alnita-006

Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 127

 Tafaqquh Video

Al-Baqarah: 127

وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Terjemahan

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): “”Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui””.”

Tafsir (Ibnu Katsir)

Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail, “”Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang tawaf, yang rukuk, dan yang sujud”” Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berdoa, “”Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari kemudian:”” Allah berfirman, “”Dan kepada orang yang kafir pun Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.”” Dan (ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa), “”Ya Tuhan kami, terimalah dari kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau, dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau, dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan lempal-lempat ibadah haji kami, dan terimalah tobat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang. Al-Hasan Al-Basri mengatakan sehubungan dengan takwil firman-Nya: Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail. (Al-Baqarah: 125) Allah memerintahkan kepada keduanya untuk menyucikan Baitullah dari kotoran dan najis, dan agar Baitullah jangan terkena sesuatu pun dari hal tersebut.

Ibnu Juraij pernah bertanya kepada ‘Atha’, “”Apakah yang dimaksud dengan lafal al-‘ahdu dalam ayat ini?”” ‘Atha’ menjawab, “”Yang dimaksud adalah perintah Allah.”” Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam pernah mengatakan sehubungan dengan takwil firman-Nya, “”Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim”” (Al-Baqarah: 125). Makna yang dimaksud ialah, “”Telah Kami perintahkan kepadanya.”” Demikian menurut Abdur Rahman. Makna lahiriah lafal ini di-muta’addi-kan kepada huruf ila, mengingat makna yang dimaksud ialah telah Kami dahulukan dan telah Kami wahyukan.

Sa’id ibnu Jubair meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan tafsir firman-Nya: Bersihkanlah rumah-Ku ini untuk orang-orang yang tawaf, yang itikaf. (Al-Baqarah: 125) Yang dimaksud dengan dibersihkan ialah dibersihkan dari berhala-berhala. Mujahid dan Sa’id ibnu Jubair mengatakan sehubungan dengan takwil firman-Nya: Bersihkanlah rumah-Ku ini untuk orang-orang yang tawaf. (Al-Baqarah: 125) Sesungguhnya perintah membersihkan Baitullah ini ialah membersihkannya dari berhala-berhala, perbuatan cabul (tawaf dengan telanjang), perkataan dusta, dan kotoran. Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah diriwayatkan dari Ubaid ibnu Umair, Abul Aliyah, Sa’id ibnu Jubair, Mujahid, ‘Atha’, dan Qatadah sehubungan dengan takwil firman-Nya, “”Bersihkanlah rumah-Ku oleh kamu berdua”” (Al-Baqarah: 125), yakni dari kemusyrikan, dengan kalimat La ilaha illallah (tidak ada Tuhan selain Allah).

Lafal taifin artinya orang-orang yang tawaf. Tawaf di Baitullah merupakan hal yang sudah dikenal. Dari Sa’id ibnu Jubair, disebutkan bahwa ia pernah mengatakan sehubungan dengan takwil firman-Nya, “”Lit taifin.”” Yang dimaksud ialah orang yang datang kepada Baitullah dari negeri lain, sedangkan yang dimaksud dengan al-‘akifin ialah orang-orang yang mukim (penduduk asli). Hal yang sama dikatakan pula dari Qatadah dan Ar-Rabi’ ibnu Anas, bahwa keduanya menafsirkan lafal al-‘akifin dengan makna penduduk asli yang mukim padanya; begitu pula apa yang dikatakan oleh Sa’id ibnu Jubair.

Yahya Al-Qattan meriwayatkan dari Abdul Malik (yakni Ibnu Abu Sulaiman), dari ‘Atha’ sehubungan dengan tafsir firman-Nya, “”Al-‘akifin”” bahwa al-‘akifin ialah orang yang datang dari pelbagai kota, lalu bermukim di Baitullah. ‘Atha’ mengatakan kepada kami, sedangkan kami tinggal bersebelahan dengan Baitullah, “”Kalian adalah orang-orang yang i’tikaf.”” Waki’ meriwayatkan dari Abu Bakar Al-Huzali, dari ‘Atha’, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa apabila seseorang duduk padanya, maka dia termasuk orang-orang yang i’tikaf.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Musa ibnu Ismail, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Salamah, telah menceritakan kepada kami Sabit yang mengatakan bahwa kami pernah berkata kepada Abdullah ibnu Ubaid ibnu Umair, “”Aku harus berbicara kepada Amir agar dia mengizinkan aku melarang orang-orang yang tidur di dalam Masjidil Haram, karena sesungguhnya mereka mempunyai jinabah dan berhadas.”” Abdullah ibnu Ubaid ibnu Umair menjawab, “”Jangan kamu lakukan itu, karena sesungguhnya Ibnu Umar pernah ditanya mengenai mereka (yang tidur di dalam Masjidil Haram).

Ia menjawab, ‘Mereka adalah orang-orang yang sedang ber-i’tikaf.”” Hal yang sama diriwayatkan pula oleh Abdu ibnu Humaid, dari Sulaiman ibnu Harb, dari Hammad ibnu Salamah dengan lafal yang sama. Menurut kami, di dalam kitab shahih disebutkan bahwa Ibnu Umar sering tidur di dalam Masjid Rasul (di Madinah) ketika ia masih jejaka. Mengenai firman-Nya: Orang-orang yang rukuk dan orang-orang yang sujud. (Al-Baqarah: 125) Maka Waki’ meriwayatkan dari Abu Bakar Al-Huzali, dari ‘Atha’, dari Ibnu Abbas, “”Apabila seseorang sedang shalat, maka dia termasuk orang-orang yang rukuk dan sujud.”” Hal yang sama dikatakan pula oleh ‘Atha’ dan Qatadah.

Kemudian ibnu Jarir menilai lemah kedua hadits tersebut karena masing-masing dari kedua hadits tersebut mengandung orang-orang yang dha’if; dan kenyataannya memang seperti apa yang dikatakan oleh ibnu Jarir, yaitu kedua hadits ini tidak dapat dijadikan pegangan. Ibnu Jarir mengatakan, makna ayat ini ialah “”Dan Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail untuk menyucikan rumah-Ku bagi orang-orang yang tawaf’.

Perintah menyucikan Baitullah yang ditujukan kepada keduanya ialah agar menyucikannya dari berhala-berhala dan dari penyembahan kepada berhala-berhala di dalamnya, juga menyucikannya dari segala kemusyrikan. Kemudian Ibnu Jarir mengemukakan hipotesisnya. Untuk itu dia mengatakan, jika timbul pertanyaan “”Apakah sebelum Nabi Ibrahim membangun Ka’bah, di dalam Ka’bah terdapat sesuatu dari hal tersebut yang Nabi Ibrahim diperintahkan untuk memberantasnya?”” Sebagai jawabannya dapat dikatakan dua alasan berikut.

Pertama, Allah memerintahkan keduanya (Ibrahim dan Ismail) untuk menyucikan Baitullah dari penyembahan segala macam berhala dan patung-patung, yang hal ini dilakukan di masa silam di zaman Nabi Nuh ‘alaihissalam agar hal tersebut menjadi teladan bagi orang-orang sesudah zaman keduanya; mengingat Allah Subhanahu wa ta’ala telah menjadikan Nabi Ibrahim sebagai seorang imam yang diikuti. Seperti apa yang dikatakan oleh Abdur Rahman ibnu Zaid sehubungan dengan takwil firman-Nya: Bersihkanlah rumah-Ku olehmu berdua. (Al-Baqarah: 125) Yakni dari segala macam berhala yang disembah dan diagungkan oleh orang-orang musyrik di masa lalu.

Menurut kami, jawaban ini menyimpulkan bahwa dahulu di masa sebelum Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dilakukan penyembahan terhadap berhala di tempat tersebut. Tetapi hal ini memerlukan bukti berupa dalil dari orang yang ma’sum, yaitu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Kedua, Allah memerintahkan keduanya ikhlas dalam membangunnya karena Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Maka keduanya membangunnya seraya menyucikannya dari kemusyrikan dan keraguan, seperti yang disebutkan di dalam firman-Nya: Maka apakah orang-orang yang mendirikan masjidnya di atas dasar takwa kepada Allah dan keridaan-(Nya) itu yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh. (At-Taubah: 109) Demikian pula dalam firman-Nya: Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail, “”Bersihkanlah rumah-Ku.”” (Al-Baqarah: 125) Artinya, bangunlah rumah-Ku oleh kamu berdua dalam keadaan bersih dan suci dari kemusyrikan dan keraguan.

Seperti apa yang dikatakan oleh As-Suddi, makna an-tahhira baitiya ialah bangunlah oleh kamu berdua rumah-Ku ini buat orang-orang yang tawaf. Kesimpulan dari jawaban di atas ialah bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala memerintahkan kepada Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan Nabi Ismail ‘alaihissalam membangun Ka’bah atas nama-Nya semata tiada sekutu bagi-Nya buat orang-orang yang tawaf dan i’tikaf serta orang-orang yang mengerjakan shalat di dalamnya dari kalangan orang-orang yang rukuk dan sujud, seperti yang disebutkan di dalam firman-Nya: Dan (ingatlah) ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan), “”Janganlah kamu mempersekutukan sesuatu pun dengan Aku dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang tawaf, dan orang-orang yang beribadat dan orang-orang yang rukuk dan sujud.”” (Al-Hajj: 26) serta beberapa ayat berikutnya.

Fuqaha (para ahli fiqih) berbeda pendapat mengenai masalah manakah yang lebih afdal antara shalat di Baitullah dan tawaf. Imam Malik rahimahullah mengatakan, tawaf di Baitullah bagi penduduk kota-kota besar adalah lebih utama. Sedangkan jumhur ulama mengatakan bahwa shalat lebih afdal secara mutlak. Alasan masing-masing dari kedua pendapat ini disebutkan secara rinci di dalam pembahasan hukum-hukum. Maksud dan tujuan perintah tersebut adalah untuk membalas perbuatan orang-orang musyrik yang mempersekutukan Allah di rumah-Nya yang dibangun atas dasar menyembah-Nya semata dan tiada sekutu bagi-Nya.

Kemudian selain itu mereka menghalang-halangi kaum mukmin yang memilikinya, tidak boleh memasukinya, seperti yang disebutkan di dalam firman-Nya: Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan menghalangi manusia dari jalan Allah dan Masjidil Haram yang telah Kami jadikan untuk semua manusia, baik yang bermukim di situ maupun di padang pasir dan siapa yang bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan secara zalim, niscaya akan kami rasakan kepadanya sebagian siksa yang pedih. (Al-Hajj: 25) Kemudian Allah Subhanahu wa ta’ala menyebutkan, sesungguhnya Baitullah itu hanya dibangun bagi orang yang menyembah Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, baik dengan cara tawaf ataupun shalat.

Selanjutnya di dalam surat Al-Hajj disebutkan ketiga bagian dari shalat, yaitu berdirinya, rukuknya, dan sujudnya, tetapi tidak disebutkan al-‘akifin karena telah disebutkan dalam ayat sebelumnya, yaitu: baik yang bermukim di situ maupun di padang pasir. (Al-Hajj: 25) Sedangkan di dalam ayat ini (Al-Hajj: 25) tidak disebutkan rukuk, sujud, dan qiyam, tetapi hanya disebutkan taifin dan ‘akifin, karena sesungguhnya telah diketahui bahwa tiada rukuk dan tiada sujud melainkan sesudah qiyam (berdiri).

Di dalam ayat ini terkandung pula bantahan terhadap orang-orang yang tidak mau berhaji kepadanya dari kalangan ahli kitab, yaitu orang-orang Yahudi dan Nasrani. Karena sesungguhnya mereka mengakui keutamaan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, dan mereka pun mengetahui bahwa rumah itu (Baitullah) dibangun untuk tawaf dalam ibadah haji dan umrah serta ibadah lainnya; juga untuk itikaf serta melakukan shalat padanya, sedangkan mereka tidak mengerjakan sesuatu pun dari hal tersebut.

Maria mungkin mereka dinamakan sebagai orang-orang yang menganut agama Nabi Ibrahim, sedangkan mereka sendiri tidak mengerjakan apa yang telah disyariatkan oleh Allah kepada Nabi Ibrahim? Sesungguhnya Nabi Musa ibnu Imran serta nabi-nabi lainnya telah melakukan haji ke Baitullah, seperti yang telah diberitakan oleh orang yang di-ma’sum yang tidak sekali-kali berbicara dari dirinya sendiri melainkan hanya semata-mata wahyu yang diturunkan kepadanya.

Dengan demikian, berarti makna ayat adalah seperti berikut Wa’ahidna ila Ibrahima, Kami telah perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail melalui wahyu kami, “”Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang tawaf, yang i’tikaf, yang rukuk, dan yang sujud.”” Dengan kata lain, bersihkanlah rumah-Ku dari kemusyrikan dan keraguan, dan bangunlah rumah-Ku dengan ikhlas karena Allah, yang kelak akan menjadi tempat bagi orang-orang yang i’tikaf, yang tawaf, yang rukuk, dan yang sujud.

Pengertian menyucikan masjid diambil dari ayat ini dan ayat lainnya, yaitu firman-Nya: Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan petang. (An-Nur: 36) Sedangkan dalil dari sunnah banyak hadits yang memerintahkan membersihkan masjid-masjid dan memberinya wewangian serta lain-lainnya, seperti membersihkannya dari kotoran dan najis-najis serta hal-hal yang serupa dengannya.

Karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: Sesungguhnya masjid-masjid itu dibangun hanya untuk tujuan yang sesuai dengan fungsinya. Sesungguhnya kami menghimpun pembahasan ini dalam sebuah kitab tersendiri secara rinci. Para ulama berbeda pendapat mengenai orang yang mula-mula membangun Ka’bah. Menurut suatu pendapat, yang mula-mula membangun Ka’bah adalah para malaikat Hal ini diriwayatkan melalui Abu Ja’far Al-Baqir, yaitu Muhammad ibnu Ali ibnul Husain; Imam Qurtubi menyebutkannya dan mengetengahkan riwayat tersebut, tetapi di dalamnya terkandung garabah (keanehan). Menurut pendapat yang lain, orang yang mula-mula membangun Ka’bah adalah Nabi Adam ‘alaihissalam

Demikianlah menurut riwayat Abdur Razzaq, dari Ibnu Juraij, dari ‘Atha’ dan Sa’id ibnul Musayyab sena lain-lainnya. Disebutkan bahwa Nabi Adamlah yang mula-mula membangunnya dari lima buah gunung, yaitu dari Gunung Hira, Gunung Tursina, Gunung Tur Zaitan, Gunung Libanon, dan Gunung Al-Judi. Akan tetapi, riwayat ini gharib sekali. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Ka’b Al-Ahbar dan Qatadah, dari Wahb ibnu Munabbih, bahwa orang yang mula-mula membangunnya ialah Nabi Syis ‘alaihissalam

Kebanyakan orang-orang yang mengetengahkan riwayat masalah ini mengambil sumber dari kitab-kitab kaum ahli kitab. Hal tersebut merupakan suatu topik yang tidak boleh dibenarkan, tidak boleh didustakan, tidak boleh pula dijadikan sebagai pegangan hanya berlandaskan ia semata. Jika ada hadits shahih yang menceritakan hal tersebut, maka dengan senang hati harus diterima. Firman Allah Subhanahu wa ta’ala: Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berdoa, “”Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari kemudian.”” (Al-Baqarah: 126) Imam Abu Ja’far ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Basysyar, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnu Mahdi, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Abuz Zubair, dari Jabir ibnu Abdullah yang mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: Sesungguhnya Ibrahim telah mengharamkan dan mengamankan Baitullah, dan sesungguhnya aku mengharamkan Madinah di antara kedua batasnya.

Karena itu, tidak boleh diburu binatang buruannya dan tidak boleh ditebang pepohonannya. Hal yang sama diriwayatkan oleh Imam An-Nasai, dari Muhammad ibnu Basysyar, dari Bandar dengan lafal yang sama. Imam Muslim mengetengahkannya dari Abu Bakar ibnu Abu Syaibah dan Amr ibnu Naqid, yang kedua-duanya menerimanya dari Abu Ahmad Az-Zubairi, dari Sufyan Ats-Tsauri. – Ibnu Jarir mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib dan Abus Sa-ib yang kedua-duanya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Idris, telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahim Ar-Razi, keduanya mengatakan bahwa kami pernah mendengar Asy’as, dari Nafi dari Abu Hurairah yang mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: Sesungguhnya Ibrahim adalah hamba dan kekasih Allah, dan sesungguhnya aku adalah hamba dan Rasul-Nya.

