Tafsir Surat Ali Imran Ayat 7

Ali Imran :: Indeks Tema Ali Imran :: Daftar Surat :: Ibnu Katsir

Ali-‘Imran: 7

هُوَ الَّذِي أَنزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُّحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِّنْ عِندِ رَبِّنَا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ

Terjemahan

“Dialah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi Al qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “”Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami””. Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.”

Tafsir (Ibnu Katsir)

Tafsir Surat Ali-‘Imran: 7-9

Dialah yang menurunkan Al-Kitab (Al-Qur’an) kepada kamu. Di antara isinya ada ayat-ayat yang muhkamat, itulah pokok-pokok isi Al-Qur’an; dan yang lain (ayat-ayat) mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihat darinya untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata, “”Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan Kami.”” Dan tidak dapat mengambil pelajaran (darinya) melainkan orang-orang yang berakal. (Mereka berdoa), “”Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau memberi petunjuk kepada kami, dan karuniakanian Kepaaa Kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi (karunia).

Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengumpulkan manusia untuk (menerima pembalasan pada) hari yang tak ada keraguan padanya.”” Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji. Allah subhanahu wa ta’ala memberitakan bahwa di dalam Al-Qur’an terdapat ayat-ayat muhkam, yang semuanya merupakan Ummul Kitab, yakni terang dan jelas pengertiannya, tiada seorang pun yang mempunyai pemahaman yang keliru tentangnya. Bagian yang lain dari kandungan Al-Qur’an adalah ayat-ayat mutasyabih (yang samar) pengertiannya bagi kebanyakan orang atau sebagian dari mereka. Barang siapa yang mengembalikan hal yang mutasyabih kepada dalil yang jelas dari Al-Qur’an, serta memutuskan dengan ayat yang muhkam atas ayat yang mutasyabih, maka sesungguhnya dia mendapat petunjuk.

Barang siapa yang terbalik, yakni memutuskan yang mutasyabih atas yang muhkam, maka terbaliklah dia. Karena itulah Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: itulah pokok-pokok isi Al-Qur’an. (Ali Imran: 7) Yaitu pokok dari isi Al-Qur’an yang dijadikan aijukan di saat menjumpai yang mutasyabih. dan yang lain (ayat-ayat) mutasyabihat. (Ali Imran: 7) Yakni ayat-ayat yang pengertiannya terkadang mirip dengan ayat-ayat yang muhkam dan terkadang mirip dengan pengertian lainnya bila ditinjau dari segi lafal dan susunannya, tetapi tidak dari segi makna yang dimaksud. Mereka berselisih pendapat mengenai muhkam dan mutasyabih, berbagai pendapat banyak diriwayatkan dari kalangan ulama Salaf.

Untuk itu, Ali ibnu Abu Talhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa ayat-ayat yang muhkam adalah ayat-ayat yang me-nasakh (merevisi), ayat-ayat yang menerangkan tentang halal dan haram, batasan-batasan dari Allah, serta semua hal yang berpengaruh dan diamalkan. Disebutkan pula dari Ibnu Abbas bahwa ayat-ayat muhkam (antara lain) ialah firman Allah subhanahu wa ta’ala: Katakanlah, “”Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kalian oleh Tuhan kalian, yaitu janganlah kalian mempersekutukan sesuatu dengan Dia (Al-An’am: 151) Dan ayat-ayat lain yang sesudahnya, juga firman Allah subhanahu wa ta’ala: Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kalian jangan menyembah selain Dia. (Al-Isra: 23) Serta ketiga ayat sesudahnya.

Ibnu Abu Hatim meriwayatkannya pula; dia meriwayatkannya dari Said ibnu Jubair dengan lafal yang sama. Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepadaku ayahku, telah menceritakan kepada kami Sulaiman ibnu Harb, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Zaid, dari Ishaq ibnu Suwaid, bahwa Yahya ibnu Ya’mur dan Abu Fakhitah melakukan perdebatan sehubungan dengan makna ayat ini, yaitu firman-Nya: itulah pokok-pokok isi Al-Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyabihat. (Ali Imran: 7).

Maka Abu Fakhitah berkata, “”Yang dimaksud dengan ayat-ayat mutasyabihat ialah pembukaan tiap-tiap surat (yang terdiri atas rangkaian huruf-huruf hijaiyah).”” Sedangkan menurut Yahya ibnu Ya’mur, makna yang dimaksud dengan Ummul Kitab ialah yang menyangkut fardu-fardu, perintah, dan larangan, serta halal dan haram. Ibnu Luhai’ah meriwayatkan dari ‘Atha’ ibnu Dinar, dari Sa’id ibnu Jubair sehubungan dengan firman-Nya: itulah pokok-pokok isi Al-Qur’an. (Ali Imran: 7), Dinamakan Ummul Kitab karena ayat-ayat tersebut tertulis di dalam semua kitab.

Muqatil ibnu Hayyan mengatakan bahwa dikatakan demikian karena tiada seorang pemeluk agama pun melainkan ia rida dengannya. Menurut pendapat yang lain sehubungan dengan ayat-ayat mutasyabihat, yang dimaksud adalah ayat yang di-mansukh, hal yang didahulukan dan hal yang diakhirkan, semua misal (perumpamaan) yang terdapat di dalam Al-Qur’an, semua qasam (sumpah) dan hal-hal yang hanya diimani tetapi tidak diamalkan. Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Ali ibnu Abu Talhah dari Ibnu Abbas.

