Tafsir Surat Ali Imran Ayat 96, Ayat 97

Yuk bagikan infonya...

Ali Imran :: Indeks Tema Ali Imran :: Daftar Surat :: Ibnu Katsir

Ali-‘Imran: 96

إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِّلْعَالَمِينَ

“Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia”

Ali-‘Imran: 97

فِيهِ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ مَّقَامُ إِبْرَاهِيمَ وَمَن دَخَلَهُ كَانَ آمِنًا وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ

“Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam”

Tafsir (Ibnu Katsir)

Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat ibadah) manusia ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata (di antaranya) maqam Ibrahim; barang siapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barang siapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam. Allah subhanahu wa ta’ala memberitahukan bahwa rumah yang mula-mula dibangun untuk manusia, yakni untuk tempat ibadah dan manasik mereka, di mana mereka melakukan tawaf dan shalat serta ber-i’tikaf padanya. ialah Baitullah yang di Bakkah. (Ali Imran: 96) Yakni Ka’bah yang dibangun oleh Nabi Ibrahim Al-Khalil ‘alaihissalam

yang diklaim oleh masing-masing dari dua golongan, yaitu orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani; bahwa mereka berada di dalam agama Nabi Ibrahim dan tuntunannya, tetapi mereka tidak mau berhaji ke Baitullah yang dibangun olehnya atas perintah Allah untuk tujuan itu, padahal Nabi Ibrahim telah menyerukan kepada manusia untuk melakukan haji ke Baitullah. Seperti yang dinyatakan di dalam firman-Nya: yang diberkahi. (Ali Imran: 96) Yaitu diberkahi sejak awal pembangunannya.

Yang menjadi petunjuk bagi semua manusia. (Ali Imran: 96) Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Al-A’masy, dari Ibrahim At-Taimi, dari ayahnya, dari Abu Dzar yang telah menceritakan: Aku bertanya, “”Wahai Rasulullah, masjid manakah yang mula-mula dibangun?”” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “”Masjidil Haram.”” Aku bertanya, “”Sesudah itu mana lagi?”” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “”Masjidil Aqsa.”” Aku bertanya, “”Berapa lama jarak di antara keduanya?”” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab.Empat puluh tahun.”” Aku bertanya, “”Kemudian masjid apa lagi?”” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “”Kemudian tempat di mana kamu mengalami waklu shalat, maka salatlah padanya, karena semuanya adalah masjid.”” Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim mengetengahkannya melalui hadits Al-A’masy dengan lafal yang sama. Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan ibnu Muhammad ibnus Sabah, telah menceritakan kepada kami Sa’id ibnu Sulaiman, dari Syarik, dari Mujahid, dari Asy-Sya’bi, dari Ali sehubungan dengan firman-Nya: Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat ibadah) manusia ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi. (Ali Imran: 96) Memang banyak rumah yang dibangun sebelum Masjidil Haram, tetapi Baitullah adalah rumah yang mula-mula dibangun untuk tempat beribadah. (Ibnu Abu Hatim mengatakan pula) dan telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan ibnur Rabi’, telah menceritakan kepada kami Abul Ahwas, dari Sammak, dari Khalid ibnu Ur’urah yang menceritakan bahwa ada seorang lelaki berdiri, lalu menuju kepada sahabat Ali dan bertanya, “”Sudikah engkau menceritakan kepadaku tentang Baitullah, apakah ia merupakan rumah yang mula-mula dibangun di bumi ini?”” Sahabat Ali menjawab, “”Tidak, tetapi Baitullah merupakan rumah yang mula-mula dibangun mengandung berkah, yaitu maqam Ibrahim; dan barang siapa memasukinya, menjadi amanlah dia.”” Kemudian Ibnu Abu Hatim menuturkan atsar ini hingga selesai, yaitu menyangkut perihal pembangunan Baitullah yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim.

Kami mengetengahkan atsar ini secara rinci di dalam permulaan tafsir surat Al-Baqarah, hingga tidak perlu diulangi lagi dalam bab ini. As-Suddi menduga bahwa Baitullah merupakan rumah yang mula-mula dibangun di bumi ini secara mutlak. Akan tetapi, pendapat Ali -lah yang benar. Adapun mengenai hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Baihaqi di dalam kitabnya yang berjudul Dalailun Nubuwwah mengenai pembangunan Ka’bah yang ia ketengahkan melalui jalur Ibnu Luhai’ah, dari Yazid ibnu Habib, dari Abul Khair, dari Abdullah ibnu Amr ibnul As secara marfu yaitu: Allah mengutus Jibril kepada Adam dan Hawa, membawa perintah kepada keduanya agar keduanya membangun Ka’bah.

