3 Bahaya Maut Tersembunyi dari Terlalu Asyik Main Smartphone

smartphone-addiction-re

Senyampang dengan ledakan digital yang kian merambah dalam berbagai aspek kehidupan manusia, maka rata-rata durasi pemakaian smartphone orang Indonesia kian meningkat pesat.

img_20191004_160252_923

Sebuah survei menunjukkan orang Indonesia menatap layar hapenya rata-rata selama 4 jam tiap harinya. Sebuah angka durasi yang relatif panjang hanya demi sebuah gadget kecil kesayangan yang selalu tak lepas dari genggaman.

Smartphone addiction atau kecanduan memakai gadget smartphone mungkin pelan-pelan akan makin menjadi wabah penyakit yang melanda jutaan manusia di tanah air ini.

Sejatinya ada tiga sisi kelam yang layak dikenang saat kita menghabiskan waktu terlalu banyak menatap layar hape kita. Mari kita bedah satu demi satu.

Sisi Kelam #1 : Membuang Waktu Produktif secara Sia-sia

Sisi kelam yang pertama adalah ini : jika sebagian besar konten digital yang kita konsumsi tidak begitu berfaedah maka menghabiskan waktu hingga 4 jam tiap hari adalah sebuah kesia-siaan yang terasa amat masif.

Sebagian besar pengguna mungkin menghabiskan waktu di depan layar hape demi konten yang acap kurang mendalam : misal sekadar scroll-scroll aneka konten di medsos (cek status ini itu di FB, cek IG stories, cek linimasa di twitter, cek konten youtube, atau cek notifikasi di aneka WA group); atau baca berita online yang isinya mayoritas negatif, atau main game online, atau juga klik ini klik itu buat belanja online.

Sayangnya, sebagian besar konten online yang kita konsumsi tiap hari via gadget kita itu, mungkin sama sekali tidak berdampak bagi peningkatan skills atau income kita. Waktu berjam-jam yang kita buang demi menatap layar hape jadi seperti menyia-nyiakan waktu produktif kita.

Kalau saja 4 jam itu dikalikan 30 hari = 120 jam. Ini sama dengan 15 hari kerja (dengan asumsi tiap hari kerja adalah 8 jam). Jumlah jam yang ternyata sangat signifikan.

Kalau saja 15 hari tiap bulannya ini digunakan untuk meningkatkan skills tertentu, hasilnya akan sangat epik.

Bayangkan, tiap bulan Anda punya waktu 15 hari buat mempelajari dan menguasai sebuah skills yang menghasilkan. Skills Anda dijamin akan tumbuh berlipat dibanding kondisi saat ini.

Sisi Kelam #2 : Membunuh Fokus, Ketekunan dan Daya Konsentrasi

Dampak kedua dari menghabiskan waktu terlalu banyak buat scroll, scroll, klik, klik layar hape bersifat lebih halus dan tidak terasa, namun sangat kelam impaknya.

Jadi begini : saat kita makin terbiasa membaca konten hape dengan cara klik klik, scroll, scroll, dalam waktu yang cepat dan terus melompat-lompat, maka sel saraf otak kita jadi akan makin susah membangun fokus dan konsentrasi secara mendalam.

Cara main hape yang klik-klik, scroll-scroll itu lama-lama akan membiasakan otak kita untuk melompat secara bergegas dari satu titik ke titik lainnya. Lama-lama, attention span (atau rentang atensi) kita menjadi makin pendek. Kita makin sulit membangun fokus secara mendalam dan konsentrasi pada satu titik dengan durasi yang panjang.

(Itulah kenapa orang yang hobi main hape biasanya akan makin susah konsentrasi baca buku tebal secara mendalam, sebab otaknya memang makin susah diajak fokus).

Dan impak itu amat kelam. Kenapa? Sebab sukses dalam bidang apapun butuh kekuatan pikiran yang fokus dan ketekunan konsentrasi yang panjang. Tanpa kekuatan fokus serta attention span yang mendalam dan panjang, Anda akan makin sulit membangun ketekunan yang konsisten.

Dan percayalah : tanpa ketekunan dan fokus yang mendalam, kemungkinan besar Anda akan gagal meraih impian hidup yang Anda harapkan.

Tragisnya adalah kecakapan untuk membangun fokus, ketekunan dan konsentrasi yang panjang itu, makin hilang dalam diri Anda karena digilas “smartphone culture” : atau budaya menatap layar hape dengan cara scroll, scroll, klik, klik dengan cepat dan serba melompat-lompat.

Kultur smartphone pada akhirnya menciptakan sebuah paradoks digital yang muram.

Pada satu sisi, kemajuan digital yang makin epik ini amat membutuhkan peningkatan skills yang juga epik. Tanpa skills, kecakapan dan kompetensi yang dahsyat, Anda pasti akan mudah digilas oleh kemajuan teknonologi yang kian pesat. Tanpa skills yang cetar membahana, nasib Anda di era kemajuan digital ini akan kian termehek-mehek.

