Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 187

Al-Baqarah: 187

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَأَنتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنتُمْ تَخْتَانُونَ أَنفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنكُمْ فَالْآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

Terjemahan

Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.

Tafsir (Ibnu Katsir)

Dihalalkan bagi kalian pada malam hari puasa bercampur dengan istri-istri kalian; mereka itu adalah pakaian bagi kalian, dan kalian pun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kalian tidak dapat menahan nafsu kalian, karena itu Allah mengampuni kalian dan memberi maaf kepada kalian. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untuk kalian, dan makan minumlah hingga jelas bagi kalian benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.

Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam, (tetapi) janganlah kalian campuri mereka itu, sedang kalian ber-i’tikaf dalam masjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kalian mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa. Hal ini merupakan suatu keringanan dari Allah buat kaum muslim, dan Allah menghapuskan apa yang berlaku di masa permulaan Islam. Karena sesungguhnya pada permulaan Islam, apabila salah seorang di antara mereka berbuka, ia hanya dihalalkan makan dan minum serta bersetubuh sampai shalat Isya saja.

Tetapi bila ia tidur sebelum itu atau telah shalat Isya, maka diharamkan baginya makan, minum, dan bersetubuh sampai malam berikutnya. Maka dengan peraturan ini mereka mengalami masyaqat yang besar. Ar-Rafas, dalam ayat ini artinya bersetubuh. Demikianlah menurut Ibnu Abbas, ‘Atha’, Mujahid, Sa’id ibnu Jubair, Tawus, Salim ibnu Abdullah, Amr ibnu Dinar, Al-Hasan, Qatadah, Az-Zuhri, Adh-Dhahhak, Ibrahim An-Nakha’i, As-Suddi, ‘Atha’ Al-Khurrasani, dan Muqatil ibnu Hayyan.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala: Mereka adalah pakaian bagi kalian, dan kalian pun adalah pakaian bagi mereka. (Al-Baqarah: 187) Menurut Ibnu Abbas, Mujahid, Sa’id ibnu Jubair, Al-Hasan, Qatadah, As-Suddi, dan Muqatil ibnu Hayyan, makna yang dimaksud ialah ‘mereka adalah ketenangan bagi kalian, dan kalian pun adalah ketenangan bagi mereka’. Menurut Ar-Rabi’ ibnu Anas, maksud ayat ialah ‘mereka adalah selimut bagi kalian dan kalian pun adalah selimut bagi mereka’.

Pada kesimpulannya suami dan istri, masing-masing dari keduanya bercampur dengan yang lain dan saling pegang serta tidur-meniduri, maka amatlah sesuai bila diringankan bagi mereka boleh bersetubuh dalam malam Ramadan, agar tidak memberatkan mereka dan menjadikan mereka berdosa. Seorang penyair mengatakan: Bilamana teman tidur melipatkan lehernya, berarti dia mengajak, maka jadilah dia seperti pakaiannya. Latar belakang turunnya ayat ini telah disebutkan di dalam hadits Mu’az yang panjang yang telah disebutkan sebelumnya.

Abu Ishaq meriwayatkan dari Al-Barra ibnu Azib, tersebutlah sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bila seseorang dari mereka puasa, lalu ia tidur sebelum berbuka, maka ia tidak boleh makan sampai keesokan malamnya di waktu yang sama. Sesungguhnya Qais ibnu Sirman dari kalangan Anshar sedang melaksanakan puasa. Pada siang harinya ia bekerja di lahannya. Ketika waktu berbuka telah tiba, ia datang kepada istrinya dan mengatakan, “”Apakah kamu mempunyai makanan?”” Si istri menjawab, “”Tidak, tetapi aku akan pergi dahulu untuk mencarikannya buatmu.”” Ternyata Qais sangat lelah hingga ia tertidur.

Ketika istrinya datang, si istri melihatnya telah tidur; maka ia berkata, “”Alangkah kecewanya engkau, ternyata engkau tertidur.”” Ketika keesokan harinya, tepat di siang hari Qais pingsan, lalu hal itu diceritakan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Kemudian turunlah ayat ini, yaitu: Dihalalkan bagi kalian pada malam hari puasa bercampur dengan istri-istri kalian, sampai dengan firman-Nya dan makan minumlah hingga jelas bagi kalian benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. (Al-Baqarah: 187) Maka mereka amat gembira dengan turunnya ayat ini.

Lafal hadits Imam Al-Bukhari dalam bab ini diketengahkan melalui Abu Ishaq, dari Al-Barra yang menceritakan bahwa ketika ayat puasa bulan Ramadan diturunkan, mereka tidak menggauli istri-istri mereka sepanjang bulan Ramadan, dan kaum laki-laki berkhianat terhadap dirinya sendiri. Maka Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan firman-Nya: Allah mengetahui bahwasanya kalian tidak dapat menahan nafsu kalian, karena itu Allah mengampuni kalian dan memberi maaf kepada kalian. (Al-Baqarah: 187) Ali ibnu Abu Talhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas yang menceritakan bahwa kaum muslim pada mulanya dalam bulan Ramadan bilamana mereka telah shalat Isya, maka diharamkan atas mereka wanita dan makanan sampai dengan waktu yang semisal pada keesokan malamnya.

Kemudian ada segolongan kaum muslim yang menggauli istri-istri mereka dan makan sesudah shalat Isya dalam bulan Ramadan, di antaranya ialah Umar ibnul Khattab. Maka mereka mengadukan hal tersebut kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Lalu Allah menurunkan firman-Nya: Allah mengetahui bahwasanya kalian tidak dapat menahan nafsu kalian, karena itu Allah mengampuni kalian dan memberi maaf kepada kalian. Maka sekarang campurilah mereka. (Al-Baqarah: 187), hingga akhir ayat. Hal yang sama diriwayatkan pula oleh Al-Aufi, dari Ibnu Abbas. Musa ibnu Uqbah telah meriwayatkan dari Kuraib, dari Ibnu Abbas yang menceritakan bahwa sesungguhnya orang-orang itu sebelum diturunkan perintah puasa seperti apa yang telah diturunkan kepada mereka sekarang, mereka masih tetap boleh makan dan minum serta dihalalkan bagi mereka menggauli istri-istrinya.