Menurut pendapat yang lain, ayat-ayat mutasyabihat ialah huaif-huruf hijaiyah yang ada pada permulaan tiap-tiap surat. Demikian menurut Muqatil ibnu Hayyan. Telah diriwayatkan dari Mujahid, bahwa ayat-ayat mutasyabihat sebagian darinya membenarkan sebagian yang lain. Hal ini hanyalah menyangkut tafsir firman-Nya: yaitu sebuah kitab (Al-Qur’an) yang serupa lagi berulang-ulang. (Az-Zumar: 23) Dalam tafsir ayat ini mereka menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan mutasyabih ialah suatu kalam yang berada dalam konteks yang sama; sedangkan yang dimaksud dengan masani ialah kalam yang menggambarkan dua hal yang berlawanan, seperti gambaran surga dan gambaran neraka, dan keadaan orang-orang yang bertakwa dengan keadaan orang-orang yang durhaka, begitulah seterusnya.

Yang dimaksud dengan istilah mutasyabih dalam ayat ini (Ali Imran: 7) ialah lawan kata dari muhkam. Pendapat yang paling baik sehubungan dengan masalah ini ialah apa yang telah kami sebut di atas, yaitu yang dinaskan oleh Muhammad ibnu Ishaq ibnu Yasar ketika ia mengatakan sehubungan dengan tafsir firman-Nya: Di antara (isi)nya ada ayat-ayat muhkamat. (Ali Imran: 7) Ayat-ayat yang muhkam merupakan hujah Tuhan, dan pemeliharaan bagi hamba-hamba Allah, serta untuk mematahkan hujah lawan yang batil.

Ayat-ayat ini tidak dapat dibelokkan pengertiannya dan tidak dapat ditakwilkan dengan pengertian yang menyimpang dari apa adanya. Muhammad ibnu Ishaq ibnu Yasar mengatakan bahwa mutasyabihat dalam hal kebenarannya tidak memerlukan adanya pengertian lain dan takwil yang terkandung di balik makna lahiriahnya; Allah menguji hamba-hamba-Nya dengan ayat-ayat mutasyabihat ini, sebagaimana Dia menguji mereka dengan masalah halal dan haram.

Pada garis besarnya ayat-ayat mutasyabihat tidak boleh dibelokkan kepada pengertian yang batil dan tidak boleh diselewengkan dari perkara yang hak. Karena itulah Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan. (Ali Imran: 7) Yakni kesesatan dan menyimpang dari perkara yang hak, menyukai perkara yang batil. Maka mereka mengikuti ayat yang mutasyabihat darinya. (Ali Imran: 7) Yaitu sesungguhnya mereka hanya mau mengambil yang mutasyabihnya saja, karena dengan yang mutasyabih itu memungkinkan bagi mereka untuk membelokkannya sesuai dengan tujuan-tujuan mereka yang rusak, lalu mereka mengartikannya dengan pengertian tersebut, mengingat lafaznya mirip dengan pengertian mereka yang menyimpang.

Terhadap yang muhkam, maka tidak ada jalan bagi mereka untuk melakukan penyimpangan-penyimpangan padanya, karena yang muhkam merupakan hujah yang mematahkan alasan mereka dan dapat membungkam mereka. Karena itulah Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: untuk menimbulkan fitnah. (Ali Imran: 7) Yaitu untuk menyesatkan para pengikut mereka dengan cara memakai Al-Qur’an sebagai hujah mereka untuk mengelabui para pengikutnya terhadap bid’ah yang mereka lakukan. Padahal kenyataannya hal tersebut merupakan hujah yang menghantam mereka dan sama sekali bukan hujah yang mereka peralat.

Perihalnya sama dengan masalah seandainya orang-orang Nasrani mengemukakan hujahnya ‘Al-Qur’an telah menyebutkan bahwa Isa adalah ruh (ciptaan) Allah dan kalimat (perintah)-Nya yang Dia sampaikan kepada Maryam dan ruh dari Allah’, tetapi mereka mengesampingkan firman-Nya yang mengatakan: Isa tidak lain hanyalah seorang hamba yang Kami berikan kepadanya nikmat (kenabian). (Az-Zukhruf: 59) Sesungguhnya misal (penciptaan) isa di sisi Allah adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya, “”Jadilah”” (seorang manusia), maka jadilah dia. (Ali Imran: 59) Dan ayat-ayat lainnya yang muhkam lagi jelas menunjukkan bahwa Isa adalah salah seorang dari makhluk Allah, dan merupakan seorang hamba serta seorang rasul di antara rasul-rasul Allah.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala: dan untuk mencari-cari takwilnya. (Ali Imran: 7) Yakni penyimpangannya menurut apa yang mereka kehendaki. Muqatil ibnu Hayyan dan As-Suddi mengatakan bahwa mereka ingin mencari tahu apa yang bakal terjadi dan bagaimana akibat dari ber-bagai hal melalui Al-Qur’an. Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ismail, telah menceritakan kepada kami Ya’qub, dari Abdullah ibnu Abu Mulaikah, dari Siti Aisyah yang mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan firman-Nya: Dialah yang menurunkan Al-Kitab (Al-Qur’an) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat muhkamat, itulah pokok-pokok isi Al-Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyabihat. (Ali Imran: 7) sampai dengan firman-Nya: orang-orang yang berakal. (Ali Imran: 7) Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Apabila kalian melihat orang-orang yang berbantah-bantahan mengenainya (mutasyabih), maka merekalah orang-orang yang dimaksudkan oleh Allah. Karena itu, hati-hatilah kalian terhadap mereka. Demikianlah bunyi hadits ini menurut apa yang terdapat di dalam Musnad Imam Ahmad melalui riwayat Ibnu Abu Mulaikah, dari Siti Aisyah tanpa ada seorang perawi pun di antara keduanya (antara Ibnu Abu Mulaikah dengan Siti Aisyah).

