alnita-006

Tafsir Surat Al-Baqarah: 35

Al-Baqarah: 35

وَقُلْنَا يَا آدَمُ اسْكُنْ أَنتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ وَكُلَا مِنْهَا رَغَدًا حَيْثُ شِئْتُمَا وَلَا تَقْرَبَا هَذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ الظَّالِمِينَ

Terjemahan

“Dan Kami berfirman: “”Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim.”

Tafsir (Ibnu Katsir)

Dan Kami berfirman, “”Wahai Adam, diamilah oleh kamu dan istrimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kalian sukai, tetapi janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim. Lalu keduanya digelincirkan oleh setan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula, dan Kami berfirman, “”Turunlah kamu! Sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan.”” Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman memberitakan kehormatan yang dianugerahkan-Nya kepada Adam, sesudah memerintahkan kepada para malaikat agar bersujud kepadanya, lalu mereka sujud kepadanya kecuali iblis; bahwa Dia memperbolehkan baginya surga untuk tempat tinggalnya di mana pun yang dikehendakinya.

Adam boleh memakan makanan yang dia sukai dengan leluasa, yakni dengan senang hati, berlimpah, dan penuh dengan kenikmatan. Al-Hafidzh Abu Bakar ibnu Mardawaih meriwayatkan dari hadits Muhammad ibnu Isa Ad-Damigani, telah menceritakan kepada kami Saiamah ibnul Fadl. dari Mikail, dari Al-Laits, dari Ibrahim At-Taimi, dari ayahnya, dari Abu Dzar yang menceritakan hadits berikut: Aku bertanya, “”Wahai Rasulullah, bagaimanakah menurutmu Adam, apakah dia seorang nabi?”” Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “”Ya, dia seorang nabi lagi rasul, Allah berbicara dengannya secara terang-terangan, dan Allah berfirman, ‘Diamilah oleh kamu dan istrimu surga ini’.”” Surga yang ditempati oleh Adam ini masih diperselisihkan, apakah surga yang di langit atau surga yang di bumi? Kebanyakan ulama berpendapat yang pertama, yakni surga yang di langit.

Al-Qurthubi meriwayatkan dari golongan mu’tazilah dan Qadariyah suatu pendapat yang mengatakan bahwa surga tersebut ada di bumi. Mengenai pembahasan masalah ini secara rinci, insya Allah akan dikemukakan dalam tafsir surat Al-A’raf. Konteks ayat menunjukkan bahwa Siti Hawa diciptakan sebelum Adam memasuki surga, hal ini telah dijelaskan oleh Muhammad ibnu Ishaq dalam keterangannya: Ketika Allah telah selesai dari urusan-Nya mencaci iblis, lalu Allah kembali kepada Adam yang telah Dia ajari semua nama-nama itu, kemudian berfirman, “”Wahai Adam, sebutkanlah nama benda-benda itu,”” sampai dengan firman-Nya, “”Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana”” (Al-Baqarah: 31-32).

Muhammad ibnu Ishaq melanjutkan kisahnya, “”Setelah itu ditimpakan rasa kantuk kepada Adam, menurut keterangan yang sampai kepada kami dari kaum ahli kitab yang mempunyai kitab Taurat, juga dari kalangan ahli ilmu selain mereka yang bersumber dari Ibnu Abbas dan lain-lainnya. Kemudian Allah mengambil salah satu dari tulang iga sebelah kirinya dan menambal tempatnya dengan daging, sedangkan Adam masih tetap dalam keadaan tidur, belum terbangun.

Lalu Allah menjadikan tulang iganya itu istrinya yaitu Siti Hawa berupa seorang wanita yang sempurna agar Adam merasa tenang hidup dengannya. Ketika tidur dicabut darinya dan Adam terbangun, ia melihat Siti Hawa telah berada di sampingnya, lalu ia berkata menurut apa yang mereka dugakan, tetapi Allah-lah Yang lebih mengetahui kebenarannya, “”Oh dagingku, darahku, dan istriku,”” lalu Adam merasa tenang dan tenteram bersamanya.

