alnita-006

Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 185

 Tafaqquh Video

Al-Baqarah: 185

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Terjemahan

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.

Tafsir (Ibnu Katsir)

Bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang ba-til). Karena itu, barang siapa di antara kalian hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu; dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkannya, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagi kalian, dan tidak menghendaki kesukaran bagi kalian.

Hendaklah kalian mencukupkan bilangannya dan hendaklah kalian mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepada kalian, supaya kalian bersyukur. Allah subhanahu wa ta’ala memuji bulan Ramadan di antara bulan-bulan lainnya, karena Dia telah memilihnya di antara semua bulan sebagai bulan yang padanya diturunkan Al-Qur’an yang agung. Sebagaimana Allah mengkhususkan bulan Ramadan sebagai bulan diturunkan-Nya Al-Qur’an, sesungguhnya telah disebutkan oleh hadits bahwa pada bulan Ramadan pula kitab Allah lainnya diturunkan kepada para nabi Sebelum Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam Imam Ahmad ibnu Hambal mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id maula Bani Hasyim, telah menceritakan kepada kami Imran Abul Awwam, dari Qatadah, dari Abul Falih, dari Wasilah (yakni Ibnul Asqa), bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: Lembaran-lembaran Nabi Ibrahim diturunkan pada permulaan malam Ramadan dan kitab Taurat diturunkan pada tanggal enam Ramadan, dan kitab Injil diturunkan pada tanggal tiga belas Ramadan, sedangkan Al-Qur’an diturunkan pada tanggal dua puluh empat Ramadan.

Telah diriwayatkan pula melalui hadits Jabir ibnu Abdullah yang di dalamnya disebutkan: Bahwa kitab Zabur diturunkan pada tanggal dua belas Ramadan, dan kitab Injil diturunkan pada tanggal delapan belasnya. Sedangkan kalimat selanjutnya sama dengan hadits di atas. Demikianlah menurut riwayat Ibnu Mardawaih. Adapun lembaran-lembaran atau suhuf, kitab Taurat, Zabur, dan Injil, masing-masing diturunkan kepada nabi yang bersangkutan secara sekaligus.

Lain halnya dengan Al-Qur’an, diturunkan sekaligus hanya dari Baitul ‘Izzah ke langit dunia; hal ini terjadi pada bulan Ramadan, yaitu di malam Lailatul Qadar. Seperti yang disebutkan oleh firman-Nya: Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam penuh kemuliaan. (Al-Qadar: 1) Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkati. (Ad-Dukhan: 3) Setelah itu Al-Qur’an diturunkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam secara bertahap sesuai dengan kejadian-kejadiannya. Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan bukan hanya oleh seorang perawi saja, dari Ibnu Abbas. Seperti yang diriwayatkan oleh Israil, dari As-Suddi, dari Muhammad ibnu Abul Mujalid, dari Miqsam, dari Ibnu Abbas.

Disebutkan bahwa Atiyyah ibnul Aswad pernah berkata kepada Ibnu Abbas bahwa di dalam hatinya terdapat keraguan mengenai firman-Nya: Bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an. (Al-Baqarah: 185); Firman-Nya: Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Qur’an) pada suatu malam yang diberkahi. (Ad-Dukhan: 3); Serta firman-Nya: Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam penuh kemuliaan. (Al-Qadar. 1) Sedangkan Al-Qur’an ada yang diturunkan pada bulan Syawal, ada yang dalam bulan Zul-Qa’dah, ada yang dalam bulan Zul-Hijjah, ada yang dalam bulan Muharram, ada yang dalam bulan Safar, ada pula yang diturunkan dalam bulan Rabi’.