Hal yang sama diriwayatkan oleh Ibnu Majah melalui jalur Ismail ibnu Ulayyah dan Abdul Wahhab As-Saqafi, keduanya dari Ayyub dengan lafal yang sama. Muhammad ibnu Yahya Al-Abdi meriwayatkan pula di dalam kitab musnadnya melalui Abdul Wahhab As-Saqafi dengan lafal yang sama. Hal yang sama diriwayatkan pula oleh Abdur Razzaq, dari Ma’mar, dari Ayyub. Hal yang sama diriwayatkan pula oleh bukan hanya seorang, dari Ayyub.

Ibnu Hibban meriwayatkan pula di dalam kitab sahihnya melalui hadits Ayyub dengan lafal yang sama. Abu Bakar ibnul Munzir meriwayatkannya di dalam kitab tafsirnya melalui dua jalur, yaitu dari Abun Nu’man, Muhammad ibnul Fadl As-Sudusi yang laqab-nya (julukannya) adalah Arim, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Zaid, telah menceritakan kepada kami Ayyub, dari Ibnu Abu Mulaikah, dari Siti Aisyah dengan lafal yang sama.

Ayyub (yaitu Abu Amir Al-Kharraz) dan lain-lainnya mengikutinya, dari Ibnu Abu Mulaikah; lalu Imam At-Tirmidzi meriwayatkannya dari Bandar, dari Abu Dawud Ath-Thayalisi, dari Abu Amir Al-Kharraz, kemudian ia menuturkan hadits ini. Sa’id ibnu Mansur meriwayatkannya pula di dalam kitab sunnah-nya, dari Hammad ibnu Yahya, dari Abdullah ibnu Abu Mulaikah, dari Aisyah. Ibnu Jarir meriwayatkannya pula melalui hadits Rauh ibnul Qasim dan Nafi’ ibnu Umar Al-Jumahi; keduanya dari Ibnu Abu Mulaikah, dari Aisyah.

Nafi’ mengatakan dalam riwayatnya dari Ibnu Abu Mulaikah, bahwa Siti Aisyah pernah menceritakan kepadaku, lalu ia (Ibnu Abu Mulaikah) menuturkan hadits ini. Imam Al-Bukhari meriwayatkan pula hadits ini dalam tafsir ayat ini, sedangkan Imam Muslim meriwayatkannya di dalam Kitabul Qadar dari kitab sahihnya, dan Abu Dawud di dalam kitab sunnahnya; ketiganya meriwayatkan hadits ini dari Al-Aqnabi, dari Yazid ibnu Ibrahim At-Tusturi dari Ibnu Abu Mulaikah dari Al-Qasim ibnu Muhammad dari Siti Aisyah yang menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat berikut, yaitu firman-Nya: Dialah yang menurunkan Al-Kitab (Al-Qur’an) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamat. (Ali Imran: 7), sampai dengan firman-Nya: Dan tidak dapat mengambil pelajaran (darinya) melainkan orang-orang yang berakal. (Ali Imran: 7) Siti Aisyah melanjutkan kisahnya, bahwa setelah itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Apabila kalian melihat orang-orang yang mengikuti hal-hal yang mutasyabih darinya, maka mereka itulah orang-orang yang disebutkan oleh Allah; maka hati-hatilah kalian terhadap mereka.

Demikianlah menurut lafal Imam Al-Bukhari. Hal yang sama diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi melalui Bandar, dari Abu Dawud Ath-Thayalisi, dari Yazid ibnu Ibrahim dengan lafal yang sama. Imam At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Imam At-Tirmidzi menuturkan bahwa Yazid ibnu Ibrahim At-Tusturi sendirilah yang menyebut Al-Qasim dalam sanad ini, sedangkan menurut yang lainnya yang bukan hanya seorang meriwayatkannya dari Ibnu Abu Mulaikah langsung dari Siti Aisyah, tanpa menyebut Al-Qasim.

Demikian komentar Imam At-Tirmidzi. Ibnu Abu Hatim meriwayatkan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Abul Walid Ath-Thayalisi, telah menceritakan kepada kami Yazid ibnu Ibrahim At-Tusturi dan Hammad ibnu Abu Mulaikah, dari Al-Qasim ibnu Muhammad, dari Siti Aisyah yang menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya mengenai makna firman-Nya: Adapun orang-orang yang di dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihat darinya. (Ali Imran: 7) Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab melalui sabdanya: Apabila kalian melihat orang-orang yang mengikuti hal-hal yang mutasyabih dari Al-Qur’an, maka mereka itulah orang-orang yang disebutkan oleh Allah (dalam ayat ini); maka hati-hatilah (waspadalah) kalian terhadap mereka. Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Sahl, telah menceritakan kepada kami Al-Walid ibnu Muslim, dari Hammad ibnu Salamah, dari Abdur Rahman ibnul Qasim, dari ayah-nya, dari Siti Aisyah yang menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya mengenai ayat ini, yaitu firman-Nya: maka mereka mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihat darinya untuk menimbulkan fitnah. (Ali Imran: 7) Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Allah telah memperingatkan kalian.

