desa ini. Sebelum memutuskan untuk bertempat tinggal di desa Karanganyar, KH. Zaini Mun’im mengajukan tempat-tempat lain dengan membawa contoh tanah pada KH. Syamsul Arifin. Daerah yang pernah diajukan oleh KH. Zaini Mun’im, selain tanah desa Karanganyar, adalah daerah Genggong Timur, dusun Kramat, Kraksaan Timur, desa Curahsawo Probolinggo Timur, dan dusun Sumberkerang. Setelah contoh-contoh tanah diseleksi oleh KH. Syamsul Arifin, akhirnya pilihan jatuh pada tanah dari Karanganyar. Setelah itu, oleh KH. Syamsul Arifin, KH. Zaini Mun’im diperintahkan untuk menetap di Desa Karanganyar.

Disamping itu, ada isyarat lain yang menyebabkan pilihan jatuh pada Karanganyar. Pertama, ketika KH. Zaini Mun’im mengambil contoh tanah di Desa Karanganyar, tiba-tiba beliau menemukan sarang lebah. Sarang lebah dipahami sebagai isyarat jika beliau menetap dan mendirikan pondok pesantren di Desa Karanganyar, maka akan banyak santrinya. Kedua, isyarat yang datang dari KH. Hasan Sepuh Genggong. Diceritakan, saat KH. Hasan Sepuh mendatangi sebuah pengajian dan melewati desa Karanganyar, beliau berkata kepada kusir dokarnya, “Di masa mendatang, jika ada kiai atau ulama yang mau mendirikan pondok di daerah sini (Desa Karanganyar), kelak pondok tersebut akan menjadi pondok yang besar, dan santrinya akan melebihi santri saya.” Ketiga, isyarat dari alam. Kondisi tanah yang bagus serta persediaan air yang memadai, turut menjadi alasan mengapa Desa Karanganyar menjadi pilihan. Pun demikian, letak Desa Karanganyar yang jauh dari keramaian kota (Kraksaan), sangat cocok untuk dijadikan tempat pendidikan.

Setelah terjadi kesepakatan tukar menukar tanah antara KH. Zaini Mun’im dengan H. Tajuddin, pemilik tanah di Desa Karanganyar, dengan berbekal satu batang lidi, beliau berjalan menelusuri tanah yang sudah menjadi miliknya. Hewan dan binatang buas yang mendiami tanah tersebut lari menuju utara desa Grinting. Kurang lebih satu tahun beliau membabat hutan, mendirikan rumah, membangun surau kecil, dan mengubah hutan menjadi tegalan.

Awal Mula Berdirinya Pesantren

Awalnya, kedatangan KH. Zaini Mun’im pada tanggal 10 Muharram 1948 ke Desa Karanganyar bukan bermaksud untuk mendirikan Pondok Pesantren. Beliau sengaja mengisolir diri dari keserakahan dan kekejaman kolonial Belanda. Sejatinya, beliau ingin melanjutkan perjalanan ke pedalaman Yogyakarta untuk bergabung dengan teman-temanya.

Sebenarnya, KH. Zaini Mun’im bercita-cita menyiarkan agama Islam melalui Departemen Agama (Depag). Namun, cita-cita tersebut tidak tersampaikan sebab, sejak beliau menetap di Karanganyar, ada dua orang santri yang datang kepada beliau untuk belajar ilmu agama. Kedua santri tersebut bernama Syafi’uddin, berasal dari Gondosuli, Kotaanyar Probolinggo, dan Saifuddin, dari Sidodadi, Kecamatan Paiton, Probolinggo. Kedatangan kedua santri tersebut oleh beliau dianggap sebagai amanat dari Allah yang tidak boleh diabaikan. Dan, mulai saat itu, beliau menetap bersama kedua santrinya.

Selang beberapa lama, KH. Zaini Mun’im ditangkap Belanda dan dipenjarakan di LP. Probolinggo. Sejak di Madura, beliau memang termasuk orang yang sangat dicari dan diwaspadai oleh Belanda. Pengaruh yang beliau miliki membuat Belanda khawatir sepak terjangnya akan mempengaruhi dan menggerakkan rakyat untuk melawan mereka (penjajah Belanda).