Sesungguhnya Ibrahim telah menjadikan Mekah kota suci, dan sesungguhnya aku menjadikan Madinah kota yang suci di antara kedua batasnya, yakni semua pepohonannya dan semua binatang buruannya. Tidak boleh membawa senjata ke dalamnya untuk tujuan perang, dan tidak boleh menebang sebuah pohon pun darinya kecuali untuk makanan unta. Akan tetapi, jalur periwayatan ini garibah karena tidak dijumpai dalam salah satu kitab pun dari Kutubus Sittah.

Asal hadits berada pada kitab Shahih Muslim, dari jalur yang lain melalui sahabat Abu Hurairah yang menceritakan hadits berikut: Orang-orang (penduduk Madinah) apabila musim buah kurma tiba, mereka mendatangkan yang mula-mula mereka petik kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Dan apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menerimanya, maka beliau berdoa, “”Ya Allah, berkatilah bagi kami dalam buah kurma kami, berkatilah bagi kami dalam kota Madinah kami, berkatilah bagi kami dalam ukuran sa’ kami, dan berkatilah bagi kami dalam ukuran mud kami. Ya Allah, sesungguhnya Ibrahim adalah hamba, kekasih, dan Nabi-Mu; dan sesungguhnya aku adalah hamba dan Nabi-Mu. Dia telah berdoa untuk Mekah, dan sesungguhnya aku sekarang berdoa memohon kepada-Mu untuk kota Madinah ini dengan doa yang semisal dengan apa yang pernah didoakan olehnya (Ibrahim) buat Mekah, dan hal yang semisal semoga pula disertakan bersamanya.”” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil anak yang paling kecil baginya, lalu memberikan buah kurma itu kepadanya.

Menurut lafal yang lain disebutkan (sebagai tambahannya): “”berkah di samping berkah, kemudian beliau memberikannya kepada anak yang paling kecil di antara anak-anak yang hadir. Demikianlah menurut lafal Imam Muslim. Kemudian Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, telah menceritakan kepada kami Qutaibah ibnu Sa’id, telah menceritakan kepada kami Bakr ibnu Mudar, dari Ibnul Had, dari Abu Bakar ibnu Muhammad, dari Abdullah ibnu Amr ibnu Usman, dari Rafi’ ibnu Khadij yang menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: Sesungguhnya Ibrahim telah menjadikan kota Mekah kota yang suci, dan sesungguhnya aku menjadikan kota Madinah di antara kedua batasnya sebagai kota yang suci.

Hadits ini hanya diketengahkan oleh Imam Muslim sendiri. Ibnu Jarir meriwayatkan hadits ini dari Qutaibah, dari Bakr ibnu Mudar dengan lafal yang sama dengan lafal Imam Muslim. Di dalam kitab Shahihain disebutkan dari Anas ibnu Malik yang menceritakan hadits berikut: : bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Abu Talhah, “”Carikanlah buatku seorang pelayan laki-laki dari kalangan anak-anak kalian yang akan kujadikan sebagai pembantuku.”” Lalu Abu Talhah berangkat dengan memboncengku di belakang (menuju kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam). Maka aku melayani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Anas ibnu Malik melanjutkan kisahnya, manakala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam turun istirahat.

Dan Anas ibnu Malik melanjutkan kisahnya, setelah itu beliau datang; dan manakala tampak baginya Bukit Uhud, maka beliau bersabda: Bukit ini (penghuninya) mencintaiku dan aku mencintainya. Manakala hampir tiba di Madinah, beliau berdoa: Ya Allah, sesungguhnya aku menjadikan apa yang ada di antara kedua bukit kota Madinah ini sebagai kota yang suci, sebagaimana Ibrahim telah menjadikan suci kota Mekah.

Ya Allah, berkatilah bagi mereka dalam takaran mud dan sa’ mereka. Menurut lafal yang lain dalam kitab Shahihain disebutkan seperti berikut Ya Allah, berkatilah bagi mereka dalam takaran mereka, dan berkatilah mereka dalam takaran sa’ mereka, dan berkati pula mereka dalam takaran mud mereka. Imam Al-Bukhari menambahkan, “”Yakni penduduk Madinah.”” Disebutkan pula oleh keduanya (Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim), dari Anas yang menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berdoa: Ya Allah, semoga Engkau menjadikan di Madinah ini keberkahan dua kali lipat dari apa yang telah Engkau jadikan buat Mekah.

Dari Abdullah ibnu Zaid ibnu ‘Ashim , dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, disebutkan seperti berikut: Sesungguhnya Ibrahim telah menjadikan kota Mekah kota yang suci, dan ia telah mendoakan buat penduduknya. Dan sesungguhnya aku menjadikan kota Madinah kota yang suci, sebagai mana Ibrahim menjadikan suci kota Mekah. Dan sesungguhnya aku telah berdoa untuk Madinah dalam takaran mud dan sa’-nya sebagaimana Ibrahim telah mendoakan untuk Mekah.

Hadits ini dan lafaznya diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari. Imam Muslim telah meriwayatkan pula, sedangkan lafaznya berbunyi seperti berikut, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berdoa: Sesungguhnya Ibrahim telah menjadikan kota Mekah kota yang suci, dan ia telah mendoakan buat penduduknya. Dan sesungguhnya aku menjadikan kota Madinah kota yang suci, sebagaimana Ibrahim menjadikan suci kota Mekah. Dan sesungguhnya aku telah berdoa untuk Madinah dalam takaran sa’ dan mud-nya sebanyak dua kali lipat dari apa yang didoakan oleh Nabi Ibrahim untuk Mekah.

Dan Abu Sa’id telah menceritakan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa: Ya Allah, sesungguhnya Ibrahim telah mengharamkan kota Mekah, maka dia menjadikannya sebagai tanah suci. Dan sesungguhnya aku mengharamkan Madinah di antara kedua batasnya sebagai tanah suci agar tidak dialirkan darah padanya, tidak boleh membawa senjata ke dalamnya untuk peperangan, tidak boleh memotong sebuah pohon pun darinya kecuali hanya untuk makanan ternak. Ya Allah, berkatilah bagi kami kota Madinah kami.

Ya Allah, berkatilah bagi kami takaran sa’ kami. Ya Allah, berkatilah bagi kami takaran mud kami. Ya Allah, jadikanlah bersama keberkatan ini dua kali lipat keberkatan. Hadits ini merupakan riwayat Imam Muslim. Hadits-hadits yang menerangkan tentang keharaman (kesucian) kota Madinah cukup banyak jumlahnya. Kami mengutarakan sebagiannya saja yang ada kaitannya dengan pengharaman Nabi Ibrahim ‘alaihissalam terhadap kota suci Mekah, mengingat pembahasan ini ada munasabah kaitannya dengan tafsir ayat yang sedang kita bahas.

Hadits-hadits tersebut dijadikan pegangan oleh orang yang mengatakan bahwa pengharaman kota Mekah hanya dilakukan oleh lisan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam Akan tetapi, pendapat yang lain mengatakan “”sesungguhnya kota Mekah itu telah haram (suci) sejak bumi diciptakan””; pendapat yang terakhir ini lebih jelas dan lebih kuat. Banyak hadits lainnya yang menerangkan bahwa Allah Swt telah mengharamkan kota Mekah sebelum langit dan bumi diciptakan, seperti yang disebutkan di dalam kitab Shahihain, dari Abdullah ibnu Abbas yang mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda pada hari kemenangan atas kota Mekah: Sesungguhnya negeri ini (Mekah) telah diharamkan (dijadikan suci) oleh Allah pada hari Dia menciptakan langit dan bumi, maka negeri ini tetap suci sejak disucikan oleh Allah hingga hari kiamat.

Dan sesungguhnya negeri ini tidak dihalalkan peperangan di dalamnya oleh seorang pun sebelumku, tidak dihalalkan olehku kecuali sesaat dari siang hari. Maka negeri ini tetap suci sejak disucikan oleh Allah hingga hari kiamat. Pepohonannya tidak boleh ditebang, binatang buruannya tidak boleh diburu, barang temuannya tidak boleh diambil kecuali bagi orang yang hendak mengumumkannya, dan rerumputannya tidak boleh dicabut.

Maka Al-Abbas bertanya, “”Wahai Rasulullah, terkecuali izkhir, karena sesungguhnya kayu izkhir dipergunakan untuk pandai besi mereka dan untuk (atap) rumah-rumah mereka.”” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “”Terkecuali izkhir.”” Demikianlah menurut lafal Imam Muslim. Imam Al-Bukhari serta Imam Muslim meriwayatkan pula hal yang semisal melalui Abu Hurairah Sesudah itu Imam Al-Bukhari mengatakan bahwa Aban ibnu Saleh telah meriwayatkan dari Al-Hasan ibnu Muslim ibnu Yanaq, dari Safiyyah binti Syaibah yang mengatakan, “”Aku pernah mendengar hal yang semisal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam”” Riwayat inilah yang dinilai mu’allaq oleh Imam Al-Bukhari.

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Abdullah ibnu Majah dari Muhammad ibnu Abdullah ibnu Numair, dari Yunus ibnu Bukair, dari Muhammad ibnu Ishaq, dari Aban ibnu Saleh, dari Al-Hasan ibnu Muslim ibnu Yanaq, dari Safiyyah binti Syaibah yang menceritakan bahwa ia pernah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah pada hari kemenangan atas kota Mekah. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Wahai manusia, sesungguhnya Allah telah mengharamkan (menyucikan) Mekah pada hari Dia menciptakan langit dan bumi. Maka kota Mekah tetap haram hingga hari kiamat; pepohonannya tidak boleh ditebang, dan binatang buruannya tidak boleh diburu, serta barang temuannya tidak boleh dipungut kecuali bagi orang yang hendak mengumumkannya.

Al-Abbas berkata, “”Terkecuali izkhir, karena sesungguhnya izkhir buat rumah-rumah dan keperluan kuburan.”” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “”Terkecuali izkhir Dari Abu Syuraih Al-Adawi, disebutkan bahwa ia pernah berkata kepada Amr ibnu Sa’id ketika Amr ibnu Sa’id sedang melantik utusan-utusannya untuk ke Mekah, “”Izinkanlah bagiku, wahai Amir, untuk mengemukakan kepadamu suatu ucapan yang pernah disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Ketika keesokan harinya setelah kemenangan atas kota Mekah. Aku mendengarnya langsung dengan kedua telingaku ini dan menghafalnya, lalu aku melihat dengan kedua mata kepalaku ketika beliau mengatakannya. Sesungguhnya beliau pada permulaannya memuji dan menyanjung Allah Subhanahu wa ta’ala Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Sesungguhnya Mekah telah diharamkan oleh Allah, dan bukan diharamkan oleh manusia. Maka tidak halal bagi orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian mengalirkan darah padanya, dan menebang salah satu dari pepohonannya.

Jika ada seseorang mengatakan mengapa diberikan rukhsah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk melakukan peperangan di dalamnya. Maka katakanlah bahwa sesungguhnya Allah hanya mengizinkan kepada Rasul-Nya dan tidak memberi izin kepada kalian. Sesungguhnya yang diizinkan kepadaku untuk melakukan peperangan di dalamnya hanyalah sesaat dari siang hari. Adapun sekarang, kota Mekah telah kembali menjadi haram seperti keharamannya kemarin. Maka hendaklah orang yang menyaksikan maklumat ini menyampaikannya kepada orang yang tidak hadir”” Kemudian dikatakan kepada Abu Syuraih, “”Apakah yang dikatakan oleh Amr kepadamu?”” Abu Syuraih menjawab, “”Aku lebih mengetahui hal tersebut daripada kamu, wahai Abu Syuraih: ‘Sesungguhnya tanah haram (suci) itu tidak memberikan perlindungan kepada orang yang durhaka, tidak pula orang yang lari karena telah membunuh, dan tidak pula yang lari sehabis menimbulkan kerusakan’.”” Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim.

Apa yang disebutkan di atas berdasarkan lafal Imam Muslim. Apabila hal ini telah diketahui, maka tidak ada pertentangan di antara hadits-hadits yang menunjukkan bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala telah mengharamkan kota Mekah sejak Allah menciptakan langit dan bumi, dengan hadits-hadits yang menunjukkan bahwa Nabi Ibrahimlah yang mengharamkannya. Karena sesungguhnya Nabi Ibrahimlah yang menyampaikan dari Allah hukum yang dikehendaki-Nya terhadap kota Mekah dan pengharaman Allah terhadapnya. Mekah masih tetap dalam keadaan haram (suci) menurut Allah sebelum Nabi Ibrahim mengadakan bangunan Baitullah padanya.

Perihalnya sama dengan masalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Sejak dahulu beliau tercatat sebagai pemungkas para nabi di sisi Allah, sedangkan Adam saat itu masih berupa tanah liat. Akan tetapi, sekalipun demikian Nabi Ibrahim ‘alaihissalam berdoa: Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang rasul dari kalangan mereka. (Al-Baqarah: 129) Allah memperkenankan doanya sesuai dengan apa yang telah ditakdirkan oleh ilmu-Nya di zaman azali. Karena itulah maka di dalam sebuah hadits disebutkan bahwa mereka (para sahabat) bertanya, “”Wahai Rasulullah, ceritakanlah kepada kami tentang permulaan kejadianmu.”” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: (Aku adalah) doa ayahku Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan berita gembira Isa ibnu Maryam, dan ibuku telah melihat seakan-akan keluar dari tubuhnya nur yang cahayanya menerangi gedung-gedung negeri Syam.

Pertanyaan ini menyatakan, “”Ceritakanlah kepada kami tentang permulaan munculnya kejadianmu,”” seperti yang akan diterangkan nanti dalam waktu dekat, insya Allah. Masalah keunggulan kota Mekah atas kota Madinah dari segi keutamaan, seperti yang dikatakan oleh jumhur ulama atau kota Madinah atas kota Mekah, seperti yang dikatakan oleh mazhab Maliki dan para pengikutnya akan diketengahkan dalam pembahasan lain berikut dalil-dalilnya, insya Allah.

Firman Allah Subhanahu wa ta’ala menyitir doa yang dikatakan oleh Nabi Ibrahim Al-Khalil: Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman. (Al-Baqarah: 126) Yakni aman dari rasa takut, penduduknya tidak boleh ditakut-takuti. Allah Subhanahu wa ta’ala telah melakukan hal tersebut, baik secara syari’ ataupun secara takdir, seperti firman Allah Subhanahu wa ta’ala: Barang siapa memasukinya (Baitullah itu), menjadi amanlah dia. (Ali Imran: 97) Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya Kami telah menjadikan (negeri mereka) tanah suci yang aman, sedangkan manusia sekitarnya rampok-merampok. (Al-‘Ankabut: 67) Masih banyak ayat lainnya yang semakna. Dalam pembahasan terdahulu telah disebutkan hadits-hadits yang mengharamkan melakukan peperangan di Tanah Suci. Di dalam kitab Shahih Muslim disebutkan sebuah hadits oleh Jabir, bahwa ia pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Tidak dihalalkan bagi seseorang membawa senjata di Mekah. Imam Muslim mengatakan sehubungan dengan takwil firman-Nya: Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman. (Al-Baqarah: 126) Maksudnya, jadikanlah kawasan ini negeri yang aman sentosa.

Doa ini dipanjatkan oleh Nabi Ibrahim sebelum dia membangun Ka’bah. Di dalam surat Ibrahim disebutkan: Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata, “”Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah) negeri yang aman.”” (Ibrahim: 35) Penempatan doa ini dalam surat Ibrahim sangat sesuai, hanya Allah Yang Maha Mengetahui karena seakan-akan Ibrahim ‘alaihissalam memanjatkan doanya sekali lagi sesudah membangun rumah itu (Ka’bah) dan para penduduknya telah menetap padanya. Hal ini terjadi sesudah kelahiran Nabi Ishaq, putra bungsu Nabi Ibrahim; jarak umur Ishaq dengan Ismail adalah tiga belas tahun.

