Tafsir Surat Ali Imran Ayat 130

Ali Imran :: Indeks Tema Ali Imran :: Daftar Surat :: Ibnu Katsir

Ali-‘Imran: 130

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا الرِّبَا أَضْعَافًا مُّضَاعَفَةً وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda] dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan”

Tafsir Surat Ali-‘Imran: 130-136

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kalian kepada Allah supaya kalian mendapat keberuntungan. Dan peliharalah diri kalian dari api neraka, yang disediakan untuk orang-orang yang kafir. Dan taatilah Allah dan Rasul, supaya kalian diberi rahmat. Dan bersegeralah kalian kepada ampunan dari Tuhan kalian dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang.

Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengumpuni dosa selain dari Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedangkan mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedangkan mereka kekal di dalamnya, dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, melarang hamba-hamba-Nya yang mukmin memberlakukan riba dan memakan riba yang berlipat ganda, seperti yang dahulu biasa mereka lakukan bila telah tiba masa pelunasan utang; maka jalan keluar adakalanya si pengutang melunasi utangnya atau membayar bunga ribanya. Jika ia membayar, maka tidak ada masalah; tetapi jika ia tidak dapat membayar utangnya, dia harus menambah bayarannya sebagai ganti dari penangguhan masa pelunasannya. Demikianlah seterusnya sepanjang tahun, adakalanya utang sedikit menjadi bertambah banyak dan berlipat-lipat dari utang yang sebenarnya.

Allah subhanahu wa ta’ala juga memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya untuk bertakwa, supaya mereka menjadi orang-orang yang beruntung dalam kehidupan di dunia ini dan di akhirat nanti. Selanjutnya Allah memperingatkan mereka agar mereka waspada terhadap siksa neraka. Untuk itu Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: Dan peliharalah diri kalian dari api neraka, yang disediakan untuk orang-orang yang kafir. Dan taatilah Allah dan Rasul, supaya kalian diberi rahmat. (ali Imran: 131-132) Selanjutnya Allah subhanahu wa ta’ala menganjurkan mereka agar bersegera mengerjakan kebajikan dan berlomba untuk memperoleh derajat taqarrub. Untuk itu Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: Dan bersegeralah kalian kepada ampunan dari Tuhan kalian dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (Ali Imran: 133) Seperti halnya neraka, disediakan untuk orang-orang yang kafir. Menurut suatu pendapat, makna firman-Nya “”Yang luasnya seluas langit dan bumi”” untuk mengingatkan luas panjangnya seperti yang disebutkan dalam ayat lain yang menggambarkan tentang hamparan surga (permadaninya), yaitu melalui firman-Nya: di atas permadani yang bagian dalamnya dari sutra. (Ar-Rahman: 54) Dengan kata lain, dapat Anda bayangkan bagaimana keindahan bagian luarnya? Menurut pendapat lain, lebar surga itu sama dengan panjangnya, mengingat bentuk surga seperti kubah yang terletak di bawah Arasy.

Sedangkan sesuatu yang berbentuk seperti kubah, yakni bulat, ukuran panjang dan lebarnya sama. Pendapat ini diperkuat oleh sebuah hadits shahih yang mengatakan: Apabila kalian memohon kepada Allah, maka mintalah kepada-Nya surga Firdaus, karena sesungguhnya Firdaus adalah bagian yang paling tinggi dari surga dan sekaligus pertengahannya. Darinya mengalir sungai-sungai surga, dan atap surga adalah Arasy Tuhan Yang Maha Pemurah.

Makna yang dikandung ayat ini sama dengan ayat lain yang ada di dalam surat Al-Hadid, yaitu firman-Nya: Berlomba-lombalah kalian kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhan kalian dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi. (Al-Hadid: 21), hingga akhir ayat. Telah diriwayatkan kepada kami di dalam kitab Musnad Imam Ahmad, bahwa Heraklius pernah menulis surat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang isinya menyatakan, “”Sesungguhnya engkau telah mengajakku untuk memperoleh surga yang luasnya seluas langit dan bumi. Kalau demikian, di mana neraka?”” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab dengan balik bertanya: Subhanallah (Mahasuci Allah), di manakah malam bila siang hari tiba? Ibnu Jarir meriwayatkannya. Untuk itu ia mengatakan, telah menceritakan kepadaku Yunus, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, telah menceritakan kepadaku Muslim ibnu Khalid, dari Abu Khaisamah, dari Sa’id ibnu Abu Rasyid, dari Ya’la ibnu Murrah yang menceritakan bahwa ia pernah bersua dengan At-Tanukhi yang pernah menjadi utusan Heraklius kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di Himsa; dia telah berusia lanjut dan lemah sekali.

