Smartphone Addiction dan Tumbuhnya Kultur Kegoblokan Kolektif

re-smartphone-1

Smartphone addiction. Inilah sebuah fenonema kelam yang mungkin kini kian menyeruak dalam panggung kehidupan kita semua.

Survei yang dilakukan sebuah lembaga ecommerce menyebut, rata-rata orang Indonesia mengecek smarphone mereka hingga 150 kali dalam sehari. Mungkin Anda termasuk salah satu diantaranya.

Lalu mengapa smartphone addiction pelan-pelan bisa memunculkan kultur kegoblokan kolektif?

Mengapa smartphone addiction bisa melahirkan peradaban masyarakat yang terkena sindroma kebodohan massal?

Sejatinya, telah banyak studi saintifik yang melacak tentang impak smartphone terhadap human behavior, dan bahkan juga terhadap struktur sel otak Anda sebagai pecandunya (lihat misalnya buku karangan Nicholas Carr yang bertajuk The Shallow : What the Internet Is Doing to Our Brain).

Kesimpulan dari sejumlah studi itu cukup kelam : tak jarang smartphone addiction justru membikin otak kita makin bodoh – becoming dumber. Smartphone-nya makin smart. Namun usernya dibikin makin goblok.

Secara lebih spesifik, terdapat setidaknya tiga temuan yang layak dikenang tentang impak smartphone addiction terhadap human behavior. Mari kita ulik satu demi satu.

Kegoblokan Kolektif # 1 : Smartphone Bikin Pikiran Kita Makin Dangkal

Salah satu ciri khas smartphone itu adalah ini : serba cepat dan melompat-lompat. Kita scroll-scrolll aneka apps, dengan cepat dan sering tanpa jeda.

Scroll, scroll. Klik ini, klik itu. Lalu scroll-scroll lagi. Lalu klik, klik lagi. Demikian terus berulang.

Pola kebiasaan scroll-scrool, klik, klik semacam itu mendidik otak kita untuk selalu mengkonsumsi informasi dengan serba tergesa dan tanpa kedalaman.

Dan itulah yang juga kemudian disajikan para penyedia konten (entah konten media informasi, media sosial atau aneka situs hiburan).

Misal, begitu banyak media online yang hanya menyajikan berita-berita pendek, dangkal dan alakadarnya. Sering disertai dengan strategi click-bait – atau menggunakan judul yang mis-leading agar diklik banyak pembacanya.

Jutaan status di media sosial juga pendek, dan lebih mengutamakan kuantitas daripada kualitas. Jarang ada kedalaman analisa didalamnya.

Apa akibat dari pola kebiasaan scroll-scroll, serba melompat cepat dari satu app ke app lainya, disertai dengan limpahan informasi yang dangkal itu?

Akibatnya kelam : otak kita di-didik agar tak mampu melakukan deep thinking dan deep analysis – padahal inilah dua elemen kunci bagi kecerdasan. Yang muncul adalah shallow thinking, pikiran yang dangkal dan memicu kegoblokan kolektif.

Begitu banyak komen di media online dan medsos yang asal njleplak, tanpa mikir dan pasti tanpa disertai deep thinking. Ini adalah akibat wajar dari pola yang diuraikan diatas.

Kultur smartphone memang dibangun untuk menciptakan konten asal bunyi dan tanpa mikir.

Betapa paradoks-nya kultur itu : smartphone adalah media yang amat canggih. Namun acapkali gadget yang amat pintar ini hanya menghasilkan kebodohan massal.

Kegoblokan Kolektif # 2 : Smartphone Menghancurkan Daya Resiliensi Anda

Impak kelam lain dari smartphone yang menyumbang bagi kebodohan massal adalah ini : smartphone adalah media yang amat ampuh untuk menghacurkan daya konsentrasi dan daya resiliensi Anda.

Sejumlah studi telah menunjukkan kebiasaan main smartphone memang secara dramatis akan menurunkan daya konsentrasi Anda. Smartphone addiction telah membuat “span of attention control” kita makin pendek.

Kenapa attention span kita dibikin makin pendek oleh smartphone?

Penjelasannya seperti di uraian no 1 diatas. Pola scroll-scroll yang serba melompat dengan cepat dari satu app ke app lainnya mendidik otak kita untuk terus bergegas dan bergerak.