Karena itulah dalam akhir doanya Nabi Ibrahim mengatakan: Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) doa. (Ibrahim: 39) Dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari kemudian. Allah berfirman, “”Dan kepada orang yang kafir pun Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali:”” (Al-Baqarah: 126) Abu Ja’far Ar-Razi meriwayatkan dari Ar-Rabi’ ibnu Anas, dari Abul Aliyah, dari Ubay ibnu Ka’b sehubungan dengan takwil firman-Nya: Allah berfirman, “”Dan kepada orang kafir pun Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka, dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.”” (Al-Baqarah: 126) Ubay ibnu Ka’b mengatakan bahwa bagian ayat ini merupakan firman Allah Swt Pendapat ini juga dikatakan oleh Mujahid dan Ikri-mah, dan inilah yang dinilai benar oleh Ibnu Jarir.

Sedangkan yang lainnya mengatakan, bagian ayat ini merupakan lanjutan dari doa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, seperti yang diriwayatkan oleh Abu Ja’far, dari Ar-Rabi’, dari Abul Aliyah yang mengatakan, “”Ibnu Abbas pernah mengatakan sehubungan dengan ayat ini, bahwa bagian ayat ini merupakan doa Nabi Ibrahim. Ia memohon kepada Allah, ‘Barang siapa yang kafir, berikanlah kepadanya kesenangan sementara saja’.”” Abu Ja’far meriwayatkan dari Al-Laits ibnu Abu Sulaim, dari Mujahid sehubungan dengan takwil firman-Nya: Dan kepada orang yang kafir pun Aku beri kesenangan sementara. (Al-Baqarah: 126) Artinya, barang siapa yang kafir, Aku beri dia rezeki pula, tetapi sedikit (yakni sementara hanya selama di dunia saja).

kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka, dan itulah seburuk-buruk tempat kembali. (Al-Baqarah: 126) Muhammad ibnu Ishaq mengatakan, setelah Nabi Ibrahim menolak mendoakan orang yang Allah enggan menjadikannya berhak menerima pengakuan dari-Nya, demi taat dan cintanya kepada Allah, demi menjauhkan diri dari orang yang menentang perintah Allah, sekalipun orang tersebut masih dari kalangan keturunannya; yaitu di saat Ibrahim ‘alaihissalam mengetahui bahwa akan ada di antara keturunannya orang yang zalim yang tidak berhak mendapat janji (perintah) Allah hal ini diketahuinya melalui pemberitahuan dari Allah kepada dirinya maka Allah berfirman: Dan kepada orang yang kafir pun. (Al-Baqarah: 126) Dengan kata lain, sesungguhnya Aku akan memberi rezeki kepada orang yang bertakwa, juga kepada orang yang durhaka; tetapi kepada orang yang durhaka Aku hanya memberinya kesenangan sementara.

Hatim ibnu Ismail meriwayatkan dari Humaid Al-Kharrat, dari Ammar Az-Zahabi, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan takwil firman-Nya: Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman senlosa, dan berikanlah rezeki buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari kemudian. (Al-Baqarah: 126) Ibnu Abbas mengatakan bahwa pada mulanya Nabi Ibrahim dalam doanya hanya membatasi buat orang-orang mukmin saja, bukan untuk semua orang.

Maka Allah menurunkan firman-Nya, “”Kepada orang kafir pun Aku beri mereka rezeki sebagaimana Aku berikan rezeki kepada orang-orang mukmin. Apakah Aku ciptakan mereka, lalu Aku tidak berikan rezeki kepada mereka? Aku hanya memberikan kesenangan sementara saja kepada mereka, kemudian Aku paksa mereka menerima azab neraka, dan seburuk-buruk tempat kembali adalah neraka.”” Kemudian Ibnu Abbas membacakan firman-Nya yang lain, yaitu: Kepada masing-masing golongan, baik golongan ini maupun golongan itu, Kami berikan bantuan dari kemurahan Tuhanmu.

Dan kemurahan Tuhanmu tidak dapat dihalangi. (Al-Isra: 20) Ibnu Mardawaih meriwayatkan pula hadits ini. Hal yang semisal diriwayatkan dari Ikrimah dan Mujahid. Makna ayat ini (Al-Baqarah ayat 126) semisal dengan makna firman-Nya: Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung. (Bagi mereka) kesenangan (sementara) di dunia, kemudian kepada Kamilah mereka kembali, kemudian Kami rasakan kepada mereka siksa yang berat, disebabkan kekafiran mereka. (Yunus: 69-70) Dan barang siapa kafir, maka kekafirannya itu janganlah menyedihkanmu. Hanya kepada Kamilah mereka kembali, lalu Kami beritakan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan.

Se-sungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi hati. Kami biarkan mereka bersenang-senang sebentar, kemudian Kami paksa mereka (masuk) ke dalam siksa yang keras. (Luqman: 23-24) Dan sekiranya bukan karena hendak menghindari manusia menjadi umat yang satu (dalam kekafiran), tentulah Kami buatkan bagi orang-orang yang kafir kepada Tuhan Yang Maha Pemurah loteng-loteng perak bagi rumah mereka dan (juga) tangga-tangga (perak) yang mereka menaikinya. Dan (Kami buatkan pula) pintu-pintu (perak) bagi rumah-rumah mereka dan (begitu pula) dipan-dipan yang mereka bertelekan di atasnya. Dan (Kami buatkan pula) perhiasan-perhiasan (dari emas untuk mereka). Dan semuanya itu tidak lain hanyalah kesenangan kehidupan dunia, dan kehidupan akhirat itu di sisi Tuhanmu adalah bagi orang-orang yang bertakwa. (Az-Zukhruf: 33-35) Adapun firman Allah Subhanahu wa ta’ala: Kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka dan ilulah seburuk-buruk tempat kembali. (Al-Baqarah: 126) Yakni setelah Aku berikan kepadanya kesenangan duniawi dan keluasan naungannya, maka Aku kembalikan dia kepada siksa neraka, dan seburuk-buruk tempat kembali itu adalah neraka.

Dengan kata lain, Allah sengaja menangguhkan mereka, setelah itu barulah Allah mengazab mereka dengan azab Yang Mahaperkasa lagi Mahakuasa. Ayat ini maknanya semisal dengan firman Allah Subhanahu wa ta’ala: Dan berapalah banyaknya kota yang Aku tangguhkan (azab-Ku) kepadanya, yang penduduknya berbuat zalim, kemudian Aku azab mereka, dan hanya kepada-Kulah kembalinya (segala sesuatu). (Al-Hajj: 48) Di dalam hadits Shahihain (Al-Bukhari dan Muslim) disebutkan: Tiada seorang pun yang lebih sabar daripada Allah atas gangguan yang menyakitkan pendengarannya; sesungguhnya mereka menganggap Allah beranak, tetapi Allah tetap memberi mereka rezeki dan membiarkan mereka.

Di dalam hadits shahih disebutkan pula: “” (2) [: 102] Sesungguhnya Allah benar-benar menangguhkan orang yang zalim, dan manakala Allah mengazabnya, niscaya Allah tidak akan membiarkannya lolos (dari azab-Nya). Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan firman-Nya: Dan begitulah azab Tuhanmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya azab-Nya itu adalah sangat pedih lagi keras. (Hud: 102) Sebagian ulama membaca ayat ini (Al-Baqarah: 126) dengan bacaan berikut: Qala wa man kafara fa-amli’hu qalilan (Dan barang siapa yang kafir, maka berilah dia kesenangan sementara), hingga akhir ayat. Dia menganggapnya sebagai kelanjutan dari doa Nabi Ibrahim. Tetapi bacaan ini syazzah, yakni berbeda dengan qiraat sab’ah; lagi pula susunan konteks bertentangan dengan maknanya.

Karena sesungguhnya damir yang terkandung di dalam lafal qala kembali kepada Allah Subhanahu wa ta’ala menurut bacaan jumhur ulama, dan konteks ayat memang menunjukkan pengertian ini. Akan tetapi, menurut qiraat yang syazzah tadi berarti damir yang terkandung di dalam lafal qala kembali kepada Ibrahim, dan ini jelas bertentangan dengan konteks kalimat. Firman Allah Swt: Dan (ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa), “”Ya Tuhan kami, terimalah dari kami (amalan kami). Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha mengetahui. Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkan kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami, dan terimalah tobat kami.

Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.”” (Al-Baqarah: 127-128) Al-qawa’id adalah bentuk jamak dari lafal qa’idah, artinya tiang atau fondasi. Allah berfirman, “”Wahai Muhammad, ceritakanlah kepada kaummu kisah Ibrahim dan Ismail membangun Ka’bah dan meninggikan fondasi yang dilakukan oleh keduanya, seraya keduanya berdoa, ‘Ya Tuhan kami, terimalah dari kami amalan kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui’.”” Al-Qurthubi dan lain-lainnya meriwayatkan melalui Ubay dan Ibnu Mas’ud bahwa keduanya membaca ayat ini: Dan (ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa), “”Ya Tuhan kami, terimalah dari kami (amalan kami).

Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”” (Al-Baqarah: 127) Yakni dengan menambahkan lafal yaqulani sebelum rabbana taqabbal minna. Menurut kami, bacaan tersebut tersimpul dari doa keduanya (Ibrahim dan Ismail) sesudah itu, yakni firman-Nya: Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau. (Al-Baqarah: 128), hingga akhir ayat. Keduanya sedang melakukan amal saleh seraya memohon kepada Allah, semoga Allah menerima amalan keduanya, seperti apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim melalui hadits Muhammad ibnu Ya-zid ibnu Khunais Al-Makki, dari Wahib ibnul Ward, bahwa ia membaca firman-Nya: Dan (ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa), “”Ya Tuhan kami, terimalah dari kami (amalan kami).”” (Al-Baqarah: 127) Kemudian Wahib ibnul Ward menangis dan mengatakan, “”Wahai kekasih Tuhan Yang Maha Pemurah, engkau sedang meninggikan dasar-dasar Baitullah, tetapi engkau merasa takut bila amalanmu tidak diterima.”” Makna ayat ini semisal dengan yang disebutkan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala tentang keadaan orang-orang mukmin yang benar-benar ikhlas, melalui firman-Nya: Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan. (Al-Muminun: 60) Maksudnya, mereka memberikan apa yang telah mereka berikan berupa sedekah-sedekah, berbagai macam nafkah, dan amal taqarrub (kurban-kurban).

sedangkan hati mereka dalam keadaan takut. (Al-Muminun: 60) Yakni takut amalan mereka tidak diterima oleh Allah Subhanahu wa ta’ala, seperti yang disebutkan di dalam sebuah hadits shahih dari Siti Aisyah , dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang akan diketengahkan pada tempatnya nanti. Sebagian Mufassirin mengatakan bahwa orang yang meninggikan dasar-dasar bangunan Baitullah adalah Nabi Ibrahim, sedangkan orang yang berdoanya adalah Nabi Ismail. Akan tetapi, pendapat yang benar mengatakan bahwa keduanya sama-sama membina dasar-dasar Baitullah dan berdoa, seperti yang akan dijelaskan kemudian.

Dalam bab ini Imam Al-Bukhari meriwayatkan sebuah hadits yang akan kami ketengahkan kemudian, setelah itu kami ikutkan pembahasan atsar-atsar yang berkaitan dengannya. [: 37] Imam Al-Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Muhammad, telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah menceritakan kepada kami Ma’mar, dari Ayyub As-Sukhtiyani dan Kasir ibnu Kasir ibnul Muttalib ibnu Abu Wida’ah salah seorang dari keduanya memberikan tambahan atas yang lain, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas yang menceritakan kisah berikut: Wanita yang mula-mula memakai mintaq (ikat pinggang atau kemben) di zaman dahulu adalah ibu Nabi Ismail.

Ia sengaja memakai kemben untuk menghapus jejak kehamilannya terhadap Siti Sarah (permaisuri Nabi Ibrahim ‘alaihissalam yang belum juga punya anak). Kemudian Nabi Ibrahim membawanya pergi bersama anaknya Ismail (yang baru lahir), sedangkan ibunya menyusuinya. Lalu Nabi Ibrahim menempatkan keduanya di dekat Baitullah, yaitu di bawah sebuah pohon besar di atas Zamzam, bagian dari masjid yang paling tinggi. Saat itu di Mekah masih belum ada seorang manusia pun, tiada pula setetes air.

Nabi Ibrahim menempatkan keduanya di tempat itu dan meletakkan di dekat keduanya sebuah kantong besar yang berisikan buah kurma dan sebuah wadah yang berisikan air minum. Kemudian Nabi Ibrahim pulang kembali (ke negerinya). Maka ibu Nabi Ismail mengikutinya dan bertanya, “”Wahai Ibrahim, ke manakah engkau akan pergi, tegakah engkau meninggalkan kami di lembah yang tandus dan tak ada seorang pun ini?”” Ibu Nabi Ismail mengucapkan kata-kata ini berkali-kali, tetapi Nabi Ibrahim tidak sekali pun berpaling kepadanya.

Maka ibu Nabi Ismail bertanya, “”Apakah Allah telah memerintahkan kamu melakukan hal ini?”” Nabi Ibrahim baru menjawab, ‘Ya.”” Ibu Nabi Ismail berkata, “”Kalau demikian, pasti Allah tidak akan menyia-nyiakan kami.”” Lalu ibu Nabi Ismail kembali (kepada anaknya), sedangkan Nabi Ibrahim berangkat meneruskan perjalanannya. Ketika ia sampai di sebuah celah (lereng bukit) hingga mereka tidak melihatnya, maka ia menghadapkan wajahnya ke arah Baitullah, kemudian memanjatkan doanya seraya mengangkat kedua tangannya, seperti yang disebutkan oleh firman-Nya: Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. (Ibrahim: 37) sampai dengan firman-Nya: mudah-mudahan mereka bersyukur. (Ibrahim: 37) Ibu Ismail menyusui anaknya dan minum dari bekal air tersebut.

Lama-kelamaan habislah bekal air yang ada di dalam wadahnya itu, maka ibu Ismail merasa kehausan, begitu pula dengan Ismail. Ibu Ismail memandang bayinya yang menangis sambil meronta-ronta, lalu ia berangkat karena tidak tega memandang anaknya yang sedang kehausan. Ia menjumpai Bukit Safa yang merupakan bukit terdekat yang ada di sebelahnya. Maka ia berdiri di atasnya, kemudian menghadapkan dirinya ke arah lembah seraya memandang ke sekitarnya, barangkali ia dapat menjumpai seseorang, tetapi ternyata ia tidak me-lihat seorang manusia pun di sana.

Ia turun dari Bukit Safa. Ketika sampai di lembah bawah, ia mengangkat (menyingsingkan) baju kurungnya dan berlari kecil seperti berlarinya orang yang kepayahan hingga lembah itu terlewati olehnya, lalu ia sampai di Marwah. Maka ia berdiri di atas Marwah, kemudian menghadap ke arah lembah seraya memandang ke sekelilingnya, barangkali ia menjumpai seseorang, tetapi ternyata ia tidak melihat seorang manusia pun.

Hal ini dilakukannya sebanyak tujuh kali. Ibnu Abbas melanjutkan kisahnya, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: Karena itu, maka manusia melakukan sa’i di antara keduanya (Safa dan Marwah). Ketika ibu Ismail sampai di puncak Bukit Marwah, ia mendengar suatu suara, lalu ia berkata kepada dirinya sendiri, “”Tenanglah!”” Kemudian ia memasang pendengarannya baik-baik, dan ternyata ia mendengar adanya suara, lalu ia berkata (kepada dirinya sendiri), “”Sesungguhnya aku telah mendengar sesuatu, niscaya di sisimu (Ismail) ada seorang penolong.”” Ternyata dia bersua dengan malaikat di sumur Zamzam, malaikat itu sedang menggali tanah dengan kakinya atau dengan sayapnya hingga muncul air.

