alnita-006

Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 75

Al-Baqarah: 75

أَفَتَطْمَعُونَ أَن يُؤْمِنُوا لَكُمْ وَقَدْ كَانَ فَرِيقٌ مِّنْهُمْ يَسْمَعُونَ كَلَامَ اللَّهِ ثُمَّ يُحَرِّفُونَهُ مِن بَعْدِ مَا عَقَلُوهُ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

Terjemahan

Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui.

Tafsir (Ibnu Katsir)

Apakah kalian masih mengharapkan mereka akan percaya kepada kalian, padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedangkan mereka mengetahui. Dan apabila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka berkata, “”Kami pun telah beriman.”” Tetapi apabila mereka berada sesama mereka saja, mereka berkata, “”Apakah kalian menceritakan kepada mereka apa yang telah diterangkan Allah kepada kalian, supaya dengan demikian mereka dapat mengalahkan hujah kalian di hadapan Tuhan kalian.

Tidakkah kalian mengerti? Tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah mengetahui segala yang mereka sembunyikan dan segala yang mereka nyatakan. Afatatmauna, apakah kalian masih mengharapkan, wahai orang-orang mukmin. An yu-minu lakum, golongan yang sesat dari kalangan orang-orang Yahudi itu mau tunduk dengan taat kepada kalian, yaitu mereka yang kakek moyangnya telah menyaksikan berbagai mukjizat yang jelas dengan mata kepala mereka sendiri, tetapi ternyata hati mereka menjadi keras sesudah itu.

Padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya, yakni menakwilkannya bukan dengan takwil yang sebenarnya. Hal itu mereka lakukan setelah mereka memahaminya dengan pemahaman yang jelas. Tetapi mereka menyimpang dengan sepengetahuan mereka, dan menyadari bahwa perubahan dan takwil keliru yang mereka lakukan itu benar-benar salah. Hal ini sama dengan pengertian yang terkandung di dalam firman Allah Subhanahu wa ta’ala: (Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuki mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu.

Mereka suka mengubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya. (Al-Maidah: 13) Muhammad ibnu Ishaq meriwayatkan, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Abu Muhammad, dari Ikrimah atau Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa setelah itu Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman kepada Nabi-Nya beserta orang-orang yang mengikutinya dari kalangan kaum mukmin, memutuskan harapan mereka terhadap orang-orang Yahudi itu: Apakah kalian masih mengharapkan mereka akan percaya kepada kalian, padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah. (Al-Baqarah: 75) Makna yang dimaksud dari firman-Nya, “”Yasma’una,”” adalah mendengar kitab Taurat, karena kitab Taurat telah mereka dengar semua; tetapi mereka adalah orang-orang yang meminta kepada Nabi Musa ‘alaihissalam

untuk dapat melihat Tuhan mereka dengan jelas, lalu mereka disambar oleh halilintar di tempat tersebut. Muhammad ibnu Ishaq mengatakan menukil perkataan yang dinukilnya dari sebagian kalangan ahlul ‘ilmi bahwa mereka berkata kepada Musa, “”Wahai Musa, sesungguhnya telah dihalang-halangi antara kami dan Tuhan kami hingga kami tidak dapat melihat-Nya, maka perdengarkanlah kepada kami Kalam-Nya di saat Dia berbicara kepadamu.”” Maka Nabi Musa ‘alaihissalam

memohon hal tersebut kepada Tuhannya, dan Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman kepadanya, “”Ya, perintahkanlah kepada mereka agar bersuci dan mencuci pakaiannya serta berpuasa,”” lalu mereka melakukannya. Kemudian Nabi Musa membawa mereka keluar hingga sampai di Bukit Tur. Ketika mereka tertutupi oleh awan, Musa memerintahkan kepada mereka untuk sujud, lalu mereka semua menyungkur bersujud, dan Allah berbicara kepada Musa, sedangkan mereka mendengar firman Allah Subhanahu wa ta’ala yang mengandung perintah dan larangan kepada mereka, hingga mereka memahami apa yang mereka dengar dari-Nya. Sesudah itu Nabi Musa ‘alaihissalam kembali bersama mereka menuju kaum Bani Israil.

Ketika mereka datang kepada kaumnya, ada sebagian dari kalangan mereka mengubah apa yang telah diperintahkan oleh Allah kepada mereka. Mereka berkata kepada kaum Bani Israil di saat Musa berkata kepada mereka, “”Sesungguhnya Allah telah memerintahkan kalian untuk mengerjakan anu dan anu.”” Selanjutnya Ibnu Abbas mengatakan bahwa golongan tersebutlah yang disebut oleh Allah Subhanahu wa ta’ala dalam ayat ini (Al-Baqarah: 75). Sesungguhnya mereka mengatakan, “”Allah telah memerintahkan kepada kalian untuk mengerjakan anu dan anu,”” hanyalah untuk menentang apa yang telah diperintahkan oleh Allah kepada mereka, yakni mereka mengubahnya dari perintah yang sesungguhnya.