Saat dipenjara di LP. Probolinggo, beliau dipaksa untuk membocorkan keberadaan teman-temannya. Meski dipaksa, dengan jiwa besar beliau lebih memilih melindungi mereka. Semboyan “liberty or dead”—merdeka atau mati, beliau pegang dengan teguh. Setelah menghuni penjara kurang lebih tiga bulan, kemudian beliau dipulangkan kembali ke Desa Karanganyar.

Sejak saat itu, santri KH. Zaini Mun’im mulai bertambah. Tak hanya dari Probolinggo, santri beliau juga berasal dari daerah lain seperti Madura, Situbondo, Malang, dan Bondowoso. Di antara nama-nama santri beliau saat itu adalah Muyan, Abd. Mu’thi, Arifin, Makyar, Baidlawi, dan Jufri. Dengan banyaknya santri yang berdatangan, KH. Zaini Mun’im merasa berkewajiban untuk mendidik mereka. Dan, mulai saat itu, beliau memutuskan untuk tidak bergabung dengan teman-temannya di pedalaman Yogyakarta.

Dalam keadaan yang sudah mulai damai dan nyaman, KH. Zaini Mun’im dikejutkan oleh surat panggilan dari Menteri Agama (waktu itu adalah KH. Wahid Hasyim). Beliau diminta untuk menjadi penasihat jama’ah haji Indonesia. Tawaran tersebut beliau terima. Selain untuk memenuhi tugas, tawaran tersebut sesuai dengan cita-cita beliau yang ingin menyebarkan agama Islam ke seluruh pelosok tanah air Indonesia melalui Depag. Ini juga sesuai dengan semboyan beliau, “Hidup saya akan diwaqafkan untuk penyiaran dan meninggikan agama Allah”.

Selama KH. Zaini Mun’im berada di Mekkah, untuk sementara waktu pengelolaan pesantren dipasrahkan kepada KH. Sufyan. KH. Sufyan adalah santri yang ditugaskan oleh KH. Hasan Sepuh (Pengasuh PP. Zainul Hasan Genggong, Kraksaan) untuk membantu KH. Zaini Mun’im sambil mengaji kepada beliau.

Pada saat itu, santri yang menetap di pesantren berjumlah sekitar 30 orang, di bawah bimbingan KH. Munthaha dan KH. Sufyan. KH. Sufyan membangun beberapa pondok yang terbuat dari bambu (cangkruk) untuk tempat tinggal para santri.

Sepulangnya dari tanah suci, KH. Zaini Mun’im melihat beberapa gubuk (cangkruk) sudah berdiri. Tergeraklah hati beliau untuk memikirkan masa depan santri-santrinya. Bersama para santri, KH. Zaini Mun’im membabat hutan yang ada di sekitar pesantren, hingga akhirnya berdirilah sebuah Pesantren yang cukup besar seperti pembaca lihat sekarang. Sejak saat itu, nama KH. Zaini Mun’im mulai dikenal oleh masyarakat karena keuletan, keberanian serta ketabahannya.

Nama Nurul Jadid

Adua nama yang disodorkan kepada KH. Zaini Mun’im untuk dipilih sebagai nama pesantren yang beliau rintis. Dua nama tersebut Nurul Jadid dan Nurul Hadis. Nama Nurul Jadid, muncul saat KH. Zaini didatangi seorang tamu bernama KH. Baqir, putera gurunya di Madura, KH. Abd. Majid. Beliau mengharap KH. Zaini memberi nama Pesantren yang diasuhnya dengan nama “Nurul Jadid” (Cahaya Baru). Di saat yang lain, KH. Zaini juga menerima surat dari Habib Abdullah bin Faqih. Surat tersebut berisi masukan agar Pesantren yang diasuh beliau diberi nama “Nurul Hadis”.