Maka ibu Ismail membuat kolam dan mengisyaratkan dengan tangannya, lalu ia menciduk air itu dengan kedua tangannya untuk ia masukkan ke dalam wadah air minumnya, sedang-kan sumur Zamzam terus memancar setelah ibu Ismail selesai menciduknya. Ibnu Abbas melanjutkan kisahnya bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: Semoga Allah merahmati ibu Ismail. Sekiranya dia membiarkan Zamzam atau tidak menciduk sebagian dari airnya, niscaya Zamzam akan menjadi mata air yang mengalir. Ibnu Abbas melanjutkan kisahnya, bahwa setelah itu ibu Ismail minum air Zamzam dan menyusui anaknya. Maka malaikat itu berkata kepadanya, “”Janganlah kamu takut tersia-siakan, karena sesungguhnya di sini terdapat sebuah rumah milik Allah yang kelak akan dibangun oleh anak ini dan ayahnya.

Sesungguhnya Allah tidak akan menyia-nyiakan penduduk rumah ini.”” Tersebutlah bahwa rumah itu (Baitullah) masih berupa tanah yang menonjol ke atas mirip dengan gundukan tanah (bukit kecil); bila datang banjir, maka air mengalir ke sebelah kanan dan kirinya. Ibu Ismail tetap dalam keadaan demikian, hingga lewat kepada mereka serombongan orang dari kabilah Jurhum atau salah satu ke-luarga dari kabilah Jurhum yang datang kepadanya melalui jalur Bukit Kida.

Mereka turun istirahat di bagian bawah Mekah, lalu mereka melihat ada burung-burung terbang berkeliling (di suatu tempat), maka mereka berkata, “”Sesungguhnya burung-burung ini benar-benar mengitari sumber air. Menurut kebiasaan kami, di lembah ini tidak ada air.”” Lalu mereka mengirimkan seorang atau dua orang pelari mereka, dan ternyata mereka menemukan adanya air. Kemudian pelari itu kembali dan menceritakan kepada rombongannya bahwa di tempat tersebut memang ada air.

Lalu rombongan mereka menuju ke sana. Ibnu Abbas melanjutkan kisahnya, bahwa ketika itu ibu Ismail berada di dekat sumur Zamzam. Mereka berkata, “”Apakah engkau mengizinkan kami untuk turun istirahat di tempatmu ini?”” Ibu Ismail menjawab, “”Ya, tetapi tidak ada hak bagi kalian terhadap air kami ini.”” Mereka menjawab, “”Ya.”” Ibnu Abbas melanjutkan kisahnya, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Maka dengan kedatangan mereka ibu Ismail merasa terhibur, karena memang dia memerlukan teman. Mereka tinggal di Mekah dan mengirimkan utusannya kepada keluarga mereka (di tempat asalnya), lalu mereka datang dan tinggal bersama ibu Ismail dan rombongan pertama mereka.

Ketika di Mekah telah berpenghuni beberapa ahli bait dari kalangan mereka (orang-orang Jurhum), sedangkan pemuda itu (Ismail) telah dewasa dan belajar bahasa Arab dari mereka, ternyata pribadi Ismail memikat mereka di saat dewasanya. Setelah usia Ismail cukup matang untuk kawin, lalu mereka mengawinkannya dengan seorang wanita dari kalangan mereka. Tidak lama kemudian ibu Ismail wafat. Setelah Ismail kawin, Nabi Ibrahim datang menjenguk keluarga yang ditinggalkannya, tetapi ternyata ia tidak menjumpai Ismail.

Lalu ia menanyakannya kepada istrinya, maka istri Ismail menjawab, “”Suamiku sedang keluar mencari nafkah buat kami.”” Kemudian Nabi Ibrahim bertanya kepada istri Ismail tentang penghidupan dan keadaan mereka. Istri Ismail menjawab, “”Kami dalam keadaan buruk, hidup kami susah dan keras.”” Ternyata ia mengemukakan keluhannya kepada Nabi Ibrahim. Nabi Ibrahim menjawab, “”Apabila suamimu datang, sampaikanlah salamku kepadanya dan katakanlah kepadanya agar dia mengganti kusen pintunya.”” Lalu Ismail datang dengan penampiian seakan-akan sedang merindukan sesuatu.

Ia berkata, “”Apakah telah datang seseorang kepadamu?”” Istrinya menjawab, “”Ya, telah datang kepadaku seorang tua yang ciri-cirinya anu dan anu, lalu ia menanyakan kepadaku tentang keadaanmu. maka aku ceritakan segalanya kepadanya. Ia menanyakan kepadaku tentang penghidupan kita. Maka aku katakan kepadanya bahwa kita hidup sengsara dan keras.”” Ismail bertanya, “”Apakah dia memesankan sesuatu kepadamu?”” Istrinya menjawab, “”Ya, dia berpesan kepadaku untuk menyampaikan salamnya kepadamu, dan mengatakan hendaknya engkau mengganti kusen pintumu.”” Ismail menjawab, “”Dia adalah ayahku, dan sesungguhnya dia memerintahkan kepadaku agar menceraikanmu.

Karena itu, kembalilah kamu kepada keluargamu.”” Ismail menceraikannya dan kawin lagi dengan perempuan lain dari kalangan mereka. Setelah selang beberapa masa yang dikehendaki oleh Allah, Nabi Ibrahim tidak menjenguk mereka. Kemudian dia datang lagi kepada mereka, tetapi dia tidak menemukan Ismail, lalu ia masuk menemui istri Ismail dan menanyakan kepadanya tentang Ismail. Maka istri Ismail menjawab, “”Suamiku sedang keluar mencari nafkah buat kami.”” Nabi Ibrahim bertanya, “”Bagaimanakah keadaan kalian?”” Nabi Ibrahim menanyakan kepada istri Ismail tentang penghidupan dan keadaan mereka.

Maka istri Ismail menjawab, “”Kami dalam keadaan baik-baik saja dan dalam kemudahan hidup,”” hal ini dikatakannya seraya memuji kepada Allah Subhanahu wa ta’ala Nabi Ibrahim bertanya, “”Apakah makanan pokok kalian?”” Istri Ismail menjawab, “”Daging.”” Ibrahim ‘alaihissalam bertanya, “”Apakah minum kalian?”” Istri Ismail menjawab, “”Air.”” Nabi Ibrahim ‘alaihissalam berdoa, “”Ya Allah, berkatilah daging dan air bagi mereka.”” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Tiadalah bagi mereka di masa itu biji-bijian. Seandainya mereka mempunyai biji-bijian, niscaya Nabi Ibrahim mendoakannya buat mereka. Ibnu Abbas melanjutkan kisahnya, bahwa tidak sekali-kali daging dan air tersebut bila dijadikan sebagai makanan pokok oleh seseorang di luar kota Mekah melainkan keduanya tidak akan cocok baginya.

Nabi Ibrahim berkata, “”Apabila suamimu datang, sampaikanlah salamku kepadanya dan katakanlah kepadanya agar dia mengukuhkan kusen pintunya.”” Ketika Ismail datang dan bertanya, “”Apakah telah datang seseorang kepadamu?”” Istrinya menjawab, “”Ya, telah datang kepada kami seorang syaikh yang penampilannya baik,”” istri Ismail memuji syaikh tersebut Ia melanjutkan kata-katanya, “”Lalu ia menanyakan kepadaku tentang engkau, maka aku ceritakan kepadanya; dan ia bertanya kepadaku tentang penghidupan kita, maka kujawab bahwa kami dalam keadaan baik-baik saja.”” Ismail bertanya, “”Apakah dia mewasiatkan sesuatu kepadamu?”” Istrinya menjawab, “”Ya, dia menyampaikan salamnya kepadamu, dan memerintahkan kepadamu agar mengukuhkan kusen pintumu.”” Ismail berkata, “”Dia adalah ayahku dan kusen pintu tersebut adalah kamu sendiri.

Dia memerintahkan kepadaku agar memegang engkau menja-di istriku selamanya.”” Setelah selang beberapa lama yang dikehendaki oleh Allah Swt, maka datanglah Ibrahim ‘alaihissalam; saat itu Nabi Ismail sedang membuat anak panahnya di bawah sebuah pohon di dekat sumur Zamzam. Ketika Ismail melihatnya, ia segera bangkit menyambutnya dan keduanya melakukan perbuatan yang biasa dilakukan oleh seorang ayah kepada anaknya dan seorang anak kepada ayahnya (bila lama tak bersua, lalu berjumpa).

Kemudian Nabi Ibrahim berkata, “”Wahai Ismail, sesungguhnya Allah telah memerintahkan sesuatu kepadaku.”” Ismail menjawab, “”Apakah perintah Tuhanmu itu?”” Nabi Ibrahim balik bertanya, “”Maukah engkau membantuku?”” Ismail menjawab, “”Dengan senang hati aku akan membantu ayah.”” Nabi Ibrahim ‘alaihissalam berkata, “”Sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepadaku agar aku membangun sebuah rumah (Baitullah) di sini,”” seraya mengisyaratkan kepada sebuah gundukan tanah tinggi yang lebih tinggi daripada tanah yang ada di sekitarnya.

Ibnu Abbas melanjutkan kisahnya, bahwa pada saat itu juga keduanya mulai meninggikan dasar-dasar Baitullah; Nabi Ismail yang mendatangkan batu-batuan, sedangkan Nabi Ibrahim yang membangunnya. Ketika bangunan mulai tinggi, Ismail datang membawa batu ini (maqam Ibrahim), lalu meletakkannya untuk menjadikannya se-bagai tangga Nabi Ibrahim selama membangun. Maka Nabi Ibrahim berdiri di atasnya sambil membangun, sedangkan Nabi Ismail terus menyuplai batu-batunya seraya keduanya mengucapkan doa berikut, yang disitir oleh firman-Nya: Ya Tuhan kami, terimalah dari kami (amalan kami).

Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Al-Baqarah: 127) Ibnu Abbas melanjutkan kisahnya, bahwa Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail terus membangun Ka’bah hingga berputar merampungkan sekelilingnya seraya mengucapkan doa: Ya Tuhan kami, terimalah dari kami (amalan kami). Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Al-Baqarah: 127) Hadits ini diriwayatkan pula oleh Abdu Ibnu Humaid, dari Abdur Razzaq dengan lafal yang sama lagi cukup panjang. Ibnu Abu Hatim meriwayatkannya pula dari Abu Abdullah, yaitu Muhammad ibnu Hammad At-Ath-Thabarani dan Ibnu Jarir, dari Ahmad ibnu Sabit Ar-Razi, keduanya meriwayatkan hadits ini dari Abdur Razzaq, tetapi dengan lafal yang singkat.

Abu Bakar ibnu Mardawaih mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ismail ibnu Ali ibnu Ismail, telah menceritakan kepada kami Bisyr ibnu Musa, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Muhammad Al-Azraqi, telah menceritakan kepada kami Muslim ibnu Khalid Az-Zunji, dari Abdul Malik ibnu Juraij, dari Kasir ibnu Kasir yang menceritakan bahwa pada suatu malam ia pernah bersama Us-man ibnu Abu Sulaiman dan Abdullah ibnu Abdur Rahman ibnu Abu Husain berada di antara sekumpulan orang-orang yang dihadiri oleh Sa’id ibnu Jubair di bagian masjid yang paling tinggi.

Maka Sa’id ibnu Jubair mengatakan, “”Bertanyalah kalian kepadaku sebelum kalian tidak melihatku lagi.”” Lalu mereka menanyakan kepadanya tentang kisah maqam Ibrahim, maka Sa’id ibnu Jubair tampil menceritakan kepada mereka sebuah riwayat dari Ibnu Abbas, kemudian ia menceritakan hadits ini dengan panjang lebar. Imam Al-Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Muhammad, telah menceritakan kepada kami Abu Amir (yakni Abdul Malik ibnu Amr), telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Nafi’, dari Kasir ibnu Kasir, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ihnu Abbas yang menceritakan kisah berikut: Setelah terjadi perselisihan antara Nabi Ibrahim dan permaisurinya, ia berangkat membawa Ismail dan ibunya dengan bekal sekendi air minum.

Maka ibu Ismail minum dari air kendi tersebut, lalu air susunya mengalir dan ia susukan kepada bayinya (Ismail), hingga sampailah Ibrahim di Mekah. Ia menempatkan keduanya di bawah sebuah pohon, kemudian Ibrahim kembali kepada keluarganya (di Syam). Tetapi ibu Ismail mengikutinya; hingga ketika keduanya sampai di Bukit Kida, ibu Ismail memanggil Ibrahim dari belakang, “”Wahai Ibrahim, kepada siapa engkau menyerahkan (menitipkan) kami?”” Ibrahim menjawab, “”Kutitipkan kalian kepada Allah.”” Ibu Ismail menjawab, “”Aku rela dengan Allah.”” Ibnu Abbas melanjutkan kisahnya, bahwa setelah itu ibu Ismail kembali dan minum air dari kendi itu, lalu air susunya ia berikan kepada si bayi.

Setelah persediaan air habis, ia berkata, “”Sebaiknya aku pergi untuk melihat-lihat keadaan, barangkali aku dapat menemukan seseorang.”” Maka ia pergi dan naik ke Bukit Safa, lalu melayangkan pandangannya, tetapi ia tidak melihat seorang manusia pun. Setelah sampai di lembah, maka ia berlari kecil hingga sampai ke Bukit Marwah; ia lakukan hal ini berkali-kali hingga tujuh kali.

Kemudian ia berkata (kepada dirinya sendiri), “”Sebaiknya aku pergi untuk menengok apa yang dilakukan oleh bayiku.”” Lalu ia pergi dan melihat bayinya, tetapi ternyata si bayi masih tetap dalam keadaan seperti semula, seakan-akan seperti orang yang sedang menghadapi kematian. Jiwanya tidak tenang, lalu ia berkata (kepada dirinya sendiri), “”Sekiranya aku pergi lagi untuk melihat-lihat, barangkali saja aku dapat menemukan seorang manusia.”” Lalu ia pergi dan naik ke Bukit Safa; kemudian ia melayangkan pandangannya ke semua arah, tetapi ternyata ia tidak menemukan seorang manusia pun, hingga ia lakukan hal itu sebanyak tujuh kali.

Kemudian ia berkata, “”Sebaiknya aku pergi untuk melihat keadaan bayiku, apa yang sedang dialaminya.”” Tiba-tiba ia mendengar suara, lalu ia berseru, “”Tolong, sekiranya engkau mempunyai kebaikan.”” Ternyata ia bersua dengan Malaikat Jibril ‘alaihissalam yang sedang me-nancapkan tumitnya ke tanah. Maka keluarlah air, hingga ibu Ismail kagum melihatnya, lalu ia menggalinya (dengan kedua tangannya). Ibnu Abbas melanjutkan kisahnya, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: Seandainya dia (ibu Ismail) membiarkannya, niscaya airnya akan keluar dengan sendirinya. Lalu ia minum air sumur itu dan menyusukan air susunya kepada anaknya.

Ibnu Abbas melanjutkan kisahnya, bahwa setelah itu lewat serombongan orang dari kabilah Jurhum di perut lembah (Mekah). Mereka terkejut melihat rombongan burung-burung yang terbang berkeliling pada sesuatu, seakan-akan mereka tidak mempercayainya. Mereka berkata, ‘Tiada lain burung-burung ini terbang melainkan di atas air.”” Lalu mereka mengirimkan utusannya untuk melihat keadaan, dan ternyata utusan itu benar-benar melihat adanya air. Lalu utusan itu kembali kepada rombongannya dan menceritakan apa yang telah mereka saksikan.