Golongan inilah yang dimaksudkan oleh Allah dan Rasul-Nya dalam ayat ini. As-Suddi mengatakan sehubungan dengan firman-Nya: padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya. (Al-Baqarah: 75) Yang mereka ubah adalah kitab Taurat. Apa yang disebut oleh As-Suddi ini lebih umum pengertiannya daripada yang dikatakan oleh Ibnu Abbas dan Ibnu Ishaq, sekalipun pendapat ini dipilih oleh Ibnu Jarir karena berpegang kepada konteks ayat.

Karena sesungguhnya bukan merupakan suatu kepastian bila mereka telah mendengar Kalamullah secara langsung mempunyai pemahaman yang sama dengan apa yang didengar oleh Nabi Musa ibnu Imran yang diajak bicara langsung oleh Allah Subhanahu wa ta’ala Sedangkan dalam ayat lain Allah Subhanahu wa ta’ala telah berfirman: Dan jika seorang di antara orang-orang musyrik itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah. (At-Taubah: 6) Yakni agar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mempunyai kesempatan untuk menyampaikan firman Allah Subhanahu wa ta’ala kepadanya. Karena itulah Qatadah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: kemudian mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedangkan mereka mengetahui. (Al-Baqarah: 75) Yang dimaksud dengan mereka adalah orang-orang Yahudi yang pernah mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya sesudah mereka memahami dan menghafalnya. Mujahid mengatakan bahwa orang-orang yang mengubah firman Allah Subhanahu wa ta’ala dan yang menyembunyikannya adalah para ulama dari kalangan mereka. Abul Aliyah mengatakan, mereka sengaja mengubah sifat-sifat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang ada dalam kitab mereka dari tempat-tempatnya. As-Suddi mengatakan sehubungan dengan firman-Nya, “”Wahum ya’lamuna” (sedangkan mereka mengetahui), yakni mereka berdosa.

Ibnu Wahb mengatakan bahwa firman Allah Subhanahu wa ta’ala: padahal mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya. (Al-Baqarah: 75) Menurut Ibnu Zaid, yang dimaksud dengan Kalamullah ialah kitab Taurat yang diturunkan kepada mereka, lalu mereka mengubahnya. Mereka menjadikan hal yang halal di dalamnya menjadi haram, dan yang haram mereka jadikan halal; lalu mereka mengubah perkara yang hak menjadi perkara yang batil, dan yang batil menjadi hak.

Apabila datang kepada mereka orang yang berada dalam pihak yang benar disertai dengan uang suap, barulah mereka mengeluarkan Kitabullah (Taurat). Jika datang kepada mereka orang yang berada dalam pihak yang batil dengan membawa uang suap, mereka mengeluarkan kitab yang telah mereka ubah itu sehingga dia berada dalam pihak yang benar. Apabila datang kepada mereka seseorang yang menanyakan sesuatu masalah kepada mereka tanpa ada kaitannya dengan perkara yang hak, tanpa uang suap, dan tanpa lainnya, mereka memerintahkan perkara yang hak (sebenarnya) kepada orang itu.

Maka Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman kepada mereka: Mengapa kalian suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedangkan kalian melupakan diri kalian sendiri, padahal kalian membaca Al-Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kalian berpikir. (Al-Baqarah: 44) Adapun firman Allah Subhanahu wa ta’ala: Dan apabila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka berkata, “””Kamipun telah beriman,”” tetapi apabila mereka berada sesama mereka saja, hingga akhir ayat, (Al-Baqarah: 76). Muhammad ibnu Ishaq meriwayatkan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abu Muhammad, dari Ikrimah atau Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan ayat ini, bahwa apabila mereka bersua dengan orang-orang yang beriman, mereka berkata, “”Kami pun telah beriman bahwa teman kalian itu adalah utusan Allah, tetapi khusus bagi kalian.”” Jika sebagian dari mereka berada bersama sebagian yang lain, mereka mengatakan, “”Janganlah kalian bicarakan rahasia ini kepada orang-orang Arab, karena sesungguhnya sejak dulu kalian menunggu-nunggu kedatangannya untuk meminta pertolongannya dalam menghadapi mereka (orang-orang Arab), tetapi ternyata dia (Rasulullah) muncul dari kalangan mereka sendiri.”” Maka Allah Subhanahu wa ta’ala menurunkan firman-Nya: Dan apabila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka berkata, “”Kami pun telah beriman.”” Tetapi apabila mereka berada sesama mereka saja, mereka berkata, “”Apakah kalian menceritakan kepada mereka apa yang telah diterangkan Allah kepada kalian, supaya dengan demikian mereka dapat mengalahkan hujah kalian di hadapan Tuhan kalian!”” (Al-Baqarah: 76) Artinya, kalian mengakui dia (Nabi Muhammad) adalah seorang nabi, padahal kalian telah berjanji kepada Allah Subhanahu wa ta’ala bahwa kalian akan mengikutinya, dan Dia telah memberitakan kepada mereka (orang-orang Arab) bahwa dia adalah nabi yang sedang kita tunggu-tunggu kedatangannya dan yang kita jumpai sebutannya di dalam kitab kita.

