Agar Derajat Kita Dinaikkan

masjid-istiqlal-jakarta

Dalam kitab al-Mausu’ah adz-Dzahabiyah minal-Qishash al- Waqi’iyyah karya Muhammad Ahmad al-Hilali disebutkan seseorang berkata kepada Hasan al-Bashri, “Si Anu membicarakan (mengghibahi)-mu.” Sang Imam pun lalu mengirim satu pinggan manisan, seraya berucap, “Sampai berita pada saya, bahwa kamu memindahkan kebaikanmu ke dalam catatan amal saya. Maka saya hanya bisa membalasnya dengan (manisan) ini.”

img_20191004_160252_923

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan yang majemuk ini tentu aneka warna tingkah polah manusia di dalamnya, yang kadang me nye nang kan, kadang pula menyesakkan dada dan amat me nya kit kan, karena tindakan zalim antarindividu. Bahkan sering terjadi, dari hal sepele kemudian membesar sehingga sampai masuk ke ranah hukum.

Agar perilaku zalim ini tak menjalar ke mana-mana, memang agama membolehkan membalas kezaliman seseorang, seperti termaktub dalam ayat: “Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa,” (asy-Syura [42]: 40). Namun, ada orangorang tertentu yang dia lebih memilih untuk memaafkan, sebagaimana disebutkan dalam lanjutan ayat itu, “Barang siapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.”

Dia terima saja kezaliman itu tanpa harus sibuk melawan dan membalas, tidak mengadukan masalahnya ke pengadilan atau penguasa, atau kepada orang yang dianggap bisa memberikan pelajaran bagi orang yang berbuat aniaya terhadap dirinya. Dia diam saja serta tetap menjaga kehormatan dirinya.

Sifat muruahnya memanggilnya untuk enggan meladeni orang yang berbuat kerendahan. Dia merasa pekik keimanannya tak mengharuskan dirinya melakukan aib yang sama dengan pelaku zalim itu, karena orang itu yakin bahwa ketika dia menerima ke za liman seseorang, sesungguhnya Allah tengah mempersiapkan se suatu yang lebih baik, atau menjadi investasi kebaikan yang buahnya lam bat laun akan dia petik.

Jika dizalimi menyangkut harta, Allah akan memberkahi harta lainnya, atau memberikan harta lainnya yang baru; jika dizalimi ber kenaan dengan pelecehan dan celaan, Allah menghadirkan se kum pulan orang yang mencintai, simpati, bahkan menghormati dirinya.

Dia betul-betul mereguk makna tawakal pada Allah sehingga apa yang dirasakan pahit oleh orang lain, baginya menjadi sesuatu yang lezat. Dia merasa Allah membalasnya dengan berlipat-lipat ganda kebaikan. Maka itu, dia menikmati saja ketika ken da ra annya disenggol seseorang lalu pelakunya kabur entah ke mana, saat diserobot dalam suatu antrean, saat bawahannya melecehkan dan sama sekali tak menganggap dirinya, atau saat atasannya memperlakukannya dengan tak manusiawi.

Jika banyak orang gusar karenanya, bahkan berupaya keras un tuk bisa membalasnya, dia justru berterima kasih pada orang yang menzalimi dirinya, karena semua itu bisa menjadi tangga baginya untuk dinaikkan derajatnya oleh Allah. Inilah pelajaran yang bisa diambil dari guru spiritual, Imam Hasan al-Bashri, seperti tersimpul dari narasi di atas.

Demikian tindakan kezaliman yang bertalian dengan hubungan orang per orang. Sedangkan jika kezaliman tampil dalam gerakan atau organisasi, jelas harus ada pihak yang menanganinya. Sabda Na bi: “Tolonglah saudaramu yang zalim atau yang dizalimi.” Lalu, se seorang bertanya, “Ya Rasulullah, saya bisa menolongnya jika ia dizalimi, lantas bagaimana menolong orang yang zalim?” Jawab Rasulullah, “Kamu cegah dan kamu larang dia dari berbuat zalim, itulah pertolonganmu padanya,” (HR Bukhari)

Oleh : Makmum Nawawi, Sumber : Republika

 

A D I R A
All Right Reserved © www.ceramahmotivasi.com