Ia berkata bahwa ia datang menghadap kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan membawa surat Heraklius. Lalu surat itu diterima oleh seorang lelaki yang ada di sebelah kiri beliau. At-Tanukhi melanjutkan kisahnya, lalu ia berkata, “”Siapakah teman kalian yang akan membaca surat ini?”” Mereka (para sahabat) menjawab, “”Mu’awiyah.”” Ternyata isi surat Heraklius mengatakan, “”Sesungguhnya engkau telah berkirim surat kepadaku, yang isinya engkau menyeruku untuk memperoleh surga yang luasnya seluas langit dan bumi. Kalau begitu, di manakah nerakanya?”” At-Tanukhi melanjutkan kisahnya, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab dengan balik bertanya: Mahasuci Allah, di manakah malam hari bila siang hari datang? Al-A’masy, Sufyan Ats-Tsauri, dan Syu’bah meriwayatkan dari Qais ibnu Muslim, dari Tariq ibnu Syihab yang menceritakan bahwa segolongan orang-orang Yahudi pernah bertanya kepada Khalifah Umar ibnul Khattab tentang surga yang luasnya seluas langit dan bumi, lalu di manakah neraka? Maka Umar menjawab mereka, “”Bagaimanakah pendapat kalian bila siang hari datang, di manakah malam hari? Bilamana malam hari datang, di manakah siang hari?”” Mereka menjawab, “”Sesungguhnya engkau telah memetik hal yang semisal dari kitab Taurat.”” Atsar ini diriwayatkan oleh Ibnu Jarir melalui tiga jalur.

Kemudian Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Hazim, telah menceritakan kepada kami Abu Na’im, telah menceritakan kepada kami Jafar ibnu Barqan, telah menceritakan kepada kami Yazid ibnul Asam, bahwa seorang lelaki dari kalangan Ahli Kitab mengatakan, “”Mereka mengatakan bahwa surga itu luasnya seluas langit dan bumi, maka di manakah neraka?”” Maka Ibnu Abbas menjawab, “”Di manakah malam hari bila siang hari tiba? Di manakah siang hari bila malam hari tiba?”” Hal ini diriwayatkan pula secara marfu.

Untuk itu Al-Bazzar mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ma’mar, telah menceritakan kepada kami Al-Mugirah ibnu Salamah Abu Hasyim, telah menceritakan kepada kami Abdul Wahid ibnu Ziyad, dari Ubaidillah ibnu Abdullah ibnul Asam, dari pamannya (yaitu Yazid ibnul Asam), dari Abu Hurairah yang menceritakan bahwa seorang lelaki datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu mengatakan, “”Bagaimanakah pendapatmu mengenai firman-Nya: ‘dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi (Ali imran: 133).

Maka di manakah neraka?”” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “”Bagaimanakah menurutmu apabila malam tiba menyelimuti segala sesuatu, di manakah siang harinya?”” Lelaki itu menjawab, “”Di suatu tempat yang dikehendaki oleh Allah.”” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “”Demikian pula neraka, ia berada di suatu tempat yang dikehendaki oleh Allah subhanahu wa ta’ala”” Hadits ini mempunyai dua makna, yaitu: Pertama, yang dimaksud ialah bahwa ketidakmampuan kita menyaksikan malam hari bila siang hari tiba bukan berarti malam itu tidak ada di suatu tempat, sekalipun kita tidak mengetahuinya. Demikian pula neraka, ia berada di suatu tempat yang dikehendaki oleh Allah subhanahu wa ta’ala Pengertian ini lebih jelas, seperti yang dikemukakan oleh hadits Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Al-Bazzar tadi.

Kedua, mengartikah bahwa siang hari apabila menyinari alam dari belahan ini, maka malam hari berada di belahan lainnya. Demikian pula halnya surga, ia berada di tempat yang paling atas di atas langit di bawah Arasy, yang luasnya adalah seperti yang diungkapkan di dalam firman-Nya: seluas langit dan bumi. (Al-Hadid: 21) Sedangkan neraka berada di tempat yang paling bawah. Dengan demikian, berarti tidaklah bertentangan antara pengertian luasnya surga yang seluas langit dan bumi dengan keberadaan neraka.

Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan sifat ahli surga melalui firman-Nya: (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya) baik di waktu lapang maupun sempit. (Ali Imran: 134) Yakni dalam keadaan susah dan dalam keadaan makmur, dalam keadaan suka dan dalam keadaan duka, dalam keadaan sehat dan juga dalam keadaan sakit. Dengan kata lain, mereka rajin berinfak dalam semua keadaan. Sebagaimana yang disebutkan dalam ayat yang lain, yaitu firman-Nya: Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara sembunyi dan terang-terangan. (Al-Baqarah: 274) Makna yang dimaksud ialah bahwa mereka tidak kendur dan lupa oleh suatu urusan pun dalam menjalankan ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala Mereka membelanjakan harta untuk keridaan-Nya serta berbuat baik kepada sesamanya dari kalangan kaum kerabatnya dan orang-orang lain dengan berbagai macam kebajikan.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala: dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. (Ali Imran: 134) Dengan kata lain, apabila mereka mengalami emosi, maka mereka menahannya (yakni memendamnya dan tidak mengeluarkannya); selain itu mereka memaafkan orang-orang yang berbuat jahat kepada mereka. Disebutkan dalam sebagian atsar yang mengatakan: Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “”Wahai anak Adam, ingatlah kepada-Ku jika kamu marah, niscaya Aku mengingatmu bila Aku sedang murka kepadamu. Karena itu, Aku tidak akan membinasakanmu bersama orang-orang yang Aku binasakan. Demikianlah menurut riwayat Ibnu Abu Hatim. Abu Ya’la mengatakan di dalam kitab musnadnya, telah menceritakan kepada kami Abu Musa Az-Zamin, telah menceritakan kepada kami Isa ibnu Syu’aib Ad-Darir (yaitu Abul Fadl), telah menceritakan kepadaku Ar-Rabi’ ibnu Sulaiman, An-Numairi, dari Abu Amr ibnu Anas ibnu Malik, dari ayahnya yang mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: Barang siapa yang mengekang amarahnya, maka Allah menahan siksa-Nya terhadapnya.

