Kisah Nabi Nuh ‘Alaihissalam

Nuh Alaihissalam diutus karena berhala-berhala dan thaghut-thaghut menjadi sesembahan. Manusia berada dalam kesesatan dan kekafiran. Allah mengutusnya sebagai rahmat bagi para hamba-Nya. Dia adalah rasul pertama yang diutus kepada penduduk bumi.

Ketika Allah mengutus Nuh Alaihissalam, ia berseru kepada seluruh manusia untuk mengkhususkan penyembahan hanya kepada Allah yang tiada sekutu bagi-Nya. Menyeru manusia agar tidak menyembah-Nya dengan menyembah patung, berhala, atau thaghut. Mereka harus mengakui keesaan-Nya dan tidak ada Tuhan selain-Nya.

Allah berfirman,

Dan mereka berkata, ‘Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwaa’, yaghuts, ya’uq, dan nasr’. “(Qs. Nuh [71]: 23)

Dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Nama-nama itu adalah nama orang-orang shalih dari kalangan kaum Nuh. Ketika mereka meninggal, syetan memberikan intuisi kepada kaumnya agar berkumpul di majelis-majelis tempat para ulama itu sering mengadakan perkumpulan dengan memasang berhala-berhala berupa gambar mereka. Mereka menamakan berhala-berhala itu dengan nama orang-orang shalih tersebut. Mereka lakukan hal itu, tetapi mereka tidak melakukan penyembahan kepada berhala-berhala yang telah mereka pasang, melainkan setelah mereka meninggal dunia. Ilmu mereka lenyap dan mereka disembah.

Nuh Alaihissalam menyeru mereka dengan segala cara; siang dan malam; sembunyi-sembunyi dan terang-terangan; dengan iming-iming dan ancaman. Namun semua cara itu tidak membuahkan kesuksesan.

Kebanyakan dari mereka berlanjut dalam kesesatan dan menyembah berhala serta patung-patung. Mereka bersikap memusuhi Nuh, menganggapnya sepele, dan mengancam para pengikut Nuh dengan pengusiran serta siksaan yang luar biasa. Sepanjang zaman terus terjadi permusuhan antara Nuh dengan kaumnya, sebagaimana difirmankan oleh Allah,

“Maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Maka mereka ditimpa banjir besar, dan mereka adalah orang-orang yang zhalim. “(Qs. Al Ankabuut [29]: 14)

Dalam masa yang sangat panjang itu sangat sedikit orang yang beriman kepadanya. Setiap generasi mulai punah, mereka memberikan wasiat kepada generasi berikutnya untuk tidak beriman kepada Nuh agar terus menyerang dan memusuhinya. Tabiat mereka adalah enggan beriman dan mengikuti yang haq.

Nabi Nuh lalu berdoa untuk kebinasaan mereka, dan Allah menerima dengan baik doanya. Ketika itu Allah memerintahkan Nuh agar membuat bahtera yang memiliki tiga tingkat. Setiap tingkat berukuran 10 hasta. Tingkat paling bawah untuk binatang-binatang, tingkat tengah untuk manusia, dan tingkat paling atas untuk burung-burung.

Topan melanda seluruh hamparan bumi. Nuh memanggil-manggil anak-anaknya, sebagaimana firman Allah, “Dan Nuh memanggil anaknya. “(Qs. Huud [11]: 42)

Anak-anak Nuh yang dimaksud itu adalah Yam, saudaranya Saam, Haam, dan Yafits. Mereka semua kafir dan mati bersama mereka yang mati.

Ketika penduduk bumi telah dibinasakan dengan tidak menyisakan siapa pun, selain dari para penyembah Allah Subhanahu wa Ta’ala, Allah memerintahkan bumi agar menelan seluruh air di atasnya dan memerintahkan kepada langit agar hujan dihentikan.

Ketika air mengalir dan terserap ke dalam perut bumi, dan sudah layak suatu usaha dilakukan serta untuk memiliki tempat tinggal, Nuh turun dari bahtera dengan perintah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tepatnya di atas lembah bernama Al Juudiy, yang merupakan hamparan bumi di jazirah yang sangat terkenal. Ada 80 orang beserta keluarganya yang bersama Nuh di bahtera. Ketika mereka turun ke kaki Bukit Al Juudiy, dibangunlah sebuah pedesaan yang mereka namakan Tsamanin.

Suatu hari lidah mereka mengucapkan bahasa yang bercampur-aduk, yang berjumlah 80 kelompok, diantaranya kelompok Arab. Setiap kelompok tidak memahami bahasa kelompok lain, sehingga Nuh Alaihissalam menjadi juru bahasa di antara mereka.

Allah berfirman, “Dan Kami jadikan anak cucunya orang-orang yang melanjutkan keturunan. “(Qs. Ash-Shaffaat [37]: 77)

Semua jenis keturunan Adam yang berada di muka bumi sekarang ini bersambung secara keturunan kepada putra-putra Nuh yang berjumlah tiga orang, yaitu Saam, Haam, dan Yafits.

Diriwayatkan dari Samurah, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Saam adalah bapak orang-orang Arab, Haam adalah bapak orang-orang Habasyi, dan Yafits adalah bapak orang-orang Romawi.” (HR. At-Tirmidzi)

Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Nabi Nuh ketika wafat menjemputnya, ia berkata kepada putranya, Sesungguhnya jauh-jauh aku memberimu wasiat, aku memerintahkanmu dua hal dan melarangmu dua hal. Aku memerintahkanmu kalimat laa ilaaha illallah. Sesungguhnya jika kalimat laa ilaaha illaallah berada di piring timbangan, lalu tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi berada di piring timbangan yang lain, maka kalimat laa illaha illaallah pasti lebih berat. Aku juga memerintahkanmu untuk selalu mengucapkan subhanallah wa bihamdihi, karena ucapan itu adalah shalatnya (doa) segala sesuatu, dan karenanya makhluk diberi rezeki. Aku juga melarangmu dari perbuatan syirik dan sombong’.” (HR. Ahmad)

Tentang makam Nuh ‘Alaihissalam, Ibnu Jarir dan ulama lainnya meriwayatkan bahwa makam Nabi Nuh Alaihissalam berada di Masjidil Haram. Pendapat ini lebih kuat daripada pendapat yang disebut-sebut oleh para pakar zaman sekarang, bahwa makam Nabi Nuh Alaihissalam berada di suatu lembah yang sekarang ini dikenal dengan nama Kark Nuh. Wallahu a’lam bishawab.

Oleh : Ahmad Al Khani

Baca juga : 

Kompilasi Sejarah Islam Sejak Awal Penciptaan

Download Kumpulan Soal Tes CPNS Tahun 2007-2017 Lengkap Dengan Kunci Jawaban dan Pembahasan

Lowongan Kerja Terbaru 43 Bank di Indonesia

5 Kunci untuk Menguak Rahasia SUKSES SEJATI dalam Kehidupan Anda

Best Articles : Career Life, Personal Development, Entrepreneurship And Business

Inilah 10 Besar Profesi dengan Gaji Tertinggi di Indonesia

Inilah 7 Pondok Pesantren Tahfidz Al Qur’an Terbaik di Indonesia

Kompilasi Tafsir Al Quran

Al Quran Menjawab

About Auther:

Info Biografi