Otak kita dibiasakan untuk terus “bergerak” : klik ini, klik itu, dan secara instan langsung menemukan obyek yang menarik perhatian. Namun durasi perhatian ini amat pendek. Dengan cepat, jempol kita kemudian bergerak lagi, scrol lagi, klik lagi.

Kultur smartphone semacam itu melatih otak kita untuk mudah bosan. Otak kita dilatih untuk nggak mau berlama-lama pada satu titik. Attention span kita dibikin makin pendek.

Dan apa akibat dari pola perilaku semacam itu?

Akibatnya rada kelam : daya konsentrasi kita pelan-pelan menurun secara dratis. Keteguhan mental kita untuk bisa FOKUS pada sebuah aktivitas yang penting, menjadi mudah lenyap.

Daya resiliensi atau daya keuletan kita untuk terus gigih menekuni sebuah aktivitas yang penting; menjadi mudah menguap.

Kita mudah bosan. Kita mudah kehilangan konsentrasi. Kita mudah kehilangan fokus.

Kenapa kita mudah kehilangan fokus? Karena memang kultur smartphone yang kita jalani setiap hari mendidik otak kita untuk mudah kehilangan fokus.

Kultur smartphone dengan sukses telah melatih otak Anda untuk terus melompat-lompat tanpa henti, selalu menghadirkan sensasi instan yang membuat Anda kecanduan.

Dan apa yang terjadi saat Anda mudah kehilangan fokus gara-gara terjebak kultur smartphone?

Proses perjuangan untuk mengubah nasib jadi akan makin sulit. Sebab mengubah nasib amat butuh daya keuletan dan daya resiliensi.

Saat ketangguhan mental dan fokus lenyap, maka perjuangan mengubah nasib biasanya akan gagal. Nasib jadi stagnan.

Dan saat nasib stagnan, maka sel otak kita biasanya akan makin tulalit. Makin plonga plongo.

Kegoblokan Kolektif #3 : Smartphone dan Waktu yang Hilang Sia-sia

Dampak yang terakhir dari smartphone addiction ini mungkin tak kalah powerfulnya : waktu kita bercengkerama dengan smartphone telah merampas begitu banyak waktu produktif kita.

Jutaan orang mungkin telah menghabiskan jutaan jam bersama smartphone-nya : menikmati aneka konten seperti media dan hiburan online yang dangkal, atau juga menikmati aneka game online yang adiktif.

Yang amat kelam : ribuan jam yang telah dihabiskan dengan smartphone itu mungkin sama sekali tidak berdampak bagi peningkatan skills dan income.

Kenapa begitu? Ya karena konten online (berita, hiburan dan game) yang dinikmati via smartphone itu memang SAMA SEKALI TIDAK ada kaitannya dengan skills yang krusial bagi perubahan nasib dan income.

Betapa sia-sianya waktu yang hilang bersama smartphone.

Misal ada seseorang yang bisa menghabiskan 3 jam setiap hari untuk main smartphone : scrol-scrol IG Stories yang semu, klik berita online yang dangkal, cek status medsos yang isinya penuh dengan keributan, lalu scroll-scroll lagi. Klik, klik lagi. Lalu ulangi tiap hari.

Bayangkan jika waktu 3 jam tiap hari itu dia ubah menjadi waktu untuk belajar dan praktek tentang Internet Marketing. 3 jam sehari. Ulangi tiap hari. Saya cukup yakin, dalam bulan ke 7, income dia bisa naik 2 kali lipat.

Sayangnya, waktu 3 jam tiap hari itu selama ini lenyap sia-sia bersama IG Stories yang semu, aneka berita online yang dangkal, dan konten medsos yang penuh kegaduhan.

DEMIKIANLAH, tiga impak dari smartphone addiction yang pelan-pelan bisa membikin kebodohan massal, dan stagnasi nasib.

Ketiganya adalah :
Smartphone Impact # 1 : Bikin Pikiran Kita Makin Dangkal
Smartphone Impact # 2 : Menghancurkan Daya Resiliensi Anda
Smartphone Impact # 3 : Waktu yang Hilang Sia-sia

Selamat bekerja, teman. Selamat menikmati smartphone-mu.

Oleh : Yodhia Antariksa (strategimanajemen.net)

About Auther:

Info Biografi