Maka Ibnu Abbas menjawab, “”Sesungguhnya Al-Qur’an diturunkan dalam bulan Ramadan, yaitu dalam malam yang penuh dengan kemuliaan (Lailatul Qadar), dan dalam malam yang penuh dengan keberkahan secara sekaligus, kemudian diturunkan lagi sesuai dengan kejadian-kejadiannya secara berangsur-angsur dalam bulan dan hari yang berbeda-beda.”” Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim dan Ibnu Mardawaih. Sedangkan di dalam riwayat Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas, disebutkan bahwa Ibnu Abbas mengatakan, “”Al-Qur’an diturunkan pada pertengahan bulan Ramadan ke langit dunia dari tempat asalnya, yaitu Baitul ‘Izzah.

Kemudian diturunkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selama dua puluh tahun untuk menjawab perkataan manusia.”” Di dalam riwayat Ikrimah, dari Ibnu Abbas, disebutkan bahwa Al-Qur’an diturunkan pada bulan Ramadan (yaitu di malam Lailatul Qadar) ke langit dunia secara sekaligus. Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala berfirman kepada Nabi-Nya menurut apa yang dikehendaki-Nya, dan tidak sekali-kali orang-orang musyrik mendatangkan suatu perumpamaan untuk mendebat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melainkan Allah subhanahu wa ta’ala mendatangkan jawabannya. Yang demikian itulah pengertian firman-Nya: Berkatalah orang-orang yang kafir, “”Mengapa Al-Qur’an ini tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?”” Demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacakannya kelompok demi kelompok. Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya. (Al-Furqan: 32-33) Adapun firman Allah subhanahu wa ta’ala: sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). (Al-Baqarah: 185) Hal ini merupakan pujian bagi Al-Qur’an yang diturunkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala sebagai petunjuk buat hati hamba-hamba-Nya yang beriman kepada Al-Qur’an, membenarkannya, dan mengikutinya.

Bayyinatin, petunjuk-petunjuk dan hujah-hujah yang jelas lagi gamblang dan terang bagi orang yang memahami dan memikirkannya, membuktikan kebenaran apa yang dibawanya berupa hidayah yang menentang kesesatan, petunjuk yang berbeda dengan jalan yang keliru, dan pembeda antara perkara yang hak dan yang batil serta ha-lal dan haram. Telah diriwayatkan dari salah seorang ulama Salaf bahwa ia tidak suka mengatakan bulan puasa dengan sebutan Ramadan saja, melainkan bulan Ramadan.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Bakkar ibnur Rayyan, telah menceritakan kepada kami Abu Ma’syar, dari Muhammad ibnu Ka’b Al-Qurazi dan Sa’id (yakni Al-Maqbari), dari Abu Hurairah , ia pernah mengatakan, “”Janganlah kalian katakan Ramadan, karena sesungguhnya Ramadan itu merupakan salah satu dari asma Allah subhanahu wa ta’ala Tetapi katakanlah bulan Ramadan.”” Ibnu Abu Hatim mengatakan pula, telah diriwayatkan juga dari Mujahid dan Muhammad ibnu Ka’b hal yang semisal dengan atsar di atas.

Akan tetapi, Ibnu Abbas dan Zaid ibnu Sabit membolehkan sebutan tersebut. Menurut kami, Abu Ma’syar adalah Najih ibnu Abdur Rahman Al-Madani, seorang imam ahli dalam Bab “”Magazi dan Sirah””, tetapi dha’if (dalam periwayatan hadits); anak lelakinya yang bernama Muhammad mengambil riwayat hadits darinya. Dialah yang me-rafa’-kan hadits ini sampai kepada Abu Hurairah. Periwayatan hadisnya ditolak oleh Al-Hafidzh Ibnu Addi, dan ia memang berhak untuk ditolak karena predikatnya matruk; sesungguhnya dia hanya menduga-duga saja akan predikat marfu’ hadits ini.