Tetapi apabila seseorang di antara mereka tidur, maka ia tidak boleh makan dan minum serta tidak boleh menyetubuhi istrinya hingga tiba saat berbuka pada keesokan malamnya. Kemudian sampailah suatu berita kepada kami bahwa Umar ibnul Khattab sesudah dia tidur dan wajib baginya melakukan puasa, maka ia (bangun) dan menyetubuhi istrinya. Kemudian ia datang menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “”Aku mengadu kepada Allah dan juga kepadamu atas apa yang telah aku perbuat.”” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “”Apakah yang telah kamu lakukan?”” Umar menjawab, “”Sesungguhnya hawa nafsuku telah menggoda diriku, akhirnya aku menyetubuhi istriku sesudah aku tidur, sedangkan aku berkeinginan untuk puasa.”” Maka mereka (para sahabat) menduga bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pasti menegurnya dan mengatakan kepadanya, “”Tidaklah pantas kamu lakukan hal itu.”” Maka turunlah firman-Nya yang mengatakan: Dihalalkan bagi kalian pada malam hari puasa bercampur dengan istri-istri kalian. (Al-Baqarah: 187) Sa’id ibnu Abu Arubah meriwayatkan dari Qais ibnu Sa’d, dari ‘Atha’ ibnu Abu Rabah, dari Abu Hurairah sehubungan dengan takwil firman-Nya: Dihalalkan bagi kalian pada malam hari puasa bercampur dengan istri-istri kalian sampai dengan firman-Nya kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam. (Al-Baqarah: 187) Bahwa kaum muslim sebelum ayat ini diturunkan, apabila mereka telah shalat Isya, diharamkan atas mereka makan, minum, dan wanita hingga mereka berbuka lagi di malam berikutnya.

Sesungguhnya Umar ibnul Khattab menyetubuhi istrinya sesudah shalat Isya. Sedangkan Sirmah ibnu Qais Al-Ansari tertidur sesudah shalat Magrib; dia belum makan apa pun, dan ia masih belum bangun kecuali setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat Isya; maka ia bangun, lalu makan dan minum. Kemudian pada pagi harinya ia datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menceritakan hal tersebut kepadanya. Maka Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan firman-Nya berkenaan dengan peristiwa itu, yakni: Dihalalkan bagi kalian pada malam hari puasa bercampur dengan istri-istri kalian. (Al-Baqarah: 187) Yang dimaksud dengan rafas ialah bersetubuh dengan istri. mereka itu adalah pakaian bagi kalian, dan kalian pun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kalian tidak dapat menahan nafsu kalian. (Al-Baqarah: 187) Yakni kalian menyetubuhi istri-istri kalian dan kalian makan serta minum sesudah Isya.

karena itu Allah mengampuni kalian dan memberi maaf kepada kalian. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untuk kalian. (Al-Baqarah: 187) Maksudnya, campurilah istri-istri kalian dan ikutilah apa yang telah ditetapkan oleh Allah buat kalian, yakni memperoleh anak. dan makan minumlah hingga jelas bagi kalian benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam. (Al-Baqarah: 187) Maka hal ini merupakan keringanan dan rahmat dari Allah.

Hisyam meriwayatkan dari Husain ibnu Abdur Rahman, dari Abdur Rahman ibnu Abu Laila yang menceritakan bahwa sahabat Umar ibnul Khattab pernah bertanya, “”Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku tadi malam menginginkan istriku sebagaimana layaknya seorang lelaki mengingini istrinya. Tetapi ia menjawab bahwa dirinya telah tidur sebelum itu, hanya aku menduga dia sedang sakit. Akhirnya aku setubuhi dia.”” Maka berkenaan dengan Umar turunlah ayat berikut, yakni firman-Nya: Dihalalkan bagi kalian pada malam hari puasa bercampur dengan istri-istri kalian. (Al-Baqarah: 187) Hal yang sama diriwayatkan pula oleh Syu’bah, dari Amr ibnu Murrah, dari Ibnu Abu Laila dengan lafal yang sama.

Abu Ja’far ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Al-Musanna, telah menceritakan kepada kami Suwaid, telah menceritakan kepada kami Ibnul Mubarak, dari Abu Luhai’ah, telah menceritakan kepadaku Musa ibnu Jubair maula Bani Salamah, bahwa ia pernah mendengar Abdullah ibnu Ka’b ibnu Malik menceritakan sebuah hadits kepadanya dari ayahnya, bahwa orang-orang dalam bulan Ramadan, bila seorang lelaki di antara mereka puasa dan pada petang harinya dia tertidur, maka diharamkan atasnya makan, minum, dan menggauli istri hingga saat berbuka pada besok malamnya.

Di suatu malam Umar ibnul Khattab pulang ke rumahnya dari rumah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang saat itu begadang di rumah beliau. Lalu Umar menjumpai istrinya telah tidur, dan ia menginginkannya. Tetapi istrinya menjawab, “”Aku telah tidur.”” Maka Umar menjawab, “”Kamu belum tidur,”” lalu ia langsung menyetubuhinya. Ka’b ibnu Malik melakukan hal yang sama pula. Pada pagi harinya Umar berangkat ke rumah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menceritakan hal tersebut kepadanya. Kemudian turunlah firman-Nya: Allah mengetahui bahwasanya kalian tidak dapat menahan nafsu kalian, karena itu Allah mengampuni kalian dan memberi maaf kepada kalian. Maka sekarang campurilah mereka. (Al-Baqarah: 187), hingga akhir ayat. Hal yang sama diriwayatkan pula dari Mujahid, ‘Atha’, Ikrimah, Qatadah, dan lain-lainnya dalam asbabun nuzul ayat ini.

Yaitu berkenaan dengan perbuatan Umar ibnul Khattab dan orang-orang yang melakukan seperti apa yang diperbuatnya, juga berkenaan dengan Sirmah ibnu Qais. Maka diperbolehkanlah bersetubuh, makan, dan minum dalam semua malam Ramadan sebagai rahmat dan keringanan serta belas kasihan dari Allah. Firman Allah subhanahu wa ta’ala: dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untuk kalian. (Al-Baqarah: 187) Menurut Abu Hurairah, Ibnu Abbas, Anas, Syuraih Al-Qadi, Mujahid, Ikrimah, Sa’id ibnu Jubair, ‘Atha’, Ar-Rabi’ ibnu Anas, As-Suddi, Zaid ibnu Aslam, Al-Hakam ibnu Utbah, Muqatil ibnu Hayyan, Al-Hasan Al-Basri, Adh-Dhahhak, Qatadah, dan lain-lainnya, makna yang dimaksud ialah anak.

Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam mengatakan sehubungan dengan takwil firman-Nya: Dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untuk kalian. (Al-Baqarah: 187) Makna yang dimaksud ialah jimak (persetubuhan). Amr ibnu Malik Al-Bakri telah mengatakan dari Abul Jauza, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan takwil ayat ini: dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untuk kalian. (Al-Baqarah: 187) Makna yang dimaksud ialah lailatul qadar (malam yang penuh dengan kemuliaan). Demikianlah menurut riwayat Ibnu Abu Hatim dan Ibnu Jarir.

Abdur Razzaq mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Ma’mar, bahwa Qatadah pernah mengatakan, “”Ikutilah oleh kalian keringanan yang telah ditetapkan oleh Allah buat kalian ini!”” Yakni atas dasar bacaan ma ahallallahu lakum (bukan ma kataballahu lakum), artinya ‘apa yang telah dihalalkan oleh Allah buat kalian’. Abdur Razzaq telah mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Ibnu Uyaynah, dari Amr ibnu Dinar, dari ‘Atha’ ibnu Abu Rabah yang pernah bercerita bahwa ia pernah berkata kepada Ibnu Abbas mengenai bacaan ayat ini, yakni firman-Nya: dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untuk kalian. (Al-Baqarah: 187) Maka Ibnu Abbas menjawab, “”Mana saja yang kamu sukai boleh, tetapi pilihlah olehmu bacaan yang pertama, (yakni kataba, bukan ahal-la).”” Akan tetapi, Ibnu Jarir memilih pendapat yang mengatakan bahwa makna ayat lebih umum daripada hal tersebut.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala: dan makan minumlah hingga jelas bagi kalian benang putih dan benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam. (Al-Baqarah: 187) Allah subhanahu wa ta’ala memperbolehkan pula makan dan minum di samping boleh menggauli istri dalam malam mana pun yang disukai oleh orang yang berpuasa, hingga tampak jelas baginya cahaya waktu subuh dari gelapnya malam hari. Hal ini diungkapkan di dalam ayat dengan istilah ‘benang putih’ yang berbeda dengan ‘benang hitam’, kemudian pengertian yang masih misteri ini diperjelas dengan firman-Nya: Yaitu fajar. (Al-Baqarah: 187) Seperti yang disebutkan di dalam hadits riwayat Imam Abu Abdullah Al-Al-Bukhari: telah menceritakan kepadaku Ibnu Abu Maryam, telah menceritakan kepada kami Abu Gassan (yakni Muhammad ibnu Mutarrif), telah menceritakan kepada kami Abu Hazim, dari Sahl ibnu Sa’d yang mengatakan bahwa ketika ayat berikut ini diturunkan: Dan makan minumlah hingga jelas bagi kalian benang putih dari benang hitam. (Al-Baqarah: 187) Sedangkan kelanjutannya masih belum diturunkan, yaitu firman-Nya: Yaitu fajar. (Al-Baqarah: 187) Maka orang-orang apabila hendak berpuasa, seseorang dari mereka mengikatkan benang putih dan benang hitam pada kakinya; dia masih tetap makan dan minum hingga tampak jelas baginya kedua benang itu.

Lalu Allah menurunkan firman-Nya: Yaitu fajar. (Al-Baqarah: 187) Maka mengertilah mereka bahwa yang dimaksud dengan istilah benang putih dan benang hitam ialah malam dan siang hari. Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hisyam, telah menceritakan kepada kami Husain, dari Asy-Sya’bi, telah menceritakan kepadaku Addi ibnu Hatim yang mengatakan bahwa ketika ayat ini diturunkan, yakni firman-Nya: dan makan minumlah hingga jelas bagi kalian benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. (Al-Baqarah: 187) (Addi ibnu Hatim berkata), “”Maka aku sengaja mencari dua buah tali, yang satu berwarna hitam, sedangkan yang lain berwama putih; lalu aku letakkan di bawah bantalku, dan aku tinggal melihat keduanya.

Dan ketika tampak jelas di mataku perbedaan antara benang putih dan benang hitam, maka aku mulai imsak (menahan diri). Pada keesokan harinya aku datang menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu aku ceritakan kepadanya apa yang telah kulakukan itu, maka beliau bersabda: ‘Sesungguhnya bantalmu kalau demikian benar-benar lebar. Sesungguhnya yang dimaksud dengan demikian itu hanyalah terangnya siang hari dan gelapnya malam hari’.”” Hadits diketengahkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dari berbagai jalur dari Addi.

Makna ‘sesungguhnya bantalmu kalau demikian benar-benar lebar’ ialah bantalmu memang lebar jika dapat memuat dua buah tali, yakni tali yang berwama hitam dan yang berwarna putih. Makna yang dimaksud dijelaskan oleh ayat berikutnya, bahwa sesungguhnya keduanya itu adalah terangnya siang hari dan gelapnya malam hari. Hal ini berarti bantal Addi sama lebarnya dengan ufuk timur dan ufuk barat.

Demikianlah menurut apa yang tercatatkan di dalam riwayat Imam Al-Bukhari, yakni ditafsirkan seperti ini. Telah menceritakan kepada kami Musa ibnu Ismail, telah menceritakan kepada kami Abu Uwwanah, dari Husain, dari Sya’bi, dari Addi yang menceritakan bahwa dia mengambil tali yang berwarna putih dan tali yang berwarna hitam. Ketika sebagian dari malam hari telah berlalu, ia memandang ke arah kedua tali itu, tetapi dia masih belum dapat membedakannya.

Ketika pagi harinya ia berkata, “”Wahai Rasulullah, aku telah meletakkan dua buah tali di bawah bantalku.”” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: Sesungguhnya bantalmu (tengkukmu) benar-benar lebar kalau demikian, yakni jika tali putih dan tali hitam itu berada di bawah bantalmu. Menurut lafal lainnya disebutkan: Sesungguhnya kamu ini benar-benar memiliki tengkuk yang lebar. Sebagian di antara mereka menafsirkannya dengan pengertian orang yang dungu; tetapi riwayat ini dha’if, melainkan pengertian yang benar ialah ‘apabila bantalnya lebar, maka berarti tengkuknya lebar pula (yakni bukan makna kinayah, melainkan makna menurut lahiriah)’.