Dan barang siapa yang mengekang lisannya, maka Allah menutupi auratnya. Dan barang siapa yang meminta maaf kepada Allah, maka Allah menerima permintaan maafnya. Hadits ini garib, dan di dalam sanadnya terdapat hal yang masih perlu dipertimbangkan. Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman, telah menceritakan kepada kami Malik, dari Az-Zuhri, dari Sa’id ibnul Musayyab, dari Abu Hurairah , dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah bersabda: Orang yang kuat itu bukanlah karena jago gulat, tetapi orang kuat ialah orang yang dapat menahan dirinya di kala sedang marah.

Syaikhain meriwayatkan hadits ini melalui hadits Malik. Imam Ahmad mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah, telah menceritakan kepada kami Al-A’masy, dari Ibrahim At-Taimi, dari Al-Haris ibnu Suwaid, dari Abdullah (yakni Ibnu Mas’ud ) yang menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: “”Siapakah di antara kalian yang harta warisnya lebih disukai olehnya daripada hartanya sendiri?”” Mereka menjawab, “”Wahai Rasulullah, tiada seorang pun di antara kami melainkan hartanya sendiri lebih disukainya daripada harta warisnya.”” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “”Ketahuilah oleh kalian, bahwa tiada seorang pun di antara kalian melainkan harta warisnya lebih disukai olehnya daripada hartanya sendiri.

Tiada bagianmu dari hartamu kecuali apa yang kamu infakkan, dan tiada bagi warismu kecuali apa yang kamu tangguhkan.”” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah pula bersabda: “”Bagaimanakah menurut penilaian kalian orang yang kuat di antara kalian?”” Kami menjawab, “”Orang yang tidak terkalahkan oleh banyak lelaki.”” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “”Bukan, tetapi orang yang kuat itu ialah orang yang dapat menahan dirinya di kala sedang marah.”” “”Tahukah kalian apakah yang dimaksud dengan ar-raqub?”” Kami menjawab, “”Orang yang tidak mempunyai anak.”” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “”Bukan, tetapi ar-raqub ialah orang yang tidak menyuguhkan sesuatupun dari anaknya.”” Imam Al-Bukhari mengetengahkan hadits tersebut pada bagian pertamanya, sedangkan Imam Muslim mengetengahkannya berasal dari hadits ini melalui riwayat Al-A’masy.

Hadits lain diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Disebutkan bahwa telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ja’far, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, aku mendengar Urwah ibnu Abdullah Al-Ju’fi menceritakan dari Abu Hasbah atau ibnu Abu Husain, dari seorang laki-laki yang menyaksikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhotbah. Maka beliau bersabda: “”Tahukah kalian apakah yang dimaksud dengan ar-raqub?”” Kami menjawab, “”Orang yang tidak mempunyai anak.”” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “”Ar-raqub yang sesungguhnya ialah orang yang mempunyai anak, lalu ia mati, sedangkan dia belum menyuguhkan sesuatu pun dari anaknya.”” “”Tahukah kalian, siapakah sa’luk itu?”” Mereka menjawab, “”Orang yang tidak berharta.”” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “”Sa’luk yang sesungguhnya ialah orang yang berharta, lalu ia mati, sedangkan dia belum menyuguhkan barang sepeser pun dari hartanya itu.”” Kemudian dalam kesempatan lain Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “”Apakah arti jagoan itu?”” Mereka menjawab, “”Seseorang yang tidak terkalahkan oleh banyak lelaki.”” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “”Orang yang benar-benar jagoan ialah orang yang marah, lalu marahnya itu memuncak hingga wajahnya memerah dan semua rambutnya berdiri, lalu ia dapat mengalahkan kemarahannya.”” Hadits lain diriwayatkan oleh Imam Ahmad.

Disebutkan bahwa telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair, telah menceritakan kepada kami Hisyam (yaitu Ibnu Urwah), dari ayahnya, dari Al-Ahnaf ibnu Qais, dari salah seorang pamannya yang dikenal dengan nama Harisah ibnu Qudamah As-Sa’di yang menceritakan hadits berikut: Bahwa ia pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Untuk itu ia mengatakan, “”Wahai Rasulullah, ajarkanlah kepadaku suatu nasihat yang bermanfaat bagi diriku, tetapi jangan banyak-banyak agar aku selalu mengingatnya.”” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “”Kamu jangan marah.”” Ia mengulangi pertanyaannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkali-kali, tetapi semuanya itu dijawab oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan kalimat, “”Kamu jangan marah.”” Hal yang sama diriwayatkan dari Abu Mu’awiyah, dari Hisyam dengan lafal yang sama. Ia meriwayatkan pula dari Yahya ibnu Sa’id Al-Qattan, dari Hisyam dengan lafal yang sama yang isinya adalah seperti berikut: Bahwa seorang lelaki bertanya, “”Wahai Rasulullah, berilah aku suatu nasihat, tetapi jangan terlalu banyak, barangkali saja aku selalu mengingatnya.”” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “”Kamu jangan marah.”” Hadits ini hanya diriwayatkan oleh Imam Ahmad sendiri.