Maka Adam membangunnya, kemudian Allah memerintahkan kepadanya untuk melakukan tawaf di sekeliling Ka’bah. Dikatakan kepadanya, “”Engkau adalah manusia pertama (yang beribadah di Baitullah), dan ini merupakan Baitullah yang mula-mula dibangun untuk tempat beribadah manusia.”” Maka sesungguhnya hadits ini merupakan salah satu dari mufradat (hadits yang hanya diriwayatkan oleh satu orang) Ibnu Luhai’ah, sedangkan Ibnu Luhai’ah orangnya dinilai dha’if. Hal yang mirip kepada kebenaran hanya Allah Yang Maha Mengetahuibila hadits ini dikatakan mauquf hanya sampai kepada Abdullah ibnu Amr.

Dengan demikian, berarti kisah ini termasuk ke dalam kategori kedua hadits dha’if lainnya yang keduanya diperoleh oleh Abdullah ibnu Amr pada saat Perang Yarmuk, yaitu diambil dari kisah Ahli Kitab. Firman Allah subhanahu wa ta’ala: ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah). (Ali Imran: 96) Bakkah merupakan salah satu nama lain dari kota Mekah yang terkenal. Menurut suatu pendapat, dinamakan demikian karena kota Mekah dapat membuat hina orang-orang yang zalim dan yang angkara murka.

Dengan kata lain, mereka menjadi hina dan tunduk bila memasukinya. Menurut pendapat yang lainnya lagi, dinamakan demikian karena manusia berdesak-desakan padanya. Qatadah mengatakan, sesungguhnya Allah membuat manusia berdesak-desakan di dalamnya, hingga kaum wanita dapat shalat di depan kaum laki-laki; hal seperti ini tidak boleh dilakukan selain hanya di dalam kota Mekah. Hal yang sama diriwayatkan pula dari Mujahid, Ikrimah, Sa’id ibnu Jubair, Amr ibnu Syu’aib, dan Muqatil ibnu Hayyan.

Hammad ibnu Salamah meriwayatkan dari ‘Atha’ ibnus Saib, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa batas Mekah mulai dari Al-Faj sampai ke Tan’im, sedangkan Bakkah batas-nya dari Baitullah sampai ke Al-Batha. Syu’bah meriwayatkan dari Al-Mugirah, dari Ibrahim, bahwa Bakkah ialah Baitullah dan Masjidil Haram. Hal yang sama dikatakan pula oleh Az-Zuhri. Ikrimah dalam salah satu riwayat dan Maimun ibnu Mihran mengatakan bahwa Baitullah dan sekitarnya dinamakan Bakkah, sedangkan selain itu dinamakan Mekah.

Abu Malik, Abu Saleh, Ibrahim An-Nakha’i, Atiyyah Al-Aufi, dan Muqatil ibnu Hayyan mengatakan bahwa Bakkah ialah tempat Baitullah berada, sedangkan selain itu dinamakan Mekah. Mereka menyebutkan beberapa nama lain yang banyak bagi Mekah, yaitu Bakkah, Baitul Atiq, Baitul Haram, Baladul Amin, Al-Mamun, Ummu Rahim, Ummul Qura, Salah, Al-Arsy, Al-Qadis (karena menyucikan dosa-dosa), Al-Muqaddasah, An-Nasah, Al-Basah, Al-Balsah, Al-Hatimah, Ar-Ras, Kausa, Al-Baldah, Al-Bunyah, dan Al-Ka’bah.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala: Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata. (ali Imran: 97) Yaitu tanda-tanda yang jelas menunjukkan bahwa bangunan tersebut dibangun oleh Nabi Ibrahim, dan Allah memuliakan serta menghormatinya. Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: maqam Ibrahim. (ali Imran: 97) Yaitu sarana yang dipakai oleh Nabi Ibrahim ketika bangunan Ka’bah mulai meninggi untuk meninggikan fondasi dan temboknya. Sarana ini dipakai untuk tangga tempat berdiri, sedangkan anaknya (yaitu Nabi Ismail) menyuplai bebatuan. Pada mulanya maqam Ibrahim ini menempel pada dinding Ka’bah, kemudian pada masa pemerintahan Khalifah Umar ibnul Khattab maqam tersebut dipindahkan ke sebelah timur Ka’bah hingga memudahkan bagi orang-orang yang bertawaf dan tidak berdesak-desakan dengan orang-orang yang shalat di dekatnya sesudah melakukan tawaf.