Tetapi Imam Al-Bukhari di dalam kitab-nya mendukung Abu Ma’syar, untuk itu ia mengatakan dalam kitabnya bahwa ini adalah bab mengenai sebutan Ramadan, lalu ia mengetengahkan hadits-hadits yang menyangkut hal tersebut, antara lain ialah hadits yang mengatakan: Barang siapa yang puasa Ramadan karena iman dan mengharapkan rida Allah, niscaya diampuni baginya semua dosanya yang terdahulu. Dan hadits-hadits lainnya yang semisal.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala: Karena itu, barang siapa di antara kalian hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu. (Al-Baqarah: 185) Hukum wajib ini merupakan suatu keharusan bagi orang yang menyaksikan hilal masuk bulan Ramadan, yakni dia dalam keadaan mukim di negerinya ketika bulan Ramadan datang, sedangkan tubuhnya dalam keadaan sehat, maka dia harus mengerjakan puasa. Ayat ini me-nasakh ayat yang membolehkan tidak berpuasa bagi orang yang sehat lagi mukim, tetapi hanya membayar fidyah, memberi makan seorang miskin untuk setiap harinya, seperti yang telah diterangkan sebelumnya.

Setelah masalah puasa dituntaskan ketetapannya, maka disebutkan kembali keringanan bagi orang yang sakit dan orang yang bepergian. Keduanya boleh berbuka, tetapi dengan syarat kelak harus mengqadainya. Untuk itu Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. (Al-Baqarah: 185) Maknanya, barang siapa yang sedang sakit hingga puasa memberatkannya atau membahayakannya, atau ia sedang dalam perjalanan, maka dia boleh berbuka. Apabila berbuka, maka ia harus berpuasa sebanyak hari yang ditinggalkannya di hari-hari yang lain (di luar Ramadan).

Karena itu, dalam firman selanjutnya disebutkan: Allah menghendaki kemudahan bagi kalian, dan tidak menghendaki kesukaran bagi kalian. (Al-Baqarah: 185) Dengan kata lain, sesungguhnya diberikan keringanan ini bagi kalian hanya dalam keadaan kalian sedang sakit atau dalam perjalanan, teta-pi puasa merupakan suatu keharusan bagi orang yang mukim lagi se-hat. Hal ini tiada lain hanyalah untuk mempermudah dan memperi-ngan kalian sebagai rahmat dari Allah subhanahu wa ta’ala buat kalian. Beberapa masalah yang berkaitan dengan ayat ini Pertama: Segolongan ulama Salaf berpendapat bahwa orang yang sejak permulaan Ramadan masuk masih dalam keadaan mukim, kemudian di tengah bulan Ramadan ia mengadakan perjalanan (bepergian), maka tidak diperbolehkan baginya berbuka karena alasan bepergian selama ia berada dalam perjalanannya, karena firman Allah subhanahu wa ta’ala: Karena itu, barang siapa di antara kalian hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu. (Al-Baqarah: 185) Sesungguhnya berbuka itu hanya diperbolehkan bagi orang yang melakukan perjalanannya sebelum bulan Ramadan masuk, sedangkan dia telah berada dalam perjalanannya.

Tetapi pendapat ini aneh, dinukil oleh Abu Muhammad ibnu Hazm di dalam kitabnya yang berjudul Al-Mahalli, dari sejumlah sahabat dan tabi’in. Hanya riwayat yang dikemukakannya dari mereka masih perlu dipertimbangkan kebenarannya, karena sesungguhnya telah ditetapkan di dalam sunnah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau pernah melakukan suatu perjalanan di dalam bulan Ramadan untuk melakukan Perang Fatah (penaklukan kota Mekah). Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berjalan bersama pasukannya sampai di Kadid. Ketika di Kadid, beliau berbuka dan memerintahkan kepada orang-orang untuk berbuka mengikuti jejaknya. Demikianlah menurut apa yang diketengahkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim.