Maka apabila kalian melihat mereka, waspadalah kalian terhadap mereka. Hadits ini diriwayatkan pula oleh Ibnu Mardawaih melalui jalur yang lain, dari Al-Qasim, dari Siti Aisyah dengan lafal yang sama. 106] Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Kamil, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Abu Galib yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Abu Umamah menceritakan hadits berikut dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sehubungan dengan firman-Nya: Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihat darinya. (Ali Imran: 7) bahwa mereka adalah golongan Khawarij.

Juga firman-Nya: Pada hari yang di waktu itu ada muka yang menjadi putih berseri, dan ada pula muka yang menjadi hitam muram. (Ali Imran: 106). Mereka (yang mukanya menjadi hitam muram) adalah golongan Khawarij. Ibnu Mardawaih meriwayatkannya pula melalui jalur yang lain, dari Abu Galib, dari Abu Umamah, lalu ia menuturkan hadits ini. Minimal hadits ini berpredikat mauquf karena dikategorikan sebagai perkataan seorang sahabat, tetapi makna yang dikandungnya shahih (benar).

Karena sesungguhnya mula-mula bid’ah yang terjadi dalam permulaan masa Islam ialah fitnah Khawarij. Pada mulanya mereka muncul disebabkan masalah duniawi, yaitu ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membagi-bagi hasil ganimah Perang Hunain. Dalam akal mereka yang tidak sehat seakan-akan mereka melihat bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berlaku adil dalam pembagian ganimah. Lalu mereka mengejutkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan suatu ucapan yang tidak pantas. Maka seseorang dari mereka (Khawarij) yang dikenal dengan julukan “”Zul Khuwaisirah”” (si pinggang kecil, semoga Allah merobek pinggangnya) berkata, “”Berlaku adillah engkau, karena sesungguhnya engkau tidak adil.”” Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: Sesungguhnya kecewa dan merugilah aku jika aku tidak adil. Allah mempercayakan aku untuk penduduk bumi, maka mengapa engkau tidak percaya kepadaku? Ketika lelaki itu pergi, Umar ibnul Khattab menurut riwayat yang lain Khalid ibnul Walid meminta izin kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk membunuh lelaki yang mengatakan demikian itu. Tetapi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Biarkanlah dia, sesungguhnya kelak akan muncul dari golongan lelaki ini suatu kaum yang seseorang di antara kalian memandang kecil salatnya bila dibandingkan dengan shalat mereka, dan bacaannya dengan bacaan mereka.

Mereka menembus agama sebagaimana anak panah menembus sasarannya. Maka dimana pun kalian jumpai mereka, perangilah mereka, karena sesungguhnya bagi orang yang membunuh mereka akan mendapat pahala. Mereka baru muncul dalam masa Khalifah Ali ibnu Abu Thalib : dan ia memerangi mereka di Nahrawan. Kemudian bercabanglah dari mereka berbagai kabilah dan puak serta berbagai aliran dan sekte yang cukup banyak.

Lalu muncullah aliran Qadariyah, Mu’tazilah, Jahmiyah, dan aliran-aliran bid’ah lainnya yang jauh sebelum itu telah diberitakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam salah satu sabdanya: Umat ini kelak akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan, semuanya masuk neraka kecuali satu golongan. Mereka (para sahabat) bertanya, “”Siapakah mereka yang satu golongan itu, ya Rasulullah?”” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “”Orang-orang yang berpegang kepada tuntunanku dan tuntunan para sahabatku. Hadits diketengahkan oleh Imam Hakim di dalam kitab Mustadrak-nya dengan tambahan ini. Al-Hafidzh Abu Ya’la mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Musa, telah menceritakan kepada kami Amr Ibnu ‘Ashim, telah menceritakan kepada kami Al-Mu’tamir, dari ayahnya, dari Qatadah, dari Al-Hasan ibnu Jundub ibnu Abdullah; telah disampaikan kepadanya sebuah hadits dari Huzaifah atau dia mendengarnya langsung dari Huzaifah, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menuturkan hal berikut: Sesungguhnya di dalam umatku terdapat suatu kaum, mereka membaca Al-Qur’an dengan bacaan yang sangat lancar seperti menebar anak panah, mereka menakwilkannya bukan dengan takwil yang sebenarnya.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala: padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah. (Ali Imran: 7) Para ahli qurra berselisih pendapat mengenai bacaan waqaf dalam ayat ini. Menurut suatu pendapat, waqaf dilakukan pada lafzul Jalalah, seperti apa yang telah diriwayatkan dari Ibnu Abbas , bahwa ia pernah mengatakan, “”Tafsir itu ada empat macam, yaitu tafsir yang tidak sulit bagi seseorang untuk memahaminya, tafsir yang diketahui oleh orang-orang Arab melalui bahasanya, tafsir yang hanya diketahui oleh orang-orang yang berilmu mendalam, dan tafsir yang tiada yang mengetahuinya selain Allah.”” Pendapat yang sama diriwayatkan pula dari Siti Aisyah, Urwah, Abusy Sya’sa, Abu Nuhaik, dan Lain-lain.

