Sedikit tentang Umayyah bin Abu Ash-Shilat Ats-Tsaqafi

Al Hafizh Ibnu Asakir berkata, “Dia bernama Umayyah bin Abu Ash-Shilat Abdullah bin Abu Rabi’ah bin Auf bin Uqdah bin Ghirahu bin Auf bin Tsaqif bin Munabbih bin Bakar bin Hawazin -ayahanda Utsman-.

Dikatakan, “Namanya adalah Abu Al Hakam Ats-Tsaqafi.”

Dia seorang penyair zaman jahiliyah yang datang di Damaskus sebelum kedatangan Islam.

Dikatakan, “Dia orang yang lurus. Pada mulanya ia beriman, tetapi kemudian menyeleweng. Dia orang yang dimaksud Allah dalam firman-Nya,

“Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al Kitab), kemudian dia melepaskan diri daripada ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syetan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat” (Qs. Al A’raaf [7]: 175)

Abu Sufyan berkata, “Aku berangkat bersama-sama dengan kafilah kaum Quraisy menuju Yaman untuk berdagang. Aku berlalu di dekat Umayyah, maka aku katakan kepadanya seakan-akan aku menghinanya, ‘Wahai Umayyah, seorang nabi yang menjadi ikutanmu telah berangkat’. Ia berkata, ‘Jika kata-katamu benar maka aku akan mengikutinya’. Aku katakana kepadanya, ‘Apa yang menghalangimu untuk mengikutinya?’ Ia berkata, ‘Tidak ada yang menghalangiku selain rasa malu terhadap para gadis kecil di Tsaqif. Aku telah berkata kepada mereka bahwa aku adalah dia, kemudian mereka menyaksikanku sedang mengikuti seorang pemuda dari bani Abdu Manaf. Kemudian Umayyah berkata, ‘Sepertinya aku ingin ikut engkau, wahai Abu Sufyan. Jika engkau meninggalkannya maka engkau telah mengikatnya sebagaimana anak kambing diikat sehingga engkau dibawa olehnya kepadanya dan dia menghakimimu sebagaimana yang dikehendaki’.

-Al Hafizh Ibnu Asakir meriwayatkan dari Az-Zuhri, bahwa dia berkata, “Umayyah bin Abu Ash-Shilat berkata, ‘Tidak adakah seorang utusan dari kita yang mengabarkan seberapa jauh tujuan kita dari titik awal keberangkatan’ .”-

Umayyah bin Abu Ash-Shilat kemudian berangkat menuju Bahrain. Rasulullah SAW diangkat menjadi nabi ketika Umayyah telah tinggal di Bahrain selama 8 tahun. Kemudian ia datang ke Thaif dan berkata kepada penduduknya, ‘Apa yang dikatakan oleh Muhammad bin Abdullah?’ Mereka menjawab, ‘Mengaku bahwa dirinya adalah nabi’. Umayyah berkata, ‘Itulah yang menjadi harapanku darinya’. Ia lalu berangkat menuju Makkah dan bertemu dengan beliau. Ia berkata, ‘Wahai anak Abdul Muthallib, apakah yang engkau katakan?’ Beliau bersabda, ‘Aku berkata, “Sesungguhnya aku adalah Rasul Allah dan sesungguhnya tidak ada tuhan selain Dia”.’ Umayyah berkata, ‘Sungguh, aku ingin berbicara dengan engkau, berjanjilah kepadaku untuk itu besok!’ Beliau bersabda,’ Waktu yang dijanjikan untukmu adalah besok’.

Umayyah berkata, ‘Mana yang engkau sukai, aku datang kepada engkau sendirian atau dengan jamaah dari sahabatku, dan engkau datang kepadaku sendirian atau dengan jamaah dari sahabatmu?’ Rasulullah SAW bersabda,’ Terserah engkau’. Ia berkata, ‘Aku akan datang kepada engkau dengan jamaah, maka datanglah dengan jamaah!’.”

Abu Sufyan berkata, “Keesokan harinya, Umayyah berangkat dengan jamaah dari kaum Quraisy.”

Abu Sufyan juga berkata, “Rasulullah SAW juga berangkat dan bersamanya seseorang dari sahabatnya. Kemudian mereka semua duduk di bayangan Ka’bah.”