Dari dua nama yang diajukan kepada KH. Zaini, akhirnya nama Nurul Jadid yang dipilih. Nurul Jadid, yang berarti cahaya baru, kehadirannya cukup memberi arti dalam dinamika perkembangan zaman. Peran dan kontribusi Nurul Jadid sudah diakui oleh berbagai pihak. Terbukti dari semakin pesatnya perkembangan pesantren ini, baik dari sisi kualitas maupun kuantitasnya. Bahkan, atas peran dan kontribusi pesantren ini, Dr. KH. Idham Cholid, Ketum PBNU saat itu, memberi predikat Nurul Jadid sebagai “Cahaya Modern”.

Kehadiran pesantren Nurul Jadid secara perlahan mampu merubah tata kehidupan masyarakat sekitar. Berkat ketekunan KH. Zaini bersama santri-santrinya, masyarakat disadarkan akan pentingnya agama dalam kehidupan sehari-hari. Tak hanya dalam masalah agama, KH. Zaini juga menyadarkan masyarakat akan potensi ekonomi yang dapat dimanfaatkan guna meningkatkan kesejahteraan. Penyeimbangan antara persoalan ibadah dan kesejahteraan sosial menunjukkan bahwa Islam bukan hanya persoalan vertikal semata, namun juga ada aspek horizontal di dalamnya.

Jalan dakwah yang ditempuh KH. Zaini tak hanya berkutat di pesantren saja. Beliau turun langsung ke masyarakat, memberi pendampingan, bukan hanya dalam masalah ibadah keseharian, namun juga dalam urusan kesejahteraan. Untuk memberdayakan potensi tanah Desa Karanganyar, KH. Zaini memperkenalkan jenis tanaman baru, tembakau, yang beliau bawa dari Madura. Meski awalnya hanya untuk percobaan, ternyata jenis tanaman ini sangat cocok dengan struktur tanah Desa Karanganyar. Sampai saat ini, tembakau tetap menjadi sumber utama penghasilkan masyarakat Karanganyar dan sekitarnya.

Selain mampu merubah tatanan ekonomi, peran KH. Zaini dan pesantren yang dirintisnya juga memberi dampak pada kondisi sosial masyarakat sekitar. Kepercayaan animisme dan dinamisme yang sebelumnya mendominasi, secara perlahan mulai berubah. Kepercayaan terhadap roh-roh halus semakin dijauhi oleh masyarakat. Pun demikian, kasus-kasus kriminal seperti pencurian, perkosaan, perjudian, serta PSK, juga semakin menurun. Upaya perubahan yang dilakukan KH. Zaini mendapat dukungan dari masyarakat. Pesantren Nurul Jadid semakin berkembang, baik dari sisi jumlah santri maupun lembaga pendidikan yang ada di dalamnya.

Nurul Jadid Dari Masa ke Masa

Masa Cikal Bakal (1948-1976)

Keberadaan Pondok Pesantren Nurul Jadid tak lepas dari konstruksi kemasyarakatan yang mencitakan suatu transendensi atas perjalanan historisitas sosial. Hal yang menjadi titik penting adalah kenyataan eksistensi pesantren sebagai salah satu pemicu terwujudnya kohesi sosial. Keniscayaan ini karena pesantren hadir terbuka dengan semangat kesederhanaan, kekeluargaan dan kepedulian sosial.

Berdirinya Pondok Pesantren Nurul Jadid memang bukan sekedar untuk pemenuhan kebutuhan keilmuan, melainkan juga penjagaan budaya, penyebaran etika dan moralitas keagamaan. Tak heran, pada periode awal ini santri lebih diarahkan agar lebih memahami bentuk aplikasi dari teori ilmu-ilmu keagamaan yang mereka pelajari dalam kitab-kitab kuning. Sehingga nantinya, para santri bisa mengamalkan teori ilmu-ilmu keagamaan secara tepat dan benar ketika sudah terjun di tengah-tengah masyarakat. Bentuk aplikasi ilmu keagamaan tersebut dilakukan dalam bentuk pendampingan kepada masyarakat.