Imam Al-Bukhari menafsirkan pula melalui riwayat lainnya, yaitu: telah menceritakan kepada kami Qutaibah, telah menceritakan kepada kami Jarir, dari Mutarrif, dari Asy-Sya’bi, dari Addi ibnu Hatim yang menceritakan: Aku bertanya, “”Wahai Rasulullah, apakah yang dimaksud dengan benang putih dari benang hitam, apakah keduanya memang benang?”” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “”Sesungguhnya tengkukmu benar-benar lebar jika kamu memahami makna kedua benang itu.”” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda lagi, “”Tidak, bahkan yang dimaksud ialah gelapnya malam hari dan terangnya siang hari.”” Ketetapan Allah subhanahu wa ta’ala yang membolehkan seseorang makan sampai fajar terbit menunjukkan sunat bersahur, karena sahur termasuk ke dalam bab rukhsah, dan mengamalkannya merupakan hal yang dianjurkan.

Karena itulah di dalam sunnah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam terdapat anjuran bersahur. Di dalam kitab Shahihain, dari Anas disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: Bersahurlah kalian, karena sesungguhnya di dalam sahur terkandung barakah. Di dalam kitab Shahih Muslim disebutkan dari Amr ibnul As yang menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: Sesungguhnya perbedaan antara puasa kita dan puasa Ahli Kitab ialah makan sahur. Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ishaq ibnu Isa (yaitu Ibnut Tabba’), telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnu Zaid, dari ayahnya, dari ‘Atha’ ibnu Yasar, dari Abu Sa’id yang menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: Sahur adalah makanan yang mengandung berkah, maka janganlah kalian melewatkannya, sekalipun seseorang di antara kalian hanya meminum seteguk air, karena sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersalawat untuk orang-orang yang makan sahur. Di dalam Bab “”Anjuran Bersahur”” banyak hadits yang menerangkannya, sehingga disebutkan bahwa sekalipun hanya dengan seteguk air, karena disamakan dengan orang-orang yang makan.

Mengakhirkan sahur sunat hukumnya, seperti yang disebutkan di dalam kitab Shahihain: dari Anas ibnu Malik, dari Zaid ibnu Sabit yang menceritakan, “”Kami makan sahur bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian kami bangkit mengerjakan shalat.”” Anas bertanya kepada Zaid, “”Berapa lamakah jarak antara azan (shalat Subuh) dan sahur?”” Zaid menjawab, “”Kurang lebih sama dengan membaca lima puluh ayat.”” Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Musa ibnu Daud, telah menceritakan kepada kami Ibnu Luhai’ah, dari Salim ibnu Gailan, dari Sulaiman ibnu Abu Usman, dari Addi ibnu Hatim Al-Hamsi, dari Abu Dzar yang menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: Umatku masih tetap dalam keadaan baik selagi mereka menyegerakan berbuka (puasa) dan mengakhirkan makan sahur(nya).

Banyak hadits yang menjelaskan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menamakan makan sahur ini dengan sebutan jamuan yang diberkati. Di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Imam An-Nasai, dan Imam Ibnu Majah: melalui riwayat Hammad ibnu Salamah, dari ‘Ashim ibnu Bahdalah, dari Zaid ibnu Hubaisy, dari Huzaifah yang menceritakan: Kami makan sahur bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka hari pun mulai pagi, hanya matahari belum terbit. Hadits ini menurut Imam An-Nasai hanya ada pada ‘Ashim ibnu Abun Nujud, dan Imam An-Nasai menginterpretasikannya dengan pengertian dekat pagi hari.

Perihalnya sama dengan pengertian yang terkandung di dalam firman-Nya: Apabila mereka mendekati akhir idahnya, maka rujukilah mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik. (At-Talaq: 2) Yakni masa idah mereka mendekati akhirnya, maka sebagai jalan keluarnya ialah adakalanya mereka dirujuki dengan baik atau dilepaskan dengan baik pula. Apa yang dikatakan oleh Imam An-Nasai ini merupakan takwil makna hadits ini, dan takwil ini merupakan suatu pilihan yang terbaik karena mereka (para sahabat) terbukti melakukan sahur, sedangkan mereka belum yakin akan terbitnya fajar; hingga sebagian dari kalangan mereka ada yang menduga bahwa fajar telah terbit, dan sebagian yang lainnya belum dapat membuktikannya.

Sesungguhnya diriwayatkan dari sebagian besar ulama Salaf bahwa mereka membolehkan makan sahur hingga mendekati waktu fajar. Hal yang semisal telah diriwayatkan dari Abu Bakar, Umar, Ali, Ibnu Mas’ud, Huzaifah, Abu Hurairah, Ibnu Umar, Ibnu Abbas, Zaid Ibnu Sabit. Sebagaimana telah diriwayatkan pula hal yang semisal dari sebagian besar golongan tabi’in, antara lain ialah Muhammad ibnu Ali ibnul Husain, Abu Mijlaz, Ibrahim An-Nakha’i, Abud Duha, dan Abu Wa’il serta lain-lainnya dari kalangan murid-murid Ibnu Mas’ud, ‘Atha’, Al-Hasan, Al-Hakim, Ibnu Uyaynah, Mujahid, Urwah ibnuz Zubair, dan Abusya’sa (yaitu Jabir dan ibnu Zaid).

Pendapat ini didukung oleh Al-A’masy dan Jabir ibnu Rasyid. Sesungguhnya kami telah mencatat sanad-sanad itu di dalam Kitabus Siyam secara menyendiri. Abu Ja’far ibnu Jarir meriwayatkan di dalam kitab tafsirnya dari sebagian di antara mereka, bahwa sesungguhnya imsak diwajibkan hanyalah mulai dari terbitnya (dekat terbitnya) matahari, sebagaimana diperbolehkan baginya berbuka setelah matahari tenggelam. Menurut kami, pendapat ini tidaklah layak dikatakan oleh seseorang yang berilmu mendalam, karena hal ini bertentangan dengan makna firman-Nya: dan makan minumlah hingga jelas bagi kalian benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.

Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam. (Al-Baqarah: 187) Telah disebutkan di dalam hadits Al-Qasjim, dari Siti Aisyah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: Jangan sampai azan (pertama) Bilal mencegah kalian dari sahur kalian, karena sesungguhnya dia menyerukan azannya di malam hari. Untuk itu makan dan minumlah kalian hingga kalian mendengar azan yang diserukan Ibnu Ummi Maktum, karena sesungguhnya dia tidak menyerukan azannya sebelum fajar (subuh) terbit. Demikianlah menurut lafal Imam Al-Bukhari. Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Mu-sa ibnu Daud, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Jabir, dari Qais ibnu Talq, dari ayahnya, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: Fajar itu bukanlah sinar yang memanjang di ufuk, melainkan sinar merah yang melintang.

