4 Pesan Rasulullah Saat Hijrah ke Madinah

Ilustrasi/Google
Ilustrasi/Google

Kisah hijrahnya baginda Rasul SAW dari tanah kelahiran beliau yaitu Bakkah Mubarokah (Mekkah yang penuh berkah) menuju Yatsrib yang kelak beliau ubah namanya menjadi Madinah adalah kisah penuh hikmah, inspirasi dan nilai. Bahwa berdakwah, mengajak manusia ke jalan Allah penuh dinamika dan tantangan, perlu strategi dan pendekatan, perlu keteladanan dan kesabaran maksimal.

Sebab sebagaimana kita tahu juga bahwa jalan menuju kebahagiaan akhirat pun tidak cukup hanya dengan niat dan maksud baik saja, lantas kita berpangku tangan dan rebahan saja, dibutuhkan kesungguhan dan kerja keras. Diperlukan juga uang dan waktu yang dicurahkan khusus untuknya sebagaimana firman Allah yang termaktub dalam QS. Al Isra’ [17]: 19:

“Dan barang siapa menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh, sedangkan dia beriman, maka mereka itulah orang yang usahanya dibalas dengan baik.”

Izinkan penulis menjabarkan tentang kalimat baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihii wa sallam saat beliau baru saja tiba di Yatsrib (Madinah). Yah, kalimat yang sangat magis dan memukau bagi hadirin yang menanti kedatangan beliau SAW, mereka bukan hanya para sahabat yang sudah beriman namun terdiri dari banyak suku dan pemeluk agama lain, pesan yang simple namun sarat makna dan penuh nilai.

Nasihat yang sangat universal sebab di awali dengan panggilan “wahai manusia” dan uniknya nasehat yang fundamental ini sampai kepada kita dari Abdullah Bin Salam RA, sahabat Rasul SAW yang kala itu belum beriman, dan menariknya beliau adalah seorang pemuka Yahudi yang sangat terkenal di Madinah. Nama panggilan (kun-yah) beliau sebelum memeluk Islam adalah Abu Yusuf. Nama asli beliau menurut riwayat yang masyhur adalah Al Husain. Rasulullah SAW memberikan beliau nama Abdullah setelah bersyahadat dan menyatakan keislamannya.

Sebagai orang yang sangat memahami kitab Taurat pada masanya, tentu semangat dan kesungguhan beliau sangat tinggi untuk terus meneliti kabar dari taurat bahwa Nabi terakhir akan diutus dengan ciri-ciri yang telah termaktub dalam kitab mereka. Nah saat yang ditunggu akan tiba, tentu membuatnya tak mau ketinggalan dalam penyambutan. Beliau bertutur sebagai berikut :

“Tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tiba di Madinah, maka orang-orang bergegas menyambut kedatangan beliau dengan menyerukan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang! Rasulullah datang! Rasulullah datang! “hingga tiga kali. Maka aku ikut berjubel di tengah-tengah kerumunan manusia untuk melihat beliau, ketika telah jelas kupandang wajahnya, maka bisa kuketahui raut muka beliau bukanlah raut muka seorang pendusta. Ucapan pertama kali yang aku dengar dari beliau adalah: “Wahai manusia, tebarkanlah salam, berilah makan, sambunglah tali persaudaraan, shalatlah di malam hari ketika manusia terlelap tidur, niscaya kalian masuk surga dengan selamat.” (HR. Ibnu Majah No 3242)

Mari kita perhatikan dengan seksama apa saja pesan baginda Rasul SAW yang sarat nilai tersebut:

1. Tebarkanlah salam (Peacefull)

Pesan perdamaian yang dibawa baginda Rasulullah SAW ini adalah salahsatu prinsip fundamental seorang muslim bahkan manusia secara umum sejatinya menjalankan pesan ini. Dalam kesempatan lain beliau SAW menyatakan bahwa seorang Muslim mempunyai hak terhadap muslim lainnya, salah satunya adalah mengucapkan salam bila berjumpa dengan Muslim lainnya (idza laqitahu fasallim ‘alaihi).

Ibadah shalat pun mendidik kita untuk selalu menebar kedamaian dan keselamatan. Bagaimana tidak, salam malah menjadi penutup bagi shalat kita yang diucapkan semua orang yang shalat terlepas apakah ia imam ataukah ma’mum, semua mengucapkan salam hatta walau imam mengucap salam makmum tidak diperkenankan menjawabnya tetapi sama-sama mengucap sembari menengok ke kanan dan kiri.