Al-Hafidzh Abul Qasim di dalam kitab Mu’jamul Kabir-nya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hasyim ibnu Marsad, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ismail ibnu Iyasy, telah menceritakan kepadaku ayahku, telah menceritakan kepadaku Damdam ibnu Zur’ah, dari Syuraih ibnu Ubaid, dari Abu Malik Al-Asy’ari, bahwa ia pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Aku tidak mengkhawatirkan umatku kecuali terhadap tiga perkara, yaitu bila harta bertambah banyak bagi mereka, lalu mereka saling mendengki, dan akhirnya mereka saling berperang; dan bila dibukakan bagi mereka (pemahaman) Al-Qur’an, lalu orang mukmin mengambilnya dengan tujuan mencari-cari takwilnya, “”Padahal tidak ada yang mengetahui takwil-nya melainkan Allah dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata, ‘Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat’ (Ali Imran: 7), hingga akhir ayat.

Dan bilamana ilmu mereka makin bertambah, yang pada akhirnya mereka menyia-nyiakannya dan mereka tidak menanyakannya. Hadits ini gharib sekali. Ibnu Mardawaih mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Amr, telah menceritakan kepada kami Hisyam ibnu Ammar, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Hatim, dari ayahnya, dari Amr ibnu Syu’aib, dari ayahnya, dari Ibnul As, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah bersabda: Sesungguhnya Al-Qur’an itu sebagian darinya tidaklah diturunkan untuk mendustakan sebagian yang lainnya.

Maka apa saja darinya yang kalian ketahui, amalkanlah; dan apa saja darinya yang mutasyabih, maka berimanlah kalian kepadanya. Abdur Razzaq mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ma’mar, dari Tawus, dari ayahnya yang menceritakan bahwa Ibnu Abbas membaca ayat ini dengan bacaan seperti berikut: Padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya, melainkan Allah. Sedangkan orang-orang yang mendalam ilmunya (hanya) mengatakan, “”Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat.

Hal yang sama diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, dari Umar ibnu Abdul Aziz dan Malik ibnu Anas, bahwa mereka (orang-orang yang mendalam ilmunya) hanya beriman kepadanya, sedangkan mereka tidak mengetahui takwilnya. Ibnu Jarir meriwayatkan bahwa di dalam qiraat Abdullah ibnu Mas’ud disebutkan takwil ayat-ayat mutasyabihat hanya ada pada Allah, sedangkan orang-orang yang mendalam ilmunya hanya mengatakan, “”Kami beriman kepada apa yang disebutkan oleh ayat-ayat mutasyabihat.”” Hal yang sama diriwayatkan dari Ubay ibnu Ka’b, dan pendapat ini dipilih oleh Ibnu Jarir.

Di antara mereka ada yang melakukan waqaf pada firman-Nya: Dan orang-orang yang mendalam ilmunya. (Ali Imran: 7) Pendapat ini diikuti oleh banyak ahli tafsir dan ahli Usul, dan mereka mengatakan bahwa khitab dengan memakai ungkapan yang tidak dimengerti merupakan hal yang mustahil. Ibnu Abu Nujaih meriwayatkan dari Mujahid, dari Ibnu Abbas, bahwa ia pernah mengatakan, “”Aku termasuk orang-orang yang mendalam ilmunya, yaitu mereka yang mengetahui takwilnya.”” Ibnu Abu Nujaih meriwayatkan pula dari Mujahid, bahwa orang-orang yang mendalam ilmunya mengetahui takwilnya dan mereka mengatakan, “”Kami beriman kepadanya.”” Hal yang sama dikatakan oleh Ar-Rabi’ ibnu Anas.

Muhammad ibnu Ishaq meriwayatkan dari Muhammad ibnu Ja’far ibnuz Zubair, bahwa makna yang dimaksud ialah tidak ada seorang pun yang mengetahui makna yang dimaksud kecuali hanya Allah. Orang-orang yang mendalam ilmunya mengatakan, “”Kami beriman kepada mutasyabih.”” Kemudian mereka yang mendalam ilmunya dalam menakwilkan ayat-ayat yang mutasyabihat merujuk kepada apa yang telah mereka ketahui dari takwil ayat-ayat muhkamat yang semua orang mempunyai takwil yang sama mengenainya.

Dengan demikian, maka semua isi Al-Qur’an serasi berkat pendapat mereka, sebagian di antaranya membenarkan sebagian yang lain; sehingga hujah pun menembus sasarannya dan tiada suatu alasan pun untuk mengelak darinya, serta semua kebatilan tersisihkan dan semua kekufuran tertolak berkat Al-Qur’an. Di dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendoakan sahabat Ibnu Abbas dengan doa berikut: Ya Allah, berilah dia pemahaman dalam agama dan ajarkanlah kepadanya takwil (Al-Qur’an). Di antara ulama ada yang merincikan masalah ini, dia mengatakan bahwa takwil Al-Qur’an dimaksudkan mempunyai dua pengertian.

Salah satunya ialah takwil dengan pengertian hakikat sesuatu dan merupakan kesimpulan darinya. Termasuk ke dalam pengertian ini ialah firman-Nya: Dan berkata Yusuf, “”Wahai ayahku, inilah tabir mimpiku yang dahulu itu.”” (Yusuf: 100) Dan firman-Nya: Tiadalah mereka menunggu-nunggu kecuali (terlaksananya kebenaran) Al-Qur’an itu. Pada hari datangnya kebenaran pemberitaan Al-Qur’an itu. (Al-A’raf: 53) Yakni hakikat dari apa yang diberitakan kepada mereka menyangkut perkara akhirat, apabila yang dimaksud dengan takwil seperti di atas berarti waqaf-nya pada lafzul Jalalah.