Kedua: Segolongan sahabat dan tabi’in lainnya berpendapat, wajib berbuka dalam perjalanan karena berdasarkan firman-Nya: maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. (Al-Baqarah: 185) Akan tetapi, pendapat yang benar ialah yang dikatakan oleh jumhur sahabat dan tabi’in, yaitu bahwa masalah berbuka dalam perjalanan ini berdasarkan takhyir (boleh memilih) dan bukan suatu keharusan. Karena mereka berangkat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam bulan Ramadan, lalu menurut salah seorang di antara mereka yang terlibat, “”Di antara kami ada orang yang tetap berpuasa dan di antara kami ada pula yang berbuka.

Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mencela orang yang tetap berpuasa dan tidak pula terhadap orang yang berbuka. Seandainya berbuka merupakan suatu keharusan, niscaya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mencela orang-orang yang berpuasa di antara kami. Bahkan telah dibuktikan pula dari perbuatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri bahwa beliau pernah dalam keadaan demikian (berada dalam suatu perjalanan), tetapi beliau tetap berpuasa.”” Seperti yang disebutkan di dalam kitab Shahihain, dari Abu Darda yang menceritakan: Kami berangkat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam bulan Ramadan, cuaca saat itu sangat panas hingga seseorang di antara kami ada yang meletakkan tangannya di atas kepalanya karena teriknya panas matahari, dan tiada seorang pun di antara kami yang tetap berpuasa selain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri dan Abdullah ibnu Rawwahah. Ketiga: Segolongan ulama yang antara lain ialah Imam Syafii mengatakan bahwa puasa dalam perjalanan lebih utama daripada berbuka karena berdasarkan perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, seperti yang disebutkan di atas tadi.

Segolongan ulama lainnya mengatakan, bahkan berbuka lebih baik daripada berpuasa karena berpegang kepada rukhsah (keringanan), juga karena ada sebuah hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menceritakan bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya mengenai puasa dalam perjalanan. Maka beliau menjawab: Barang siapa yang berbuka, maka hal itu baik; dan barang siapa yang tetap berpuasa, maka tiada dosa atasnya. Di dalam hadits yang lain disebutkan: Ambillah oleh kalian rukhsah (keringanan) Allah yang diberikan-Nya kepada kalian. Segolongan ulama yang lainnya lagi mengatakan bahwa keduanya (berbuka dan puasa dalam perjalanan) sama saja, karena berdasarkan hadits Siti Aisyah yang mengatakan bahwa Hamzah ibnu Amr Al-Aslami pernah bertanya, “”Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku adalah orang yang sering berpuasa, maka bolehkah aku berpuasa dalam perjalanan?”” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: Jika kamu menginginkan puasa, berpuasalah.

Dan jika kamu menginginkan berbuka, berbukalah. Hadits ini terdapat di dalam kitab Shahihain. Menurut pendapat yang lain, apabila puasa memberatkannya, maka berbuka adalah lebih utama, berdasarkan kepada hadits Jabir yang mengatakan: Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melihat seorang lelaki yang dinaungi (dikerumuni oleh orang banyak), maka beliau bertanya, “”Ada apa?”” Mereka menjawab, “”Orang yang berpuasa.”” Maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “”Bukanlah merupakan suatu kebaktian melakukan puasa dalam perjalanan.”” (Hadits diketengahkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim) Jika orang yang bersangkutan tidak menyukai sunnah dan ia tidak suka berbuka, maka merupakan suatu ketentuan baginya berbuka, dan haram baginya melakukan puasa bila ia dalam perjalanan.

Hal ini berdasarkan sebuah hadits di dalam kitab Musnad Imam Ahmad dan lain-lainnya, dari Ibnu Umar dan Jabir serta selain keduanya yang mengatakan: Barang siapa yang tidak mau menerima keringanan Allah, maka atas dirinya dibebankan dosa yang besarnya semisal dengan Bukit Arafah. Keempat: Mengenai masalah qada, apakah wajib berturut-turut atau boleh terpisah-pisah? Ada dua pendapat mengenai masalah ini.