Karena Allah subhanahu wa ta’ala telah memerintahkan kepada kita agar melakukan shalat di dekat maqam Ibrahim, yaitu melalui firman-Nya: Dan jadikanlah sebagian maqam Ibrahim tempat shalat. (Al-Baqarah: 125) Dalam pembahasan terdahulu telah kami kemukakan hadits-hadits mengenai hal ini, maka tidak perlu diulangi lagi dalam bab ini. Al-Aufi meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman-Nya: Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata (di antaranya) maqam Ibrahim. (Ali Imran: 97) Yakni antara lain ialah maqam Ibrahim dan tanda-tanda lainnya. Menurut Mujahid, bekas kedua telapak kaki Nabi Ibrahim di maqamnya mempakan tanda yang nyata.

Hal yang sama dikatakan pula dalam riwayat lain dari Umar ibnu Abdul Aziz, Al-Hasan, Qatadah, As-Suddi, Muqatil ibnu Hayyan, dan lain-lainnya. Abu Thalib mengatakan dalam salah satu bait syair dari qasidah Lamiyah yang terkenal, yaitu: Pijakan kaki Nabi Ibrahim pada batu itu tampak nyata bekas kedua telapak kakinya yang telanjang tanpa memakai terompah. Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id dan Amr Al-Audi; keduanya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Waki’, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Ibnu Juraij, dari ‘Atha’, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman-Nya: maqam Ibrahim. (Ali Imran: 97) Bahwa yang dimaksud dengan maqam Ibrahim ialah tanah suci seluruhnya.

Sedangkan menurut lafal Amr disebutkan bahwa Al-Hijir seluruhnya adalah maqam Ibrahim. Telah diriwayatkan dari Sa’id ibnu Jubair bahwa dia pernah mengatakan, “”Haji itu maqam Ibrahim.”” Demikianlah yang aku lihat di dalam kitab salinannya, barangkali yang dimaksud ialah Al-Hijir seluruhnya adalah maqam Ibrahim. Hal ini telah diterangkan pula oleh Mujahid. Firman Allah subhanahu wa ta’ala: barang siapa memasukinya, menjadi amanlah dia. (Ali Imran: 97) Yaitu memasuki lingkungan Mekah yang diharamkan (disucikan).

Apabila orang yang dalam ketakutan memasukinya, menjadi amanlah dia dari semua kejahatan. Hal yang sama terjadi pula di masa Jahiliah, seperti yang dikatakan oleh Al-Hasan Al-Basri dan lain-lain-nya. Disebutkan bahwa pernah ada seorang lelaki melakukan pembunuhan, lalu ia memakai kain wol pada lehernya dan memasuki Masjidil Haram. Ketika anak laki-laki si terbunuh menjumpainya, ia tidak menyerangnya sebelum keluar dari lingkungan Masjidil Haram.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id Al-Asyaj, telah menceritakan kepada kami Abu Yahya At-Tamimi, dari ‘Atha’, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman-Nya: barang siapa memasukinya, menjadi amanlah dia. (Ali Imran: 97) Bahwa barang siapa yang berlindung di Baitullah, maka Baitullah melindunginya. Tetapi Baitullah tidak memberikan naungan, tidak juga makanan dan minuman; dan bila ia keluar darinya, maka ia pasti dihukum karena dosanya.

Seperti yang disebutkan di dalam firman-Nya: Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya Kami telah menjadikan (negeri mereka) tanah suci yang aman, sedangkan manusia sekitarnya rampok-merampok. (Al-Ankabut: 67), hingga akhir ayat. Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka’bah). Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan. (Quraisy: 3-4) Sehingga disebutkan bahwa termasuk hal yang diharamkan di dalam kota Mekah ialah dilarang memburu binatang buruannya dan menghardiknya dari sarangnya, dilarang pula memotong pepohonannya serta mencabut rerumputannya.

Seperti yang dinyatakan di dalam banyak hadits dan atsar mengenainya dari sejumlah sahabat secara marfu’ dan mauquf. Di dalam kitab Shahihain menurut lafal Imam Muslim dari Ibnu Abbas disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda pada hari kemenangan atas kota Mekah: Tidak ada hijrah lagi, tetapi yang ada adalah jihad dan niat; dan apabila kalian diseru untuk berjihad, maka berangkatlah. Pada hari kemenangan atas kota Mekah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda pula: Sesungguhnya negeri (kota) ini diharamkan oleh Allah sejak Dia menciptakan langit dan bumi, maka ia haram karena diharamkan oleh Allah sampai hari kiamat. Dan sesungguhnya tidak dihalalkan melakukan peperangan di dalamnya sebelumku, dan tidaklah dihalalkan bagiku kecuali hanya sesaat dari siang hari.