Setelah Allah mengawinkannya dan menjadikan rasa tenang dan tenteram dalam diri Adam, maka Allah berfirman kepadanya secara langsung: Wahai Adam, diamilah oleh kamu dan istrimu surga ini, dan makanlah makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim. (Al-Baqarah: 35) Menurut pendapat lain, penciptaan Siti Hawa terjadi sesudah Adam masuk surga, seperti yang dikatakan oleh As-Suddi dalam salah satu riwayat yang diketengahkannya dari Abu Malik dan dari Abu Saleh, dari Ibnu Abbas, juga dari Murrah, dari Ibnu Mas’ud serta dari sejumlah sahabat.

Disebutkan, setelah iblis diusir dari surga dan Adam ditempatkan di dalam surga, maka Adam berjalan di dalam surga dengan perasaan kesepian karena tiada teman hidup yang membuat dia merasa tenang dan tenteram dengannya. Kemudian Adam tidur sejenak. Setelah terbangun, ternyata di dekat kepalanya terdapat seorang wanita yang sedang duduk. Allahlah yang telah menciptakannya dari tulang iga Adam.

Lalu Adam bertanya kepadanya, “”Siapakah kamu ini?”” Hawa menjawab, “”Seorang wanita.”” Adam bertanya, “”Mengapa engkau diciptakan?”” Hawa menjawab, “”Agar kamu merasa tenang dan tenteram bersamaku.”” Para malaikat bertanya kepada Adam seraya menguji pengetahuan yang dicapai oleh Adam, “”Siapakah namanya wahai Adam?”” Adam menjawab, “”Dia bernama Hawa.”” Mereka bertanya lagi, “”Mengapa dinamakan Hawa?”” Adam menjawab, “”Sesungguhnya dia dijadikan dari sesuatu yang hidup.”” Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman: Wahai Adam, diamilah olehmu dan istrimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai. (Al-Baqarah: 35) Adapun firman Allah Subhanahu wa ta’ala: Dan janganlah kamu berdua dekati pohon ini. (Al-Baqarah: 35) Hal ini merupakan pilihan dari Allah Subhanahu wa ta’ala dan sengaja dijadikan-Nya sebagai ujian buat Adam.

Para ulama berbeda pendapat mengenai jenis pohon ini. As-Suddi mengatakan dari orang yang mendapat kisah dari Ibnu Abbas, bahwa pohon yang dilarang oleh Allah didekati Adam adalah pohon anggur. Hal yang sama dikatakan pula oleh Sa’id ibnu Jubair, As-Suddi, Asy-Sya’bi, Ja’dah ibnu Hubairah, dan Muhammad ibnu Qais. As-Suddi mengatakan dalam salah satu riwayatnya dari Abu Malik dan Abu Saleh, dari Ibnu Abbas, juga dari Murrah, dari Ibnu Mas’ud serta dari sejumlah sahabat sehubungan dengan makna firman-Nya: dan janganlah kamu berdua dekati pohon ini. (Al-Baqarah: 35) bahwa pohon tersebut adalah pohon anggur.

Tetapi orang-orang Yahudi menduga pohon tersebut adalah pohon gandum. Ibnu Jarir dan Ibnu Abu Hatim meriwayatkan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ismail ibnu Samurah Al-Ahmasi, telah menceritakan kepada kami Abu Yahya Al-Hammani, telah menceritakan kepada kami Abun Nadr (yaitu Abu Umar Al-Kharraz), dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa pohon yang dilarang bagi Adam ‘alaihissalam mendekatinya ialah pohon gandum.

Abdur Razzaq mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Uyaynah dan Ibnul Mubarak, dari Al-Hasan ibnu Imarah, dari Al-Minhal ibnu Amr, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa pohon tersebut adalah pohon gandum. Muhammad ibnu Ishaq meriwayatkan dari seorang ahlul ilmi, dari Hajjaj, dari Mujahid, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa pohon tersebut adalah pohon gandum.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Al-Musanna ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Muslim ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Al-Qasim, telah menceritakan kepadaku seorang lelaki dari kalangan Bani Tamim, bahwa Ibnu Abbas pernah berkirim surat kepada Abul Jalad untuk menanyakan tentang pohon yang dimakan oleh Adam dan pohon tempat Adam bertobat. Lalu Abul Jalad membalas surat Ibnu Abbas yang isinya mengatakan, “”Engkau menanyakan kepadaku tentang pohon yang dilarang Nabi Adam mendekatinya ialah pohon gandum, dan engkau menanyakan kepadaku tentang pohon tempat Nabi Adam bertobat di bawahnya ialah pohon zaitun.”” Demikian pula yang dikatakan oleh Al-Hasan Al-Basri, Wahab ibnu Munabbih, Atiyyah Al-Aufi, Abu Malik, Muharib ibnu Disar dan Abdur Rahman ibnu Abu Laila.

