Perang Badar Kubra

perang-badar

Pada tanggal 17 Ramadhan Rasulullah SAW mendengar bahwa Abu Sufyan Shakhr bin Harb akan datang dari Syam dengan kafilah besar milik kaum Quraisy yang mengangkut banyak harta dan barang dagangan yang diikuti 30 atau 40 orang. Kafilah itu terdiri dari 1000 ekor unta yang mengangkut harta kaum Quraisy. Rasulullah bersabda kepada para sahabatnya, “Itu adalah kafilah kaum Quraisy yang di dalamnya harta-harta milik mereka. Berangkatlah menuju mereka, semoga Allah menetapkan harta rampasan untuk kalian semua.” Para sahabat pun berangkat menjemput kafilah.

Ketika kafilah telah dekat Hijaz, Abu Sufyan melakukan penyelidikan untuk mendapatkan berita dari kafilah yang lain, dan dia berhasil mendapatkannya. Abu Sufyan lalu berkata, “Muhammad telah menyebarkan para sahabatnya menuju kafilahmu, maka sewalah Dhamdham bin Amru Al Ghifari.”

Akhirnya ia diutus ke Makkah untuk meminta agar kaum Quraisy siap untuk serangan. Mereka berangkat melewati jalan setapak yang datar, dengan jumlah pasukan 950 orang, didukung oleh 200 ekor kuda, dengan penyanyi yang memukul rebana dan mendendangkan lagu-lagu yang menghina kaum muslim. Mereka didukung pula oleh 600 orang berpakaian baju besi.

Rasulullah SAW berangkat dengan didukung oleh 313 orang prajurit, 70 ekor unta, dan 60 orang anggota pasukan berbaju besi. Ali Radhiyallahu Anhu berkata, “Kita tidak didukung kecuali oleh 2 penunggang kuda. Satu ekor kuda milik Az-Zubair dan satu ekor kuda lagi milik Miqdad bin A Aswad.”

Rasulullah SAW bermusyawarah dengan para sahabatnya ketika mendengar bahwa Quraisy berangkat untuk berperang. Al Miqdad kemudian berkata, “Wahai Rasulullah, teruskan saja sebagaimana yang diperlihatkan oleh Allah kepada engkau, dan kami akan tetap bersamamu. Demi Alah, kami tidak akan berkata kepada engkau sebagaimana bani Israil berkata kepada Musa,

‘Oleh karena itu, pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua. Sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja’. (Qs. Al Maa’idah [5]: 24)

Tetapi kami katakan, ‘Pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kalian berdua. Sesungguhnya kami akan bersama kalian berdua untuk menyerbu’. Demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, jika engkau berjalan dengan kami menuju pasukan berpedang, tentu kami akan tetap menyerang dengan pedang bersamamu melawan mereka, sehingga engkau dapat menyampaikan dakwah kepada mereka’.”

Rasulullah SAW lalu bersabda kepadanya dan berdoa untuknya, kemudian bersabda, “Berikan pendapatmu wahai sekalian manusia!” Sa’ad bin Mu’ad kemudian berkata, “Demi Allah, seakan-akan engkau menghendaki kami wahai Rasulullah.” Beliau menjawab, “Benar.” Sa’ad bin Mu’ad berkata, “Kami telah beriman kepada engkau dan membenarkan engkau. Kami bersaksi bahwa apa yang engkau bawa adalah benar. Kami berikan kepada engkau janji kami untuk selalu taat kepada engkau. Oleh karena itu, teruslah wahai Rasulullah dengan apa yang engkau kehendaki, kami akan tetap bersamamu. Demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, jika engkau bentangkan lautan di hadapan kami, lalu engkau mengarunginya, tentu kami akan turut mengarunginya bersamamu dan tak satu pun dari kami yang tertinggal. Sesungguhnya kami akan bersabar dalam peperangan dan jujur dalam pertemuan. Semoga Allah memperlihatkan kepada engkau apa-apa yang menggembirakan dari kami.”

Dikatakan, “Semangat Rasulullah SAW pun bangkit karena kata-kata Sa’ad, lalu beliau bersabda, “Berjalanlah dan bergembiralah.”

Rasulullah SAW berangkat hingga tiba di sumber air kaum yang terdekat dan dengan saran dari Al Habbab bin A Mundzir Radhiyallahu Anhu, maka beliau memerintahkan untuk mendirikan pangkalan di suatu sumber air yang dikeringkan, la membuat suatu danau di atas sumur tua, tempat mereka tiba dan berpangkalan. Kemudian membangun rumah tempat singgah atas saran dari Sa’ad bin Mu’adz Radhiyallahu Anhu.

Kaum Quraisy berangkat pada pagi hari hingga tiba. Ketika Rasulullah SAW melihatnya, beliau bersabda, “Ya Allah, inilah Quraisy datang dengan segala kesombongan dan kemegahannya untuk menentang-Mu dan mendustakan Rasul-Mu. Ya Allah, pertolongan yang Engkau janjikan kepadaku, maka ya Allah, hancurkan mereka pagi ini.”