Maka ia kembali menjadi haram karena diharamkan oleh Allah hingga hari kiamat; pepohonannya tidak boleh ditebang, binatang buruannya tidak boleh diburu, barang temuannya tidak boleh dipungut kecuali bagi orang yang hendak mempermaklumatkannya, dan rerumputannya tidak boleh dicabut. Lalu Al Abbas berkata mengajukan usulnya, “”Wahai Rasulullah, kecuali izkhir, karena sesungguhnya izkhir digunakan oleh mereka untuk atap rumah mereka.”” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Terkecuali izkhir (sejenis rumput ilalang). Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan pula hal yang semisal atau yang sama melalui sahabat Abu Hurairah Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan pula dari Abu Syuraih Al-Adawi menurut lafal yang ada pada Imam Muslim .

bahwa ia pernah berkata kepada Amr ibnu Sa’id yang sedang melantik delegasi-delegasinya yang akan berangkat ke Mekah, “”Izinkanlah kepadaku, wahai Amirui Muminin. Aku akan menceritakan kepadamu sebuah hadits yang dikatakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada keesokan harinya setelah kemenangan atas kota Mekah, aku mendengarnya dengan kedua telingaku ini dan kuhafalkan dalam kalbuku serta aku saksikan dengan mata kepalaku sendiri ketika beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkannya. Sesungguhnya pada mulanya beliau memanjatkan puja dan puji kepada Allah subhanahu wa ta’ala, kemudian bersabda: Sesungguhnya Mekah ini diharamkan oleh Allah dan bukan diharamkan oleh manusia.

Karena itu, tidak halal bagi seorang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian mengalirkan darah di dalamnya, atau menebang suatu pohon padanya. Apabila ada seseorang menghalalkannya dengan alasan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melakukan peperangan di dalamnya, maka katakanlah oleh kalian kepadanya, ‘Sesungguhnya Allah telah memberikan izin kepada Nabi-Nya, tetapi Dia tidak mengizinkan bagi kalian, dan sesungguhnya Allah hanya memberikan izin kepadaku melakukan peperangan di dalamnya sesaat dari siang hari. Dan sekarang keharaman kota Mekah telah kembali seperti semula, sama dengan keharaman yang sebelumnya.

Maka hendaklah orang yang hadir menyampaikan berita ini kepada yang gaib (tidak hadir)’.”” Ketika ditanyakan kepada Abu Syuraih, “”Apa yang dikatakan oleh Amr kepadamu?”” Abu Syuraih menjawab bahwa Amr berkata, “”Aku lebih mengetahui hal tersebut daripada kamu, wahai Abu Syuraih. Sesungguhnya Kota Suci Mekah ini tidak memberikan perlindungan kepada orang yang maksiat, tidak bagi orang yang lari setelah membunuh, tidak pula orang yang lari karena menimbulkan kerusakan.”” Telah diriwayatkan dari Jabir bahwa ia pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Tidak dihalalkan bagi seorang pun membawa senjata di Mekah. Hadits riwayat Imam Muslim.

Diriwayatkan dari Abdullah ibnu Addi ibnul Hamra Az-Zuhri, bahwa ia pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada kota kelahirannya seraya berdiri di Harurah, pasar Mekah: Demi Allah, sesungguhnya engkau adalah sebaik-baik bumi Allah dan bumi Allah yang paling dicintai oleh-Nya. Seandainya aku tidak dikeluarkan darimu, niscaya aku tidak akan keluar. Hadits riwayat Imam Ahmad lafal ini menurutnya, Imam At-Tirmidzi, Imam An-Nasai, dan Imam Ibnu Majah. Imam At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini berpredikat hasan shahih, demikian pula telah disahihkan yang semisalnya dari hadits Ibnu Abbas.

Imam Ahmad telah meriwayatkan pula hadits yang sama dari Abu Hurairah. Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Bisyr ibnu Adam ibnu binti Azar As-Saman, telah menceritakan kepada kami Bisyr ibnu ‘Ashim, dari Zuraiq ibnu Muslim Al-A’ma maula Bani Makhzum, telah menceritakan kepadaku Ziyad ibnu Abu Iyasy, dari Yahya ibnu Ja’dah ibnu Hubairah sehubungan dengan Firman-Nya: Barang siapa memasukinya, menjadi amanlah dia. (Ali Imran: 97) Yang dimaksud ialah aman dari api neraka.