Hal itu bisa dilihat, misalnya dalam bidang ekonomi, khususnya pertanian. Sektor ekonomi dijadikan prioritas. Hal ini tidak lepas dari pendapat KH. Zaini, bahwa jika bidang perekonomian masyarakat lemah, hal itu dapat menjadi salah satu pemicu tumbuh-kembangnya perilaku amoral dan kufur. Pendapat itu lahir setelah beliau melakukan analisa terhadap situasi dan kondisi perekonomian masyarakat sekitar yang amat rendah. Selain itu, Karanganyar juga terkenal sebagai pusat bromocorah. Namun, tanah di Karanganyar sebenarnya merupakan kategori tanah yang cukup produktif. Hanya saja, masyarakatnya belum bisa memanfaatkan dengan baik.

Setelah perekonomian masyarakat mulai meningkat melalui pemanfaatan tanah pertanian, mulailah dimasukkan ajaran dan nilai-nilai agama Islam dalam kehidupan masyarakat Karanganyar. Hal lainnya adalah pendalaman ilmu agama melalui sistem pendidikan non formal. Pola pendidikan dan pembinaan semacam itu dilakukan, baik kepada santri maupun kepada masyarakat sekitar pesantren. Pengajian kitab dilakukan dengan berbagai metode, mulai dari bandongan, sorogan dan takhassus. Jika di pesantren lain pemberian makna dalam pengajian kitab kuning menggunakan bahas Jawa atau Madura, di Nurul Jadid menggunakan bahasa Indonesia. Dalam hal ini, pesantren Nurul Jadid merupakan pesantren pertama yang menggunakan bahasa Indonesia dalam menerangkan dan menerjemahkan kitab-kitab yang dikajinya.

Dalam bidang lembaga pendidikan, Pesantren Nurul Jadid menerapkan sistem yang sistematis dan terprogram. Sehingga, output yang dihasilkan mempunyai kapabilitas dan kompetensi dalam berbagai bidang, untuk dijadikan modal dalam mengabdi, baik bagi agama dan atau tanah air. Pada periode awal ini pula sudah mulai berdiri beberapa lembaga pendidikan formal. Di antara beberapa lembaga pendidikan tersebut adalah Madrasah Ibtidaiyah Agama (MIA), yang didirikan pada tahun 1950 bersama masyarakat sekitar.

Selain MIA, terdapat lembaga pendidikan tingkat kanak-kanak yang bernama TK. Nurul Mun’im. Pada saat yang sama, dirintis sebuah sistem pendidikan model klasikal yang dulunya dikenal dengan sistem khairiyah. Sistem pendidikan yang diterapapkan dalam model ini sangat sistematis dan terprogram. Pun demikian, materi pelajaran yang disajikan tidak hanya terbatas pada pelajaran-pelajaran agama, namun pelajaran umum seperti Matematika, bahasa Indonesia, dan Ilmu Tata Negara, juga diajarkan.

Dalam rangka menerapkan sistem pendidikan yang sistematis dan terprogram , dirintislah sebuah lembaga bernama Flour Kelas. Lembaga ini dibentuk sebagai pendidikan lanjutan bagi santri yang akan meneruskan ke jenjang yang lebih tinggi. Selanjutnya, tahun 1961, lembaga pendidikan Flour Kelas berubah nama menjadi Mu’allimin. Pada tahun 1964, materi-materi umum seperti bahasa Inggris, Sejarah, Geografi, Biologi, dan sebagaianya mulai dimasukkan ke dalam mata pelajaran yang disajikan.

Dalam perkembangannya, tahun 1969, Madrasah Mu’allimin berubah menjadi Madrasah Tsanawiyah (MTs). Selang tiga tahun kemudian, MTs ini beralih status dari swasta ke negeri. Selain lembaga yang berafiliasi ke Depag, pada tahun 1974, berdiri lembaga pendidikan tingkat dasar, yang bernama Sekolah Dasar Islam (SDI). Lembaga ini didirikan untuk menampung aspirasi masyarakat yang enggan menyekolahkan putra-putrinya ke lembaga pendidikan yang lokasinya berada di dalam Pesantren. Dua tahun kemudian, SDI menempati lokasi baru dan namanya berubah menjadi Madrasah Ibtidaiyyah Nurul Mun’im (MINM).