Mereka datang kepada ibu Ismail dan berkata, “”Wahai ibu Ismail, sudikah engkau mengizinkan kami untuk tinggal bersama engkau?”” Setelah putranya dewasa dan menikah dengan seorang wanita dari kalangan mereka, timbul di dalam hati Nabi Ibrahim suatu niat. Maka ia berkata kepada permaisurinya, “”Sesungguhnya aku akan menjenguk tinggalanku (di Mekah).”” Ibrahim ‘alaihissalam tiba dan mengucapkan salam, lalu bertanya, “”Di manakah Ismail?”” Istri Ismail menjawab, “”Dia sedang pergi berburu.”” Ibrahim ‘alaihissalam

berkata, “”Katakanlah kepadanya agar dia mengubah tangga pintu rumahnya.”” Ketika istri Ismail menceritakan hal tersebut kepada Ismail, maka Ismail berkata, “”Engkaulah yang dimaksud dengan tangga pintu rumah, maka kembalilah kamu kepada keluargamu.”” Kemudian timbul niat lagi pada diri Nabi Ibrahim, lalu ia berkata (kepada permaisurinya), “”Sesungguhnya aku akan menjenguk tinggalanku.”” Ia datang, lalu bertanya, “”Di manakah Ismail?”” Istri Ismail menjawab, “”Dia sedang pergi berburu.”” Istri Ismail berkata pula, “”Sudikah engkau istirahat untuk makan dan minum?”” Ibrahim bertanya, “”Apakah makanan dan minuman kalian?”” Ia menjawab, “”Makanan kami adalah daging, dan minuman kami adalah air.””

Ibrahim ‘alaihissalam ber-doa, “”Ya Allah, berkatilah mereka dalam makanan dan minuman mereka.”” Maka Abul Qasim (yakni Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) bersabda, “”Itu suatu berkah berkat doa Ibrahim.”” Kemudian timbul lagi niat pada diri Nabi Ibrahim, maka ia berkata kepada permaisurinya, “”Sesungguhnya aku akan menjenguk tinggalanku.”” Lalu ia datang dan menjumpai Ismail berada di dekat sumur Zamzam sedang memperbaiki anak panahnya. Ibrahim berkata, “”Wahai Ismail, sesungguhnya Tuhanmu memerintahkan aku agar membangun rumah-Nya di tempat ini.”” Ismail menjawab, “”Taatilah Tuhanmu.”” Ibrahim berkata, “”Sesungguhnya Dia telah memerintahkan kepadaku agar engkau membantuku dalam pelaksanaannya.”” Ismail menjawab, “”Kalau demikian, aku akan melakukannya.”” Ibnu Abbas melanjutkan kisahnya, bahwa Ibrahim bangkit, lalu mulai membangun, sedangkan Ismail menyediakan batu-batunya.

Sambil bekerja, keduanya mengatakan: Ya Tuhan kami, terimalah dari kami (amalan kami). Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Al-Baqarah: 127) Ketika bangunan makin tinggi dan Nabi Ibrahim yang sudah berusia lanjut itu merasa lemah untuk mengangkat batu-batuan, maka ia berdiri di atas batu maqam, sedangkan Ismail memberikan batu-batu itu kepadanya. Keduanya bekerja seraya mengucapkan doa berikut: Ya Tuhan kami, terimalah dari kami (amalan kami). Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Al-Baqarah: 127) Demikianlah riwayat yang diketengahkan oleh Imam Al-Bukhari melalui dua jalur di dalam Kitabul Anbiya.

Akan tetapi, yang mengherankan ialah Al-Hafidzh Abu Abdullah Al-Hakim meriwayatkannya di dalam kitab Mustadrak-nya dari Abul Abbas Al-Asam, dari Muhammad ibnu Sinan Al-Qazzaz, dari Abu Ali alias Ubaidillah ibnu Abdul Majid Al-Hanafi, dari Ibrahim ibnu Nafi’ dengan lafal yang sama. Ia mengatakan bahwa hadits ini shahih dengan syarat Syaikhain (Al-Bukhari dan Muslim), tetapi keduanya tidak mengetengahkannya. Demikianlah menurut Imam Hakim.

Padahal Imam Al-Bukhari mengetengahkannya seperti yang Anda lihat sendiri melalui hadits Ibrahim ibnu Nafi’, tetapi di dalam hadits ini seakan-akan terjadi peringkasan, mengingat di dalamnya tidak disebutkan perihal penyembelihan. Disebutkan di dalam kitab shahih, bahwa kedua tanduk domba yang disembelihnya itu digantungkan di Ka’bah. Disebutkan pula bahwa Nabi Ibrahim berkunjung kepada keluarganya di Mekah dengan memakai kendaraan buraq yang kecepatannya seperti kilatan sinar.

Setelah usai dari kunjungannya, ia kembali lagi ke Baitul Maqdis. Di dalam riwayat hadits ini disebutkan nama-nama tempat yang sudah tiada, diketengahkan oleh Ibnu Abbas, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Sehubungan dengan hadits ini telah disebutkan dari Amirul Muminin Ali ibnu Abu Thalib hal-hal yang sebagiannya berbeda dengan apa yang telah dikemukakan di atas, seperti yang dikatakan oleh Ibnu Jarir. Ia mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Basysyar dan Muhammad ibnul Musanna; keduanya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muammal, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Abu Ishaq, dari Harisah ibnu Mudarrib, dari Ali ibnu Abu Thalib yang menceritakan kisah berikut: Ketika Ibrahim diperintahkan membangun Baitullah, ia berangkat bersama Ismail dan Hajar.

Sesampainya di Mekah, ia melihat gumpalan awan berupa seperti kepala manusia di angkasa yang letaknya tepat di atas tempat Baitullah (Ka’bah), lalu awan itu berkata, “”Wahai Ibrahim, bangunlah di bawah naunganku ini,”” atau awan tersebut mengatakan, “”Sebesar diriku, jangan lebih, jangan pula kurang.”” Setelah selesai membangun, Ibrahim berangkat dan meninggalkan Ismail serta Hajar. Maka Hajar berkata kepada Ibrahim, “”Kepada siapakah engkau menyerahkan kami (menitipkan kami)?”” Ibrahim menjawab, “”Kepada Allah.”” Hajar menjawab, “”Berangkatlah, sesungguhnya Dia tidak akan menyia-nyiakan kami.”” Ismail pun merasa sangat haus, lalu Hajar naik ke atas Bukit Safa dan memandang ke sekelilingnya, ternyata ia tidak melihat sesuatu pun (yang dapat membantunya).

Ia terus berjalan hingga sampai di Bukit Marwah, tetapi ia tidak juga melihat sesuatu pun. Lalu ia kembali lagi ke Bukit Safa dan melihat-lihat lagi, tetapi ia tidak melihat sesuatu pun. Ia lakukan demikian sebanyak tujuh kali. Akhirnya ia berkata, “”Aduhai Ismail anakku, kiranya aku bakal tidak akan melihatmu lagi karena engkau akan mati.”” Ia datang kepada Ismail yang saat itu sedang mengamuk seraya menangis karena kehausan.

Maka Hajar diseru oleh Malaikat Jibril, “”Siapakah kamu?”” Hajar menjawab, “”Aku Hajar, ibu dari anak Ibrahim ini.”” Jibril bertanya, “”Kepada siapakah kamu berdua diserahkan?”” Hajar menjawab, “”Dia menyerahkan kami kepada Allah.”” Jibril berkata, “”Dia menyerahkan kalian kepada Tuhan Yang Maha Mencukupi.”” Kemudian Jibril mengorek tanah dengan jarinya, maka keluarlah air darinya dengan berlimpah. Lalu Hajar membendung air itu, dan Jibril berkata, “”Biarkanlah air ini, karena sesungguhnya air ini berlimpah!”” Di dalam riwayat ini disimpulkan bahwa Ibrahim membangun Baitullah sebelum meninggalkan keduanya (Hajar dan anaknya).

Tetapi dapat diinterpretasikan bahwa apa yang dilakukan oleh Ibrahim hanyalah semata-mata untuk memelihara batasan-batasannya. Dengan kata lain, pada awalnya Ibrahim hanya membuat patok-patoknya saja, bukan membangunnya sampai tinggi; menunggu Ismail besar, lalu keduanya akan membangunnya bersama-sama, seperti apa yang disebutkan di dalam firman-Nya. Kemudian Ibnu Jarir mengatakan bahwa Hannad ibnus Sirri mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abul Ahwas, dari Sammak, dari Khalid ibnu Ur’urah, pernah ada seorang lelaki menghadap kepada Ali , lalu berkata, “”Ceritakanlah kepadaku kisah Baitullah, apakah Baitullah merupakan rumah (rumah ibadah) yang pertama kali dibangun di muka bumi ini?”” Ali menjawab, “”Tidak, tetapi Baitullah adalah rumah yang mula-mula dibangun dalam keberkatan, padanya terdapat maqam Ibrahim; dan barang siapa memasukinya, menjadi amanlah dia.

Jika kamu suka, maka akan kuceritakan kepadamu bagaimana asal mula pembangunannya.”” Sahabat Ali melanjutkan kisahnya, bahwa sesungguhnya Allah menurunkan wahyu-Nya kepada Ibrahim, “”Bangunkanlah sebuah rumah di bumi untuk-Ku!”” Tetapi Ibrahim mendapat kesulitan besar untuk merealisasikannya. Lalu Allah mengirimkan sakinah, yaitu angin yang berputar. Angin ini mempunyai dua kepala (putaran); yang satu mengikuti yang lainnya, hingga sampailah keduanya di Mekah. Ketika sampai di Mekah, angin tersebut membentuk lingkaran di tempat Baitullah seperti lingkaran sebuah perisai.

Kemudian Allah memerintahkan kepada Ibrahim untuk membangun Baitullah di tempat angin sakinah itu berhenti. Ibrahim membangun Baitullah hingga yang tertinggal hanyalah sebuah batu, lalu si pemuda (Ismail) pergi mencari sesuatu dan Ibrahim berkata kepada anaknya itu, “”Carikanlah sebuah batu seperti apa yang aku perintahkan.”” Ismail berangkat untuk mencarikan sebuah batu bagi Ibrahim, lalu ia datang membawa batu tersebut, tetapi ia menjumpai Hajar Aswad telah terpasang di tempat tersebut.

Maka ia bertanya, “”Wahai ayahku, siapakah yang mendatangkan batu ini kepadamu?”” Ibrahim menjawab, “”Batu ini didatangkan kepadaku oleh seseorang yang tidak mengandalkan peran sertamu.”” Malaikat Jibril ‘alaihissalam mendatangkan batu itu dari langit, lalu Ibrahim menyempurnakan bangunannya. Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdullah ibnu Yazid Al-Muqri, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Bisyr ibnu ‘Ashim, dari Sa’id ibnul Musayyab, dari Ka’b Al-Ahbar yang menceritakan kisah berikut: Pada mulanya Baitullah itu terapung di atas air sebelum Allah menciptakan bumi dalam jarak empat puluh tahun.

Dari Baitullahlah bumi dihamparkan. Sa’id mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Abu Thalib, bahwa Ibrahim tiba dari negeri Armenia ditemani oleh sakinah yang menunjukkan kepadanya tempat Baitullah, sebagaimana seekor laba-laba membangun rumahnya. Maka sakinah menjumpai batu-batuan yang salah satu darinya tidak dapat diangkat kecuali oleh tiga puluh orang. Lalu aku (perawi) bertanya, “”Wahai Abu Muhammad, sesungguhnya Allah Swt telah berfirman: ‘Dan (ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (Al-Baqarah: 127).”” Maka Abu Muhammad menjawab, “”Hal tersebut terjadi sesudahnya.”” As-Suddi mengatakan, sesungguhnya Allah memerintahkan kepada Ibrahim unruk membangun Baitullah bersama Ismail, dan Allah berfirman, “”Bangunkanlah olehmu berdua rumah-Ku bagi orang-orang yang tawaf, yang i’tikaf, yang rukuk, dan yang sujud.”” Maka Ibrahim berangkat hingga tiba di Mekah, lalu dia dan Ismail mengambil cangkul, sedangkan keduanya masih belum mengetahui letak Baitullah yang akan dibangunnya.

Maka Allah mengirimkan angin yang dikenal dengan sebutan angin khajuj (puting beliung). Angin tersebut mempunyai dua sayap dan kepala seakan-akan bentuknya seperti ular. Kemudian angin tersebut menguakkan bagi keduanya (Ibrahim dan Ismail) semua yang ada di sekitar Ka’bah hingga tampaklah fondasi Baitullah yang pertama. Lalu keduanya mengikutinya dengan cangkul mereka, keduanya terus menggali hingga fondasi diletakkan. Yang demikian itu adalah yang disebutkan di dalam firman-Nya: Dan (ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah. (Al-Baqarah: 127); Dan (ingatlah) ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah. (Al-Hajj: 26) Ketika keduanya hampir selesai dari pembangunannya, dan tahapan pembangunannya sampai pada rukun, lalu Ibrahim berkata kepada Ismail, “”Wahai anakku, carikanlah sebuah batu yang baik untukku, nanti akan aku letakkan di tempat (rukun) ini.”” Ismail menjawab, “”Wahai ayahku, sesungguhnya aku sedang malas dan lelah.”” Ibrahim berkata, “”Sekalipun demikian, kamu harus mencarinya.”” Maka berangkatlah Ismail mencari batu tersebut untuk ayahnya.

Ketika itu juga Malaikat Jibril datang kepada Ibrahim dengan membawa Hajar Aswad dari India. Pada mulanya Hajar Aswad berwarna putih. Ia adalah batu yaqut berwana putih seperti bunga sagamah (putih bersih). Pada mulanya batu itu dibawa oleh Adam dari surga ketika diturunkan ke bumi, lalu batu itu menjadi hitam karena dosa-dosa manusia. Ismail datang membawa batu yang diminta, tetapi ternyata ia menjumpai bahwa rukun tersebut telah diisi dengan Hajar Aswad.

Maka ia bertanya, “”Wahai ayahku, siapakah yang mendatangkan batu ini kepadamu?”” Ibrahim menjawab, “”Ia didatangkan oleh orang yang lebih bersemangat daripada kamu.”” Lalu keduanya terus membangun seraya berdoa mengucapkan kalimat-kalimat yang pernah diujikan oleh Allah kepada Ibrahim. Lalu Ibrahim berkata: Wahai Tuhan kami, terimalah dari kami (amalan kami). Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Al-Baqarah: 127) Di dalam riwayat ini terdapat pengertian yang menunjukkan bahwa dasar-dasar (fondasi) Baitullah telah ada sebelum Nabi Ibrahim, dan sesungguhnya Nabi Ibrahim hanya ditunjukkan ke tempat Baitullah berada dan tinggal meneruskannya.

Hadits ini dijadikan pegangan oleh orang-orang yang berpendapat demikian. Imam Abdur Razzaq mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ma’mar, dari Ayyub, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan takwil firman-Nya: Dan (ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah. (Al-Baqarah: 127) Bahwa dasar-dasar Baitullah tersebut adalah dasar-dasar yang telah ada sebelumnya. Abdur Razzaq mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Hisyam ibnu Hassan, dari Siwar menantu ‘Atha’, dari ‘Atha’ ibnu Abu Rabah yang menceritakan, “”Ketika Allah menurunkan Adam dari surga ke bumi, kedua kaki Adam berada di bumi, sedangkan kepalanya berada di langit (karena sangat tingginya) seraya mendengarkan percakapan penduduk langit (para malaikat) dan doa mereka hingga hatinya merasa terhibur karena mereka.

Maka para malaikat merasa takut, hingga mereka mengadu kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dalam doa dan salatnya. Lalu Allah mengurangi tinggi Adam hingga lebih dekat ke bumi (tidak terlalu tinggi). Ketika Adam tidak dapat mendengar lagi percakapan yang ia dengar dari penduduk langit, ia merasa kesepian. Lalu ia mengadu kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dalam doa dan salatnya, akhirnya Allah mengarahkannya ke Mekah. Maka tersebutlah bahwa bekas pijakan kaki Adam kelak akan menjadi kota, sedangkan langkah-langkahnya akan menjadi tanah lapang (sahara). Kemudian sampailah Adam ke Mekah.”” Allah menurunkan batu yaqut dari surga, batu yaqut tersebut diletakkan di Baitullah. Baitullah masih dipakai untuk tawaf hingga Allah menurunkan banjir besar di zaman Nabi Nuh ‘alaihissalam, lalu batu yaqut itu diangkat kembali ke langit, dan diturunkan kembali ke bumi di saat Ibrahim ‘alaihissalam

membangun Baitullah. Yang demikian itu disebutkan di dalam firman-Nya: Dan (ingatlah) ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah. (Al-Hajj: 26) Abdur Razzaq mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij, dari ‘Atha’ yang menceritakan bahwa Adam mengadu, “”Sesungguhnya aku tidak lagi mendengar suara malaikat.”” Allah berfirman, “”Itu karena kesalahanmu, tetapi turunlah ke bumi dan bangunlah sebuah rumah buat-Ku. Setelah itu kelilingilah olehmu sebagaimana kami melihat para malaikat mengelilingi Bait-Ku di langit.”” Dan orang-orang menduga bahwa Adam membangunnya dari lima buah bukit, yaitu dari Bukit Hira, Bukit Zaita, Bukit Sinai, dan Bukit Judi; dan tersebutlah bahwa batu fondasinya dari Bukit Hira.