Semakna dengan pendapat ini hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Baihaqi. Disebutkan bahwa: telah menceritakan kepada kami Abul Hasan Ali ibnu Ahmad ibnu Abdan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Ubaid, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Sulaiman ibnul Wasiti, telah menceritakan kepada kami Sa’id ibnu Sulaiman, telah menceritakan kepada kami Ibnul Muammal, dari Ibnu Muhaisin, dari Atha,dari Abdullah ibnu Abbas yang menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: Barang siapa memasuki Baitullah, berarti dia masuk ke dalam kebaikan dan keluar dari keburukan, serta ia keluar dalam keadaan diampuni baginya.

Kemudian Imam Al-Baihaqi mengatakan bahwa hadits ini hanya diriwayatkan oleh Abdullah ibnul Muammal sendiri, sedangkan dia orangnya tidak kuat. Firman Allah subhanahu wa ta’ala: mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah. yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. (Ali Imran: 97) Ayat ini mewajibkan ibadah haji, menurut pendapat jumhur ulama. Sedangkan menurut yang lainnya, ayat yang mewajibkan ibadah haji ialah firman-Nya: Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah. (Al-Baqarah: 196) Akan tetapi, pendapat yang pertama lebih kuat.

Banyak hadits yang beraneka ragam menyatakan bahwa ibadah haji merupakan salah satu rukun Islam dan merupakan pilar serta fondasinya. Kaum muslim telah sepakat akan hal tersebut dengan kesepakatan yang tidak dapat diganggu gugat lagi. Sesungguhnya melakukan ibadah haji itu hanya diwajibkan sekali dalam seumur hidup berdasarkan keterangan dari nas dan ijma’. Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yazid ibnu Harun, telah menceritakan kepada kami Ar-Rabi’ ibnu Muslim Al-Qurasyi, dari Muhammad ibnu Ziyad, dari Abu Hurairah yang menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkhotbah kepada kami (para sahabat) yang isinya mengatakan: “”Wahai manusia, telah difardukan atas kalian melakukan ibadah haji.

Karena itu, berhajilah kalian.”” Ketika ada seorang lelaki bertanya, “”Apakah untuk setiap tahun, wahai Rasulullah?”” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diam hingga lelaki itu mengulangi pertanyaannya tiga kali. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “”Seandainya aku katakan, ‘Ya,’ niscaya diwajibkan (setiap tahunnya), tetapi niscaya kalian tidak akan mampu.”” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “”Terimalah dariku apa yang aku tinggaikan buat kalian, karena sesungguhnya telah binasa orang-orang sebelum kalian (umat-umat terdahulu) karena mereka banyak bertanya dan menentang nabi-nabi mereka. Apabila aku perintahkan kepada kalian sesuatu hal, maka kerjakanlah sebagian darinya semampu kalian; dan apabila aku larang kalian terhadap sesuatu, maka tinggalkanlah ia oleh kalian.”” Imam Muslim meriwayatkannya dari Zuhair ibnu Harb, dari Yazid ibnu Harun dengan lafal yang semisal.

Sufyan ibnu Husain, Sulaiman ibnu Kasir, Abdul Jalil ibnu Humaid, dan Muhammad ibnu Abu Hafsah meriwayatkan dari Az-Zuhri, dari Abu Sinan Ad-Duali (yang namanya adalah Yazid ibnu Umayyah), dari Ibnu Abbas yang menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhotbah kepada kami yang isinya mengatakan: “”Wahai manusia, sesungguhnya Allah telah mewajibkan atas kalian ibadah haji.”” Maka berdirilah Al-Aqra’ ibnu Habis, lalu bertanya, “”Wahai Rasulullah, apakah untuk setiap tahun?”” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “”Seandainya aku mengatakannya, niscaya akan diwajibkan; dan seandainya diwajibkan, niscaya kalian tidak dapat mengerjakannya dan kalian tidak akan dapat melakukannya. Ibadah haji adalah sekali; maka barang siapa yang lebih dari sekali, maka hal itu haji sunat.”” Hadits diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Imam Abu Dawud, Imam An-Nasai, dan Imam Ibnu Majah serta Imam Hakim melalui hadits Az-Zuhri dengan lafal yang sama.