Hadits lain diriwayatkan pula oleh Imam Ahmad. Disebutkan bahwa telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah menceritakan kepada kami Ma’mar, dari Az-Zuhri, dari Humaid ibnu Abdur Rahman, dari seorang lelaki dari kalangan sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menceritakan: Seorang lelaki bertanya, “”Wahai Rasulullah, berwasiatlah untukku.”” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “”Kamu jangan marah.”” Lelaki itu melanjutkan kisahnya, “”Maka setelah kurenungkan apa yang telah disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tadi, aku berkesimpulan bahwa marah itu menghimpun semua perbuatan jahat.”” Hadits ini hanya diriwayatkan oleh Imam Ahmad sendiri. Hadits lain diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Disebutkan bahwa telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah, telah menceritakan kepada kami Daud ibnu Abu Hindun, dari Abu Harb ibnu Abul Aswad, dari Abul Aswad, dari Abu Dzar yang menceritakan bahwa ketika ia hendak mengambil air dari sumurnya, tiba-tiba datanglah suatu kaum, lalu mereka berkata, “”Siapakah di antara kalian yang mau mengambilkan air buat (minum ternak) Abu Dzar dan menghitung beberapa helai rambut dari kepalanya?”” Kemudian ada seorang lelaki berkata, “”Saya,”” lalu lelaki itu menggiring ternak kambing milik Abu Dzar ke sumur tersebut (untuk diberi minum).

Pada mulanya Abu Dzar berdiri, lalu duduk, kemudian berbaring. Ketika ditanyakan kepadanya, “”Wahai Abu Dzar, mengapa engkau duduk, lalu berbaring?”” Maka Abu Dzar menjawab, “”Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda kepada kami (para sahabat): ‘Apabila seseorang di antara kalian marah, sedangkan ia dalam keadaan berdiri, hendaklah ia duduk hingga marahnya hilang. Apabila marahnya masih belum hilang, hendaklah ia berbaring.”” Imam Abu Dawud meriwayatkannya dari Ahmad ibnu Hambal berikut sanadnya. Hanya di dalam riwayatnya disebutkan dari Abu Harb, dari Abu Dzar, padahal yang benar ialah Ibnu Abu Harb, dari ayahnya, dari Abu Dzar, seperti yang disebutkan di dalam riwayat Abdullah ibnu Ahmad dari ayahnya.

Hadits lain. Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Khalid, telah menceritakan kepada kami Wa-il As-San’ani yang mengatakan, “”Ketika kami sedang berada di dalam majelis Urwah ibnu Muhammad, tiba-tiba masuk menemuinya seorang lelaki dan lelaki itu berbicara kepadanya tentang suatu pembicaraan yang membuat Urwah marah. Ketika Urwah marah, maka ia pergi, lalu kembali lagi menemui kami dalam keadaan telah berwudu.

Kemudian ia mengatakan bahwa telah menceritakan kepadaku ayahku di hadapan kakekku (yaitu Atiyyah ibnu Sa’d As-Sa’di) yang berpredikat sebagai sahabat, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: ‘Sesungguhnya marah itu perbuatan setan, dan setan itu diciptakan dari api, dan sesungguhnya api itu hanya dapat dipadamkan dengan air. Karena itu, apabila seseorang di antara kalian marah, hendaklah ia berwudu’.”” Hal yang sama diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud melalui hadits Ibrahim ibnu Khalid As-San’ani, dari Abu Wa-il Al-Oas Al-Muradi As-San’ani.

Imam Abu Dawud mengatakan bahwa Abu Wa-il ini adalah Abdullah ibnu Buhair. Hadits lain. — Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Yazid, telah menceritakan kepada kami Nuh ibnu Mu’awiyah As-Sulami, dari Muqatil ibnu Hayyan, dari ‘Atha’, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: Barang siapa yang memberikan masa tangguh kepada orang yang sedang kesulitan atau memaafkan (utang)nya, niscaya Allah memelihara dirinya dari panasnya neraka Jahannam. Ingatlah, sesungguhnya amal surga itu bagaikan tanah licin yang ada di bukit sebanyak tiga kali. Ingatlah, sesungguhnya amal neraka itu bagaikan tanah yang mudah dilalui yang berada di tanah datar.

Orang yang berbahagia ialah orang yang dipelihara dari segala fitnah. Dan tiada suatu regukan pun yang lebih disukai oleh Allah selain dari regukan amarah yang ditelan oleh seseorang hamba; tidak sekali-kali seorang hamba Allah mereguk amarahnya karena Allah, melainkan Allah memenuhi rongganya dengan iman. Hadits ini hanya diriwayatkan oleh Imam Ahmad sendiri, sanadnya hasan; tiada seorang perawi pun yang mempunyai kelemahan di dalamnya, dan matannya hasan pula.

Hadits lain yang semakna dengannya. – Imam Abu Dawud mengatakan, telah menceritakan kepada kami Uqbah ibnu Makram, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman (yakni Ibnu Mahdi), dari Bisyr (yakni Ibnu Mansur), dari Muhammad ibnu Ajlan, dari Suwaid ibnu Wahb, dari seorang lelaki anak seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari ayahnya yang mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: Barang siapa yang menahan amarah, sedangkan dia mampu mengeluarkannya, maka Allah memenuhi rongganya dengan keamanan dan iman. Dan barang siapa yang meninggalkan pakaian keindahan, sedangkan dia mampu mengadakannya Bisyr menduga bahwa Muhammad ibnu Ajlan mengatakan karena tawadu (rendah diri), maka Allah memakaikan kepadanya pakaian kehormatan.