Muhammad ibnu Ishaq meriwayatkan dari sebagian penduduk Yaman dari Wahab ibnu Munabbih yang pernah mengatakan bahwa pohon tersebut adalah pohon gandum. Akan tetapi, satu biji daripadanya di dalam surga sama dengan kedua paha sapi, lebih lembut daripada zubdah dan rasanya lebih manis daripada madu. Sufyan Ats-Tsauri meriwayatkan dari Husain, dari Abu Malik, sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan janganlah kamu dekati pohon ini. (Al-Baqarah: 35) Pohon tersebut adalah pohon kurma.

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Mujahid sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan janganlah kamu dekati pohon ini. (Al-Baqarah: 35) Pohon tersebut adalah pohon tin. Hal yang sama dikatakan pula oleh Qatadah dan Ibnu Juraij. Abu Ja’far Ar-Razi meriwayatkan dari Ar-Rabi’ ibnu Anas, dari Abul Aliyah, bahwa pohon tersebut bila dimakan oleh seseorang, maka orang yang bersangkutan akan mengalami hadas, sedangkan hadas tidak layak di dalam surga.

Abdur Razzaq mengatakan, telah menceritakan kepada kami Umar ibnu Abdur Rahman ibnu Mihran yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Wahab ibnu Munabbih berkata, “”Setelah Allah menempatkan Adam dan istrinya di dalam surga, lalu Dia melarangnya memakan buah tersebut Buah tersebut berasal dari suatu pohon yang ranting-rantingnya lebat sekali hingga sebagian darinya bersatu dengan yang lain.

Buah pohon tersebut dimakan oleh para malaikat karena mereka ditakdirkan kekal. Pohon inilah yang dilarang Allah dimakan oleh Adam dan istrinya.”” Keenam pendapat di atas merupakan tafsir dari pohon tersebut. Imam Al-Allamah Abu Ja’far ibnu Jarir mengatakan, pendapat yang benar dalam hal ini ialah yang mengatakan bahwa sesungguhnya Allah Subhanahu wa ta’ala telah melarang Adam dan istrinya untuk memakan buah dari suatu pohon di dalam surga, tetapi bukan seluruh pohon surga, dan ternyata Adam dan istrinya memakan buah yang terlarang baginya itu.

Kami tidak mengetahui jenis pohon apa yang terlarang bagi Adam itu secara tertentu, karena Allah tidak memberikan suatu dalil pun bagi hamba-hamba-Nya yang menunjukkan hal tersebut, baik di dalam Al-Qur’an maupun di dalam sunnah yang shahih. Ada pula yang mengatakan bahwa pohon tersebut adalah pohon gandum, pendapat yang lain mengatakan pohon anggur, dan pendapat yang lainnya lagi mengatakan pohon tin.

Memang, mungkin saja salah satu di antaranya ada yang benar, tetapi hal ini merupakan suatu ilmu yang tidak membawa manfaat bagi orang yang mengetahuinya, dan jika tidak mengetahuinya tidak akan membawa mudarat. Hal yang sama dikuatkan pula oleh Ar-Razi di dalam kitab tafsirnya dan kitab-kitab lainnya, yakni pendapat yang memisterikan nama pohon yang terlarang itu, dan inilah pendapat yang benar.

Firman Allah Subhanahu wa ta’ala: Lalu keduanya digelincirkan oleh setan dari surga itu. (Al-Baqarah: 36) Dapat diinterpretasikan bahwa damir yang terdapat di dalam firman-Nya, “”‘Anha,”” kembali ke surga. Atas dasar i’rab ini berarti makna ayat ialah lalu keduanya dijauhkan oleh setan dari surga, demikianlah menurut bacaan ‘Ashim (yakni fa-azalahuma). Dapat juga diartikan bahwa damir tersebut kembali kepada matkur yang paling dekat dengannya, yaitu asy-syajarah. Dengan demikian, berarti makna ayat seperti yang dikatakan oleh Al-Hasan dan Qatadah ialah ‘maka setan menggelincirkan keduanya disebabkan pohon tersebut’.

