Mereka Sepakat Pada Tiga Hal

Ilustrasi / Aog.org.au
Ilustrasi / Aog.org.au

Saya telah banyak mengkaji banyak buku tentang kecemasan dan gangguan mental, baik dari kalangan ulama salaf kita yang terdiri dari kalangan ahli hadits, sastrawan, para pendidik dan sejarawan, maupun dari kalangan yang lain (termasuk publikasi-publikasi, buku-buku dari Timur dan Barat yang telah diterjemahkan, jurnal atau majalah). Semuanya sepakat pada tiga pokok yang harus ditempuh oleh orang yang menginginkan sembuh dan terhindar dari gangguan mental, serta hatinya menjadi lapang. Tiga pokok tersebut adalah,

Pertama: selalu mengaitkan hati kepada Allah, menyembah-Nya, taat dan berserah diri kepada-Nya. Ini merupakan masalah keimanan kubra (masalah keimanan yang besar).

(Maka, sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadah kepada-Nya) (QS. Maryam: 65)

Kedua: menutup berkas-berkas masa lalu dengan semua kegetirannya
dan genangan air matanya, semua kesedihannya dan bencananya, semua kepahitannya dan keresahannya. Dan, memulai sebuah kehidupan baru dengan hari yang baru pula.

Ketiga: membiarkan masa depan yang masih gaib itu, tidak melarutkan diri di dalamnya, dan menjauhkan diri dari segala bentuk ramalan, prakiraan, dan ketidakjelasannya. Tapi, hidup dalam lingkup hari ini saja.

Ali berkata, “Jauhi semua bentuk angan-angan yang terlalu jauh sebab dia hanya akan membuatmu terlena saja.”

(Dan, mereka menyangka bahwa mereka tidak akan dikembalikan kepada Kami) (QS. Al-Qashash: 39)

Jangan percaya kepada segala bentuk kasak-kusuk dan berita burung, sebab Allah telah berfirman kepada musuh-musuh-Nya:

(Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka) (QS. Al Munafiqun : 4)

Saya tahu beberapa orang yang selalu menunggu-nunggu prediksi tentang terjadinya bencana-bencana dan kejadian-kejadian, untuk beberapa tahun, yang ternyata tidak pernah menjadi kenyataan. Mereka menciptakan ketakutan dalam hati mereka dan hati orang lain. Maha Suci Allah, alangkah sengsaranya hidup mereka. Perumpamaan mereka adalah seperti orang-orang yang tertawan di dalam penjara Cina. Mereka diletakkan di bawah sebuah pipa air yang menetes di atas kepalanya, setetes demi setetes dalam setiap detiknya. Mereka dipaksa untuk menunggu tetesan-tetesan ini hingga gila dan hilang kesadarannya. Allah menggambarkan para penghuni neraka, seraya berfirman,

(Mereka tidak dibinasakan sehingga mereka mati dan tidak (pula) diringankan dari azabnya.) (QS. Fathir: 36)

(Kemudian dia tidak mati di dalamnya dan tidak (pula) hidup) (QS. Al A’la : 13)

(Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti dengan kulit yang lain.) (QS. An-Nisa : 56)

Oleh : Dr. ‘Aidh al-Qarni

100 Artikel Motivasi Islam Penyejuk Hati 

Yuk bagikan sebagai sedekah…

About Auther:

Info Biografi

Beasiswa Sekolah Kedinasan IPDN STAN AKPOL Dll
Hello. Add your message here.