Kenapa Raksasa Intel Tewas dalam Perang Smartphone yang Brutal?

Kenapa Raksasa Intel Tewas dalam Perang Smartphone yang Brutal?

Dalam ladang pertempuran smartphone yang tak kenal ampun, sang raksasa Intel telah tergeletak mati dalam perih dan duka.

INTEL INSIDE. Ini adalah slogan yang dulu begitu melegenda. Intel memang sang raksasa agung dalam panggung era PC dan Laptop. Bertahun-tahun lamanya mereka menggapai singgasana – sejak era Pentium hingga era Core Two Duo.

Namun kini raksasa Intel tewas dalam perang smartphone yang brutal. Terbujur kaku dalam sembilu kepiluan.

What went wrong?

Beberapa waktu lalu, secara resmi Intel mengumumkan kekalahan mereka dalam pertarungan merebut pasar mikroprosesor smartphone.

Ratusan triliun dana yang mereka gunakan untuk pengembangan mobile procesor (elemen inti dari sebuah smartphone) lenyap disapu angin. Puluhan ribu karyawannya di-PHK.

Bagaimana mungkin Intel, sang dewa mikroprosesor bisa luput menangkap ledakan pasar smartphone?

Kembali kita disini disuguhkan drama inovasi yang tragis.

Too much love your product will kill you softly.

Intel dengan amat pedih harus merasakan kalimat romantis itu.

Semua berawal saat Apple (dalam persiapan membuat iPhone, gadget revolusioner di tahun 2007), mendekati Intel. Apple menawari Intel untuk membuat prosesor khusus yang akan dipakai iPhone.

Mengejutkan, Intel menolaknya. Jawaban Intel adalah khas innovator’s dilemma : sekarang saya sangat nyaman dengan pasar mikroprosesor PC/Laptop yang amat menguntungkan. Ngapain masuk ke mobile gadget yang belum jelas pasarnya.

Legacy trap. Jebakan sanga penguasa pasar yang amat khas. Jebakan yang berkali-kali sukses membunuh para penguasa pasar yang arogan dan “rabun” terhadap potensi masa depan dari sebuah inovasi.

Wajar, jika kemudian petinggi Intel bengong dan ternganga melihat produk iPhone sukses secara fantastis; disertai dengan ledakan pasar smartphone secara global. Bengong karena terjebak innovator’s dilemma.

Sadar akan potensi ledakan smartphone, Intel buru-buru membuat mikroprosesor untuk pasar mobile gadget. Sayangnya, kembali disini Intel terjebak dalam “legacy trap”.

Alih-alih membuat prosesor khusus untuk mobile gadget, maka Intel memutuskan untuk menggunakan tekonologi superior mereka dalam prosesor PC/Laptop demi membuat prosesor mobile yang hebat. Sebuah pendekatan yang terbukti FATAL.

Intel merasa superioritas mereka dalam prosesor PC bisa dimanfaatkan untuk mobile gadget. Sayang dong kalau tidak dimanfaatkan, batin mereka.

Perasan “sayang berlebihan terhadap keunggulan diri” itu yang lagi-lagi merupakan sentimen psikologis yang menjadi bumerang. Dan itu terbukti dalam kasus Intel.

Karena menggunakan teknologi PC, maka prosesor mobile Intel amat boros baterei – sebuah fitur krusial untuk mobile smartphone. Wajar jika produknya tidak disukai oleh produsen smartphone android seperti Samsung, Oppo, dan lain-lain.

Nah, disaat yang bersamaan muncul perusahaan kecil yang relatif baru bernama AMR.

Btw, kalau Anda menggunakan smartphone, Anda harus mengucapkan terima kasih pada AMR ini. Harus disebut AMR adalah “pahlawan yang tidak kelihatan” dari revolusi smartphone yang kini mendunia.

Bersama android, AMR adalah duet pendekar yang melahirkan global smartphone explosion.

AMR adalah pembuat desain chip dan prosesor yang menjadi JANTUNG smartphone Anda.

Berbeda dengan Intel, AMR mendesain prosesor dari awal khusus untuk mobile gadget.

AMR tidak digayuti “beban sejarah produk masa lalu”. Tidak seperti Intel yang terjebak romantisme masa lalu. Romantisme kecintaan berlebihan terhadap kekuatan Pentium dan kawan-kawannya.

Selain itu, AMR juga cerdik. Mereka hanya desainer chip, dan lalu menjual hak paten desain ini ke produsen prosesor seperti Qualcomm, Samsung, Nvidia, dan lain-lainnya.

Model bisnis seperti itu terbukti lebih efisien dan mempercepat inovasi. AMR fokus ke desain, sementara pabrikan seperti Qualcomm dan Samsung fokus ke pembuatan prosesor secara lengkap.

Intel tidak seperti itu. Mungkin karena arogan dan telanjur jadi penguasa terlalu lama, Intel menggabungkan keduanya. Ya jadi desainer, dan lalu membuat pabriknya sendiri. Akibatnya mungkin justru tidak efisien dan lamban mengeluarkan produk prosesor baru khusus untuk mobile device (pasar yang relatif baru buat mereka).

Kisahnya memang berakhir tragis buat Intel. Mereka tewas dan mengaku kalah dalam perang prosesor smartphone. Intel mungkin tetap jadi penguasa PC/Laptop, namun mereka terbujur mati dalam pasar smartphone.

Dan itu amat fatal bagi masa depan Intel. Kenapa? Sebab petumbuhan PC/laptop sudah makin menurun. Sementara pertumbuhan smartphone masih tinggi. Wajar jika harga saham Intel pernah kolaps hingga 80% (meski kini mulai naik lagi).

Sekedar info, AMR hingga kini tetap menjadi desainer chip mobile paling top. Nyaris menjadi pemain satu-satunya dalam desain chip smartphone Anda.

Sementara pabrikan prosesor paling hebat adalah Qualcomm dengan produknya yang bernama Snapdragon (saat ini yang terbaik mutunya). Samsung punya prosesor dengan merk Exynos, dan Nvidia dengan merk Tegra.

Sejarah telah berlalu. Intel harus menyesali keputusan mereka dulu menolak tawaran Apple.

Mereka juga mungkin harus menyesal kenapa harus terjebak romantisme cinta masa lalu. Jebakan cinta yang juga sukses membunuh Nokia dan Kodak dan melukai Sony.

Maka selalu kenanglah kalimat indah ini : jatuh cinta terlalu lama bisa membawamu dalam perpisahan yang kelam dan menyakitkan.

Sumber: strategimanajemen.net

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan.

Kosmetik Terbaik Wanita Indonesia Selengkapnya...
Hello. Add your message here.