Menyambut Peringatan Allah

islamic12

Allah selalu punya cara memperingatkan manusia yang lalai. Peringatan itu bisa melalui orang lain atau sesama manusia. Bisa pula melalui peristiwa alam dalam rupa bencana, seperti gempa bumi, gunung meletus, angin kencang, banjir bandang, tanah longsor, dan seterusnya.

Bagi orang beriman, semua peringatan itu sejatinya untuk menyadarkannya dari kelalaian dan kekeliruan, dan itu sangat bermanfaat baginya. “Dan tetaplah memberi peringatan karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman” (QS adz-Dzariyat [51]: 55).

Berkaitan dengan bencana, ada dua jenis bencana. Pertama, bencana karena ketentuan Allah yang tak bisa dicegah siapa pun. Kedua, bencana yang diakibatkan ulah manusia. Gempa bumi atau gunung meletus, misalnya, ini adalah ketentuan Allah atau sunatullah agar tercipta keseimbangan kembali. Inilah yang Allah firmankan, “Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuz) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah” (QS al-Hadid [57]: 22).

Adapun bencana alam seperti banjir bandang atau banjir biasa merupakan akibat ulah tangan manusia sendiri. Manusia merusak ekosistem alam, menggunduli hutan, mendangkalkan sungai dengan sampah, mengubah daerah resapan air menjadi perumahan, dan seterusnya. Akibatnya hujan yang deras menjadi genangan dan banjir. Inilah yang Allah firmankan, “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS ar-Rum [30]: 41).

Melalui bencana alam yang bukan diakibatkan ulah manusia, Allah ingin menunjukkan kebesaran-Nya kepada manusia. Bahwa Dia Mahabesar dan Mahakuasa. Sementara, manusia adalah makhluk kecil yang tak layak menyombongkan diri di hadapan-Nya. Dengan peringatan ini, manusia disadarkan tentang dirinya agar tidak jemawa dan angkuh, baik terhadap sesama manusia maupun lingkungan, terlebih terhadap Allah. Sebaliknya, manusia mesti rendah hati atau tawadhu. Allah berfirman, “Dan bersikaplah rendah hati terhadap orang-orang yang beriman.” (QS al-Hijr [15]: 88).

Sementara, melalui bencana alam yang diakibatkan manusia sendiri, manusia disadarkan mengenai kebaikan dan keburukan agar ia selalu mawas diri dan mengontrol perbuatannya. Perbuatan baik yang dilakukan akan berbuah kebaikan, sementara perbuatan buruk akan berbuah keburukan. Orang beriman selalu menyadari peringatan Allah dan menyambutnya dengan kembali melakukan kebaikan sehingga mendapatkan manfaat dari peringatan itu. Wallahu a’lam. 

Oleh: Nur Farida, Sumber: republika.co.id

Baca juga : 

About Auther:

Info Biografi

Beasiswa Sekolah Kedinasan IPDN STAN AKPOL Dll
Hello. Add your message here.