Pengertiannya sama dengan makna firman-Nya: Dipalingkan darinya (Rasul dan Al-Qur’an) orang yang dipalingkan. (Adz-Dzariyat: 9) Maksudnya, dipalingkan oleh sebab Rasul dan Al-Qur’an orang yang dipalingkan. Karena itu, dalam ayat selanjutnya Allah berfirman: dan keduanya dikeluarkan dari keadaan semula. (Al-Baqarah: 36) Yakni dari semua kenikmatan, seperti pakaian, tempat tinggal yang luas, rezeki yang berlimpah, dan kehidupan yang enak. dan Kami berfirman, “”Turunlah kamu! Sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kalian ada tempat kediaman di bumi dan kesenangan hidup sampai waktu yang dilentukan. (Al-Baqarah: 36) Yaitu tempat tinggal, rezeki, dan ajal.

Yang dimaksud dengan ila hin ialah waktu yang terbatas dan yang telah ditentukan, kemudian terjadilah kiamat. Ulama tafsir dari kalangan ulama Salaf seperti As-Suddi dengan sanad-sanadnya, Abul Aliyah, Wahab ibnu Munabbih, dan lain-lainnya dalam pembahasan ini telah mengetengahkan kisah-kisah israiliyat yang menceritakan tentang ular dan iblis. Dijelaskan di dalamnya bagaimana iblis dapat memasuki surga dan menggoda Adam.

Hal ini insya Allah akan dijelaskan secara rinci dalam tafsir surat Al-A’raf; kisah yang akan disebutkan di dalam tafsir surat Al-A’raf jauh lebih panjang daripada yang ada dalam surat ini (Al-Baqarah). Ibnu Abu Hatim sehubungan dengan hal ini mengatakan: telah menceritakan kepada kami Ali ibnul Hasan ibnu Isykab, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu ‘Ashim, dari Sa’id ibnu Abu Arubah, dari Qatadah, dari Al-Hasan, dari Ubay ibnu Ka’b yang menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: Sesungguhnya Allah menciptakan Adam dalam bentuk seorang lelaki yang berperawakan sangat tinggi lagi berambut lebat, seakan-akan sama dengan pohon kurma yang rindang.

Ketika dia memakan buah (terlarang) itu, maka semua pakaiannya tertanggalkan darinya, dan yang mula-mula kelihatan dari bagian anggota tubuhnya adalah kemaluannya. Ketika Adam melihat aurat tubuhnya, maka ia berlari di dalam surga dan rambutnya menyangkut pada sebuah pohon hingga menjebolnya. Lalu Tuhan yang Maha Pemurah memanggilnya, “”Wahai Adam, apakah engkau lari dari-Ku?”” Ketika Adam mendengar firman Allah Yang Maha Pemurah, lalu ia berkata, “”Wahai Tuhanku, aku tidak lari, tetapi aku merasa malu.”” Ibnu Abu Hatim mengatakan pula: telah menceritakan kepadaku Ja’far ibnu Ahmad ibnul Hakam Al-Qurasyi pada tahun 254, telah menceritakan kepada kami Sulaiman ibnu Mansur ibnu Ammar, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu ‘Ashim, dari Sa’id ibnu Sa’id, dari Qatadah, dari Ubay ibnu Ka’b yang menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: Setelah Adam memakan buah terlarang itu, maka ia lari dan ada sebuah pohon yang terkait pada rambutnya, kemudian diseru, “”Wahai Adam, apakah Engkau lari dari-Ku?”” Adam menjawab, “”Tidak, melainkan karena malu kepada-Mu.”” Allah berfirman, “”Wahai Adam, keluarlah kamu dari sisi-Ku, demi keagungan-Ku, Aku tidak akan menempatkan di dalamnya (surga) orang yang durhaka kepada-Ku.