Karena itu, ingkarilah dia dan jangan sekali-kali kalian mengakuinya. Firman Allah Subhanahu wa ta’ala: Tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah mengetahui segala yang mereka sembunyikan dan segala yang mereka nyatakan (Al-Baqarah: 77) Adh-Dhahhak meriwayatkan dari Ibnu Abbas, yang dimaksud oleh ayat ini ialah orang-orang munafik dari kalangan orang-orang Yahudi. Apabila bersua dengan sahabat-sahabat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka mengatakan, “”Kami pun beriman kepadanya.”” Menurut As-Suddi, mereka adalah segolongan orang dari kalangan orang-orang Yahudi; mereka beriman, kemudian munafik.

Hal yang sama dikatakan pula oleh Ar-Rabi’ ibnu Anas dan Qatadah, serta oleh bukan hanya seorang dari kalangan ulama Salaf dan ulama Khalaf. Sehubungan dengan hal ini Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam menurut apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Wahb darinya mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: Jangan sekali-kali ada orang yang masuk kepada kami di kota Madinah kecuali hanya orang mukmin. Para pemimpin orang-orang Yahudi dari kalangan orang kafir dan munafik mengatakan, “”Berangkatlah kalian dan katakanlah bahwa kami pun beriman, tetapi kufurlah kalian bila kalian kembali lagi kepada kami.”” Mereka berdatangan ke Madinah di pagi hari, dan kembali kepada kaumnya sesudah atsar.

Lalu perawi membacakan firman-Nya: Segolongan (lain) dari ahli kitab berkata (kepada sesamanya), “”Perlihatkanlah (seolah-olah) kalian beriman kepada apa yang diturunkan kepada orang-orang beriman (sahabat-sahabat Rasul) pada permulaan siang, dan ingkarilah ia pada akhirnya supaya mereka (orang-orang mukmin) kembali (kepada kekafiran).”” (Ali Imran: 72) Mereka itu apabila memasuki kota Madinah mengatakan, “”Kami pun orang-orang muslim,”” dengan tujuan untuk memperoleh informasi tentang berita dan perkara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Apabila mereka berkumpul lagi dengan sesamanya, mereka kembali menjadi kafir. Setelah Allah memberitahukan kepada Nabi-Nya perihal orang-orang munafik, maka Nabi menutup jalan mereka sehingga mereka tidak dapat menyusup ke dalam tubuh kaum muslim. Sebelum itu orang-orang mukmin menduga bahwa orang-orang munafik itu beriman, lalu mereka berkata kepada sesamanya, “”Bukankah Allah telah berfirman anu dan anu kepada kalian?”” Lalu sebagian yang lainnya menjawab, “”Memang benar.”” Apabila mereka kembali kepada kaumnya (yakni para pemimpin mereka), para pemimpin mereka bertanya, seperti yang disitir oleh firman-Nya: Apakah kalian menceritakan kepada mereka (orang-orang Arab) apa yang telah diterangkan Allah kepada kalian! (Al-Baqarah: 76) Abul Aliyah berkata sehubungan dengan firman-Nya: Apakah kalian menceritakan kepada mereka (orang-orang Arab) apa yang telah diterangkan Allah kepada kalian. (Al-Baqarah: 76) yakni tentang apa yang telah diturunkan kepada kalian, yaitu kitab kalian yang di dalamnya disebutkan ciri-ciri Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam Abdur Razzaq meriwayatkan dari Ma’mar, dari Qatadah sehubungan dengan firman-Nya ini, bahwa mereka (orang-orang Yahudi) selalu mengatakan, “”Kelak akan muncul seorang nabi.”” Lalu sebagian dari mereka berkumpul dengan sebagian yang lain dan berkata: Apakah kalian menceritakan kepada mereka apa yang telah diterangkan Allah kepada kalian, supaya dengan demikian mereka dapat mengalahkan hujah kalian di hadapan Tuhan kalian! (Al-Baqarah: 76) Makna lafal al-fath menurut pendapat lain disebutkan oleh riwayat Ibnu Juraij yang mengatakan, telah menceritakan kepadanya Al-Qasim ibnu Abu Barzah, dari Mujahid, sehubungan dengan makna firman-Nya: Apakah kalian menceritakan kepada mereka (orang-orang Arab) apa yang telah diterangkan Allah kepada kalian. (Al-Baqarah: 76) bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam Perang Khaibar di bawah benteng pertahanan mereka (orang-orang Yahudi) pernah mengatakan, “”Wahai saudara-saudara kera dan babi, wahai para penyembah tagut (berhala)!”” Mereka menjawab, “”Tiada lain orang yang memberitahukan ini melainkan Muhammad, tiadalah ucapan berikut kecuali keluar dari kalian.”” Yang mereka maksudkan adalah firman Allah Swt: Apakah kalian menceritakan kepada mereka (orang-orang Arab) apa yang telah diterangkan Allah kepada kalian. (Al-Baqarah: 76) Yaitu apa yang telah diputuskan Allah untuk memperoleh kemenangan, yang pada akhirnya hal tersebut akan dijadikan sebagai hujah oleh mereka (orang-orang Arab) untuk menghadapi kalian sendiri.