Satu tahun kemudian (1975), ketika kalangan masyarakat dan pemerintah sedang bersemangat mensosialisasikan prospek pendidikan agama, Yayasan Pesantren Nurul Jadid mendirikan sebuah lembaga bernama Pendidikan Guru Agama Nurul Jadid (PGANJ) yang berjenjang 6 tahun. PGANJ didirikan untuk mempersiapkan santri-santri yang siap berkiprah di dunia pendidikan, baik dalam lingkungan pemerintahan maupun swasta. Namun, dalam proses perjalanannya, lembaga ini hanya bertahan tiga tahun.

Pada tanggal 20 Juli 1968, melalui musyawarah kerja Wilayah NU Jawa Timur di Lumajang, dibentuklah panitia usaha pendidikan Akademi Dakwah dan Pendidikan Nahdlatul Ulama (ADIPNU) yang berada di bawah pengawasan Partai Nahdlatul Ulama Jawa Timur. Selanjutnya, ADIPNU tersebut didirikan di Pesantren Nurul Jadid yang dalam pelaksanaannya diserahkan kepada Kiai Zaini. Dan, dua bulan kemudian, tepatnya 1 September 1968, KH. Idham Chalid, Ketua Umum PBNU waktu itu, membuka secara resmi ADIPNU di Pesantren ini.

Periode Pembinaan dan Penataan (1976-1984)

Pada periode ini, ditata sebuah formulasi atas khazanah intelektual. Penataan ini tampak misalnya dalam pemberlakuan kualifikasi keahlian masing-masing santri, termasuk dalam standar budaya yang menjadi pijakan keseharian. Tujuan yang ingin dicapai dari penataan ini adalah tertanamnya semangat tafaqquh fi al-Din, mendalami ilmu agama sebagai bekal saat kelak terjun di tengah-tengah masyarakat. Selan itu, dalam periode ini, sistem manajerial pengelolaan pesantren mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Kreasi-kreasi inovatif banyak bermunculan, terutama dalam hal merespon perkembangan yang terjadi. Pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan salah satu cara agar pesantren ini mampu berbicara di tengah zaman yang terus berubah.

Selain itu, pendekatan komunikasi melalui lisan maupun teladan dilakukan dalam rangka transfer of values kepada santri. Bangunan seperti inilah yang digagas oleh KH Hasyim Zaini (pengasuh kedua) dalam pembinaan dan penataan PP Nurul Jadid sejak 1976-1984. Dengan demikian, Nurul Jadid berusaha untuk terus menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman, sekaligus mempertahankan tradisi lama yang masih relevan.

Dalam persolan kepemimpinan, pola yang digunakan di pesantren Nurul Jadid bersifat kolektif. Meski di dalam struktur pengasuh diemban oleh KH. Hasyim, namun secara operasional, pesantren Nurul Jadid diurusi bersama-sama dengan tujuh pengasuh lainnya.

Di sektor pendidikan, santri terus diupayakan untuk tafaqquh fi al-Din. Dalam bidang keilmuan santri terus ditempa untuk menguasai khazanah keilmuan klasik yang tertuang dalam kitab kuning. Utamanya mereka yang duduk dijenjang MI, MTs dan MA. Sedang bagi mereka yang duduk di bangku SLTP dan SMU diarahkan untuk menguasai ilmu pengetahuan, khususnya MAFIKIB. Untuk memenuhi kebutuhan ilmu agama, pendalaman dilakukan di asrama santri. Jadi, pola pendidikan dan pembinaan pada periode ini dilakukan secara integral. Sehingga, terjadi sebuah proses yang saling mendukung antara program sekolah dan kegiatan asrama.

Selanjutnya, karena adanya perubahan dari Sisdiknas, maka pada tahun 1977 (satu tahun setelah wafatnya Kiai Zaini), PGANJ 6 tahun berubah menjadi MTs untuk kelas I, II, dan III. Sedangkan kelas IV, V dan VI menjadi Madrasah Aliyah Nurul Jadid (MANJ). Pada jenjang pendidikan tinggi juga mulai terlihat adanya peningkatan. Tahun 1979/1980 dirintis berdirinya Sekolah Tinggi Ilmu Syariah. Untuk membekali life skill santri, pesantren mendelegasikan beberapa santri untuk mengikuti pelatihan, baik tingkat wilayah maupun Nasional. Pada periode ini pula, pesantren mulai merintis hal-hal yang menyangkut keterampilan santri, mulai dari elektro, jahit menjahit, pertanian serta kemampuan kebahasaan (Arab-Inggris).

