Hikmah Ilmiah di Balik Al-Baqarah Ayat ke-276 Soal Riba

Ilustrasi / Google
Ilustrasi / Google

Di antara penyebab utama terjadi inflasi yakni karena riba. Hal ini karena produsen yang mendapatkan modal dari pinjaman berbunga pasti akan menambah bunga yang harus dibayarnya kepada debitur ke dalam harga barang produksinya.

Dikutip dari buku Harta Haram Muamalat Kontemporer, karya Erwandi Tarmizi, inflasi yakni keadaan perekonomian yang ditandai kenaikan harga secara cepat sehingga berdampak pada menurunnya daya beli sebuah mata uang.

Jika suku bunga naik, secara langsung harga barang dan jasa menjadi naik sehingga daya beli mata uang menjadi turun. Ini yang dinamakan cost-push inflation (inflasi yang disebabkan oleh dorongan biaya produksi).

Dan bila suku bunga turun maka permintaan kredit menjadi tinggi. Bank-bank pemberi kredit memberikan kredit jauh lebih besar dari fisik uang yang mereka miliki.

Maka bila jumlah uang lebih banyak dari yang semestinya terjadilah inflasi yang dinamakan demand-pull inflation (inflasi karena meningkatnya permintaan), sebagaimana dikutip dari Qadhaya fiqhiyyah Muashirah, Dr Sulaiman Al Asyqar.

Ini membuktikan bahwa suku bunga yang hakikatnya adalah riba merupakan penyebab utama turunnya daya beli mata uang terhadap barang.

Dengan turunnya daya beli mata uang maka seluruh uang negara tersebut akan berkurang nilai tukarnya. Misalnya, seseorang yang memiliki uang lima juta rupiah dalam rentang waktu beberapa tahun ke depan, nilai tukarnya terhadap barang akan turun. Bisa jadi menjadi senilai empat juta rupiah walaupun nilai nominalnya masih tetap lima juta rupiah.

Mungkin ini makna firman Allah “Yam-haqullahur-riba”. “Allah memusnahkan harta riba (secara berangsur-angsur).” (QS Al-Baqarah: 276).

Kata محق dalam bahasa arab berarti lenyap secara berangsur, dikatakan محق القمر karena bulan lenyap secara berangsur.

Kondisi harta riba lenyap secara berangsur tepat sekali untuk gambaran inflasi, di mana daya beli uang berkurang secara berangsur disebabkan oleh riba.

Bisa dibayangkan betapa besar dosa berbuat riba. Memang tampak luarnya pihak bank menarik riba (bunga) dari seorang pengusaha yang dianggap kaya, tapi pada hakikatnya bank tidak menarik bunga dari pengusaha tersebut, melainkan dari pengguna akhir barang atau jasa yang dihasilkan oleh pengusaha tersebut.

Dengan demikian yang membayar (bunga) atau riba adalah jutaan umat manusia yang kebanyakan mereka berasal dari rakyat jelata.

Dapat dibayangkan betapa besar kezaliman yang diakibatkan oleh riba yang merupakan penyebab utama inflasi. Di mana lebih dari 200 juta penduduk Indonesia akan merasakan dampaknya, yaitu berkurangnya daya beli uang yang mereka dapatkan dari hasil jerih payah yang dikumpulkan dalam kurun waktu yang tidak sebentar. Lalu daya beli uang yang terkumpul tersebut mendadak turun dalam sekejap mata saat terjadinya hiperinflasi.

Sumber : Republika (Nashih Nashrullah, Rossi Handayani)

Yuk bagikan sebagai sedekah…

About Auther:

Info Biografi

Beasiswa Sekolah Kedinasan IPDN STAN AKPOL AKMIL Dll
Hello. Add your message here.