Dan barang siapa memakai mahkota karena Allah, niscaya Allah akan memakaikan kepadanya mahkota seorang raja. Hadits lain. Imam Ahma’d mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Yazid, telah menceritakan kepada kami Sa’id, telah menceritakan kepadaku Abu Marhum, dari Sahl ibnu Mu’az ibnu Anas, dari ayahnya, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: Barang siapa menahan amarah, sedangkan dia mampu untuk melaksanakannya, maka Allah kelak akan memanggilnya di mata semua makhluk, hingga Allah menyuruhnya memilih bidadari manakah yang disukainya.

Imam Abu Dawud, Imam At-Tirmidzi, dan Imam Ibnu Majah meriwayatkannya melalui hadits Sa’id ibnu Abu Ayyub dengan lafal yang sama. Imam At-Tirmidzi mengatakan bahwa predikat hadits ini hasan garib. Hadits lain, diriwayatkan oleh Abdur Razzaq. telah menceritakan kepada kami Daud ibnu Qais, dari Yazid ibnu Aslam, dari seorang lelaki dari kalangan ulama Syam yang dikenal dengan nama Abdul Jalil, dari seorang pamannya, dari Abu Hurairah sehubungan dengan firman-Nya: dan orang-orang yang menahan amarahnya. (Ali Imran: 134) Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: Barang siapa menahan amarahnya, sedangkan dia mampu melaksanakannya, niscaya Allah memenuhi rongganya dengan keamanan dan keimanan.

Hadits lain. Ibnu Mardawaih mengatakan, telah menceritakan bahwa Ahmad ibnu Muhammad ibnu Ziyad telah menceritakan kepada kami, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Abu Thalib, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu ‘Ashim, telah menceritakan kepadaku Yunus ibnu Ubaid, dari Al-Hasan, dari Ibnu Umar yang menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: Tiada suatu regukan pun yang ditelan oleh seorang hamba dengan pahala yang lebih utama selain dari regukan amarah yang ditelan olehnya karena mengharapkan rida Allah. Hadits diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir. Hal yang sama diriwayatkan oleh Ibnu Majah, dari Bisyr ibnu Umar, dari Hammad ibnu Salamah, dari Yunus ibnu Ubaid dengan lafal yang sama.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala: dan orang-orang yang menahan amarahnya. (Ali Imran: 134) Yakni mereka tidak melampiaskan kemarahannya kepada orang lain, melainkan mencegah dirinya agar tidak menyakiti orang lain, dan ia lakukan hal tersebut demi mengharapkan pahala Allah subhanahu wa ta’ala Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: dan memaafkan (kesalahan) orang. (Ali Imran: 134) Yaitu selain menahan diri, tidak melampiaskan kemarahannya, mereka juga memaafkan orang yang telah berbuat aniaya terhadap dirinya, sehingga tiada suatu uneg-uneg pun yang ada dalam hati mereka terhadap seseorang. Hal ini merupakan akhlak yang paling sempurna. Karena itulah dalam akhir ayat ini disebutkan: Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (Ali Imran: 134) Hal yang disebut di atas merupakan salah satu dari kebajikan.

Di dalam sebuah hadits disebutkan seperti berikut: Ada tiga perkara yang aku berani bersumpah untuknya; tiada harta yang berkurang karena sedekah, dan tidak sekali-kali Allah menambahkan kepada seorang hamba yang pemaaf melainkan hanya keagungan; serta barang siapa yang merendahkan dirinya karena Allah, niscaya Allah mengangkat (kedudukan)nya. Imam Hakim di dalam kitab Mustadrak-nya. meriwayatkan melalui hadits Musa ibnu Uqbah, dari Ishaq ibnu Yahya ibnu Abu Talhah Al-Qurasyi, dari Ubadah ibnus Samit, dari Ubay ibnu Ka’b, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: Barang siapa yang menginginkan bangunan untuknya (di surga; dimuliakan, dan derajat (pahala)nya ditinggikan, hendaklah ia memaafkan orang yang berbuat aniaya kepadanya, memberi kepada orang yang kikir terhadap dirinya, dan bersilaturahmi kepada orang yang memutuskannya.

Kemudian Imam Hakim mengatakan bahwa hadits ini shahih dengan syarat Syaikhain, tetapi keduanya tidak mengetengahkannya. Ibnu Mardawaih meriwayatkannya melalui hadits ali, Ka’b ibnu Ujrah, dan Abu Hurairah serta Ummu Salamah hadits yang semakna. Telah diriwayatkan melalui Adh-Dhahhak, dari Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: Apabila hari kiamat terjadi, maka ada seruan yang memanggil, “”Di manakah orang-orang yang suka memaafkan orang lain? Kemarilah kalian kepada Tuhan kalian dan ambillah pahala kalian!”” Dan sudah seharusnya bagi setiap orang muslim masuk surga bila ia suka memaafkan (orang lain).