Syarik meriwayatkannya melalui Sammak, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas dengan lafal yang semakna. Hal ini diriwayatkan pula melalui hadits Usamah ibnu Zaid. Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Mansur ibnu Wardan, dari Abdul A’la ibnu Abdul A’la, dari ayahnya, dari Al-Bukhturi, dari Ali yang mengatakan bahwa ketika ayat berikut diturunkan, yaitu firman-Nya: mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. (Ali Imran: 97) Mereka bertanya, “”Wahai Rasulullah, apakah untuk setiap tahun?”” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diam. Mereka bertanya lagi, “”Wahai Rasulullah, apakah untuk setiap tahun?”” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “”Tidak, seandainya aku katakan, ‘Ya,’ niscaya diwajibkan (setiap tahunnya).”” Maka Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan firman-Nya: Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menanyakan (kepada Nabi kalian) hal-hal yang jika diterangkan kepada kalian niscaya menyusahkan kalian. (Al-Maidah: 101 Hal yang sama diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Imam Hakim melalui hadits Mansur ibnu Wardan.

Kemudian Imam At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan garib. Akan tetapi, apa yang dikatakan oleh Imam At-Tirmidzi itu masih perlu dipertimbangkan, mengingat Imam Al-Bukhari mengatakan bahwa Abul Bukhturi belum pernah mendengar dari sahabat Ali Ibnu Majah mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdullah ibnu Numair, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abu Ubaidah, dari ayahnya, dari Al-A’masy ibnu Abu Sufyan, dari Anas ibnu Malik yang menceritakan: Mereka (para sahabat) bertanya, “”Wahai Rasulullah, apakah ibadah haji itu setiap tahun?”” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “”Seandainya aku kalakan, ‘Ya,’ niscaya diwajibkan. Dan seandainya diwajibkan, niscaya kalian tidak dapat melakukannya; dan seandainya kalian tidak dapat melakukannya, niscaya kalian akan tersiksa.

Di dalam kitab Shahihain disebutkan sebuah hadits melalui Ibnu Juraij, dari ‘Atha’, dari Jabir, dari Suraqah ibnu Malik yang mengatakan: “”Wahai Rasulullah, apakah engkau mengajak kami ber-tamattu’ hanya untuk tahun kita sekarang ini, ataukah untuk selama-lamanya?”” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “”Tidak, bahkan untuk selamanya.”” Menurut riwayat yang lain disebutkan, “”Bahkan untuk selama-lamanya.”” Di dalam kitab Musnad Imam Ahmad dan kitab Sunan Abu Dawud dinyatakan melalui hadits Waqid ibnu Abu Waqid Al-Laisi, dari ayahnya, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hajinya itu berkata kepada istri-istrinya, “”Kemudian mereka (kaum wanita) menetapi tikar hamparannya,”” maksudnya tetaplah kalian pada tikar kalian dan janganlah kalian keluar dari rumah.

Adapun mengenai istita’ah (yakni berkemampuan), hal ini terdiri atas berbagai macam, adakalanya seseorang mempunyai kemampuan pada dirinya, dan adakalanya pada yang lainnya, seperti yang ditetapkan di dalam kitab yang membahas masalah hukum. Abu Isa At-At-Tirmidzi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdu ibnu Humaid, telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Yazid yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Muhammad ibnu Abbad ibnu Ja’far menceritakan sebuah hadits dari Ibnu Umar : Seorang lelaki menghadap kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu bertanya, “”Wahai Rasulullah, siapakah orang yang berhaji sesungguhnya?”” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “”Orang yang rambutnya awut-awutan dan kusut pakaiannya (karena lama dalam perjalanannya).”” Lalu ada lelaki lain menghadap dan bertanya, “”Wahai Rasulullah, haji apakah yang lebih utama?”” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “”Mengeraskan bacaan talbiyah dan berkelompok-kelompok.”” Lalu datang lagi lelaki yang lainnya dan bertanya, “”Wahai Rasulullah, apakah yang dimaksud dengan as-sabil itu?”” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “”Bekal dan kendaraan.”” Hal yang sama diriwayatkan oleh Ibnu Majah melalui hadits Ibrahim ibnu Yazid (yaitu Al-Jauzi).

Imam At-Tirmidzi mengatakan, tiada yang me-rafa’-kan hadits ini kecuali hanya melalui hadisnya (Ibrahim ibnu Yazid). Akan tetapi, sebagian dari ahlul ‘ilmi meragukan perihal kekuatan hafalannya. Demikianlah menurut apa yang dikatakan oleh Imam At-Tirmidzi dalam bab ini. Di dalam Kitabul Haj ia mengatakan bahwa hadits ini hasan, tidak diragukan bahwa sanad ini para perawinya semua terdiri atas orang-orang yang Siqah selain Al-Jauzi.