Sedangkan menurut lafal Imam Abu Dawud dan Imam At Tirmidzi disebutkan: Makan dan minumlah kalian, dan jangan sekali-kali kalian teperdaya oleh sinar yang naik (memanjang), maka makan dan minumlah kalian sebelum tampak cahaya merah yang melintang bagi kalian. Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnul Musanna, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnu Mahdi, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari seorang syekh dari kalangan Bani Qusyair; ia pernah mendengar Samurah ibnu Jundub menceritakan hadits berikut, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: Jangan sekali-kali kalian teperdaya oleh seruan Bilal dan sinar putih ini, sebelum fajar menyingsing atau sinar merah tampak.

Kemudian Ibnu Jarir meriwayatkannya pula melalui hadits Syu’bah dan lain-lainnya, dari Sawad ibnu Hanzalah, dari Samurah yang menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: Jangan sekali-kali kalian berhenti dari sahur kalian karena azan Bilal dan jangan pula karena fajar yang memanjang, tetapi fajar itu ialah sinar yang melebar di ufuk timur. Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Ya’qub ibnu Ibrahim ibnu Ulayyah, dari Abdullah ibnu Saudah Al-Qusyairi, dari ayahnya, dari Samurah ibnu Jundub yang menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: Jangan sekali-kali kalian teperdaya oleh azan Bilal dan jangan pula oleh cahaya putih ini seraya mengisyaratkan kepada sinar yang tampak memanjang sebelum ia melebar.

Hadits diriwayatkan oleh Imam Muslim di dalam kitab sahihnya, dari Zuhair ibnu Harb, dari Ismail ibnu Ibrahim (yakni Ibnu Ulayyah) dengan lafal yang semisal. Ibnu Jarir mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami ibnu Humaid, telah menceritakan kepada kami Ibnul Mubarak, dari Sulaiman At-Taimi, dari Abu Usman An-Nahdi, dari Ibnu Mas’ud yang menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “”Janganlah seseorang di antara kalian tercegah dari makan sahurnya karena azan yang dilakukan oleh Bilal atau beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, oleh seruan Bilal karena sesungguhnya Bilal menyerukan azannya di malam hari (yakni hari masih malam) atau beliau bersabda, untuk membangunkan orang-orang yang tidur di antara kalian dan untuk mengingatkan orang-orang yang shalat (sunat malam hari) dari kalian.

Fajar itu bukanlah yang tampak seperti ini, melainkan fajar yang sesungguhnya ialah yang tampak seperti demikian.”” Hadits ini diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir dari jalur yang lain melalui At-Taimi dengan lafal yang sama. Telah menceritakan kepada kami Al-Hasan ibnuz Zabarqan An-Nakha’i, telah menceritakan kepadaku Abu Usamah, dari Muhammad ibnu Abu Zi’b, dari Al-Haris ibnu Abdur Rahman, dari Muhammad ibnu Abdur Rahman ibnu Sauban yang menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: Fajar itu ada dua macam, fajar yang bentuknya seperti ekor serigala tidak mengharamkan sesuatu pun.

Sesungguhnya fajar yang benar adalah yang bentuknya melebar dan memenuhi ufuk (timur), maka fajar inilah yang membolehkan shalat Subuh dan mengharamkan makanan. Hadits ini berpredikat mursal lagi jayyid. Abdur Razzaq mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij, dari ‘Atha’; ia pernah mendengar Ibnu Abbas mengatakan bahwa fajar itu ada dua, yaitu fajar yang bentuknya memanjang menyinari langit. Fajar ini tidak menandakan masuknya waktu subuh, tidak pula mengharamkan sesuatu pun.

Tetapi fajar yang sebenarnya ialah yang cahayanya menyinari puncak bukit-bukit, fajar inilah yang mengharamkan minum (pertanda imsak yang sebenarnya). ‘Atha’ mengatakan, “”Jika sinar fajar itu menerangi langit dalam bentuk memanjang (seperti tiang), fajar ini tidak mengharamkan minum bagi orang yang puasa, tidak memperbolehkan shalat (Subuh) dan orang yang sedang haji belum habis waktunya karena fajar ini. Tetapi apabila cahayanya menyinari puncak bukit-bukit, maka haramlah minum bagi orang yang puasa dan habislah waktu haji.”” Asar ini sanadnya shahih sampai kepada Ibnu Abbas dan ‘Atha’, hal yang sama diriwayatkan pula oleh bukan hanya seorang dari kalangan ulama Salaf.

Termasuk di antara hukum yang ditetapkan oleh Allah ialah fajar dijadikan-Nya sebagai akhir batas waktu boleh bersetubuh, makan, dan minum bagi orang yang hendak puasa. Dari hal ini tersimpul bahwa barang siapa yang berpagi hari dalam keadaan junub, hendaklah ia mandi dan melanjutkan puasanya tanpa ada dosa atasnya. Demikianlah menurut mazhab empat orang imam dan jumhur ulama Salaf dan Khalaf, karena berdasarkan apa yang telah diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim melalui hadits Aisyah dan Ummu Salamah yang keduanya menceritakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berpagi hari dalam keadaan junub karena habis jima’ (bersetubuh) tanpa mengeluarkan air mani, kemudian beliau mandi dan puasa.

Di dalam hadits Ummu Salamah yang ada pada Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim disebutkan: dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berbuka, tidak pula mengqadainya. Di dalam kitab Shahih Muslim disebutkan dari Siti Aisyah yang menceritakan hadits berikut: Bahwa ada seorang lelaki bertanya, “”Wahai Rasulullah, aku berada di waktu shalat (Subuh) sedang diriku dalam keadaan junub. Bolehkah aku puasa?”” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “”Aku pun pernah berada dalam waktu shalat (Subuh), sedangkan aku dalam keadaan junub, tetapi aku tetap puasa.”” Lelaki itu berkata, “”Tetapi engkau tidaklah seperti kami, wahai Rasulullah. Sesungguhnya Allah telah memberikan ampunan bagimu atas semua dosamu yang terdahulu dan yang kemudian.”” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “”Demi Allah, sesungguhnya aku benar-benar berharap ingin menjadi orang yang paling takut kepada Allah di antara kalian dan orang yang paling alim mengenai cara bertakwa.”” Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad disebutkan: telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, dari Ma’mar, dari Hammam, dari Abu Hurairah, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah bersabda: Apabila diserukan untuk shalat, yakni shalat Subuh, sedangkan seseorang dari kalian dalam keadaan junub, maka janganlah dia melakukan puasa di hari itu.

