MUHASABAH (INTROSPEKSI DIRI)

islamic-art-55

Sesungguhnya seorang Muslim itu beramal dalam kehidupan ini siang malam untuk mendapat kebahagiaan di kampung akhirat, dan menekuninya untuk memperoleh kemuliaannya dan keridhaan Allah di dalamnya.

Dunia adalah ladang beramalnya, maka seyogyanya dia memperhatikan ibadah-ibadah fardhu yang diwajibkan kepadanya sebagaimana seorang pedagang memperhatikan modal hartanya, dan memperhatikan ibadah-ibadah sunnahnya sebagaimana seorang pedagang memperhatikan keuntungan tambahan atas modal hartanya, serta memperhatikan maksiat dan dosa seperti layaknya kerugian di dalam perdagangan, lalu dia menyendiri sesaat di akhir setiap harinya guna memuhasabah (mengintrospeksi) dirinya atas amal yang telah dilakukan sepanjang harinya.

Apabila dia melihat kekurangan di dalam menjalankan ibadah-ibadah fardhunya, dia akan mencela dan menyatakannya jelek lantas bergegas menutup kekurangannya tersebut. Jika ibadah tersebut termasuk ibadah yang boleh diqadha’ maka dia segera mengqadhanya. Jika bukan maka dia akan menutupinya dengan memperbanyak ibadah-ibadah sunnahnya. Apabila dia melihat kekurangan di dalam menjalankan ibadah-ibadah sunnah, maka dia akan menggantinya dan menutup kekurangannya. Apabila dia melihat kerugian akibat menerjang larangan-larangan, maka dia segera memohon ampunan, menyesal, kembali kepada Allah dan mengerjakan kebaikan yang menurutnya mampu memperbaiki apa yang telah dia rusak.

Inilah tujuan dari muhasabah diri. Muhasabah merupakan salah satu metode memperbaiki, melatih, menyucikan dan membersihkan diri. Dalil-dalil yang menerangkan tentang muhasabah diri banyak sekali, di antaranya:

Firman Allah SWT,

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhaiikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al-Hasyr: 18).

“Dan hendaknya setiap diri memperhatikan, ini adalah perintah untuk muhasabah diri atas apa yang telah dikerjakan untuk hari esoknya yang sedang menanti.

FirmanNya,

“Dan bertaubatlah kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (An-Nur: 31).

Sabda Rasulullah SAW,

“Sesungguhnya aku betul-betul bertaubat kepada Allah dan memohon ampunan kepadaNya seratas kali dalam sehari.” [Diriwayatkan oleh Muslim]

Umar bin al-Khaththab RA berkata, “Hisablah dirimu sebelum (amalan) kamu dihisab.”

[Telah diriwayatkan sebuah hadits yang semakna dengan ucapan Umar tersebut oleh at-Tirmidzi, no. 2459, dengan sanad yang hasan dari Nabi SAW, “Orang cerdik adalah orang yang (mampu) menundukkan dirinya dan beramal untuk bekal setelah mati, sedangkan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan kepada Allah dengan banyak angan-angan.”]

Dan apabila malam telah menyelimutinya, beliau memukul kedua telapak kakinya dengan sebuah tongkat dan berkata kepada dirinya, “Apa yang telah kamu lakukan hari ini?”

Abu Thalhah RA ketika disibukkan oleh kebunnya sehingga menyibukkannya dari shalatnya, beliau mengeluarkan sedekah dari kebunnya untuk Allah SWT, beliau melakukan ini karena semata-mata muhasabah diri dan sebagai celaan dan pendidikan bagi dirinya.

Dikisahkan dari al-Ahnaf bin Qais, bahwasanya beliau mendatangi suatu lampu (yang bersumbu) lalu meletakkan jari jemarinya di dalamnya sehingga merasakan (panasnya) api, lantas beliau berkata, “Hai Hunaif, apa yang mendorong dirimu berbuat kala itu? Apa yang mendorong dirimu berbuat kala itu?”

Dikisahkan bahwa seorang yang shalih sedang berperang, lalu tiba-tiba seorang perempuan tersingkap auratnya di hadapannya dan ia melihatnya, maka ia mengangkat tangannya dan menampar matanya sehingga matanya keluar. Ia berkata, “Sesungguhnya kamu sangat memperhatikan hal-hal yang mencelakakan dirimu.”

Suatu ketika salah seorang dari mereka melalui sebuah bilik, lalu ia berkata, “Kapankah bilik ini dibangun?” Kemudian ia balik bertanya kepada dirinya, “Apakah kamu bertanya kepadaku tentang sesuatu yang tidak bermanfaat bagimu, niscaya akan aku hukum kamu dengan puasa setahun penuh”, maka ia berpuasa setahun penuh.

Diriwayatkan bahwa seorang yang shalih pergi ke gurun pasir yang panas lalu ia bergulung-gulung di atasnya, ia berkata kepada dirinya, “Rasakanlah ini, dan api Neraka Jahanam lebih panas lagi. Apakah kamu ingin menjadi bangkai di malam hari dan sebagai pengangguran di siang hari?” Suatu hari seorang yang shalih mendongakkan kepalanya ke atas atap, lalu ia melihat seorang wanita dan memandangnya, maka ia bertekad tidak akan melihat ke langit selagi ia masih hidup.

Demikian itulah orang-orang shalih dari umat ini, mereka memuhasabah diri mereka dari menyia-nyiakannya, mencelanya atas keteledorannya, menetapi sifat takwa, dan menahan dirinya dari hawa nafsunya sebagai pengamalan FirmanNya,

“Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya” (An-Nazi’at: 40-41).

Referensi : Syaikh Abu Bakar Jabir Al Jaza’iri, Minhajul Muslim, Darul Haq, Jakarta, 2016

Baca juga : 

  • Siyasah (Politik Islam)
  • 20 Best Islamic Boarding School in Indonesia
  • 7 Pondok Pesantren Tahfidz Al Qur’an Terbaik di Indonesia
  • 20 Pondok Pesantren Modern Terbaik Di Indonesia
  • 23 Perguruan Tinggi Negeri Dengan Beasiswa Ikatan Dinas
  • 100 International Scholarships from the World’s Best Universities
  • Pahami Islam dengan Lebih Baik : 100 Artikel Keislaman tentang Adab, Aqidah, Bisnis, Jihad, Pidana, Nikah, Hukum, Waris, dll
  • Hadits Arba’in An Nawawi dan Penjelasannya
  • Jangan Bersedih : 100 Artikel Motivasi Islam Penyejuk Hati

Ayo bagikan sebagai sedekah…

About Auther:

Info Biografi

Cendana Prime Bintaro Rumah Mewah Harga Murah
Hello. Add your message here.