Mereka membicarakan perihalnya demi hadits ini, tetapi ternyata jejaknya itu diikuti oleh orang lain. Untuk itu Ibnu Abu Hatim mengatakan: telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz ibnu Abdullah Al-Amiri, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdullah ibnu Ubaid ibnu Umair Al-Laisi, dari Muhammad ibnu Abbad ibnu Ja’far yang menceritakan bahwa ia duduk di majelis Abdullah Ibnu Umar, lalu Ibnu Umar menceritakan bahwa ada seorang lelaki datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu bertanya kepadanya, “”Apakah arti sabil itu?”” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: Bekal dan kendaraan.

Hal yang sama diriwayatkan oleh Ibnu Mardawaih melalui riwayat Muhammad ibnu Abdullah ibnu Ubaid ibnu Umair dengan lafal yang sama. Kemudian Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Anas, Al-Hasan, Mujahid, ‘Atha’, Sa’id ibnu Jubair, Ar-Rabi’ ibnu Anas, dan Qatadah hal yang semisal dengan hadits di atas. Hadits ini diriwayatkan melalui berbagai jalur lain dari hadits Anas, Abdullah ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud, dan Siti Aisyah yang semuanya berpredikat marfu.

Akan tetapi, di dalam sanadnya terdapat perbedaan pendapat, seperti yang ditetapkan di dalam Kitabul Ahkam. Al-Hafidzh Abu Bakar ibnu Mardawaih mempunyai perhatian khusus terhadap hadits ini dengan mengumpulkan semua jalur periwayatannya. Imam Hakim meriwayatkan melalui hadits Qatadah, dari Hammad ibnu Salamah, dari Qatadah, dari Anas , bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya mengenai makna firman Allah subhanahu wa ta’ala: yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. (Ali Imran: 97) Lalu ditanyakan, “”Apakah makna sabil itu?”” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: Bekal dan kendaraan. Kemudian Imam Hakim mengatakan bahwa predikat hadits ini shahih dengan syarat Imam Muslim, tetapi keduanya (Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim) tidak mengetengahkannya.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ya’qub, telah menceritakan kepada kami Ibnu Ulayyah, dari Yunus, dari Al-Hasan yang mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca firman-Nya: mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. (Ali Imran: 97) Lalu mereka (para sahabat) bertanya, “”Wahai Rasulullah, apakah yang dimaksud dengan sabil itu?”” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: Bekal dan kendaraan. Waki’ meriwayatkan hadits ini di dalam kitab tafsirnya melalui Sufyan dan Yunus dengan lafal yang sama. Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah menceritakan kepada kami Ats-Tsauri, dari Ismail (yaitu Abu Israil Al-Mala-i), dari Fudail (yakni Ibnu Amr), dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas yang menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: Bersegeralah kalian mengerjakan haji yakni haji fardu karena sesungguhnya seseorang di antara kalian tidak mengetahui aral yang akan menghalang-halanginya (di masa mendatang).

Imam Ahmad mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan ibnu Amr Al-Faqimi, dari Mahran ibnu Abu Safwan, dari Ibnu Abbas yang menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: Barang siapa yang niat hendak melakukan haji, maka kerjakanlah dengan segera. Abu Dawud meriwayatkannya dari Musaddad, dari Abu Mu’awiyah Ad-Darir dengan lafal yang sama. Waki’ meriwayatkan begitu pula Ibnu Jarir dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. (Ali Imran: 97) Ibnu Abbas mengatakan, “”Barang siapa yang memiliki harta sejumlah tiga ratus dirham, berarti dia sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.”” Telah diriwayatkan dari maulanya (yaitu Ikrimah) bahwa ia pernah mengatakan, “”Yang dimaksud dengan sabil ialah sehat.”” Waki’ ibnul Jarrah meriwayatkan dari Abu Janab (yakni Al-Kalbi), dari Adh-Dhahhak ibnu Muzahim, dari Ibnu Abbas yang mengatakan sehubungan dengan firman-Nya: yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. (Ali Imran: 97), Yang dimaksud dengan sabil ialah bekal dan kendaraan unta.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala: Barang siapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Mahakaya dari semesta alam. (Ali Imran: 97) Ibnu Abbas mengatakan begitu pula Mujahid dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang bahwa barang siapa yang ingkar terhadap kefarduan ibadah haji, maka sesungguhnya ia telah kafir, dan Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) darinya. Sa’id ibnu Mansur meriwayatkan dari Sufyan, dari Ibnu Abu Nujaih, dari Ikrimah yang mengatakan bahwa ketika firman Allah subhanahu wa ta’ala ini diturunkan, yaitu: Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya. (Ali Imran: 85); Maka orang-orang Yahudi berkata, “”Kami adalah orang-orang muslim.”” Tetapi Allah membantah pengakuan mereka dan mematahkan alasan mereka, yakni melalui sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada mereka: Sesungguhnya Allah telah mewajibkan atas kaum muslim berhaji ke Baitullah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.