Nah, Anda hanya akan bisa meningkatkan skills dan kompetensi Anda, jika Anda punya ketekunan, fokus dan konsentrasi yang panjang untuk terus belajar meningkatkan diri. Skills Anda akan makin tumbuh jika Anda bisa terus belajar dan berusaha mengembangkan pengalaman secara TEKUN dan KONSISTEN.

Namun sialnya, bekal untuk bisa tekun, konsisten, fokus dan tahan konsentrasi secara panjang, justru makin lenyap dimatikan oleh kultur smartphone digital.

Itulah yang disebut dengan paradoks digital yang muram.

Di satu sisi Anda diminta makin skillful demi mengikuti kemajuan teknologi digital yang makin pesat, namun di sisi lain, kecakapan Anda untuk TEKUN dan FOKUS justru telah dimatikan oleh kemajuan digital itu sendiri.

Maka mungkin benar jika ada ungkapan begini : sekarang smartphone-nya makin smart dan cerdas, namun penggunanya malah dibikin makin bodoh.

Sisi Kelam #3 : Menumbuhkan Kultur Instan, Mematikan Kultur Menghargai Proses

Kenapa kita merasa asyik kalau sedang menikmati konten di layar hape kita? Kenapa lama-lama, rasanya kita jadi makin addicted dengan gadget hape kita?

Sebab para pembuat hape dan para perancang app yang ada di layar hape Anda rata-rata paham ilmu human behavior. Mereka paham trik agar Anda makin addicted dengan app atau hape mereka.

Apa itu salah satu triknya yang maut dan bikin kita kecanduan dengan gadget hape?

Jawabannya ini : penuhi hasrat manusia untuk bisa menikmati apa yang mereka mau secara instan. Sebutan ilmiahnya : instant gratification. Berikan reward secara instan, maka dijamin orang-orang itu akan makin kecanduan dengan produk Anda.

(Btw, buku menarik yang membahas tentang trik untuk membuat orang kecanduan dengan app dan gadget berjudul Hooked: How to Build Habit-Forming Products karangan Niar Eyal).

Nah trik itulah yang digunakan oleh semua app (aplikasi) dalam hape Anda.

Kini hanya dengan klik, klik, scroll, scrol, dan tap, tap, apa yang Anda mau bisa muncul seketika. Rasa penasaran Anda dengan aneka konten digital secara instan bisa langsung Anda nikmati, hanya dengan scroll dan klik. Betapa asyiknya. Betapa simpelnya.

Makanya seseorang bisa rebahan berjam-jam sambil asyik main hape tak terasa. Sebab keinginannya untuk menikmati sesuatu bisa dipenuhi secara INSTAN. Teknologi app dan hape membuat instant gratification terjadi dengan mudah.

Namun kebiasaan semacam itu lalu juga memunculkan dampak kelam yang tersembunyi. Lama-lama, dan secara perlahan, para pengguna hape diajarkan untuk terus bisa menikmati apa yang mereka mau secara instant. Pelan-pelan, tumbuh mentalitas instan dalam benak jutaan penggunanya.

Faktanya, studi ilmiah menunjukkan : kebiasaan main hape demi aneka konten yang bisa dinikmati secara instan tersebut, memang membuat benak para penggunanya juga terdorong untuk berpikir secara lebih instan.

Mereka makin tidak sabaran menghargai proses. Mereka selalu berharap mendapatkan apa yang mereka mau secara instan, persis seperti saat mereka rebahan sambil main hape.

Dan sungguh itu sebuah dampak yang amat kelam. Sebab kita tahu, sukses itu membutuhkan PROSES, tidak bisa diraih dengan cara INSTAN. Pola pikir instan tidak akan pernah bisa membawa Anda untuk merah sukses sejati.

Namun ternyata terlalu asyik main hape, lama-lama melatih otak para penggunanya (termasuk Anda), untuk serba ingin mengharapkan sesuatu secara instan.

Dalam pikirannya, hidup itu kalau bisa dibikin seperti hape : apa-apa yang ingin dinikmati bisa diraih secara instan, hanya dengan klik, klik, scroll, scroll.

Dalam observasi sehari-hari, saya kadang menyaksikan fenomena instan semacam itu. Ada sejumlah orang yang ingin sukses secara instan; dan enggan bekerja secara tekun, konsisten dan melewati proses yang panjang.

Mungkin kultur smartphone telah membuat pola pikir instan ini makin mewabah di kalangan banyak orang, terutama generasi mudanya. Dikira hidup semudah scroll, scroll dan klik, klik.

DEMIKIANLAH, tiga sisi kelam dari terlalu asyik main smartphone. Tiga bahaya maut tersembunyi ini adalah :

1. Membuang waktu produktif dalam jumlah yang masif
2. Melumpuhkan daya konsentrasi dan kekuatan fokus
3. Menumbuhkan budaya instan, dan tidak menghargai proses.

Apa solusi agar kita terhindar dari tiga sisi kelam smartphone culture ini? Kita akan membahasnya minggu depan.

Penulis : Yodhia Antariksa (strategimanajemen.net)

A D I R A
All Right Reserved © www.ceramahmotivasi.com