Firman Allah subhanahu wa ta’ala: Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka. (Ali Imran: 135) Yakni apabila mereka melakukan suatu dosa, maka mereka mengiringinya dengan tobat dan istigfar (memohon ampun kepada Allah). Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yazid, telah menceritakan kepada kami Hammam ibnu Yahya, dari Ishaq ibnu Abdullah ibnu Abu Talhah, dari Abdur Rahman ibnu Abu Amrah, dari Abu Hurairah , dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah bersabda: Sesungguhnya ada seorang lelaki melakukan suatu dosa, lalu ia berkata, “”Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah melakukan suatu dosa, maka berikanlah ampunan bagiku atas dosa itu.”” Maka Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “”Hamba-Ku telah melakukan suatu dosa, lalu ia mengetahui bahwa dia mempunyai Tuhan yang mengampuni dosa dan yang menghukumnya, sekarang Aku memberikan ampunan kepada hamba-Ku.”” Kemudian si hamba melakukan dosa yang lain, dan mengatakan, “”Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah melakukan dosa lain, maka ampunilah dosa(ku) itu.”” Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “”Hamba-Ku mengetahui bahwa dirinya mempunyai Tuhan yang mengampuni dosa dan yang menghukumnya.

Sekarang Aku mengampuni hamba-Ku.”” Kemudian si hamba melakukan dosa lagi dan berkata, “”Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah melakukan suatu dosa, maka ampunilah dosaku.”” Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “”Hamba-Ku mengetahui bahwa dia mempunyai Tuhan yang mengampuni dosa dan yang menghukumnya, sekarang Aku memberikan ampunan kepada hamba-Ku.”” Kemudian si hamba melakukan dosa yang lain, dan mengatakan, “”Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah melakukan dosa lain, maka ampunilah dosa(ku) itu.”” Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “”Hamba-Ku mengetahui bahwa dirinya mempunyai Tuhan yang mengampuni dosa dan yang menghukumnya. Persaksikanlah oleh kalian (para malaikat) bahwa Aku telah mengampuni hamba-Ku, maka ia boleh berbuat semua apa yang dikehendakinya.”” Di dalam kitab Shahihain hadits ini diketengahkan melalui jalur Ishaq ibnu Abu Talhah dengan lafal yang semisal.

Hadits lain diriwayatkan oleh Imam Ahmad. :”” Disebutkan bahwa telah menceritakan kepada kami Abun Nadr dan Abu Amir; keduanya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Zuhair, telah menceritakan kepada kami Sa’d At-Ta-i, telah menceritakan kepada kami Abul Mudallah maula Ummul Mukminin yang menceritakan bahwa ia pernah mendengar Abu Hurairah menceritakan hadits berikut, bahwa kami (para sahabat) pernah berkata, “”Wahai Rasulullah, apabila kami melihatmu, maka hati kami terasa sejuk dan kami menjadi orang-orang yang ahli akhirat.

Tetapi apabila kami berpisah dengan engkau, maka kami mengagumi duniawi dan mencium istri-istri dan anak-anak kami.”” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “”Seandainya kalian dalam semua keadaan seperti keadaan kalian bila berada di hadapanku, niscaya para malaikat akan menjabat tangan kalian dengan telapak tangan mereka dan niscaya mereka mengunjungi kalian di rumah-rumah kalian. Dan seandainya kalian tidak melakukan dosa, niscaya Allah akan mendatangkan suatu kaum yang berdosa agar Dia mengampuni mereka.”” Kami berkata lagi, “”Wahai Rasulullah, ceritakanlah kepada kami tentang surga, terbuat dari apakah bangunannya?”” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: Bata emas dan bata perak, sedangkan plesterannya dari minyak kesturi azfar, batu kerikilnya dari mutiara dan yaqut, dan pasir-nya adalah minyak za’faran.

Barang siapa yang memasukinya selalu dalam kenikmatan dan tidak akan susah; dan kekal, tidak akan mati. Pakaiannya tidak akan rusak dan kemudaannya tidak akan pudar. Ada tiga orang yang doanya tidak ditolak, yaitu imam yang adil, orang yang puasa hingga berbuka, dan doa orang yang teraniaya dibawa di atas awan dan dibukakan baginya semua pintu langit, lalu Tuhan berftrman kepadanya, “”Demi Keagungan-Ku, Aku benar-benar akan menolongmu, sekalipun sesudah beberapa waktu.”” Imam At-Tirmidzi dan Imam Ibnu Majah meriwayatkannya melalui jalur lain dari hadits Sa’d dengan lafal yang sama.

Ditekankan berwudu dan shalat dua rakaat di kala hendak bertobat karena berdasarkan apa yang telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad ibnu Hambal. Yaitu telah menceritakan kepada kami Waki’, telah menceritakan kepada kami Mis’ar dan Sufyan Ats-Tsauri, dari Usman ibnul Mugirah As-Saqafi, dari Ali ibnu Rabi’ah, dari Asma ibnul Hakam Al-Fazzari, dari Ali yang telah mengatakan bahwa apabila ia mendengar sebuah hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Allah memberikan manfaat kepadanya melalui hadits ini menurut apa yang dikehendaki oleh Allah.