Karena hakikat dan kenyataan segala sesuatu itu tidak ada seorang pun yang mengetahuinya dengan jelas kecuali hanya Allah subhanahu wa ta’ala Dengan demikian, berarti firman-Nya: Dan orang-orang yang mendalam ilmunya. (Ali Imran: 7) berkedudukan sebagai mubtada. Sedangkan firman-Nya: mengatakan, “”Kami beriman kepadanya.”” (Ali Imran: 7) berkedudukan sebagai khabar-nya. Adapun jika yang dimaksud dengan takwil ialah pengertian yang lain, yaitu seperti tafsir, penjelasan, dan keterangan mengenai sesuatu, seperti makna yang terdapat di dalam firman-Nya: Berikanlah kepada kami takwilnya. (Yusuf: 36) Yakni tafsir dari mimpinya itu. Jika yang dimaksud adalah seperti ini, berarti waqaf-nya pada firman-Nya: dan orang-orang yang mendalam ilmunya. (Ali Imran: 7) Karena mereka mengetahui dan memahami apa yang di-khitab-kan oleh Al-Qur’an dengan ungkapannya itu, sekalipun pengetahuan mereka tidak meliputi hakikat segala sesuatu seperti apa adanya.

Berdasarkan analisis ini, berarti firman-Nya: mengatakan, “”Kami beriman kepadanya.”” (Ali Imran: 7) berkedudukan sebagai hal yang menggambarkan keadaan mereka. Hal ini memang diperbolehkan; dan ia merupakan bagian dari ma’tuf, bukan ma’tuf ‘alaih, seperti pengertian yang terkandung di dalam firman-Nya: (Juga) bagi orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan harta benda mereka. (Al-Hasyr: 8) sampai dengan firman-Nya: mereka berdoa, “”Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami.”” (Al-Hasyr: 10), hingga akhir ayat.

Dan seperti firman Allah subhanahu wa ta’ala: Dan datanglah Tuhanmu, dan (datang pula) malaikat dengan berbaris-baris. (Al-Fajr: 22) Firman Allah subhanahu wa ta’ala yang memberitakan perihal mereka yang mendalam ilmunya, bahwa mereka mengatakan, “”Kami beriman kepadanya,”” yakni kepada ayat-ayat mutasyabihat itu. Semuanya yakni yang muhkam dan yang mutasyabih berasal dari sisi Tuhan kami dengan sebenarnya. Masing-masing dari keduanya membenarkan yang lainnya dan mempersaksikannya, karena semuanya berasal dari sisi Allah; Tiada sesuatu pun dari sisi Allah yang berbeda dan tidak pula berlawanan, seperti yang disebutkan oleh firman-Nya: Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an? Kalau sekiranya Al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. (An-Nisa: 82) Karena itulah Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: Dan tidak dapat mengambil pelajaran (darinya) melainkan orang-orang yang berakal. (Ali Imran: 7) Dengan kata lain, sesungguhnya orang yang mengerti dan dapat memahaminya dengan pemahaman yang sebenarnya hanyalah orang-orang yang berakal sehat dan berpemahaman yang lurus.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Auf Ahimsi, telah menceritakan kepada kami Nu’aim ibnu Hammad, telah menceritakan kepada kami Fayyad Ar-Riqqi, telah menceritakan kepada kami Ubaidillah ibnu Yazid (seseorang yang pernah bersua dengan sahabat-sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu Anas, Abu Umamah, dan Abu Darda), bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya mengenai pengertian orang-orang yang mendalam ilmunya. Maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Orang yang menunaikan sumpahnya, jujur lisannya dan hatinya lurus, serta orang yang memelihara kehormatan perut dan farjinya. Maka yang bersifat demikian itu termasuk orang-orang yang mendalam ilmunya. Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ma’mar, dari Az-Zuhri, dari Amr ibnu Syu’ab, dari ayahnya, dari kakeknya yang pernah menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar suatu kaum yang sedang berbantah-bantahan.

Maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya telah binasa orang-orang sebelum kalian karena hal ini; mereka mengadukan sebagian dari Kitabullah dengan sebagian yang lain. Dan sesungguhnya Kitabullah itu diturunkan hanyalah untuk membenarkan sebagian darinya dengan sebagian yang lain. Karena itu, janganlah kalian mendustakan sebagian darinya dengan sebagian yang lain. Hal-hal yang kalian ketahui darinya, maka katakanlah ia; dan hal-hal yang kalian tidak mengetahuinya, maka serahkanlah hal itu kepada yang mengetahuinya. Dalam pembahasan terdahulu hadits ini telah disebut oleh riwayat Ibnu Mardawaih melalui jalur Hisyam ibnu Ammar, dari Abu Hazim, dari Amr ibnu Syu’aib dengan lafal yang sama.

— Abu Ya’la Al-Mausuli mengatakan di dalam kitab musnadnya, telah menceritakan kepada kami Zuhair ibnu Harb, telah menceritakan kepada kami Anas ibnu Iyad, dari Abu Hazim, dari Abu Salamah yang mengatakan bahwa ia tidak mengetahui hadits ini melainkan dari Abu Hurairah yang isinya menyebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: Al-Qur’an diturunkan dengan memakai tujuh dialek, berdebat dalam masalah Al-Qur’an merupakan kekufuran sebanyak tiga kali. Apa saja yang kalian ketahui darinya, maka amalkanlah hal itu; dan apa saja yang kalian tidak ketahui darinya, maka kembalikanlah hal itu kepada Yang Maha Mengetahuinya.