Seandainya Aku menciptakan makhluk yang semisal denganmu sepenuh bumi, lalu mereka durhaka kepada-Ku, niscaya Aku akan menempatkan mereka di tempat tinggal orang-orang yang durhaka (neraka).”” Hadits ini berpredikat garib, di dalam sanadnya terdapat inqita’, bahkan i’dal antara Qatadah dan Ubay ibnu Ka’b Al-Hakim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Bakar ibnu Bakuwaih, dari Muhammad ibnu Ahmad ibnun Nadr, dari Mu’awiyah ibnu Amr, dari Zaidah, dari Ammar ibnu Abu Mu’awiyah Al-Bajali, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas yang telah menceritakan, “”Tidak sekali-kali Adam tinggal di dalam surga melainkan hanya antara shalat Ashar sampai dengan tenggelamnya matahari.”” Kemudian Al-Hakim mengatakan bahwa hadits ini shahih dengan syarat Syaikhain, tetapi ternyata Syaikhain tidak mengetengahkannya.

Abdur Rahman ibnu Humaid mengatakan di dalam kitab tafsir-nya, telah menceritakan kepada kami Rauh, dari Hisyam, dari Al-Hasan yang mengatakan bahwa Adam tinggal di dalam surga hanya selama sesaat di siang hari. Satu saat tersebut sama lamanya dengan 130 tahun hari-hari dunia. Abu Ja’far Ar-Razi meriwayatkan dari Ar-Rabi’ ibnu Anas yang mengatakan bahwa Adam keluar dari surga pada pukul sembilan atau pukul sepuluh; ketika keluar, Adam membawa serta sebuah tangkai pohon surga, sedangkan di atas kepalanya memakai mahkota dari dedaunan surga yang diuntai sedemikian rupa merupakan untaian daun-daunan surga.

As-Suddi mengatakan bahwa Allah berfirman: Turunlah kalian semua dari surga itu. (Al-Baqarah: 38) Maka turunlah mereka, sedangkan Adam turun di India dengan membawa Hajar Aswad dan segenggam dedaunan surga, lalu ia menaburkannya di India, maka tumbuhlah pepohonan yang wangi baunya. Sesungguhnya asal mula wewangian dari India itu adalah dari segenggam dedaunan surga yang ikut dibawa turun oleh Adam. Sesungguhnya Adam menggenggamnya hanya terdorong oleh rasa penyesalan-nya karena ia dikeluarkan dari surga.

Imran ibnu Uyaynah meriwayatkan dari ‘Atha’ ibnus Saib, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas yang menceritakan bahwa Adam diturunkan di Dahna, salah satu wilayah negeri India. Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Dzar’ah, telah menceritakan kepada kami Usman ibnu Abu Syaibah, telah menceritakan kepada kami Jarir, dari ‘Atha’, dari Sa’id, dari Ibnu Abbas yang menceritakan bahwa Adam diturunkan di suatu daerah yang dikenal dengan nama Dahna, terletak di antara Mekah dan Taif.

Al-Hasan Al-Basri mengatakan bahwa Adam diturunkan di India, sedangkan Siti Hawa di Jeddah; dan iblis di Dustamisan yang terletak beberapa mil dari kota Basrah, sedangkan ular diturunkan di Asbahan. Demikianlah riwayat Abu Hatim. Muhammad ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ammar ibnul Haris, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Sa’id ibnu Sabiq, telah menceritakan kepada kami Umar ibnu Abu Qais, dari Az-Zubair ibnu Addi, dari Ibnu Umar yang mengatakan bahwa Adam diturunkan di Safa, dan Hawa diturunkan di Marwah.

Raja ibnu Salamah mengatakan bahwa Adam ‘alaihissalam diturunkan, sedangkan kedua tangannya diletakkan pada kedua lututnya seraya menundukkan kepalanya. Iblis diturunkan, sedangkan jari jemari tangannya ia satukan dengan yang lainnya seraya mengangkat kepalanya ke langit. Abdur Razzaq mengatakan bahwa Ma’mar pernah mengatakan, telah menceritakan kepadanya Auf, dari Qasamah ibnu Zuhair, dari Abu Musa, “”Sesungguhnya ketika Allah menurunkan Adam dari surga ke bumi, terlebih dahulu Dia mengajarkan kepadanya membuat segala sesuatu dan membekalinya dengan buah-buahan surga.