Ibnu Juraij meriwayatkan dari Mujahid, bahwa hal ini terjadi ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus sahabat Ali kepada mereka (orang-orang Yahudi), lalu mereka menyakiti Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam As-Suddi mengatakan sehubungan dengan firman-Nya: Apakah kalian menceritakan kepada mereka apa yang telah diterangkan Allah kepada kalian. (Al-Baqarah: 76) yakni mengenai siksaan. Supaya dengan demikian mereka (orang-orang Arab) dapat mengalahkan hujah kalian di hadapan Tuhan kalian (Al-Baqarah: 76) Mereka yang berbuat demikian adalah segolongan orang-orang Yahudi yang beriman, lalu munafik; mereka selalu berbicara kepada orang-orang mukmin dari kalangan orang-orang Arab tentang siksaan yang mereka alami. Maka sebagian dari golongan orang-orang Yahudi itu mengatakan kepada sebagian yang lainnya, seperti yang disebutkan oleh firman-Nya: Apakah kalian menceritakan kepada mereka (orang-orang Arab) apa yang telah diterangkan Allah kepada kalian. (Al-Baqarah: 76) berupa siksaan (yang pernah kalian alami) yang akibatnya mereka mengatakan kepada kalian, “”Kami lebih dicintai oleh Allah daripada kalian, dan kami lebih dimuliakan oleh Allah daripada kalian.”” ‘Atha’ Al-Khurrasani mengatakan sehubungan dengan firman-Nya: Apakah kalian menceritakan kepada mereka (orang-orang Arab) apa yang telah diterangkan Allah kepada kalian. (Al-Baqarah: 76) Yaitu apa yang telah ditakdirkan bagi kalian berupa nikmat dan siksaan.

Al-Hasan Al-Basri mengatakan, orang-orang Yahudi itu apabila bersua dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan, “”Kami pun telah beriman.”” Tetapi apabila mereka kembali berada di antara sesama mereka, maka sebagian dari mereka berkata kepada sebagian yang lain, “”Janganlah kalian ceritakan kepada teman-teman Muhammad apa yang telah diterangkan Allah kepada kalian di dalam kitab kalian, yang pada akhirnya hal tersebut dijadikan hujah oleh mereka untuk menghadapi dan menentang kalian.”” Firman Allah Subhanahu wa ta’ala: Tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah mengetahui segala yang mereka sembunyikan dan segala yang mereka nyatakan (Al-Baqarah: 77) Abul Aliyah mengatakan, makna yang dimaksud ialah segala yang mereka sembunyikan berupa kekufuran terhadap Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kedustaan mereka kepadanya, padahal mereka menemukan ciri-cirinya tercatat di dalam kitab yang ada pada mereka.

Hal yang sama dikatakan pula oleh Qatadah. Al-Hasan mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: bahwa Allah mengetahui segala yang mereka sembunyikan dan segala yang mereka nyatakan. (Al-Baqarah: 77) Apa yang mereka sembunyikan itu ialah bilamana mereka meninggalkan sahabat-sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu berada di antara sesama mereka, maka sebagian dari mereka berkata kepada sebagian yang lain, yang kesimpulannya mereka saling melarang di antara sesamanya untuk menceritakan kepada seseorang dari sahabat-sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hal-hal yang disebut di dalam kitab mereka.

Demikian itu karena mereka merasa khawatir bila hal tersebut akan dijadikan hujah oleh sahabat-sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap diri mereka di hadapan Tuhan mereka, yakni senjata makan tuan. Wama yulinuna, dan segala yang mereka lahirkan, yakni ucapan mereka kepada sahabat-sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mengatakan, “”Kami pun beriman.”” Demikian pula yang dikatakan oleh Abul Aliyah, Ar-Rabi’, dan Qatadah. #learnquran

Al Baqarah

Indeks Tema Al Baqarah

DAFTAR ISI

Hello. Add your message here.