Sanad hadits ini shahih, tetapi di dalamnya terdapat illat (cela) disebabkan ucapan perawi yang mengatakan, “”Aku tidak mengetahuinya kecuali dari Abu Hurairah.”” Ibnul Munzir di dalam kitab tafsirnya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdullah ibnu Abdul Hakam, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, telah menceritakan kepadaku Nafi’ ibnu Yazid yang mengatakan bahwa menurut suatu pendapat, orang-orang yang mendalam ilmunya ialah orang-orang yang tawadu’ kepada Allah, lagi rendah diri kepada Allah demi memperoleh rida-Nya.

Mereka tidak berbesar diri terhadap orang yang berada di atas mereka, dan tidak menghina orang yang berada di bawah mereka. Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala memberitakan perihal mereka, bahwa mereka selalu berdoa kepada Tuhan mereka seraya mengucapkan: Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau memberi petunjuk kepada kami. (Ali Imran: 8) Yakni janganlah Engkau menjadikannya menyimpang dari petunjuk sesudah Engkau meluruskannya pada jalan hidayah. Dan janganlah Engkau jadikan kami seperti orang-orang yang di dalam hati mereka terdapat kesesatan, yaitu mereka mengikuti ayat-ayat Al-Qur’an yang mutasyabih, tetapi tetapkanlah (teguhkanlah) kami pada jalan-Mu yang lurus dan agama-Mu yang lurus.

dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau. (Ali Imran: 8) Agar hati kami menjadi teguh, dan kesatuan kami terhimpun, serta iman dan keyakinan kami bertambah karenanya. karena sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi (karunia). (Ali Imran: 8) Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Abdullah Al-Audi; dan Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib. Keduanya mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Waki’, dari Abdul Hamid ibnu Bahrain, dari Syar ibnu Hausyab, dari Ummu Salamah, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan doa berikut: Ya Tuhan Yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku pada agama-Mu.

Kemudian membaca ayat berikut: Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau memberi petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi (karunia). (Ali Imran: 8) Hadits ini diriwayatkan pula oleh Ibnu Mardawaih dari jalur Muhammad ibnu Bakkar, dari Abdul Hamid ibnu Bahram, dari Syahr ibnu Hausyab, dari Ummu Salamah, dari Asma binti Yazid ibnus Sakan; aku pernah mendengar Asma binti Yazid ibnus Sakan menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam acapkali mengucapkan doa berikut: Ya Tuhan Yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku pada agama-Mu.

Ummu Salamah melanjutkan kisahnya, bahwa ia bertanya, “”Wahai Rasulullah, apakah hati itu benar-benar berbolak-balik?”” Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: Ya, tidak sekali-kali Allah menciptakan seorang manusia melainkan hati manusia itu berada di antara dua jari (kekuasaan) Allah subhanahu wa ta’ala Jika Dia menghendaki untuk meluruskannya, maka Dia menjadikannya lurus. Dan jika Dia menghendaki untuk menyesatkannya, maka Dia menjadikannya sesat. Kami memohon kepada Allah, Tuhan kami, semoga Dia tidak menjadikan hati kami sesat sesudah Dia memberinya petunjuk. Dan kami memohon kepada-Nya semoga Dia menganugerahkan kepada kami rahmat dari sisi-Nya, karena sesungguhnya Dia Maha Pemberi karunia.

Begitu pula menurut apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir melalui hadits Asad ibnu Musa, dari Abdul Hamid ibnu Bahram, disebutkan hal yang semisal. Ibnu Jarir meriwayatkannya pula dari Al-Musanna, dari Al-Hajjaj ibnu Minhal, dari Abdul Hamid ibnu Bahram dengan lafal yang semisal. Tetapi di dalam riwayat ini ditambahkan seperti berikut: Aku (Ummu Salamah) berkata, “”Wahai Rasulullah, maukah engkau mengajarkan kepadaku suatu doa yang aku panjatkan buat diriku sendiri?”” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “”Baiklah. Ucapkanlah, ‘Ya Allah, Tuhan Muhammad yang menjadi nabi, berilah daku ampun atas dosa-dosaku, lenyapkanlah luapan hatiku, dan lindungilah aku dari fitnah-fitnah yang menyesatkan’.”” .

Ibnu Mardawaih mengatakan, telah menceritakan kepada kami Sulaiman ibnu Ahmad, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Harun ibnu Bakkar Ad-Dimasyqi, telah menceritakan kepada kami Al-Abbas ibnul Walid Al-Khallal, telah menceritakan kepada kami Yazid ibnu Yahya ibnu Ubaidillah, telah menceritakan kepada kami Sa’id ibnu Basyir, dari Qatadah, dari Hassan Al-A’raj, dari Aisyah yang mengatakan bahwa doa yang sering dibaca oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah seperti berikut: Ya Tuhan Yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku pada agama-Mu. Siti Aisyah melanjutkan kisahnya, lalu ia bertanya, “”Wahai Rasulullah, engkau sering sekali membaca doa ini.”” Maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: Tidak ada suatu hati pun melainkan ia berada di antara kedua jari (kekuasaan) Tuhan Yang Maha Pemurah.