Demikianlah pembangunan yang dilakukan oleh Adam, kembali dibangun dengan fondasi yang sama oleh Ibrahim ‘alaihissalam jauh sesudahnya. Sanad hadits ini memang shahih sampai kepada ‘Atha’, tetapi pada sebagiannya terdapat hal-hal yang tidak dapat diterima. Abdur Razzaq mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Ma’mar, dari Qatadah yang telah menceritakan bahwa Allah menurunkan Baitullah bersama-sama Adam. Adam diturunkan oleh Allah ke bumi, dan tempat turunnya ialah di India.

Ketika itu kepala Adam berada di langit, sedangkan kedua kakinya di bumi. Maka para malaikat merasa takut kepadanya, lalu Allah mengurangi tingginya menjadi enam puluh hasta. Maka Adam merasa sedih karena ia tidak dapat lagi mendengar suara para malaikat dan suara tasbih mereka. Adam mengadukan hal tersebut kepada Allah, maka Allah Subhanahu wa ta’ala ber-firman, “”Wahai Adam, sesungguhnya Aku telah menurunkan buatmu sebuah rumah untuk tawafmu, sebagaimana di sekitar ‘Arasy-Ku para malaikat bertawaf, dan kamu shalat padanya sebagaimana mereka melakukan shalat di dekat ‘Arasy-Ku.”” Maka Adam berangkat menuju Baitullah seraya memanjangkan langkah-langkahnya, di antara setiap dua langkah akan terjadi padang Sahara, dan sahara-sahara tersebut masih tetap ada sesudahnya.

Setelah sampai di Baitullah, Adam melakukan tawaf padanya, demikian pula para nabi lainnya sesudahnya. Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Humaid, telah menceritakan kepada kami Ya’qub Al-‘Ama, dari Hafs ibnu Humaid, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas yang telah menceritakan, “”Allah meletakkan Baitullah di atas pilar-pilar air yang semuanya ada empat pilar, sebelum dunia diciptakan Allah dalam jarak dua ribu tahun, kemudian bumi dihamparkan dari bawah Baitullah.”” Muhammad ibnu Ishaq meriwayatkan, telah menceritakan kepadanya Abdullah ibnu Abu Nujaih, dari Mujahid dan lain-lainnya dari kalangan ahlul ilmi, sesungguhnya Allah ketika hendak memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah, Ibrahim berangkat menuju Baitullah dari negeri Syam seraya membawa Ismail dan ibunya, yaitu Hajar.

Ketika itu Ismail masih bayi dan masih menyusu. Mereka menunggang kendaraan menurut yang mereka kisahkan kepadaku yaitu kendaraan buraq dengan ditemani oleh Malaikat Jibril yang menjadi penunjuk jalan ke tempat Baitullah dan tanda-tanda Tanah Suci. Malaikat Jibril berangkat bersama mereka, dan tersebutlah bahwa tidak sekali-kali Jibril melalui sebuah kampung melainkan Adam berkata, “”Apakah tempat ini yang diperintahkan kepadamu, wahai Jibril?”” Jibril menjawab, “”Teruskanlah perjalananmu,”” hingga sampailah Jibril dan Adam di Mekah.

Saat itu hanya ada tumbuh-tumbuhan rumput berduri, pohon salam serta pohon samar, dan di luar Mekah serta sekelilingnya terdapat bangsa Amaliqah yang menghuni kawasan tersebut. Sedangkan Baitullah ketika itu merupakan sebuah bukit kecil yang batu kerikilnya berwama merah. Lalu Ibrahim berkata kepada Jibril, “”Di sinikah engkau diperintahkan agar aku menempatkan keduanya (Hajar dan Ismail, putranya)?”” Jibril menjawab, “”Ya.”” Kemudian Ibrahim menuju ke tempat Hijir (Ismail), lalu menurunkan keduanya di tempat itu, dan ia memerintahkan kepada Hajar ibu Ismail untuk membuat sebuah tanda di tempat itu, lalu Ibrahim berdoa: Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati sampai dengan mudah-mudahan mereka bersyukur. (Ibrahim: 37) Abdur Razzaq mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hisyam ibnu Hassan, telah menceritakan kepadaku Humaid, dari Mujahid yang mengatakan bahwa Allah telah menciptakan tempat rumah ini (Baitullah) sebelum Dia menciptakan sesuatu pun dalam jarak dua ribu tahun.

Pilar-pilarnya berada di bumi lapis yang ketujuh. Hal yang sama dikatakan pula oleh Al-Laits ibnu Abu Sulaim, dari Mujahid, bahwa dasar-dasar Baitullah sampai ke bumi lapis yang ketujuh. Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Rati’, telah menceritakan kepada kami Abdul Wahhab ibnu Mu’awiyah, dari Abdul Mumin ibnu Khalid, dari Alya ibnu Ahmar, ketika Zul Qarnain tiba di Mekah, ia menjumpai Ibrahim dan Ismail sedang membina dasar-dasar Baitullah dari lima buah bukit.

Zul Qarnain bertanya, “”Apakah yang sedang kalian berdua lakukan terhadap tanah kekuasaan kami?”” Ibrahim menjawab, “”Kami adalah dua hamba Allah yang diperintahkan untuk membangun Ka’bah ini.”” Zul Qarnain bertanya, “”Kalau demikian, kemukakanlah bukti yang memperkuat pengakuan kalian itu.”” Maka bangkitlah lima ekor domba, lalu kelima-limanya mengatakan, “”Kami bersaksi bahwa Ibrahim dan Ismail adalah dua orang hamba Allah, yang kedua-duanya diperintahkan untuk membangun Ka’bah ini.”” Akhirnya Zul Qarnain berkata, “”Aku rela dan menyerah,”” kemudian ia melangsungkan perjalanan pengembaraannya.

Al-Azraqi meriwayatkan di dalam kitab Tarikh Mekah-nya bahwa Zul Qarnain ikut tawaf bersama Nabi Ibrahim ‘alaihissalam di Baitullah. Riwayat ini menunjukkan bahwa Zul Qarnain hidup di masa silam sebelum Nabi Ibrahim. Imam Al-Bukhari mengatakan sehubungan dengan takwil firman-Nya: Dan (ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail. (Al-Baqarah: 127), hingga akhir ayat. Al-qawa’id artinya fondasi atau dasar, bentuk tunggalnya adalah qa’idah; al-qawa’id minan nisa (wanita-wanita yang telah berhenti haidnya dan tidak mengandung lagi), bentuk tunggalnya qa’idah pula.

Telah menceritakan kepada kami Ismail, telah menceritakan kepadaku Malik, dari Ibnu Syihab, dari Salim ibnu Abdullah, bahwa Abdullah ibnu Muhammad ibnu Abu Bakar telah menceritakan kepada Abdullah ibnu Umar, dari Siti Aisyah (istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: “”Tahukah kamu bahwa kaummu ketika membangun Baitullah, mereka membangunnya kurang dari fondasi-fondasi yang telah diletakkan oleh Ibrahim? Aku (Siti Aisyah ) berkata, “”Wahai Rasulullah, mengapa engkau tidak mengembalikannya seperti keadaan semula sampai pada fondasi Nabi Ibrahim?”” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “”Seandainya kaummu bukan masih baru meninggalkan kekufuran, (tentu aku mau melakukannya).”” Sahabat Abdullah Ibnu Umar berkata, “”Seandainya Siti Aisyah benar-benar mendengar ini langsung dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka apa yang aku lihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mengusap kedua rukun (sudut) yang berada di kedua sisi Hijir Ismail, tiada lain hal tersebut karena belum disempurnakan menurut fondasi yang telah diletakkan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihissalam”” Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari di dalam Bab “”Haji””, dari Al-Qa’nabi, sedangkan di dalam Bab “”Ahadisul Anbiya (Kisah-kisah para Nabi)”” ia meriwayatkannya dari Abdullah ibnu Yusuf dan Imam Muslim, dari Yahya ibnu Yahya, juga dari hadits Ibnu Wahb, sedangkan Imam An-Nasai meriwayatkannya melalui hadits Abdur Rahman ibnul Qasim, semuanya meriwayatkannya dari Malik dengan lafal yang disebutkan di atas.

Imam Muslim meriwayatkannya pula melalui hadits Nafi’ yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Abdullah ibnu Abu Bakar ibnu Abu Quhafah menceritakan hadits berikut kepada Abdullah ibnu Umar, dari Siti Aisyah dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Disebutkan di dalam riwayat ini bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: Seandainya kaummu bukan masih baru meninggalkan masa Jahiliahnya atau baru meninggalkan kekufurannya niscaya aku akan menafkahkan harta simpanan Ka’bah di jalan Allah (yakni untuk merenovasi Ka’bah), dan sungguh aku akan menjadikan pintunya dekat ke tanah dan sungguh aku akan memasukkan Hijir Ismail ke dalam bangunannya. Imam Al-Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ubaidillah ibnu Musa, dari Israil, dari Abu Ishaq, dari Al-Aswad yang mengatakan bahwa Ibnuz Zubair pernah bertanya kepadanya, “”Dahulu Siti Aisyah sering menceritakan kepadamu banyak hadits dengan sembunyi-sembunyi, ceritakanlah kepadaku apa yang telah dikisahkannya mengenai masalah Ka’bah!”” Al-Aswad berkata, Siti Aisyah mengatakan kepadanya bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda kepadanya: Wahai Aisyah, seandainya kaummu bukan masih baru meninggalkan kebiasaan mereka menurut Ibnuz Zubair diartikan kekufuran niscaya aku akan membongkar Ka’bah, kemudian aku buatkan baginya dua buah pintu; satu pintu untuk orang-orang masuk, sedangkan yang lainnya untuk mereka keluar darinya.

Kemudian hal itu dilakukan oleh Ibnuz Zubair. Hadits ini hanya diketengahkan oleh Imam Al-Bukhari sendiri. Dia meriwayatkannya dengan lafal demikian di dalam Kitabul ‘Ilmi, bagian dari kitab sahihnya. Imam Muslim di dalam kitab sahihnya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Yahya, telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah, dari Hisyam ibnu Urwah, dari ayahnya, dari Siti Aisyah yang menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda kepadanya: Seandainya kaummu bukan baru meninggalkan kebiasaan kekufurannya, niscaya aku akan membongkar Ka’bah dan aku jadikan berada di atas fondasi Ibrahim.

Karena sesungguhnya kaum Quraisy ketika membangun Baitullah, mereka menguranginya (dari fondasi Ibrahim), dan sesungguhnya aku akan menjadikan baginya pintu keluar. Imam Muslim mengatakan bahwa hadits ini diceritakan kepada kami oleh Abu Bakar ibnu Abu Syaibah dan Abu Kuraib; keduanya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair, dari Hisyam dengan sanad ini. Sanad ini diketengahkan oleh Imam Muslim sendiri. :”” (2) Imam Muslim mengatakan pula, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Hatim, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Mahdi, telah menceritakan kepada kami Sulaim ibnu Hayyan, dari Sa’id (yakni Ibnu Mina) yang menceritakan bahwa ia pernah mendengar Abdullah ibnuz Zubair mengatakan bahwa bibinya (yakni Siti Aisyah ) pernah bercerita kepadanya bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: Wahai Aisyah, seandainya kaummu bukan baru meninggalkan kebiasaan kekufurannya, niscaya aku akan membongkar Ka’bah, lalu aku tempelkan ke tanah; dan sesungguhnya aku akan membuat pintu timur dan pintu barat baginya, serta aku akan menambahkan padanya sepanjang enam hasta dari Hijir (Ismail).

Karena sesungguhnya orang-orang Quraisy menguranginya ketika merenovasi Ka’bah. Riwayat ini pun diketengahkan oleh Imam Muslim sendiri. Kisah Pembangunan Ka’bah oleh Quraisy Sesudah Nabi Ibrahim A.S. dan Lima Tahun Sebelum Rasulullah Diangkat Menjadi Utusan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ikut memindahkan batu-batuan bersama mereka (orang-orang Quraisy), ketika itu usia beliau baru tiga puluh lima tahun. Semoga salawat dan salam-Nya terlimpahkan kepadanya selama-lamanya sampai hari pembalasan. Muhammad ibnu Ishaq ibnu Yasar mengatakan di dalam Bab “”Sirah””, ketika usia Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mencapai tiga puluh lima tahun, orang-orang Quraisy mengadakan kumpulan rapat untuk merenovasi Ka’bah; dan mereka merasa khawatir Ka’bah yang sudah berusia tua itu akan ambruk, karena saat itu Ka’bah hanya berupa tembok yang tingginya hanya lebih sedikit dari orang yang sedang berdiri (tanpa atap).

Maka mereka berniat untuk mengatapinya. Hal tersebut dilakukan mereka karena ada segolongan orang yang telah mencuri perbendaharaan Ka’bah. Saat itu perbendaharaan Ka’bah hanya disimpan di dalam sebuah sumur (lubang) yang terletak di dalam Ka’bah. Tersebutlah bahwa orang yang ditemukan padanya harta perbendaharaan Ka’bah adalah Duwaik maula Bani Malih ibnu Amr, dari Bani Khuza’ah, lalu tangannya dipotong. Orang-orang menduga bahwa sebenarnya yang mencurinya adalah segolongan orang yang tidak dikenal, lalu mereka meletakkannya di rumah Duwaik.

Tersebut pula bahwa laut telah mendamparkan sebuah perahu besar di Jeddah milik salah seorang pedagang Romawi, lalu perahu itu pecah. Mereka mengambil kayu-kayunya, lalu mereka persiapkan buat mengatapi Ka’bah. Di Mekah pada zaman itu terdapat seorang lelaki Qibti (Mesir sekarang) tukang kayu, lalu ia membuatkan bagi mereka segala sesuatu yang diperlukan untuk merenovasi Ka’bah. Tersebut pula bahwa ada seekor ular besar keluar dari dalam sumur Ka’bah tempat dilemparkan ke dalamnya segala hadiah yang diberikan kepada Ka’bah setiap harinya.

Lalu ular itu menaiki tembok Ka’bah. Ular itu merupakan hewan yang mereka takuti, karena tidak sekali-kali ada seseorang berani mendekati Ka’bah melainkan ular tersebut menegakkan tubuhnya dan siap untuk menerkam seraya membuka rahangnya lebar-lebar, maka mereka sangat takut kepadanya. Pada suatu hari seperti biasanya ular itu menaiki tembok Ka’bah, tiba-tiba Allah mengirimkan seekor burung pemangsa, lalu burung tersebut menyambar ular itu dan membawanya terbang.

Maka orang-orang Quraisy berkata, “”Sesungguhnya kita berharap semoga peristiwa ini merupakan pertanda bahwa Allah rida dengan niat kita. Di antara kita ada seorang pekerja (tukang kayu) yang baik, dan kita sekarang mempunyai kayu yang cukup. Sesungguhnya Allah telah membebaskan kita dari ular tersebut.”” Ketika tekad mereka telah bulat untuk membongkar Ka’bah dan membangunnya kembali dengan bangunan yang baru, maka berdirilah Ibnu Wahb ibnu Amr ibnu Aiz ibnu Abdu ibnu Imran ibnu Makhzum, lalu ia mengambil sebuah batu dari Ka’bah, tetapi batu itu terlepas dari tangannya dan kembali lagi ke tempatnya semula.