Selain itu, para santri dan alumni dianjurkan untuk mengisi ruang-ruang birokrasi. Jumlah santri pada masa KH. Hasyim meningkat drastis. Pada tahun 1983, jumlah santri Nurul Jadid mencapai sekitar 2000 santri.

Periode Pengembangan (1984-2000)

Setelah KH. Hasyim wafat, posisi pengasuh diemban oleh KH. Wahid Zaini. Meski kesibukan KH. Wahid di luar pesantren sangat padat, beliau tetap bisa mengurus pesantren dengan baik. Pada masa KH. Wahid, Pondok Pesantren Nurul Jadid mengalami perkembangan yang sangat pesat, baik dalam jumlah santri maupun pelayanan dan pengembangan kemasyarakatan. Tokoh pesantren yang punya pemikiran modern ini tak hanya mendidik para santrinya agar mampu memahami ilmu-ilmu agama dan teknologi. Lebih dari itu, pada masa kepemimpinannya, KH. Wahid mendorong masyarakat sekitar agar lebih mandiri dan maju dalam hal pendidikan, ekonomi, dan kesehatan.

Dalam bidang pendidikan, dilakukan pembenahan mulai dari TK (Taman Kanak-Kanak) hingga perguruan tinggi. Pembenahan itu antara lain dilakukan pada TK Nurul Muni’m. Pada tahun 1989, dijalin kerjasama antara PKBI (Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia) dan Pesantren Nurul Jadid. Pada perkembangannya, TK Nurul Mun’im kemudian berubah menjadi TK. Bina Anaprasa.

Satu tahun kemudian, beberapa lembaga pendidikan yang sebelumnya hanya memiliki status terdaftar dan diakui, diusahakan meningkat menjadi disamakan. Dengan peningkatan status ini, lembaga pendidikan tersebut sejajar dengan lembaga pendidikan negeri. Beberapa lembaga tersebut adalah SMUNJ yang disamakan pada tahun 1990, SMPNJ disamakan pada tahun 1991, dan MTsNJ serta MANJ disamakan pada tahun yang sama, yaitu 1997.

Pada tahun 1992, di Pesantren Nurul Jadid juga telah dirintis berdirinya Madrasah Aliyah Program Keagamaan (MAPK). Hal ini ditujukan untuk meningkatkan kemampuan anak didik memahami kitab klasik dan juga mampu berbahasa asing (Arab dan Inggris). Pada tahun 1995, berdasarkan kurikulum baru, lembaga pendidikan MAPK berubah nama menjadi MAK.

Sementara itu, upaya-upaya pengembangan juga terjadi pada jenjang pendidikan tinggi. Seperti perubahan status dari PTID menjadi Institut Agama Islam Nurul Jadid (1986). Perubahan itu dilakukan berbarengan dengan bertambahnya konsentrasi keilmuan di tubuh PTID menjadi tiga Fakultas: Dakwah, Tarbiyah dan Syariah. Kemudian, pada tahun 1999, masing-masing fakultas tersebut lolos akreditasi Badan Akreditasi Nasional (BAN).

Bidang teknologi komputer juga mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Untuk menjawab tantangan dalam bidang teknologi informasi, pada tahun 1999 didirikan Sekolah Tinggi Teknologi Nurul Jadid (STTNJ), yang semula hanya berupa kursus komputer. Kursus tersebut kemudian berkembang menjadi program Diploma I yang kemudian dikembangkan menjadi Akademi Komputer Indonesia (AKOMI).