Semua itu seakan Allah mengajarkan kepada kita, tebarlah kedamaian kepada orang di sekitarmu, tegur, sapa, dan berbuat baiklah terhadap keluargamu, saudaramu, tetanggamu, sahabatmu, orang yang kau jumpai di sekitarmu, serta di manapun kau berada, buatlah mereka nyaman dan merasa damai dan tentram hatinnya dengan kehadiranmu. Buat mereka tersenyum bukan malah menjadi trouble maker di masyarakat atau jadi biang kerok. Namun jadilah sosok yang disenangi sebab kebaikan dan manfaat yang disebar, jadilah sosok yang disegani sebab keluhuran akhlak, kedalaman ilmu dan wawasan serta kedewasaan dalam bersikap. Indah kan?

2. Berilah makan (Giving; Usefull)

Nasihat kedua ini beliau SAW berharap agar kita menjadi sosok yang peduli, peka dan bermanfaat buat orang lain. Giving bukan hanya kewajiban seorang mukmin tapi ia sudah harus menjadi karakter, budaya atau bahkan gaya hidup.

Jangan menunggu kaya dan mampu untuk berbagi, justru dengan berbagi, Allah akan bikin kita jadi kaya, kaya hati dan harta, Allah akan mampukan kita insya Allah. Kalau orang kaya rajin sedekah itu mah biasa, tetapi orang miskin dan susah lalu ia rajin bersedekah, itu baru luar biasa, sebab ia mengalahkan egonya, ia mendahulukan keperluan saudaranya dan yang utama adalah bahwa ia telah taat dan patuh kepada perintah Allah SWT untuk berderma dan berbagi baik di kala lapang maupun sempit (QS. Aali Imran [3] :134).

Tambah lagi dalam kesempatan lain Rasulullah SAW memberikan statement bahwa tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah (al yadul ‘ulya khoirum minal yadis sufla), bahkan dalam urusan bersedekah beliau SAW dan para sahabat adalah teladan, ini amazing kan. Nah, dalam hal ini sebagai pribadi yang tinggal di tengah-tengah masyarakat, berpikirlah tentang kebaikan apa yang telah kita lakukan untuk orang lain, manfaat apa yang sudah saya berikan, bukan malah kebalikannya, dapat apa saya, jadi apa saya.

Sebagai penguasa, pejabat atau anggota legislatif, sejatinya kalau kita ingin melaksanakan islamic value ini berpikirlah tentang give bukan get dengan bekerja secara profesional dan optimal, berpikirlah tentang apa yang sudah saya dedikasikan dan saya persembahkan untuk bangsa dan negara. Bukan malah kebalikannya, nanti saya dapat apa, saya jadi apa, nanti enggak dapat dan enggak jadi apa-apa malah kecewa dan sia-sia amalnya.

Sebagai seorang mukmin semestinya kita berpikir tentang apa yang sudah kita lakukan untuk agama ini, bukan apa yang saya dapat dari agama ini. Sebagai karyawan, kalau yang ada dibenaknya adalah saya akan bekerja maksimal sehingga perusahaan atau lembaga menjadi maju dan terus berkembang.

Hal ini bisa kita pakai di semua sektor, sebab saya meyakini bahwa apa yang kita beri akan berpulang ke kita, apa yang kita tanam kita kan memetik hasilnya. Apalagi kita tahu berbagi adalah sebagai tanda syukur sementara Allah memberitahu kita bahwa siapa saja bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri (QS. An Naml :40 dan QS. Luqman : 12). Dengan ini kita akan yakin bahwa “the more you give the more you get,” insya Allah.

3. Sambunglah tali persaudaraan (Brotherhood; Netrwork)

Falsafah hidup yang diajarkan orang tua kita yaitu “seribu teman masih kurang, satu musuh terlalu banyak.” Nampaknya selaras dengan islamic value yang diajarkan oleh baginda Rasul SAW. Sebab silaturrahim mendapat porsi khusus dalam agama kita.

Misalnya hadits Rasul SAW yang menyatakan bahwa silaturahim adalah kunci panjang umur dan murah rezeki: “Barangsiapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka sambunglah tali silaturahmi,” (HR. Bukhari – Muslim). Silaturrahim juga disejajarkan dengan tauhid dan ibadah mahdhah yang fundamental yang menjadi penyelamat bagi kita dari api neraka:

“Engkau menyembah Allah SWT dan tidak menyekutukan sesuatu dengan-Nya, mendirikan salat, menunaikan zakat, dan menyambung tali silaturahmi.” (HR Bukhari dan Muslim).

Silaturrahim juga sangat istimewa kedudukannya sebab bila bermasalah kita dengan urusan silaturrahim maka haram surga bagi kita, sebagaimana sabda beliau SAW: “Tak akan masuk surga pemutus tali silaturahmi”.(HR. Bukhari dan Muslim).