Kedua pasukan telah saling berhadapan. Orang pertama yang akan berperang dengan berpasangan dari kalangan kaum Quraisy adalah Al Aswad Al Makhzumi, orang yang terkenal ganas dan berakhlak jahat. Dia dihadapi oleh Hamzah bin Abdul Muthallib. Ketika keduanya saling berhadapan, Hamzah berhasil menebas kakinya hingga putus, lalu membunuhnya dalam danau.

Utbah bin Rabi’ah ketika itu membela dan hendak memunculkan keberaniannya, maka ia muncul di antara saudaranya yang bernama Syaibah dan anaknya yang bernama Al Walid. Ubaidah, orang termuda di tengah-tengah kaumnya, menghadapi Utbah. Hamzah menghadapi Syaibah. Ali menghadapi Al Walid.

Adapun Hamzah, tidak memberi kesempatan kepada Syaibah dan langsung membunuhnya. Ali juga tidak memberikan kesempatan kepada Al Walid dan langsung membunuhnya. Akan tetapi berbeda dengan yang terjadi antara Ubaidah dan Utbah. Di antara keduanya terdapat dua sabetan pedang dan masing-masing mengaku sebagai pelakunya. Hamzah dan Ali kembali berperang dengan pedang keduanya. Keduanya menyerang Utbah dan berhasil membunuhnya. Keduanya melindungi Ubaidah Radhiyallahu Anhu, yang kemudian dibawa kepada para sahabatnya, yang akhirnya meninggal dunia. Rasulullah SAW kemudian, bersabda, “Aku bersaksi bahwa engkau mati syahid.”

Orang yang pertama terbunuh dalam peperangan dari kalangan kaum muslim adalah Mahja’, budak Umar Radhiyallahu Anhu, yang terkena anak panah hingga akhirnya wafat.

Pasukan muslim dan Rasulullah SAW sedikit demi sedikit merangkak menuju rumah persinggahan untuk berdoa kepada Rabbnya, kemudian kembali ke dalam barisan pasukan.

Diriwayatkan dari Ali Radhiyallahu Anhu, ia berkata, “Engkau telah menyaksikan kami semua pada Perang Badar sedang berlindung kepada Rasulullah SAW, padahal beliau orang yang paling dekat dengan musuh.”

Para malaikat kemudian turun. Rasulullah SAW ketika Perang Badar bersabda kepada Ali Radhiyallahu Anhu, “Berikan aku kerikil dari tanah!” Beliau lalu diberi kerikil berlapis debu. Beliau melempar para musuh dengan kerikil itu dan ternyata tak seorang pun dari kalangan musyrik melainkan matanya kemasukan sedikit debu sehingga mereka dengan mudah dapat dikejar oleh kaum muslim untuk diserang dan kemudian ditawan. Kemudian datanglah Abu Jahal.

Di tengah pertempuran dikatakan, “Abu Al Hakam tidak mengikhlaskan.”

Dia dibunuh oleh kedua anak Afra. Orang-orang musyrik yang terbunuh dibuang di dalam sumur tua. Dari kalangan kaum muslim 14 orang menjadi syahid, sedangkan dari kalangan kaum musyrik 70 orang terbunuh dan 70 orang tertawan.

Rasulullah SAW tetap tinggal di Badar selama 3 malam, kemudian berangkat menuju Madinah dengan para tawanan dan harta rampasan perang. Ketika sampai di Ash-Shafra, An-Nadhr bin Al Harits dibunuh oleh Ali Radhiyallahu Anhu. Kemudian berangkat lagi hingga sampai di Irqi Adz-Dzibbiyyah, Uqbah bin Abu Mu’ith dibunuh oleh Ashim bin Al Aqlah.

Berita kejadian di perang Badar menyebar di seantero Makkah karena dibawa oleh Al Haisaman, sehingga menggema tangisan dan ratapan. Kaum Quraisy lalu mengirim utusan untuk menebus orang-orangnya yang tertawan.

Pada tahun ini Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu Anhu berkumpul dengan istrinya, Fathimah binti Rasulullah SAW, tepatnya setelah peristiwa Perang Badar.

Oleh : Ahmad Al Khani

Baca juga : 

Kompilasi Sejarah Islam Sejak Awal Penciptaan

Download Kumpulan Soal Tes CPNS Tahun 2007-2017 Lengkap Dengan Kunci Jawaban dan Pembahasan

Lowongan Kerja Terbaru 43 Bank di Indonesia

5 Kunci untuk Menguak Rahasia SUKSES SEJATI dalam Kehidupan Anda

Best Articles : Career Life, Personal Development, Entrepreneurship And Business

Inilah 10 Besar Profesi dengan Gaji Tertinggi di Indonesia

Inilah 7 Pondok Pesantren Tahfidz Al Qur’an Terbaik di Indonesia

Kompilasi Tafsir Al Quran

Al Quran Menjawab

About Auther:

Info Biografi

Pesantren Khusus Tahfidz Quran
Hello. Add your message here.