Apabila ada orang lain yang menceritakan sebuah hadits kepadanya, maka terlebih dahulu ia menyumpah orang itu atas kebenaran hadisnya. Apabila orang yang bersangkutan mau bersumpah kepadanya, barulah ia percaya. Sesungguhnya sahabat Abu Bakar pernah menceritakan hadits kepadanya, tetapi Abu Bakar adalah orang yang siddiq (yakni tidak perlu disumpah lagi). Ia menceritakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Tidak sekali-kali seorang lelaki berbuat suatu dosa, lalu ia berwudu dan melakukan wudunya dengan baikmenurut Mis’ar disebutkan, lalu ia shalat. Menurut Sufyan disebutkan bahwa kemudian ia shalat sebanyak dua rakaat dan memima ampun kepada Allah subhanahu wa ta’ala, melainkan Allah pasti memberikan ampun baginya.

Hal yang sama diriwayatkan oleh Ali ibnul Madini, Al-Humaidi, Abu Bakar ibnu Abu Syaibah, ahlus sunan dan ibnu Hibban di dalam kitab sahihnya, Al-Bazzar dan Ad-Daruqutni melalui berbagai jalur dari Usman ibnul Mugirah dengan lafal yang sama. Imam At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan. Kami menyebutkan jalur-jalurnya dan keterangan mengenainya secara rinci di dalam Musnad Abu Bakar As-Siddiq Secara garis besarnya hadits ini berpredikat hasan. Hadits ini merupakan salah satu di antara hadits riwayat Amirul Mukminin Ali ibnu Abu Thalib, dari Khalifah Abu Bakar Termasuk di antara bukti yang membenarkan hadits ini ialah sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim di dalam kitab sahihnya melalui Amirul Mukminin Umar ibnul Khattab r.a dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah bersabda: Tidak sekali-kali seseorang di antara kalian melakukan wudu, lalu ia membaguskan atau meratakan wudunya dengan baik, kemudian mengucapkan, “”Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, melainkan dibukakan untuknya semua pimu surga yang delapan buah, ia boleh memasukinya dari pintu mana pun yang dikehendakinya.

Di dalam kitab Shahihain disebutkan dari Amirul Mukminin Usman ibnu Affan , bahwa ia melakukan wudu untuk mereka seperti yang pernah dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Kemudian ia mengatakan bahwa dirinya pernah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Barang siapa melakukan wudu seperli wuduku ini. lalu shalat dua rakaat, yang di dalam keduanya ia tidak berbicara kepada dirinya sendiri, niscaya Allah memberikan ampunan baginya atas semua dosanya yang terdahulu. Hadits ini terbukti melalui riwayat empat orang Imam dan Khulafaur Rasyidin, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, seperti apa yang telah ditunjukkan oleh Al-Qur’an yang mengatakan bahwa memohon ampun kepada Allah dari perbuatan dosa bermanfaat bagi orang-orang yang durhaka.

Abdur Razzaq mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ja’far ibnu Sulaiman, dari Sabit, dari Anas ibnu Malik yang menceritakan, telah sampai kepadanya bahwa iblis menangis ketika ayat berikut diturunkan, yaitu firman-Nya: Dan (Juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka. (ali Imran: 135), hingga akhir ayat. Al-Hafidzh Abu Ya’la mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muharriz ibnu Aun, telah menceritakan kepada kami Usman ibnu Matar, telah menceritakan kepada kami Abdul Gafur, dari Abu Nadrah, dari Abu Raja, dari Abu Bakar , dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah bersabda: Berpeganglah kalian kepada kalimah La Ilaha Illallah dan istigfar, perbanyaklah oleh kalian dalam membaca keduanya.

Karena sesungguhnya iblis mengatakan, “”Aku binasakan manusia dengan dosa-dosa, dan mereka membinasakan diriku dengan La Ilaha Illallah dan istigfar. Setelah aku melihat hal tersebut, maka aku binasakan mereka dengan hawa nafsu, sedangkan mereka menduga bahwa diri mereka diberi petunjuk.”” Usman ibnu Matar dan gurunya, kedua-duanya dha’if. Imam Ahmad meriwayatkan di dalam kitab musnadnya melalui jalur Amr ibnu Abu Amr dan Abul Haisam Al-Atwari, dari Abu Sa’id, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah bersabda: Iblis berkata, “”Ya Tuhanku, demi keagungan-Mu, aku akan terus-menerus menyesatkan anak Adam selagi roh berada di dalam tubuh mereka.”” Maka Allah subhanahu wa ta’ala ber-firman, “”Demi Keagungan dan Kebesaran-Ku, Aku terus-menerus memberikan ampunan bagi mereka selagi mereka memohon ampun kepada-Ku.””