Pendapat pertama mengatakan wajib berturut-turut, karena qada merupakan pengulangan dari ada’an. Menurut pendapat kedua, tidak wajib berturut-turut. Jika orang yang bersangkutan ingin memisah-misahkannya, maka ia boleh memisah-misahkannya. Jika ingin berturut-turut, ia boleh berturut-turut dalam mengerjakannya. Demikianlah menurut pendapat jumhur ulama Salaf dan Khalaf dan didukung oleh dalil-dalil yang kuat karena berturut-turut itu hanyalah diwajibkan dalam bulan Ramadan, mengingat puasa harus dilakukan dalam bulan itu secara tuntas.

Bila bulan Ramadan telah lewat, maka makna yang dimaksud hanyalah wajib membayar hari-hari yang ditinggalkannya saja, tanpa ikatan harus berturut-turut. Karena itulah disebutkan di dalam firman-Nya: maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. (Al-Baqarah 185) Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: Allah menghendaki kemudahan bagi kalian, dan tidak menghendaki kesukaran bagi kalian. (Al-Baqarah: 185) Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Salamah Al-Khuza’i, telah menceritakan kepada kami Abu Hilal, dari Humaid ibnu Hilal Al-Adawi, dari Abu Qatadah, dari Al-A’rabi yang mendengarnya langsung dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: Sesungguhnya sebaik-baik (peraturan) agama kalian ialah yang paling mudah, sesungguhnya sebaik-baik (peraturan) agama kalian ialah yang paling mudah.

Imam Ahmad mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Yazid ibnu Harun, telah menceritakan kepada kami ‘Ashim ibnu Hilal, telah menceritakan kepada kami Amir ibnu Urwah Al-Faqimi, telah menceritakan kepadaku Abu Urwah yang menceritakan: Ketika kami sedang menunggu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka keluarlah beliau dengan kepala yang masih meneteskan air karena habis wudu atau mandi, lalu beliau shalat.

Setelah beliau selesai dari shalat-nya, maka orang-orang bertanya kepadanya, “”Apakah kami berdosa jika melakukan demikian?”” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “”Sesungguhnya agama Allah itu berada dalam kemudahan.”” Beliau mengucapkannya sebanyak tiga kali. Imam Abu Bakar ibnu Mardawaih meriwayatkannya pula dalam tafsir ayat ini melalui hadits Muslim ibnu Abu Tamim, dari ‘Ashim ibnu Hilal dengan lafal yang sama. Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ja’far, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, telah menceritakan kepada kami Abut Tayyah; ia pernah mendengar sahabat Anas mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: Mudahkanlah dan janganlah kalian mempersulit, serta bersikap simpatilah kalian dan janganlah kalian bersikap tidak disenangi.

Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim mengetengahkannya di dalam kitab Shahih masing-masing. Di dalam kitab Shahihain disebutkan pula bahwa ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus sahabat Mu’az ibnu Jabal dan Abu Musa ke negeri Yaman, beliau bersabda kepada keduanya: Sampaikanlah berita gembira (kepada mereka) dan janganlah kamu berdua bersikap yang membuat mereka antipati kepadamu; permudahkanlah oleh kamu dan janganlah kamu berdua mempersulit; dan saling bantulah kamu berdua dan jangan sampai kamu berdua berselisih pendapat. Di dalam kitab Sunan dan kitab Masanid disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: Aku diutus membawa agama yang cenderung kepada perkara yang hak dan penuh dengan toleransi.