Maka ia berkata: Wahai orang-orang Quraisy, janganlah kalian memasukkan ke dalam pembangunannya dari penghasilan kalian kecuali penghasil-an yang halal; tidak boleh dimasukkan ke dalamnya maskawin pelacur, tidak boleh dari hasil jual beli secara riba, dan tidak boleh pula dari hasil perbuatan aniaya terhadap orang lain. Ibnu Ishaq mengatakan, orang-orang menisbatkan pidato ini kepada Al-Walid ibnul Mugirah ibnu Abdullah ibnu Amr ibnu Makhzum.

Setelah itu orang-orang Quraisy membagi-bagi pekerjaan pembaruan Ka’bah ini ke beberapa bagian; bagian yang ada pintunya diserahkan kepada Bani Abdu Manaf dan Bani Zuhrah, sedangkan bagian yang terletak di antara rukun dan Hajar Aswad serta rukun yamani diserahkan kepada Bani Makhzum dan beberapa suku Quraisy yang bergabung dengan mereka. Bagian atas Ka’bah diserahkan kepada Bani Jumah dan Bani Sahm.

Bagian yang ada Hajar Aswad diserahkan kepada Bani Abdud Dar ibnu Qusai, Bani Asad ibnu Abdul Uzza ibnu Qusai serta Bani Addi ibnu Ka’b ibnu Lu-ay; bagian ini dikenal dengan nama Hatim. Kemudian orang-orang merasa takut untuk meruntuhkannya; dan mereka bercerai-berai, tidak mau melakukannya. Maka Al-Walid ibnul Mugirah berkata, “”Akulah yang akan memulai meruntuhkannya.”” Lalu ia mengambil linggis dan berdiri di atas Ka’bah seraya berkata, “”Ya Allah, jangan khawatir.

Ya Allah, sesungguhnya kami tidak menghendaki apa-apa kecuali kebaikan belaka.”” Kemudian ia mulai meruntuhkannya dari bagian dua rukun, sedangkan orang-orang bersikap menunggu malam itu, dan mereka mengatakan, “”Kita lihat saja nanti. Jika dia tertimpa sesuatu, maka kita tidak akan meruntuhkannya barang sedikit pun, dan kita biarkan keadaannya seperti semula. Tetapi jika ternyata dia tidak dikenai apa-apa, berarti Allah rida kepada apa yang kita lakukan.”” Maka pada pagi harinya malam itu Al-Walid berangkat menuju tempat kerjanya, lalu ia membongkar Ka’bah.

Maka orang-orang pun mengikuti jejaknya, hingga sampailah pembongkaran mereka pada bagian fondasi, yaitu fondasi Nabi Ibrahim ‘alaihissalam Kemudian mereka mencoba mengangkat batu-batu hijau yang bentuknya seperti tombak-tombak yang satu sama lainnya saling mengait. Muhammad ibnu Ishaq mengatakan, telah menceritakan kepadaku seseorang yang meriwayatkan kisah ini, bahwa seorang lelaki Quraisy dari kalangan orang-orang yang bekerja membongkar Ka’bah memasukkan linggisnya di antara kedua batu di antara batu-batu tersebut untuk membongkar salah satu di antaranya dengan linggisnya itu.

Ketika batu tersebut bergerak, maka seluruh kota Mekah mengalami gempa, akhirnya mereka tidak berani lagi mengganggu fondasi tersebut. Ibnu Ishaq mengatakan, setelah itu semua kabilah Quraisy mengumpulkan batu-batuan untuk membangunnya kembali. Masing-masing kabilah mengumpulkan batu-batunya sendiri, hingga sampailah pembangunan mereka pada tempat rukun, yakni tempat Hajar Aswad. Mereka bersengketa mengenainya, masing-masing kabilah ingin meletakkan sendiri Hajar Aswad itu ke tempatnya tanpa kabilah yang lain.

Akhirnya mereka berembuk, tetapi hasilnya justru saling bertentangan, dan tiada jalan penyelesaian, bahkan masing-masing pihak bersiap-siap untuk menghadapi perang. Bani Abdud Dir menyuguh-kan sepanci darah, kemudian mereka bersama-sama Bani Addi ibnu Ka’b ibnu Lu-ay mengadakan sumpah setia untuk mati dan mereka memasukkan tangannya masing-masing ke dalam panci yang berisikan darah itu. Lalu mereka menamakannya dengan peristiwa “”La’qatud Dam

Orang-orang Quraisy bersikap diam melihat gelagat tersebut selama empat atau lima malam, lalu mereka mengadakan musyawarah dan rapat untuk mencari jalan keluarnya. Salah seorang ahli riwayat (sejarah) menduga bahwa Abu Umayyah ibnul Mugirah ibnu Abdullah ibnu Amr ibnu Makhzum yang saat itu merupakan orang Quraisy yang tertua di antara se-muanya mengatakan, “”Wahai orang-orang Quraisy, marilah kita adakan suatu sayembara untuk menyelesaikan masalah yang kalian sengketakan ini; barang siapa yang paling dahulu masuk ke dalam masjid di antara kalian, maka dialah yang akan memutuskan perkara kalian ini.”” Akhirnya mereka setuju dengan pendapat ini.

Ternyata orang yang paling dahulu masuk ke dalam masjid adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Ketika mereka melihat kenyataan tersebut, maka mereka berkata, “”Orang ini dapat dipercaya (Al-Amin), kami rela dengan keputusannya. Dialah Muhammad.”” Setelah semuanya masuk ke dalam masjid dan diberitakan bahwa pemenangnya adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “”Berikanlah sebuah kain kepadaku!”” Kain itu diberikan kepadanya, lalu ia mengambil rukun yakni Hajar Aswad dan meletakkannya di kain itu oleh tangannya sendiri. Kemudian ia bersabda, “”Hendaklah masing-masing suku memegang salah satu dari tepi kain ini, kemudian angkatlah Hajar Aswad ini oleh kalian semua.”” Maka mereka melakukannya.

Dan ketika mereka sampai di tempat Hajar Aswad, maka tangan Nabi sendirilah yang meletakkan Hajar Aswad itu ke tempatnya, kemudian beliau sendiri pulalah yang menyelesaikannya. Sebelum beliau diangkat menjadi utusan, orang-orang Quraisy menjuluki Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan nama “”Al-Amin Setelah mereka selesai dari pembangunan Ka’bah yang telah mereka renovasi menurut yang mereka kehendaki, maka Az-Zubair ibnul Abdul Muttalib mengisahkan kembali kejadian ular yang ditakuti oleh orang-orang Quraisy sewaktu hendak merenovasi Ka’bah.

Hal ini diungkapkannya melalui bait-bait syairnya, yaitu: Aku takjub ketika burung gagak itu menukik ke arah ular besar yang bergerak-gerak itu. Ular itu mendesis dan adakalanya meloncat-loncat bila kami bangkit hendak merenovasinya, membuat kami semua merasa takut kepadanya. Ketika kami merasa takut berbuat dosa, tiba-tiba datanglah burung gagak yang menukik dengan buasnya ke arah ular itu.

Ular itu dicengkeramnya, lalu dibawa pergi, hingga tiada hambatan dan halangan lagi bagi kami untuk mengadakan pembangunan. Lalu kami bangkit menghimpun semua kekuatan kami untuk membongkar tembok dan plesteran bangunan kami. Di hari kami meninggikan bangunannya, kami semua tak berbaju. Alangkah mulianya Malik ibnu Lu-ay, maka kejayaan kakek moyang mereka masih tetap berlangsung. Terhimpun di sana Bani Addi dan Bani Murrah yang didahului oleh Bani Kilab.

Maka kami menempalkan Yang Maharaja dengan pembangunan ini di tempal kedudukan Yang Agung, dan hanya kepada Allah-lah pahala diminta. Ibnu Ishaq mengatakan bahwa Ka’bah di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mempunyai panjang (dan lebar) delapan belas hasta dan diberi kelambu dengan kain qubali (katun), setelah itu diberi kelambu dengan kain burdah. Orang yang mula-mula memakaikan kain sutera kepada Ka’bah ialah Al-Hajjaj ibnu Yusuf. Menurut kami, bangunan Ka’bah masih tetap atas dasar bangunan Quraisy hingga ia mengalami kebakaran di masa permulaan pemerintahan Abdullah ibnuz Zubair, yaitu sesudah tahun 60 Hijriah di akhir masa kekuasaan Yazid ibnu Mu’awiyah ketika mereka mengepung Ibnuz Zubair.

Dalam masa pemerintahan Abdullah ibnuz Zubair, Ka’bah dibongkarnya, kemudian dibangun kembali sesuai dengan fondasi Nabi Ibrahim; dan memasukkan Hijir Ismail ke dalamnya, serta membuat dua buah pintu yang dekat dengan tanah, yaitu pintu sebelah timur dan sebelah barat karena menuruti apa yang didengar oleh Siti Aisyah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Siti Aisyah Ummul Muminin adalah bibi Abdullah ibnuz Zubair. Ia menyampaikan hadits tersebut kepada kemenakannya, lalu kemenakannya (Abdullah ibnuz Zubair) melakukannya. Keadaan Ka’bah tetap seperti apa yang dibangun oleh Abdullah ibnuz Zubair, hingga Abdullah ibnuz Zubair tewas di tangan Al-Hajjaj, lalu Al-Hajjaj mengembalikan bangunan Ka’bah seperti semula atas perintah dari Abdul Malik ibnu Marwan yang menginstruksikannya untuk melakukan hal tersebut.

Kisah ini disebutkan oleh Imam Muslim ibnul Hajjaj di dalam kitab sahihnya: telah menceritakan kepada kami Hannad ibnus Sirri, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Zaidah, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Sulaiman, dari ‘Atha’ yang menceritakan kisah berikut: Ketika Baitullah mengalami kebakaran di masa pemerintahan Yazid ibnu Mu’awiyah, yaitu di saat penduduk Syam memerangi Mekah, maka keadaan Baitullah saat itu dibiarkan saja oleh Abdullah ibnuz Zubair (setelah kebakaran), hingga datanglah orang-orang di musim haji dengan maksud melindungi penduduk Mekah dari serangan penduduk negeri Syam.

Ketika orang-orang berkumpul, Abdullah ibnuz Zubair berkata, “”Wahai manusia, kemukakanlah pendapat kalian kepadaku mengenai Ka’bah ini, apakah aku harus meruntuhkannya, kemudian membangun kembali; ataukah aku harus memperbaiki ba-gian dari Baitullah yang sudah seharusnya diperbaiki?”” Ibnu Abbas berkata, “”Sesungguhnya aku mempunyai pendapat yang berbeda mengenainya. Aku berpendapat sebaiknya engkau memperbaiki bagiannya yang harus diperbaiki, kemudian biarkanlah olehmu Baitullah dalam keadaan seperti semula ketika orang-orang mulai masuk Islam dan ketika orang-orang mengangkut batu-batu untuk membangunnya serta ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus.”” Ibnuz Zubair berkata, “”Seandainya salah seorang dari mereka mengalami kebakaran rumahnya, pasti dia tidak akan puas sebelum memperbaharuinya.

Maka terlebih lagi dengan Baitu Tuhan kalian? Sesungguhnya aku akan beristikharah kepada Tuhanku selama tiga malam, kemudian aku bertekad untuk melakukan urusanku.”” Setelah berlalu tiga malam, maka bulatlah tekad Ibnuz Zubair untuk membongkarnya (guna perbaikan), tetapi orang-orang tidak berani melakukannya karena takut bila nanti ada azab yang turun dari langit yang akan menimpa orang yang mula-mula melakukannya. Lalu ada seorang lelaki naik ke atas Ka’bah dan melemparkan batu-batunya (Ka’bah).

Ketika orang-orang melihatnya tidak apa-apa, maka mereka mengikuti jejaknya, lalu mereka membongkar Ka’bah hingga rata dengan tanah. Lalu Ibnuz Zubair membuat tiang-tiang, kemudian ditutup dengan kain hingga bangunan Ka’bah tinggi. Ibnuz Zubair berkata, ia pernah mendengar Siti Aisyah menceritakan hadits berikut dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah bersabda: Seandainya orang-orang bukan masih baru meninggalkan kekufuran, dan aku mempunyai biaya untuk memperbaikinya, niscaya aku akan memasukkan Hijir Ismail ke dalamnya sepanjang lima hasta, dan sungguh aku akan membuat satu pintu baginya untuk orang-orang yang masuk ke dalamnya dan satu pintu lagi untuk orang-orang yang keluar.

Ibnu Zubair mengatakan, “”Sekarang aku mempunyai biaya dan aku tidak takut kepada manusia.”” Maka Abdullah ibnuz Zubair melakukan perluasan sepanjang lima hasta dengan memasukkan sebagian dari Hijir Ismail ke dalamnya. Ketika fondasi mulai tampak baginya, orang-orang menyangkalnya, tetapi ia terus meninggikan bangunan di atas fondasi itu. Panjang Ka’bah seluruhnya adalah delapan belas hasta. Ketika Abdullah ibnuz Zubair melakukan pelebaran, biayanya kurang cukup, maka ia hanya menambahkan panjangnya sebanyak sepuluh hasta; dan ia membuat dua buah pintu, salah satunya untuk pintu masuk, sedangkan pintu lainnya untuk jalan keluar.

Ketika Ibnuz Zubair tewas, Al-Hajjaj mengirimkan surat kepada Abdul Malik untuk meminta izin kepadanya menyangkut kelangsungan pembangunan Ka’bah, dan ia memberitahukan bahwa Ibnuz Zubair telah membuat tembok di atas fondasi yang mendapat sanggahan dari orang-orang arif Mekah. Maka Abdul Malik membalas suratnya seraya mengatakan, “”Sesungguhnya kami tidak ikut campur dengan perombakan yang dilakukan oleh Ibnuz Zubair.

Mengenai tambahan panjangnya, aku menyetujuinya; tetapi apa yang ia tambabkan padanya dari sebagian Hijir Ismail, maka kembalikanlah kepada bangunan yang semula, kemudian tutuplah pintu yang dibukanya.”” Maka Al-Hajjaj merombak Ka’bah dan mengembalikannya kepada bangunan semula. Hal ini telah diriwayatkan oleh Imam An-Nasai di dalam kitab sunannya melalui Hannad, dari Yahya ibnu Abu Zaidah, dari Abdul Malik ibnu Abu Sulaiman, dari ‘Atha’, dari Ibnuz Zubair, dari Siti Aisyah dengan sanad yang marfu’ sampai kepadanya (Ibnuz Zubair), tetapi Imam An-Nasai tidak menyebutkan kisahnya.

Pada prinsipnya ketentuan sunnah menyetujui apa yang dilakukan oleh Abdullah Ibnuz Zubair karena hal itulah yang ingin dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seandainya saja beliau tidak khawatir akan menimbulkan rasa antipati di dalam hati sebagian orang-orang Mekah, mengingat mereka baru saja masuk Islam dan baru meninggalkan kekufuran. Akan tetapi, sunnah ini masih belum diketahui oleh Abdul Malik ibnu Marwan. Karena itu, ketika ia mengetahui bahwa Siti Aisyah memang benar telah meriwayatkannya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ia berkata, “”Alangkah senangnya kami seandainya kami biarkan apa yang telah dilakukannya (Ibnuz Zubair).”” Imam Muslim meriwayatkan, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Hatim, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Bakar, telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij, bahwa ia pernah mendengar dari Abdullah ibnu Ubaid ibnu Umair dan Al-Walid ibnu ‘Atha’; keduanya menceritakan hadits dari Al-Haris ibnu Abdullah ibnu Abu Rabi’ah, bahwa Abdullah ibnu Ubaid pernah menceritakan kisah berikut: Al-Haris ibnu Ubaidillah mengirimkan dutanya kepada Abdul Malik ibnu Marwan dalam masa pemerintahannya.

Maka Abdul Malik berkata, “”Aku tidak menduga Abu Habib yakni Ibnuz Zubair pernah mendengar dari Siti Aisyah hadits yang ia yakini menerimanya langsung dari Siti Aisyah.”” Al-Haris berkata, “”Memang benar, aku pun pernah mendengarnya dari Siti Aisyah.”” Abdul Malik bertanya, “”Apakah engkau pun pernah mendengar darinya? Coba ceritakan apa yang telah dia katakan!”” Al-Haris berkata, Siti Aisyah pernah bercerita kepadanya bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: Sesungguhnya kaummu mengurangi sebagian dari bangunan Baitullah. Seandainya bukan karena mereka baru meninggalkan kemusyrikan, niscaya aku akan mengembalikannya kepada bentuk semula yang mereka tinggalkan.