Al-Hafidzh Abu Bakar Al-Bazzar mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnul Musanna, telah menceritakan kepada kami Umar ibnu Khalifah; ia pernah mendengar Abu Badar menceritakan hadits berikut dari Sabit, dari Anas, bahwa ada seorang lelaki datang, lalu berkata, “”Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku telah melakukan suatu dosa.”” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “”Apabila kamu berbuat dosa, maka memohon ampunlah kepada Tuhanmu.”” Lelaki itu berkata, “”Sesungguhnya aku telah memohon ampun, kemudian sesudah itu aku kembali melakukan dosa.”” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “”Apabila kamu berbuat dosa lagi, maka ulangilah istigfarmu kepada Tuhanmu.”” Lelaki itu mengulangi lagi pertanyaannya untuk keempat kalinya, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “”Minta ampunlah kepada Tuhanmu, hingga setanlah yang kecewa.”” Hadits ini bila ditinjau dari jalur ini berpredikat garib.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala: dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari Allah? (Ali Imran: 135) Artinya, tiada seorang pun yang dapat memberikan ampun atas perbuatan dosa selain Allah subhanahu wa ta’ala Seperti apa yang dikatakan oleh Imam Ahmad, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Mus’ab, telah menceritakan kepada kami Salam ibnu Miskin dan Al-Mubarak, dari Al-Aswad ibnu Sari’: Bahwa pernah dihadapkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seorang tawanan, lalu tawanan itu berkata, “”Ya Allah, sesungguhnya aku bertobat kepada-Mu dan tidak akan bertobat kepada Muhammad.”” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “”Berikanlah hak itu kepada pemiliknya (yakni Allah).”” Firman Allah subhanahu wa ta’ala: Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedangkan mereka mengetahui. (Ali Imran: 135) Yakni mereka bertobat kepada Allah dari perbuatan dosa mereka dalam waktu yang dekat, dan tidak melanjutkan perbuatan maksiat, tidak menetapinya, tidak pula menjadikannya sebagai langganan.

Seandainya mereka mengulangi perbuatan dosanya, maka dengan segera mereka bertobat dari perbuatannya itu kepada Allah. Seperti apa yang diriwayatkan oleh Al-Hafidzh Abu Ya’la Al-Mausuli di dalam kitab musnadnya. ia menyebutkan: telah menceritakan kepada kami Ishaq ibnu Israil dan lain-lainnya yang mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Abu Yahya Abdul Hamid Al-Hamani, dari Usman ibnu Waqid, dari Abu Nadrah, dari maula Abu Bakar, dari Abu Bakar yang menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: Bukan dinamakan orang yang menetapi dosa seseorang yang memohon ampun (kepada Allah), sekalipun ia mengulangi dosanya dalam sehari sebanyak tujuh puluh kali.

Imam Abu Dawud, Imam At-Tirmidzi, dan Al-Bazzar di dalam kitab musnadnya telah meriwayatkannya melalui hadits Usman ibnu Waqid Usman ibnu Waqid dinilai tsiqah oleh Yahya ibnu Mu’in dengan lafal yang sama. Guru Usman ibnu Waqid ialah Abu Nasr Al-Muqasiti yang nama aslinya adalah Salim ibnu Ubaid, ia dinilai tsiqah oleh Imam Ahmad dan Ibnu Hibban.

Ali ibnul Madini dan Imam At-Tirmidzi berpendapat bahwa predikat sanad hadits ini tidaklah seperti apa yang dikatakan mereka. Pendapat ini pada lahiriahnya karena tidak dikenalnya maula Abu Bakar. Tetapi ketidakjelasan orang seperti dia tidak menjadikan mudarat atau hambatan, mengingat dia adalah seorang tabi’in yang besar. Sudah dinilai cukup hanya dengan menisbatkan (mengaitkan)nya kepada Abu Bakar. Dengan demikian, berarti hadits ini adalah hasan.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala: sedangkan mereka mengetahui. (Ali lmran: 135) Mujahid dan Abdullah ibnu Ubaid ibnu Umair mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: sedangkan mereka mengetahui. (Ali lmran: 135) Yakni barang siapa yang bertobat, maka Allah menerima tobatnya. Ayat ini semakna dengan ayat lain, yaitu firman-Nya: Tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah menerima tobat dari hamba-hamba-Nya? (At-Taubah: 104) Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya sendiri, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (An-Nisa: 110) Ayat-ayat lain yang semakna cukup banyak jumlahnya.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yazid, telah menceritakan kepada kami Jarir, telah menceritakan kepada kami Hibban (yaitu Ibnu Zaid Asy-Syar’i), dari Abdullah ibnu Amr, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang pernah bersabda ketika berada di atas mimbarnya: Belas kasihanlah kalian, niscaya kalian dibelaskasihani; dan jadilah kalian orang-orang yang pemaaf, niscaya kalian dimaafkan. Kecelakaanlah bagi orang-orang yang suka berkata kasar; dan kecelakaanlah bagi orang-orang yang menetapi perbuatan dosa mereka, sedangkan mereka mengetahui. Hadits ini hanya diriwayatkan oleh Imam Ahmad sendiri.

Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala berfirman sesudah menggambarkan perihal mereka yang telah disebutkan sifat-sifatnya, yaitu: Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka. (Ali Imran: 136) Yaitu balasan mereka karena menyandang sifat-sifat tersebut ialah ampunan dari Tuhan mereka. dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai. (Ali Imran: 136) Yakni berbagai macam minuman. sedangkan mereka kekal di dalamnya. (Ali Imran: 136) Maksudnya, menetap di dalam surga untuk selama-lamanya. dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yana beramal (Ali Imran: 136) Allah subhanahu wa ta’ala memuji keindahan surga dan semua kenikmatan yang ada di dalamnya.

Sumber : learn-quran.co 

Ali Imran :: Indeks Tema Ali Imran :: Daftar Surat :: Ibnu Katsir

Ayo bagikan sebagai sedekah…   

  

About Auther:

Info Biografi

Buku Petunjuk Pendaftaran Sekolah Kedinasan 2020
Hello. Add your message here.