Hadits ini ditinjau dari segi sanadnya berpredikat jayyid, tetapi dengan syarat Syaikhain, seperti yang Anda ketahui. Hadits ini menurut apa yang ada di dalam kitab Shahihain dari Abu Hurairah, dari Al-Fadl ibnu Abbas, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Di dalam kitab Sunan An-Nasai, dari Abu Hurairah, dari Usamah ibnu Zaid dan Al-Fadl ibnu Abbas, tetapi Imam An-Nasai tidak me-rafa’-kannya (tidak menghubungkannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam). Karena itu, ada sebagian ulama yang menilai dha’if’ hadits ini karena faktor tersebut (tidak marfu’). dan di antara mereka ada yang berpegang kepada hadits ini.

Pendapat yang mengatakan demikian ada yang meriwayatkannya dari Abu Hurairah, Salim, ‘Atha’, Hisyam ibnu Urwah, dan Al-Hasan Al-Basri. Di antara mereka ada orang yang berpendapat membedakan antara orang yang berpagi hari dalam keadaan junub karena tertidur, maka tidak ada apa pun atas dirinya, berdasarkan kepada hadits Siti Aisyah dan Ummu Salamah. Tetapi jika dia dalam keadaan mukhtar (bebas memilih), maka tidak ada puasa atas dirinya, berdasarkan hadits Abu Hurairah; hal ini diriwayatkan pula dari Urwah, Tawus, dan Al-Hasan.

Di antara mereka ada orang yang membedakan antara puasa fardu dan puasa sunat. Kalau puasanya adalah puasa fardu, maka dia harus melanjutkan puasanya, tetapi harus mengqadainya. Kalau puasanya sunat, maka jinabah tidak membahayakannya. Pendapat ini diriwayatkan oleh Ats-Tsauri, dari Mansur, dari Ibrahim An-Nakha’i, juga merupakan suatu riwayat dari Al-Hasan Al-Basri. Di antara mereka ada yang menduga bahwa hadits Abu Hurairah di-nasakh oleh hadits Siti Aisyah dan Ummu Salamah, tetapi pendapat ini tidak mempunyai alasan mana yang lebih dahulu di antara keduanya.

Ibnu Hazm menduga bahwa hadits Abu Hurairah dimansukh oleh ayat ini, tetapi pendapat ini pun jauh dari kebenaran karena pembuktian tarikh (penanggalannya) tidak ada, bahkan pembuktian tarikh memberikan pengertian kebalikannya. Di antara mereka ada yang menginterpretasikan hadits Abu Hurairah dengan pengertian bertentangan dengan kesempurnaan puasa. Karena itu, tidak ada pahala puasa bagi pelakunya, berdasarkan hadits Siti Aisyah dan Ummu Salamah yang menunjukkan pengertian boleh.

Pendapat terakhir inilah yang lebih mendekati kebenaran dan lebih mencakup keseluruhannya. Firman Allah subhanahu wa ta’ala: Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam. (Al-Baqarah: 187) Makna ayat ini menunjukkan bahwa berbuka puasa itu di saat matahari tenggelam sebagai ketetapan hukum syar’i, seperti yang telah disebutkan di dalam kitab Shahihain, dari Amirul Muminin Umar ibnul Khattab yang mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: Apabila malam tiba dari arah ini dan siang hari pergi dari arah ini, berarti telah tiba waktu berbuka bagi orang yang puasa. Dari Sahl ibnu Sa’d As-Sa’idi , disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: Orang-orang masih tetap dalam keadaan baik selagi mereka menyegerakan berbuka. (Riwayat Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim)

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Walid ibnu Muslim, telah menceritakan kepada kami Al-Auza’i, telah menceritakan kepada kami Qurrah ibnu Abdur Rahman, dari Az-Zuhri, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bersabda: Allah SWT berfirman, “”Sesungguhnya orang yang paling Aku cintai di antara hamba-hamba-Ku ialah orang yang paling segera berbuka.”” Imam At-Tirmidzi meriwayatkannya pula melalui bukan hanya dari satu jalur, bersumber dari Al-Auza’i dengan lafal yang sama, dan ia mengatakan bahwa hadits ini hasan gharib.

Imam Ahmad mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Affan, telah menceritakan kepada kami Ubaidillah ibnu Iyad yang mendengarnya dari Ibnu Laqit, bahwa ia pernah mendengar dari Laila (istri Basyir ibnul Khasasiyah) yang menceritakan bahwa ia pernah hendak melakukan puasa dua hari berturut-turut, tetapi Basyir melarangnya dan mengatakan bahwa sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang hal seperti itu dan bersabda: Yang melakukan demikian hanyalah orang-orang Nasrani, tetapi berpuasalah kalian sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah, “”Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam”” (Al-Baqarah: 187). Apabila malam tiba (magrib), maka berbukalah kalian.

Karena itulah telah disebutkan di dalam hadits-hadits shahih larangan ber-wisal, yakni melanjutkan puasa dengan hari berikutnya tanpa makan sesuatu pun di antara keduanya. Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah menceritakan kepada kami Ma’mar, dari Az-Zuhri, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah yang menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: “”Janganlah kalian ber-wisal.”” Mereka bertanya, “”Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau pun melakukan wisal.”” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “”Sesungguhnya aku tidaklah seperti kalian, sesungguhnya aku menginap seraya diberi makan dan minum oleh Tuhanku.”” Abu Hurairah melanjutkan kisahnya, bahwa mereka tidak mau menghentikan wisalnya (karena mengikut Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meneruskan wisal-nya bersama mereka selama dua hari dua malam. Kemudian mereka melihat hilal (bulan Syawwal), maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “”Seandainya hilal datang terlambat, niscaya aku tambahkan kepada kalian,”” seperti orang yang menghukum mereka. Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim mengetengahkan hadits ini di dalam kitab Shahihain melalui hadits Az-Zuhri dengan lafal yang sama. Demikian pula keduanya mengetengahkan hadits tentang larangan wisal ini melalui hadits Anas dan Ibnu Umar. Dari Siti Aisyah , disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang mereka melakukan puasa wisal karena kasihan kepada mereka, ketika mereka berkata, “”Sesungguhnya engkau pun ber-wisal? Maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: Sesungguhnya keadaanku tidaklah seperti kalian, sesungguhnya aku diberi makan dan minum oleh Tuhanku. Larangan melakukan wisal ini telah dibuktikan melalui berbagai jalur periwayatan, dan telah ditetapkan pula bahwa wisal merupakan salah satu keistimewaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam kuat melakukan hal tersebut dan mendapat pertolongan dari Allah untuk melakukannya. Tetapi menurut pendapat yang kuat, makanan dan minuman yang diberikan khusus kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hanyalah berupa makanan dan minuman maknawi (abstrak), bukan hissi (konkret). Jika tidak demikian, berarti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bukanlah orang yang ber-wisal bila ditinjau dari segi hissi, melainkan perihalnya sama dengan apa yang diungkapkan oleh seorang penyair, yaitu:

Dia mempunyai banyak cerita kenangan bersamamu yang membuatnya sibuk, lupa makan dan lupa kepada perbekalannya. Bagi orang yang senang melakukan imsak sesudah matahari tenggelam hingga waktu sahur, diperbolehkan baginya melakukan hal itu seperti apa yang disebutkan di dalam hadits Abu Sa’id Al-Khudri yang menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: Janganlah kalian ber-wisal. Barang siapa di antara kalian ingin melakukan wisal, ber-wisal-lah sampai waktu sahur. Mereka berkata, “”Wahai Rasulullah, tetapi engkau pun ternyata ber-wisal.”” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “”Sesungguhnya aku tidaklah seperti keadaan kalian. Sesungguhnya aku menginap, sedangkan aku ada yang memberi makan dan yang memberi minum.”” Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim mengetengahkan pula hadits ini di dalam kitab shahih masing-masing.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, telah menceritakan kepada kami Abu Na’im, telah menceritakan kepada kami Abu Israil Al-Anasi, dari Abu Bakar ibnu Hafs, dari ibu anaknya Hatib ibnu Abu Balta’ah yang menceritakan: Bahwa ia bersua dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau sedang makan sahur. Beliau memanggil untuk ikut makan, tetapi ia berkata, “”Sesungguhnya aku sedang puasa.”” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “”Bagaimanakah cara puasamu?”” Lalu ia menceritakan hal tersebut kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “”Puasamu itu bukan termasuk wisal yang dilakukan oleh keluarga Muhammad, (wisal) ialah dari sahur ke sahur yang lain’.’ Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah menceritakan kepada kami Israil, dari Abdul A’la, dari Muhammad ibnu Ali, dari Ali : Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam acapkali melakukan wisal dari sahur ke sahur yang lain. Ibnu Jarir meriwayatkan dari Abdullah ibnuz Zubair dan lain-lainnya dari kalangan ulama Salaf, bahwa mereka sering melakukan wisal dalam hari-hari yang dapat dihitung.

Ibnu Jarir menginterpretasikan bahwa mereka melakukan perbuatan ini hanya untuk melatih diri mereka, bukan sebagai ibadah. Tetapi dapat diinterpretasikan pula bahwa mereka memahami larangan tersebut sebagai bimbingan yang mengandung rasa belas kasihan. Seperti yang disebutkan di dalam hadits Siti Aisyah , yaitu karena belas kasihan kepada mereka. Tersebutlah bahwa Ibnuz Zubair dan anak laki-lakinya (yaitu Amir) serta orang-orang yang mengikuti jejaknya melakukan wisal ini dengan kuat, karena mereka memang mempunyai ketahanan tubuh yang mampu melakukan hal tersebut.

Diriwayatkan dari mereka bahwa ketika mereka ber-wisal, makanan yang mula-mula mereka makan sebagai bukanya ialah minyak samin dan jazam agar perut mereka tidak perih karena makanan selanjutnya. Diriwayatkan dari Ibnuz Zubair bahwa ia sering melakukan wisal selama tujuh hari berturut-turut, tetapi pada hari yang ketujuh di pagi harinya ia kelihatan sebagai orang yang paling kuat dan paling tegar di antara mereka (yang berpuasa).

Abul Aliyah mengatakan, sesungguhnya Allah hanya mewajibkan puasa di siang hari saja. Tetapi bila malam hari tiba, maka orang yang ingin makan, boleh makan; dan bagi orang meneruskannya, boleh tidak makan. Firman Allah subhanahu wa ta’ala: (Tetapi) janganlah kalian campuri mereka itu, sedang kalian ber-i’tikaf dalam masjid. (Al-Baqarah: 187) Ali ibnu Abu Talhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa hal ini berkenaan dengan seorang lelaki yang sedang melakukan i’tikaf di dalam masjid, baik dalam bulan Ramadan ataupun di luar Ramadan.

Diharamkan baginya menyetubuhi istrinya, baik di siang maupun di malam hari sebelum dia selesai dari i’tikaf. Adh-Dhahhak mengatakan, apabila seorang lelaki melakukan i’tikaf di dalam masjid, lalu ia keluar, maka ia boleh menyetubuhi istrinya jika menghendakinya. Maka Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan firman-Nya: (tetapi) janganlah kalian campuri mereka itu, sedang kalian ber-i’tikaf dalam masjid. (Al-Baqarah: 187) Dengan kata lain, janganlah kalian mendekati mereka (istri-istri kalian) selagi kalian masih dalam keadaan i’tikaf di dalam masjid, baik dalam bulan Ramadan ataupun dalam bulan lainnya. Hal yang sama dikatakan pula oleh Mujahid, Qatadah, dan bukan hanya seorang dari kalangan mereka, bahwa pada mulanya mereka melakukan hal tersebut (yakni menyetubuhi istri mereka selagi mereka masih dalam i’tikaf) hingga ayat ini diturunkan.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, Muhammad ibnu Ka’b, Mujahid, ‘Atha’, Al-Hasan, Qatadah, Adh-Dhahhak, As-Suddi, Ar-Rabi’ ibnu Anas, dan Muqatil, bahwa mereka pernah mengatakan, “”Janganlah seseorang mendekati istrinya, sedang dia dalam keadaan i’tikaf.”” Riwayat yang diketengahkan oleh Ibnu Abu Hatim dari mereka ini merupakan hal yang telah disekapati di kalangan semua ulama.

Yaitu orang yang beri’tikaf diharamkan menyetubuhi istrinya selagi ia masih dalam i’tikaf di masjid. Sekiranya dia pergi ke rumahnya untuk suatu keperluan yang tak dapat dielakkan, tidak halal baginya tinggal di dalam rumah kecuali sekadar waktu seperlunya sesuai dengan kepentingannya, misalnya buang air besar atau makan; dan tidak diperbolehkan mencium istri, tidak boleh pula memeluknya, dan tidak boleh menyibukkan diri dengan urusan lain kecuali i’tikafnya.