Dan jika kaummu kelak sesudahku berniat akan membangunnya kembali, maka kemarilah, akan aku tunjukkan kepadamu batas yang mereka tinggalkan darinya.”” Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memperlihatkan kepadanya kekurangan tersebut, yaitu kurang lebih tujuh hasta. ]. . (7) Ini adalah hadits yang diceritakan oleh Abdullah ibnu Ubaid ibnu Umair, dan Al-Walid ibnu ‘Atha’ menambahkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Dan sungguh aku akan membuat dua buah pintu padanya yang menempel di tanah, yaitu di sebelah timur dan sebelah barat. Tahukah kamu mengapa kaummu meninggikan pintunya? Siti Aisyah menjawab, “”Tidak.”” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “”Untuk mempersulit agar tiada yang memasukinya kecuali orang yang benar-benar menghendakinya. Apabila ada seorang lelaki yang hendak memasukinya, mereka membiarkannya sampai naik ke atas; dan apabila lelaki itu sudah masuk, maka mereka mendorongnya hingga ia terjatuh.”” Abdul Malik berkata, “”Aku bertanya kepada Al-Haris, ‘Apakah engkau pernah mendengar Siti Aisyah mengatakan hal ini’?”” Al-Haris menjawab, “”Ya.”” Maka Abdul Malik mengetuk-ngetukkan tongkatnya, sesaat kemudian ia berkata, “”Seandainya saja aku membiarkannya dan menuruti apa yang kamu hafalkan itu.”” Muslim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Amr ibnu Jabalah, telah menceritakan kepada kami Abu ‘Ashim, telah menceritakan kepada kami Abdu ibnu Humaid, dan telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq; kedua-duanya menceritakan hadits ini dari Ibnu Juraij dengan sanad ini semisal dengan hadits Abu Bakar.

Muslim mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Hatim, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Bakar As-Sahmi, telah menceritakan kepada kami Hatim ibnu Abu Sagirah, dari Abu Quza’ah: Ketika Abdul Malik ibnu Marwan sedang tawaf di Baitullah, tiba-tiba ia berkata, “”Semoga Allah melaknat Ibnuz Zubair. Dia berdusta terhadap Ummul Muminin (maksudnya Siti Aisyah) karena dia mengatakan bahwa dirinya pernah mendengar Siti Aisyah berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: ‘Wahai Aisyah, seandainya kaummu bukan masih baru meninggalkan kekufurannya, sungguh aku akan membongkar Ka’bah, lalu aku tambahkan kepadanya sebagian dari Hijir (Ismail). Karena sesungguhnya kaummu mengurangi bangunannya.

Maka Al-Haris ibnu Abdullah ibnu Abu Rabi’ah berkata, “”Jangan kamu katakan itu, wahai Amirul Muminin, karena sesungguhnya aku pernah mendengar Siti Aisyah berkata demikian.”” Abdul Malik ibnu Marwan berkata, “”Seandainya aku mendengarnya sebelum aku membongkar Ka’bah, niscaya aku akan membiarkannya seperti apa yang telah dibangun oleh Ibnuz Zubair.”” Hadits ini sudah dapat dipastikan benar-benar dari Siti Aisyah karena hadits ini diriwayatkan darinya melalui berbagai jalur periwayatan yang berpredikat shahih, yaitu dari Al-Aswad ibnu Yazid, Al-Haris ibnu Abdullah ibnu Abu Rabi’ah, Abdullah ibnuz Zubair, Abdullah ibnu Muhammad ibnu Abu Bakar, dan dari Urwah ibnuz Zubair.

Maka hal ini menunjukkan bahwa apa yang diperbuat oleh Ibnuz Zubair adalah benar; seandainya dibiarkan, maka hal tersebut memang baik. Tetapi setelah melihat perkembangannya sampai pada keadaan seperti itu, maka sebagian ulama memakruhkan mengubah Ka’bah dari keadaannya semula, seperti yang disebutkan di dalam riwayat dari Amirul Muminin Harun Ar-Rasyid atau ayahnya (yaitu Al-Mahdi). Disebutkan bahwa ia pernah bertanya kepada Imam Malik tentang merenovasi Ka’bah dengan tujuan mengembalikannya seperti apa yang telah dilakukan oleh Ibnuz Zubair.

Maka Imam Malik berkata kepadanya, “”Mengapa engkau ini, wahai Amirul Muminin. Janganlah engkau jadikan Ka’bah Allah seperti mainan para raja; bila seseorang dari mereka tidak menyukai bentuknya, lalu dengan seenaknya dia merenovasinya.”” Maka Ar-Rasyid membiarkannya dan tidak berani melakukannya. Riwayat ini dinukil oleh Iyad dan Imam Nawawi. Ka’bah akan tetap dalam keadaan seperti sekarang hingga akhir zaman nanti sampai datang suatu masa Ka’bah akan dirusak oleh orang-orang Habsyah yang berkaki pengkor, seperti yang disebutkan di dalam kitab Shahihain, dari sahabat Abu Hurairah , bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

Kelak Ka’bah akan dirusak oleh Zus Suwaiqalaini (orang-orang yang berkaki pengkor) dari kalangan orang-orang Habsyah. Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim mengetengahkan hadits ini. Dari Ibnu Abbas, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: Seakan-akan aku melihatnya berkulit hitam dan berkaki pengkor (berbentuk huruf o), ia membongkar Ka’bah batu demi batu. Hadits ini merupakan riwayat Imam Al-Bukhari. Imam Ahmad ibnu Hambal mengatakan di dalam kitab musnad-nya: telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Abdul Malik Al-Harrani, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Salamah, dari Ibnu Ishaq, dari Ibnu Abu Nujaih, dari Mujahid, dari Abdullah ibnu Amr ibnul As yang menceritakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Kelak Ka’bah akan dirusak oleh orang yang berkaki pengkor dari Habsyah; dia merampok perhiasannya dan melucuti kiswah (kain kelambu)nya.

Sekarang aku seakan-akan melihat dia berkepala botak dan betisnya melengkung, ia sedang memukuli Ka’bah dengan belincong dan linggis. Al-fada’ artinya lengkungan antara telapak kaki dan tulang betis. Hal ini hanya Allah Yang Maha Mengetahui terjadi setelah Ya-juj dan Ma-juj muncul, karena berdasarkan sebuah hadits di dalam kitab Shahih Al-Bukhari, dari Abu Sa’id Al-Khudri yang menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: Sesungguhnya Baitullah masih tetap didatangi oleh jamaah yang melakukan haji dan umrah sesudah munculnya Ya-juj dan Ma-juj. Firman Allah Subhanahu wa ta’ala yang menceritakan doa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan Nabi Ismail: Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau, dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami, dan terimalah tobat kami.

Sesungguhnya Engkaulah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang. (Al-Baqarah: 128) Menurut Ibnu Jarir, keduanya bermaksud, “”Jadikanlah kami orang yang tunduk kepada perintah-Mu dan patuh dalam ketaatan kepada-Mu. Dalam taat kami kepada-Mu, kami tidak akan mempersekutukan Engkau dengan seorang pun selain Engkau sendiri, dan tidak pula daam beribadah kepada-Mu mempersekutukan-Mu dengan seorang pun selain Engkau sendiri.”” Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Ismail, dari Raja’ ibnu Hibban Al-Husaini Al-Qurasyi, telah menceritakan kepada kami Ma’qal ibnu Abdullah, dari Abdul Karim sehubungan dengan takwil firman-Nya: Dan jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau, dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau. (Al-Baqarah: 128) Yakni jadikanlah kami orang yang ikhlas kepada Engkau, dan jadikanlah pula di antara anak cucu kami umat yang ikhlas kepada Engkau.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ali ibnul Husain, telah menceritakan kepada kami Al-Maqdami, telah menceritakan kepada kami Sa’id ibnu Amir, dari Salam ibnu Abu Muti’ sehubungan dengan takwil ayat ini: Jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau. (Al-Baqarah: 128) Dikatakan bahwa keduanya memang orang-orang yang tunduk dan patuh kepada Allah, tetapi keduanya memohon hal tersebut kepada Allah hanyalah semata-mata untuk memperteguh dan menguatkan.

Ikrimah mengatakan sehubungan dengan makna ayat ini: Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau. (Al-Baqarah: 128) Lalu Allah Subhanahu wa ta’ala menjawabnya, “”Aku kabulkan.”” Dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau. (Al-Baqarah: 128) Maka Allah Subhanahu wa ta’ala menjawabnya, “”Aku perkenankan permintaanmu.”” As-Suddi mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau. (Al-Baqarah: 128) Bahwa yang dimaksud oleh keduanya adalah orang-orang Arab. Tetapi menurut Ibnu Jarir, pendapat yang benar doa tersebut ditujukan kepada umum, mencakup orang-orang Arab dan bangsa lain, karena sesungguhnya di antara anak cucu Nabi Ibrahim adalah Bani Israil. Allah Subhanahu wa ta’ala telah berfirman: Dan di antara kaum Musa itu terdapat suatu umat yang memberi petunjuk (kepada manusia) dengan hak, dan dengan yang hak itulah mereka menjalankan keadilan. (Al-A’raf: 159) Menurut kami apa yang dikatakan oleh Ibnu Jarir tidaklah bertentangan dengan yang dikatakan oleh As-Suddi, mengingat apa yang dikatakan oleh As-Suddi merupakan takhsis dari apa yang dikatakan oleh Ibnu Jarir, dan bukan berarti meniadakan selain mereka.

Konteks ayat hanyalah berkaitan dengan bangsa Arab. Untuk itu disebutkan sesudahnya: Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab (Al-Qur’an) dan hikmah serta menyucikan mereka. (Al-Baqarah: 129), hingga akhir ayat. Yang dimaksud dengan rasul dalam ayat ini adalah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan Allah Subhanahu wa ta’ala mengutusnya buat mereka. Seperti yang disebutkan di dalam firman-Nya yang lain, yaitu: Dialah Yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang rasul di antara mereka. (Al-Jumu’ah: 2) Sekalipun demikian, bukan berarti risalah yang diemban olehnya hanya untuk orang-orang Arab saja, tetapi juga untuk kulit merah dan kulit hitam.

Sebagaimana yang disebutkan di dalam firman-Nya: Katakanlah, “”Wahai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian semua.”” (Al-A’raf: 158) Masih banyak ayat lainnya yang bermakna sama sebagai dalil pasti untuk pengertian ini. Doa ini dipanjatkan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan Nabi Ismail ‘alaihissalam, dipanjatkan pula oleh hamba-hamba Allah yang mukmin lagi bertakwa, seperti yang disebutkan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala melalui firman-Nya: Dan orang-orang yang berkata, “”Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. (Al-Furqah: 74) Memanjatkan doa seperti ini dianjurkan oleh syariat, karena sesungguhnya termasuk kesempurnaan cinta ibadah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala ialah memohon dikaruniai keturunan yang hanya menyembah Allah Subhanahu wa ta’ala semata, tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun.

Karena itu, ketika Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman kepada Ibrahim ‘alaihissalam: Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia. (Al-Baqarah: 124) Maka Nabi Ibrahim ‘alaihissalam mengajukan permohonannya, yang disitir oleh firman-Nya seperti berikut “”Dan (saya mohon juga) dari keturunanku.”” Allah berfirman, “”Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim.”” (Al-Baqarah: 124) Ayat ini semakna dengan apa yang disebutkan di dalam firman lain-nya, yaitu: Dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah berhala-berhala.. (Ibrahim: 35) Telah disebutkan di dalam kitab Shahih Muslim, dari Abu Hurairah , dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: Apabila anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah amal perbuatannya kecuali tiga perkara, yaitu sedekah jariyah, atau ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.

Firman Allah Subhanahu wa ta’ala: Dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami. (Al-Baqarah: 128) Menurut Ibnu Juraij, dari ‘Atha’, makna ayat ini ialah: “”Tunjukkanlah kepada kami hal tersebut agar kami mengetahuinya.”” Mujahid mengatakan sehubungan dengan takwil ayat ini, bahwa yang dimaksud dengan manasikana ialah tempat-tempat penyembelihan kurban kami. Hal yang semisal diriwayatkan pula dari ‘Atha’ dan Qatadah. Sa’id ibnu Mansur mengatakan, telah menceritakan kepada kami Attab ibnu Basyir, dari Khasif dan Mujahid yang mengatakan sehubungan dengan perkataan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam yang disitir oleh firman-Nya: Tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami. (Al-Baqarah: 128) Bahwa Malaikat Jibril datang dan membawanya ke Baitullah, lalu Jibril berkata, “”Tinggikanlah fondasi-fondasi ini.”” Maka Nabi Ibrahim meninggikan bangunan Ka’bah dan merampungkan pembangunannya, lalu Jibril menuntunnya dan membawanya ke Safa. Jibril berkata, “”Ini termasuk syiar-syiar Allah.”” Kemudian Jibril membawanya pergi ke Marwah dan berkata pula, “”Ini termasuk syiar-syiar Allah.”” Lalu Jibril membawanya pergi ke Mina.

Ketika sampai di Aqabah, tiba-tiba iblis berdiri di bawah sebuah pohon, maka Jibril berkata, “”Bertakbirlah dan lemparlah dia!”” Maka Ibrahim bertakbir dan melemparnya. Iblis pergi, lalu berdiri di bawah Jumrah Wusta. Ketika Jibril dan Ibrahim melewatinya, maka Jibril berkata, “”Bertakbirlah dan lemparlah dia!”” Lalu Ibrahim bertakbir dan melemparnya. Maka iblis yang jahat itu pun pergi; pada mulanya iblis yang jahat itu hendak memasukkan sesuatu ke dalam ibadah haji, tetapi dia tidak mampu.

Jibril membawa Ibrahim hingga sampai di Masy’aril Haram, lalu Jibril berkata, “”Ini adalah Masy’aril Haram.”” Kemudian Jibril membawanya lagi hingga sampai di Arafah. Jibril berkata, “”Sekarang kamu telah mengenal semua apa yang kuperlihatkan (kuperkenalkan) kepadamu,”” Kalimat ini dikatakannya sebanyak tiga kali. Ibrahim menjawab, “”Ya.”” Telah diriwayatkan dari Abul Mijlaz dan Qatadah hal yang semisal dengan riwayat di atas. Abu Dawud Ath-Thayalisi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Salamah, dari Abul ‘Ashim Al-Ganawi, dari Abut Tufail, dari Ibnu Abbas yang menceritakan, sesungguhnya Nabi Ibrahim itu ketika diperlihatkan kepadanya tanda-tanda dan tempat-tempat ibadah haji, setan menampakkan dirinya di tempat sa’i, tetapi kedahuluan oleh Nabi Ibrahim.

Kemudian Jibril membawa Ibrahim hingga sampai di Mina, lalu Jibril berkata, “”Ini adalah tempat menginap orang-orang.”” Ketika Jibril dan Ibrahim sampai di Jumrah Aqabah, maka setan menampakkan diri kepada Ibrahim, lalu Ibrahim melemparnya dengan tujuh buah batu kerikil hingga setan pergi. Lalu Jibril membawanya ke Jumrah Wusta, dan setan kembali menampakkan dirinya kepada Ibrahim, maka Ibrahim melemparnya dengan tujuh buah batu kerikil hingga pergi.

Kemudian Jibril membawa Ibrahim ke Jumrah Quswa, dan setan kembali menampakkan dirinya kepada Ibrahim, maka Ibrahim melemparnya dengan tujuh buah batu kerikil hingga lenyap. Kemudian Jibril membawanya ke Jam’an, lalu berkata kepadanya, “”Ini adalah Masy’ar.”” Setelah itu Jibril membawanya ke Arafah, lalu berkata kepadanya, “”Apakah engkau telah mengenalnya?”” #learnquran

Al Baqarah

Indeks Tema Al Baqarah

DAFTAR ISI

Hello. Add your message here.