Menyambung tali silaturrahim hatta kepada orang yang menzhalimi kita adalah perbuatan yang sangat mulia, “Maukah kalian saya tunjukkan perilaku akhlak termulia di dunia dan di akhirat? Maafkan orang yang pernah menganiayaimu, sambung silaturahmi orang yang memutuskanmu dan berikan sesuatu kepada orang yang telah melarang pemberian untukmu.”

Namun kebalikannnya, bagi yang suka memutus tali silaturahmi akan dianggap sebagai perusak kehidupan, sebagaimana yang termaktub dalam QS. Muhammad :22-23, Allah SWT berfirman: “Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan tali silaturahmi (kekeluargaan)? Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikan telinga mereka dan dibutakan penglihatan mereka”.

Silaturrahim yang baik antar kita akan menghantarkan kita kepada ketaatan, menjadi sebab hadirnya kebaikan demi kebaikan serta disukai oleh kebanyakan manusia. Maka selayaknya kita jaga hubungan baik antar personal, antar keluarga, tetangga, pertemanan, antar sesama manusia, antar negara dan bangsa, tanpa melihat perbedaan suku, ras, agama dan bangsa. Bismillah!

4. Shalatlah di malam hari ketika manusia terlelap tidur (Be an extra ordinary people)

Penulis memaknai perintah ini sebagai upaya optimalisasi diri yang dalam bahasa agama kita mengenal “mujahadah”, bukan hanya dalam sisi ibadah tapi dalam banyak sektor di kehidupan kita. Seakan baginda Rasul SAW mengingatkan kita: “Hai kaum muslimin, bangkitlah, datang ke Allah, libatkan Allah dalam semua urusanmu, wake up! go go go go… tunjukkan loyalitas, tunjukkan rasa cintamu pada-Nya, agar Dia Pemilik, Pengatur semesta ini, Dia juga yang punya masa depan kita, ruang dan waktu kita, cita-cita, asa dan hajat serta impian kita, Maha menggenggam jiwa kita selalu merahmati dan membimbing kita.

Jangan ikut terlelap dalam tidur bersama kebanyakan orang, jangan terbuai dalam mimpi-mimpi indahmu, tetapi tak berbuat apa-apa, atau hanya berdiam diri, berpangku tangan dan rebahan saja. Bergeraklah! Bangkitlah! hari esok menantimu. Jadilah sosok yang berbeda dari kebanyakan orang, dari sisi spiritual, semangat, kinerja dan banyak hal.

Umat Islam adalah umat yang punya jiwa ‘the winner’ bukan ‘the looser’ dalam kondisi apa pun, sosok pejuang yang pantang menyerah, “tidak bermental kerupuk”, kena angin dikit langsung ciut, keok dan melempem. Namun kita mesti bermental baja nan tangguh dan kokoh. Bukankah baginda Rasul SAW dan para sahabat serta para salafushsholihin telah menunjukkan integritasnya sebagai muslim yang tangguh? kita juga mampu insya Allah, Bismillah!

Saya teringat kalimat Syeikh Muhammad Abduh rahimahullah, seorang pemikir Muslim dari Mesir, dan salah satu penggagas gerakan modernisme Islam, sepulang dari Barat kala itu beliau mengatakan: “Aku melihat ada Islam di Barat namun aku tak melihat orang Islam, sedangkan di negeri Arab aku melihat orang Islam namun aku tak melihat Islam”.

Kalimat muhasabah sekaligus sindiran pedas bagi kaum kaum Muslimin, bahwa ada nilai-nilai keislaman (Islamic value) yang dipakai oleh bangsa Barat padahal mereka bukan Muslim, sementara kaum Muslimin sudah banyak yang meninggalkan identitasnya dan nilai-nilai Islam yang sangat luhur. Penulis melihat ini harus menjadi gerakan bersama agar Islamic value menjadi pakaian kita lagi, kita mulai dari rumah, rumah ibadah, madrasah, sekolah, pesantren dan lembaga pendidikan lainnya, di perusahaan dan komunitas-komunitas lainnya.

Hal yang paling sederhana adalah dengan melestarikan budaya salam, tegur sapa, berbagi, silaturahim, cinta kebersihan dan hidup bersih, rapih, bersahaja, sederhana, tidak boros, berjiwa penolong, menebar manfaat dan kebaikan lainnya. Bismillah!

Oleh: KH Ahmad Jamil MA, Pimpinan Daarul Qur’an (Republika)

Yuk bagikan sebagai sedekah…

About Auther:

Info Biografi

Beasiswa Sekolah Kedinasan IPDN STAN AKPOL Dll
Hello. Add your message here.