Orang-orang Yahudi menjawab, “”Belum pernah diwajibkan atas kami,”” dan mereka menolak, tidak mau melakukan haji. Maka Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan firman-Nya: Barang siapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam. (Ali Imran: 97) Ibnu Abu Nujaih meriwayatkan hal yang sama dari Mujahid. Abu Bakar ibnu Mardawaih mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Ja’far, telah menceritakan kepada kami Ismail ibnu Abdullah ibnu Mas’ud, telah menceritakan kepada kami Muslim ibnu Ibrahim dan Syaz ibnu Fayyad; keduanya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hilal Abu Hasyim Al-Khurrasani, telah menceritakan kepada kami Abu Ishaq Al-Hamdani, dari Al-Haris, dari Ali yang menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: Barang siapa yang memiliki bekal dan kendaraan, lalu tidak juga melakukan haji ke Baitullah, maka haji tidak dirugikan olehnya bilamana ia mati sebagai seorang Yahudi atau Nasrani.

Demikian itu karena Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman, “”Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barang siapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam”” (Ali Imran: 97). Ibnu Jarir meriwayatkannya melalui hadits Muslim ibnu Ibrahim dengan lafal yang sama. Hal yang sama diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim, dari Abu Dzar’ah Ar-Razi, telah menceritakan kepada kami Hilal ibnul Fayyad, telah menceritakan kepada kami Hilal Abu Hasyim Al-Khurrasani, lalu ia menuturkan hadits ini dengan sanad yang semisal. Imam At-Tirmidzi meriwayatkannya dari Muhammad ibnu Ali Al-Qat’i, dari Muslim ibnu Ibrahim, dari Hilal ibnu Abdullah maula Rabi’ah ibnu Amr ibnu Muslim Al-Bahili dengan lafal yang sama, dan ia mengatakan bahwa hadits ini garib, kami tidak mengenalnya kecuali dari segi ini.

Di dalam sanadnya terdapat perbedaan pendapat: Hilal orangnya tidak dikenal, sedangkan Al-Haris dha’if dalam periwayatan hadits. Imam Al-Bukhari mengatakan bahwa Hilal yang ini hadisnya dinilai munkar (tidak dapat dipakai). Ibnu Addi mengatakan bahwa hadits ini tidak dipelihara (dihafal). Abu Bakar Al-Isma’ili Al-Hafidzh meriwayatkan melalui hadits Abu Amr Al-Auza’i, telah menceritakan kepadaku Ismail ibnu Abdullah ibnu Abul Muhajir, telah menceritakan kepadaku Abdur Rahman ibnu Ganam, bahwa ia pernah mendengar Khalifah Umar ibnul Khattab mengatakan, “”Barang siapa yang mampu melakukan ibadah haji, lalu ia tidak berhaji, maka sama saja baginya bilamana dia mati sebagai seorang Yahudi atau seorang Nasrani.”” Sanad atsar ini memang shahih sampai kepada Umar Sa’id ibnu Mansur di dalam kitab sunannya meriwayatkan dari Al-Hasan Al-Basri yang mengatakan bahwa Umar ibnul Khattab pernah mengatakan, “”Sesungguhnya aku berniat mengirim banyak lelaki ke berbagai kota besar untuk menginspeksi setiap orang yang mempunyai kemampuan, lalu ia tidak melakukan ibadah haji, maka hendaklah mereka memungut jizyah darinya. Mereka (yang berkemampuan, lalu tidak haji) bukanlah orang muslim, mereka bukan orang muslim.””

Sumber : learn-quran.co

Ali Imran :: Indeks Tema Ali Imran :: Daftar Surat :: Ibnu Katsir

Ayo bagikan sebagai sedekah…


Yuk bagikan infonya...

About Auther:

Info Biografi

Kuliah Gratis, Lulus Jadi PNS, Perwira TNI/POLRI...
Hello. Add your message here.