Ia tidak boleh menjenguk orang yang sakit, tetapi boleh baginya menanyakan perihal si sakit bila ia mengambil jalan yang melewati si sakit. I’tikaf mempunyai hukum-hukum sendiri di dalam babnya, antara lain hukum yang telah disepakati oleh seluruh ulama, dan ada yang masih diperselisihkan. Sesungguhnya kami telah menyebutkan sebagian yang diperlukan darinya di akhir pembahasan puasa.

Karena itulah para penulis kitab fiqih mengikutkan Bab “”I’tikaf’ dengan Bab “”Puasa”” demi mengikuti Al-Qur’an, karena sesungguhnya di dalam Al-Qur’an diperhatikan penyebutan masalah i’tikaf sesudah penyebutan masalah puasa. Penyebutan i’tikaf yang dilakukan oleh Allah subhanahu wa ta’ala sesudah masalah puasa mengandung petunjuk dan perhatian yang menganjurkan i’tikaf dalam berpuasa atau di akhir bulan Ramadan. Seperti yang telah disebutkan di dalam sunnah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu melakukan i’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan, hingga Allah mewafatkannya. Kemudian istri-istrinya melakukan i’tikaf pula sesudah beliau tiada. Demikianlah menurut hadits yang diketengahkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim melalui hadits Siti Aisyah Ummul Muminin Di dalam kitab Shahihain disebutkan bahwa Safiyyah binti Huyayyin mengunjungi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sedang i’tikaf di dalam masjid, lalu Safiyyah berbicara sesaat dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian ia bangkit untuk pulang ke rumahnya; hal tersebut terjadi di malam hari.

Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bangkit untuk mengantarkannya sampai ke rumahnya. Tersebutlah bahwa rumah Siti Safiyyah binti Huyayyin berada di perkampungan rumah Usamah ibnu Zaid di sebelah Madinah. Ketika berada di tengah jalan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersua dengan dua orang lelaki dari kalangan Anshar. Ketika keduanya melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka keduanya berjalan dengan cepat. Menurut riwayat yang lain, kedua lelaki itu bersembunyi karena malu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mengingat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang bersama istrinya (Siti Safiyyah binti Huyayyin). Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “”Perlahan-lahanlah kamu berdua, sesungguhnya dia adalah Safiyyah binti Huyayyin,”” yakni istrinya. Maka kedua lelaki itu berkata, “”Subhanallah (Mahasuci Allah), wahai Rasulullah.”” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; Sesungguhnya setan itu merasuk ke dalam diri anak Adam melalui aliran darahnya, dan sesungguhnya aku merasa khawatir bila timbul suatu kecurigaan di dalam hati kamu berdua atau beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda suatu keburukan. Imam Syafii rahimahullah mengatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bermaksud mengajarkan kepada umatnya membebaskan diri dari tuduhan di tempat kejadian, agar keduanya tidak terjerumus ke dalam hal yang dilarang, padahal kedua orang tersebut adalah orang yang bertakwa-kepada Allah dan jauh dari kemungkinan bila ia mempunyai prasangka yang buruk terhadap diri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Yang dimaksud dengan istilah mubasyarah dalam ayat ini ialah bersetubuh dan semua pendahuluan yang menjurus ke arahnya, seperti ciuman, pelukan, dan lain sebagainya.

Saling serah terima sesuatu dan hal lainnya yang semisal, hukumnya tidak mengapa. Sesungguhnya telah disebutkan di dalam kitab Shahihain, dari Siti Aisyah , bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendekatkan kepalanya ke tubuh Siti Aisyah, lalu Siti Aisyah menyisirkan rambutnya, sedangkan Siti Aisyah dalam keadaan berhaid. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memasuki rumah (dalam i’tikafnya) melainkan karena keperluan sebagaimana layaknya seorang manusia. Siti Aisyah mengatakan, “”Dan pernah ada orang yang sedang sakit di dalam rumahnya, maka aku tidak menanyakan tentang keadaannya melainkan sambil lewat (menuju masjid).”” Firman Allah subhanahu wa ta’ala: Itulah batasan-batasan Allah. (Al-Baqarah: 187) Yakni apa yang telah Kami terangkan, yang telah Kami wajibkan dan Kami bataskan menyangkut puasa dan hukum-hukumnya serta hal-hal yang Kami perbolehkan di dalamnya; dan hal-hal yang Kami haramkan serta Kami sebutkan tujuan-tujuan, rukhsah-rukhsah, dan ‘azaim-nya.

Semua itu adalah batasan-batasan yang telah disyariatkan oleh Allah dan diterangkan-Nya sendiri. Firman Allah subhanahu wa ta’ala: maka janganlah kalian mendekatinya. (Al-Baqarah: 187) Maksudnya, janganlah kalian melampaui dan menabraknya. Sedangkan menurut Adh-Dhahhak dan Muqatil, makna firman-Nya: Itulah batasan-batasan Allah. (Al-Baqarah: 187) Yakni melakukan persetubuhan dalam i’tikaf. Sedangkan menurut Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam, yang dimaksud ialah batasan-batasan yang empat, lalu ia membacakan firman-Nya: Dihalalkan bagi kalian pada malam hari puasa bercampur dengan istri-istri kalian sampai dengan firman-Nya Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam. (Al-Baqarah: 187) Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam mengatakan bahwa ayahnya dan orang lain dari kalangan guru-gurunya mengatakan hal yang sama dan mengajarkannya kepada dia (dan murid-murid lainnya).

Firman Allah subhanahu wa ta’ala: Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia. (Al-Baqarah: 187) Yakni sebagaimana Allah menjelaskan masalah puasa berikut hukum-hukum syariat dan rinciannya, Dia pun menjelaskan pula semua hu-kum lainnya melalui lisan hamba dan Rasul-Nya yaitu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umat manusia. supaya mereka bertakwa. (Al-Baqarah: 187) Artinya, agar mereka mengetahui bagaimana jalan hidayah itu dan bagaimana cara mereka bertaat. Perihalnya sama dengan makna yang terkandung di dalam firman-Nya: Dialah yang menurunkan kepada hamba-Nya ayat-ayat yang terang (Al-Qur’an) supaya Dia mengeluarkan kalian dari kegelapan kepada cahaya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Penyantun lagi Maha Penyayang terhadap kalian. (Al-Hadid: 9)
#learnquran

Al Baqarah :: Indeks Tema Al Baqarah :: Daftar Surat :: Ibnu Katsir

Ayo bagikan sebagai sedekah…   

Pasang Iklan di Website Ini +6285773713808
Hello. Add your message here.