Abu Sufyan berkata, “Umayyah memulai dengan pembicaraannya, kemudian bersajak dan mendendangkan syair. Ketika selesai ia berkata, “Jawablah pertanyaanku wahai anak Abdul Muthallib!” Rasulullah SAW bersabda,

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Yaa Siin. Demi Al Qur’an yang penuh hikmah” (Qs. Yaasiin [36]: 1-2)

Ketika Rasulullah SAW selesai menjawab, Umayyah melompat dengan tekanan kedua kakinya.

Abu Sufyan berkata, “Ia diikuti oleh orang-orang Quraisy seraya berkata, ‘Apa yang engkau katakan, wahai Umayyah?’ Ia menjawab, ‘Aku bersaksi bahwa dia adalah benar’. Mereka bertanya, ‘Apakah engkau mengikutinya ?’ Ia menjawab, ‘Aku lihat dulu perkaranya’.”

Dikatakan, “Kemudian Umayyah berangkat menuju Syam. Ketika ahli Badar terbunuh, Umayyah tiba dari Syam dan ikut terjun di Badar. Kemudian ia pergi hendak menemui Rasulullah SAW. Seseorang berkata, “Wahai Abu Ash-Shilat, apa yang engkau kehendaki ?” Ia menjawab, “Aku hendak menemui Muhammad.” Ditanya, “Apa yang akan engkau perbuat?” Ia menjawab, “Aku beriman kepadanya dan aku hendak mengetahui isi dan kandungan perkara ini.” Dikatakan, “Apakah engkau mengetahui siapa yang ada di dalam sumur?” Ia menjawab, “Di dalamnya adalah Utbah bin Rabi’ah dan Syaibah bin Rabi’ah. Keduanya anak Pamanmu. Ibunya adalah Rabi’ah binti Abdu Syams.” Dikatakan, “Ia memotong kedua telinga dan ekor untanya.”

Sebagian syair Umayyah bin Ash-Shilat ketika memuji Abdullah bin Jud’an At-Taimi,

Haruskah kusebutkan kebutuhanku atau telah cukup

dengan rasa malumu

Sesungguhnya cirimu adalah rasa malu

Juga dengan pengetahuanmu tentang hak-hakmu

Engkau memiliki kehormatan besar dan cahaya

mulia yang tidak dipengaruhi oleh pagi

atau sore untuk berakhlak baik

Ia menandingi angin dalam kemuliaan dan kedermawanan

Ketika anjing dipaksa masuk kandangnya oleh musim dingin

Bumimu adalah bumi yang mulia dengan para gadisnya

Bani Taim dan engkau adalah langit bagi mereka

Jika suatu hari seseorang memujimu,

cukup baginya menyampaikan pujian itu

Ia juga mempunyai pujian yang lain terhadap Abdullah bin Jud’an. Abdullah bin Jud’an adalah salah seorang dari orang-orang mulia, dermawan, terpuji, dan terkenal. Ia memiliki piring besar yang dipakai makan oleh para musafir di atas untanya. Dia memang orang yang lapang dan banyak memiliki makanan. Ia memenuhi piringnya dengan berbagai makanan. Ia suka memerdekakan hamba sahaya dan menolong orang yang sedang kesulitan.

Oleh : Ahmad Al Khani

Baca juga : 

Kompilasi Sejarah Islam Sejak Awal Penciptaan

Download Kumpulan Soal Tes CPNS Tahun 2007-2017 Lengkap Dengan Kunci Jawaban dan Pembahasan

Lowongan Kerja Terbaru 43 Bank di Indonesia

5 Kunci untuk Menguak Rahasia SUKSES SEJATI dalam Kehidupan Anda

Best Articles : Career Life, Personal Development, Entrepreneurship And Business

Inilah 10 Besar Profesi dengan Gaji Tertinggi di Indonesia

Inilah 7 Pondok Pesantren Tahfidz Al Qur’an Terbaik di Indonesia

Kompilasi Tafsir Al Quran

Al Quran Menjawab

About Auther:

Info Biografi

Pesantren Khusus Tahfidz Quran
Hello. Add your message here.