Maka buah-buahan kalian ini berasal dari buah-buahan surga, hanya bedanya buah-buahan yang ini berubah, sedangkan buah-buahan surga tidak berubah.”” Az-Zuhri meriwayatkan dari Abdur Rahman ibnu Hurmuz Al-A’raj, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: Sebaik-baik hari yang terbit matahari padanya adalah hari Jumat. Pada hari Jumat Adam diciptakan, pada hari Jumat pula ia dimasukkan ke dalam surga, dan pada hari Jumat pula ia dikeluarkan darinya. (Riwayat Imam Muslim dan Imam An-An-Nasai) Ar-Razi mengatakan, menurut sepengetahuannya di dalam ayat ini terkandung makna peringatan dan ancaman yang besar terhadap semua perbuatan maksiat bila ditinjau dari berbagai segi.

Antara lain ialah bahwa orang yang menggambarkan kejadian yang dialami oleh Nabi Adam hingga ia dikeluarkan dari surga hanya karena telah melakukan kekeliruan yang kecil, niscaya ia sangat malu terhadap perbuatan maksiat. Seorang penyair mengatakan: Wahai orang bermata yang memandang dengan pandangan terpejam seperti orang tidur; dan wahai orang yang menyaksikan suatu perkara, padahal dia tidak menyaksikannya.

Dosa-dosa dihubungkan dengan dosa-dosa lainnya, tetapi engkau mengharapkan untuk menaiki tangga surga dan meraih keberuntungan ahli ibadah. Apakah engkau telah lupa kepada Tuhanmu yang mengeluarkan Adam dari surga ke dunia karena hanya melakukan satu dosa? Ibnul Qasim mengatakan: Tetapi kita adalah tawanan musuh, maka apakah kita dapat kembali ke tanah air kita dalam keadaan selamat, menurutmu? Ar-Razi meriwayatkan dari Fathul Mausuli yang pernah mengatakan bahwa kita ini pada awalnya adalah kaum penghuni surga, kemudian kita ditawan oleh iblis ke dunia.

Maka tiadalah yang kita alami selain kesusahan dan kesedihan sebelum kita dikembalikan ke rumah tempat kita dahulu dikeluarkan. Apabila ada yang mengatakan, “”Jika surga tempat Adam dikeluarkan berada di langit, seperti yang dikatakan oleh jumhur ulama, maka mengapa iblis dapat memasukinya, padahal dia telah diusir darinya untuk selama-lamanya, sedangkan pengertian untuk selama-lamanya itu apakah tidak bertentangan dengan kisah tersebut?”” Sebagai jawabannya dapat dikatakan, “”Memang pemikiran seperti inilah yang dijadikan dalil bagi orang yang mengatakan bahwa surga yang dahulunya ditempati oleh Adam berada di bumi bukan di langit, seperti yang kami jelaskan secara rinci dalam permulaan kitab kami Al-Bidayah Wan Nihayah.

Sehubungan dengan pertanyaan tersebut jumhur ulama mengemukakan berbagai jawaban, antara lain: Iblis memang dilarang masuk surga bila memasukinya secara baik-baik. Jika dia memasukinya dengan mencuri-curi dan menyusup dengan cara yang hina, tiada yang mencegahnya. Karena itu, ada sebagian dari mereka yang mengatakan sebagaimana apa yang disebut di dalam kitab Taurat, bahwa iblis masuk ke dalam surga melalui mulut ular yang ia masuki terlebih dahulu (lalu ular itu masuk ke dalam surga).

Menurut sebagian ulama, dapat pula diinterpretasikan iblis menggoda keduanya (Adam dan Hawa) dari luar pintu surga. Sebagian yang lainnya mengatakan bahwa iblis menggoda keduanya dari bumi, sedangkan keduanya masih berada di dalam surga di langit. Demikian menurut Az-Zamakhsyari dan lain-lainnya. Al-Qurthubi dalam pembahasan ini mengetengahkan banyak hadits tentang kisah ular dan membunuhnya serta penjelasan mengenai hukumnya, dan ternyata pembahasan yang dikemukakannya itu baik lagi berfaedah. #learnquran

Al Baqarah

DAFTAR ISI

Hello. Add your message here.