Al-Hafidzh Abu Bakar ibnu Mardawaih di dalam kitab tafsirnya mengatakan: telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Ishaq ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Abu Talib, telah menceritakan kepada kami Abdul Wahhab ibnu ‘Atha’, telah menceritakan kepada kami Abu Mas’ud Al-Hariri, dari Abdullah ibnu Syaqiq, dari Mihjan ibnul Adra’ yang menceritakan: Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat seorang lelaki yang sedang shalat, lalu beliau menatapnya dengan pandangan mata yang tajam selama sesaat, kemudian bersabda, “”Bagaimanakah menurutmu, apakah lelaki ini shalat dengan sebenarnya?”” Perawi berkata, “”Aku menjawab, “”Wahai Rasulullah, orang ini adalah penduduk Madinah yang paling banyak mengerjakan shalat’.”” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “”Janganlah kamu memperdengarkan jawabanmu kepadanya, karena akan membinasakannya (membuatnya bangga dan riya)!”” Dan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “”Sesungguhnya Allah hanya menghendaki kemudahan belaka bagi umat ini, dan Dia tidak menghendaki mereka kesulitan.”” Firman Allah Swt: Allah menghendaki kemudahan bagi kalian, dan tidak menghendaki kesulitan bagi kalian.

Dan hendaklah kalian mencukupkan bilangannya. (Al-Baqarah: 185) Yakni sesungguhnya Aku memberikan keringanan kepada kalian boleh berbuka bagi orang yang sakit dan yang sedang dalam perjalanan serta uzur lainnya, tiada lain karena Aku menghendaki kemudahan bagi kalian. Dan sesungguhnya Aku memerintahkan kalian untuk mengqadainya agar kalian menyempurnakan bilangan bulan Ramadan kalian. Firman Allah subhanahu wa ta’ala: dan hendaklah kalian mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya. (Al-Baqarah: 185) Yakni agar kalian ingat kepada Allah di saat ibadah kalian selesai.

Seperti pengertian yang terkandung di dalam ayat lainnya, yaitu firman-Nya: Apabila kalian telah menyelesaikan ibadah haji kalian, maka berzikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kalian menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyang kalian, atau (bahkan) berzikirlah lebih banyak dari itu. (Al-Baqarah: 200) Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kalian di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kalian beruntung. (Al-Jumu’ah: 10) Dan firman Allah subhanahu wa ta’ala: Dan bertasbihlah sambil memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam(nya).

Dan bertasbihlah kamu kepada-Nya di malam hari dan setiap selesai shalat. (Qaf: 39-40) Karena itulah maka disebutkan di dalam sunnah bahwa disunatkan membaca tasbih, tahmid, dan takbir setiap sesudah mengerjakan shalat lima waktu. Sahabat Ibnu Abbas mengatakan, “”Kami tidak mengetahui selesainya shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melainkan melalui takbirnya.”” Karena itulah banyak kalangan ulama yang mengatakan bahwa membaca takbir disyariatkan dalam Hari Raya Idul Fitri atas dasar firman-Nya: Dan hendaklah kalian mencukupkan bilangannya dan hendaklah kalian mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan-Nya kepada kalian. (Al-Baqarah: 185) Hingga Daud ibnu Ali Al-Asbahani Az-Zahiri berpendapat wajib membaca takbir dalam Hari Raya Idul Fitri berdasarkan makna lahiriah perintah yang terkandung di dalam firman-Nya: dan hendaklah kalian mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepada kalian. (Al-Baqarah: 185) Lain halnya dengan mazhab Imam Abu Hanifah, ia berpendapat bahwa membaca takbir dalam Hari Raya Fitri tidak disyariatkan.

Sedangkan Imam lainnya mengatakan sunat, tetapi masih ada perbedaan pendapat di kalangan mereka dalam sebagian cabang-cabangnya. Firman Allah subhanahu wa ta’ala: Supaya kalian bersyukur. (Al-Baqarah: 185) Artinya, apabila kalian mengerjakan apa yang diperintahkan oleh Allah kepada kalian (yakni taat kepada-Nya dan mengerjakan semua yang difardukan-Nya dan meninggalkan semua apa yang diharamkan-Nya serta memelihara batasan-batasan-Nya), barangkali kalian akan menjadi orang-orang yang bersyukur kepada-Nya karena mengerjakan hal tersebut. #learnquran

Al Baqarah :: Indeks Tema Al Baqarah :: Daftar Surat :: Ibnu Katsir

Ayo bagikan sebagai sedekah…  

Hello. Add your message here.