Pesantren juga menggalakkkan pengembangan bahasa asing. Untuk mewujudkan itu, didirikanlah Lembaga Pengembangan Bahasa Asing (LPBA), yang menjadi cikal bakal pendidikan D1 Bahasa Inggris. LPBA diharapkan dapat menghidupkan ghirah berbahasa asing di masing-masing gang (sebuah istilah untuk menunjuk tempat tinggal santri sehari-hari). Harapannya, bahasa Arab dan Inggris akan menjadi bahasa santri sehari-hari.

Berbagai upaya dilakukan untuk mendorong kemajuan dan kemandirian masyarakat sekitar pesantren. Melalui Biro Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (BPPM), PP Nurul Jadid mendirikan Unit Simpan Pinjam (USP) yang dirintis tahun 2000. USP didirikan guna membantu para petani tembakau sekaligus memberikan pendampingan pada mereka. Ide ini muncul karena petani tembakau di sekitar Paiton tidak memiliki posisi tawar yang kuat di hadapan pengambil kebijakan. Padahal, tembakau merupakan komuditas utama penopang perekonomian masyarakat. Melalui Paperton, pesantren dan masyarakat bermusyawarah seputar persoalan-persoalan pertembakauan, seperti kapasitas produksi, kapasitas daya tampung, gudang, dan lain-lain.

Pesantren juga merintis berbagai usaha agrobisnis berupa penanaman varietas tanaman. Seringkali tanaman petani hanya sejenis. Akibatnya, kalau satu terserang hama, semua tanaman akan ludes. Usaha lainnya berupa peternakan dan perikanan. Untuk membantu masyarakat memperoleh pelayanan kesehatan yang baik, Pondok Pesantren juga mendirikan Klinik Azzainiyah, yang semula bernama Usaha Pelayanan Kesehatan Santri (UPKS). Pun demikian, pesantren juga membangun panti asuhan untuk menampung anak-anak dari kalangan ekonomi lemah.

Setelah KH. Wahid wafat, kepemimpinan pesantren dilanjutkan oleh KH. Moh. Zuhri Zaini. Pada masa KH. Zuhri, dilakukan pembenahan dalam struktur Pondok Pesantren, seperti dibentuknya Dewan Pengasuh, Koordinatorat sebagai lembaga yang membantu pengasuh, restrukturisasi BPPM, menambah struktur baru seperti BKLH dan Lajnah Falakiyah, pembentukan bagian khusus yang menangani pembinaan Al-Qur’an, serta mendirikan Ma’had Aly yang memiliki konsentrasi dalam pembinaan kader dakwah.

Untuk peningkatan kinerja organisasi pesantren, dilakukan beberapa langkah pembenahan infrastruktur manajemen pesantren, seperti pengadaan Local Area Network (LAN) sebagai penghubung elektronik antar lembaga, sentralisasi data, pembuatan website, dan lainnya.

Selain itu, pengembangan dan perluasan area Pondok Pesantren Nurul Jadid juga dilakukan, terutama di area kampus terpadu, sebelah timur kompleks pondok pesantren, meliputi: IAI Nurul Jadid, STT Nurul Jadid, dan STIKes Nurul Jadid.

Pengembangan sarana ibadah juga dilakukan, seperti renovasi Masjid Jami’ Nurul Jadid menjadi tiga lantai, penambahan mushalla-mushalla di wilayah puteri, serta melakukan penambahan asrama sebagai sarana prasarana tempat mukim santri, meliputi: Asrama I’dadiyah Daltim, Asrama Sunan Muria (L), Asrama Sunan Maulana Malik Ibrahim (M).

LEMBAGA PENDIDIKAN

  • IAI Nurul Jadid
  • STT Nurul Jadid
  • STIKES Nurul Jadid
  • MA Nurul Jadid
  • SMA Nurul Jadid
  • SMK Nurul Jadid
  • MTs Nurul Jadid
  • SMP Nurul Jadid

ALAMAT

Jl. Kyai Haji Zaini Mun’im, Karanganyar,

Paiton, Probolinggo,

Jawa Timur. 67291

Phone : (0335) 774121

Email: info@nuruljadid.net

Sumber : http://www.nuruljadid.net/

Ayo bagikan sebagai sedekah… 

Kosmetik Terbaik Wanita Indonesia Selengkapnya...
Hello. Add your message here.