Jika Dia menghendaki meluruskannya, niscaya Dia membuatnya lurus; dan jika Dia menghendaki menyesatkannya, niscaya Dia membuatnya sesat. Tidakkah engkau pernah mendengar firman-Nya, “”Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau memberi petunjuk kepada kami; dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau, karena sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi (rahmat)”” (Ali Imran: 8). Hadits ini gharib bila ditinjau dari lafal ini, tetapi asalnya ada di dalam kitab Shahihain dan kitab-kitab hadits lainnya yang diriwayatkan melalui berbagai jalur yang cukup banyak tanpa tambahan ayat ini.

Hadits ini diriwayatkan pula oleh Abu Dawud, An-Nasai, dan Ibnu Mardawaih melalui riwayat Abu Abdur Rahman Al-Maqbari. Imam An-Nasai, Ibnu Hibban, dan Abdullah ibnu Wahb menambahkan bahwa keduanya meriwayatkan hadits ini dari Sa’id ibnu Abu Ayyub, telah menceritakan kepadaku Abdullah ibnul Walid At-Tajibi, dari Sa’id ibnul Musayyab, dari Siti Aisyah , bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila terbangun di malam hari mengucapkan doa berikut: Tidak ada Tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau, aku memohon ampun kepada-Mu atas dosa-dosaku, dan aku memohon rahmat kepada-Mu.

Ya Allah, tambahkanlah ilmu kepadaku dan janganlah Engkau sesatkan hatiku sesudah Engkau memberinya petunjuk; dan karuniakanlah kepadaku rahmat dari sisi-Mu, karena sesungguhnya Engkau Maha Pemberi karunia. Lafal hadits ini berdasarkan apa yang ada pada Ibnu Mardawaih. Abdur Razzaq meriwayatkan dari Malik, dari Abu Ubaid maula Sulaiman ibnu Abdul Malik, dari Ubadah ibnu Nissi yang menceritakan kepadanya bahwa ia pernah mendengar Qais ibnul Haris mengatakan bahwa Abu Abdullah As-Sanabiji menceritakan kepadanya bahwa ia pernah shalat bermakmum di belakang sahabat Abu Bakar As-Siddiq dalam shalat Magrib.

Lalu sahabat Abu Bakar dalam dua rakaat pertamanya membaca Ummul Qur’an dan dua surat mufassal yang pendek. Dalam rakaat yang ketiganya ia membaca Al-Qur’an pula. Abu Abdullah As-Sanabiji melanjutkan kisahnya, bahwa lalu ia mendekatkan dirinya kepada Abu Bakar, sehingga bajunya hampir saja bersentuhan dengan baju Abu Bakar. Maka ia mendengarnya membaca Ummul Qur’an (surat Al-Fatihah) dan ayat berikut, yaitu firman-Nya: Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau memberi petunjuk kepada kami. (Ali Imran: 8), hingga akhir ayat.

Abu Ubaid mengatakan, telah menceritakan kepadaku Ubadah ibnu Nissi, bahwa ia pernah berada di sisi Umar ibnu Abdul Aziz dalam .masa kekhalifahannya. Lalu Umar berkata kepada Qais, “”Apakah yang engkau sampaikan kepadaku dari Abu Abdullah?”” Umar berkata pula, “”Sejak aku mendengar ayat ini darinya, maka aku tidak pernah meninggalkannya, sekalipun sebelum itu aku tidak membaca demikian.”” Kemudian ada seorang lelaki bertanya, “”Wahai Amirul Mukminin, apakah yang engkau baca sebelum itu (sebelum mendengar atsar tersebut)?”” Umar ibnu Abdul Aziz menjawab bahwa ia sebelumnya selalu membaca: Katakanlah, “”Dialah Allah Yang Maha Esa.”” (Al-Ikhlas: 1), hingga akhir surat.

Asar ini diriwayatkan pula oleh Al-Walid ibnu Muslim, dari Malik dan Al-Auza’i; keduanya dari Abu Ubaid dengan kisah yang sama. Asar ini diriwayatkan pula oleh Al-Walid, dari Ibnu Jabir, dari Yahya ibnu Yahya Al-Gassani, dari Mahmud ibnu Labid, dari As-Sanabiji, bahwa ia shalat di belakang Abu Bakar dalam shalat Magrib-nya. Maka Abu Bakar membaca surat Al-Fatihah dan sebuah surat yang pendek dengan bacaan yang keras dalam dua rakaat pertamanya.

Ketika ia bangkit dalam rakaat yang ketiganya dan memulai membaca Al-Qur’an, maka aku mendekat kepadanya hingga bajuku benar-benar menyentuh bajunya, dan ternyata dia membaca ayat ini, yaitu firman-Nya: Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan. (Ali Imran: 8), hingga akhir ayat. Firman Allah subhanahu wa ta’ala: Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengumpulkan manusia untuk (menerima pembatesan pada) hari yang tak ada keraguan padanya. (Ali Imran: 9) Mereka mengatakan pula dalam doanya, bahwa sesungguhnya Engkau, ya Tuhan kami, akan menghimpun semua makhluk-Mu di hari kiamat nanti; dan kelak Engkau akan memutuskan peradilan di antara mereka serta memutuskan perihal yang mereka perselisihkan di antara mereka, lalu Engkau membalas tiap-tiap orang sesuai dengai amal perbuatannya dan kebaikan serta keburukan yang dikerjakannya selama di dunia.

Sumber : learn-quran.co

Ali Imran :: Indeks Tema Ali Imran :: Daftar Surat :: Ibnu Katsir

Ayo bagikan sebagai sedekah…

Kosmetik Terbaik Wanita Indonesia Selengkapnya...
Hello. Add your message here.