Agar Hati tak Sekeras Batu

(pinimg.com)
(pinimg.com)

Saudaraku, sekali waktu barangkali kita pernah merasakan sulit sekali bersyukur. Hidup terasa hampa. Banyak keinginan tak kunjung terpenuhi. Akibatnya hati terasa keras dan membatu. Kesombongan menyelimuti kehidupan dari hari ke hari. Dan saat mendapat nasihat dari saudara, teman, atau kiai sekalipun, kita merasa digurui. Ketahuilah sesungguhnya kita tengah terjangkit penyakit qaswatul qolb atau hati yang membatu.

Semakin banyak kemaksiatan kita lakukan sesungguhnya semakin membuat hati kita mengeras dan membatu. Allah SWT berfirman, Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal, di antara batu- batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai daripadanya…(QS al-Baqarah:74)

Maka, kata Ibnul Qayyim, “Hati seseorang yang telah kering dan membatu, ia bagaikan pohon yang meranggas dan mati. Keduanya hanya pantas dilalap api.” Naudzubillah.

img_20191004_160252_923

Memang, ada banyak sebab kerasnya hati. Qadhi al-Fudail berkata, Tiga peristiwa yang menyebabkan hati membatu:ter lalu banyak makan, terlalu banyak tidur, dan terlalu banyak berbicara. Bahkan, makan yang berlebihan merusak kesehatan badan.

Ibnu Sina, pakar kedokteran Islam generasi awal, berkata, Perhatikanlah (konsumsi) perutmu sebab sebagian besar penyakit bermula dari makanan yang berlebih.

Karena itulah, Ali bin Abi Thalib RA berkata, Istirahatnya badan dengan mengurangi makan, istirahatnya lidah dengan mengurangi berbicara, dan istirahatnya hati dengan mengurangi keinginan.

Untuk menghindari penyakit qaswatul qolb, Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita setidaknya tiga hal.

Pertama, pandailah bersyukur. Suatu hari, seorang sahabat datang kepada Rasulullah SAW dan berkata, Akhir- akhir ini aku merasakan hatiku keras, Rasulullah SAW kemudian berkata, Maukah engkau kuberi tahu cara untuk melembutkannya dan keinginanmu terpenuhi? Sayangilah anak-anak yatim, usaplah kepalanya, berikanlah mereka makanan dari makananmu, niscaya (hal demikian) akan melembutkan hati dan melapangkan rezekimu (HR Thabrani).

Kedua, seringlah berziarah kubur, tentu dengan niat yang benar. Rasulullah SAW berkata, Aku pernah melarang kalian ziarah kubur. Sekarang berziarah. Sebab sesungguhnya ia akan melembutkan hati, melelehkan air mata, dan mengingatkan akhirat.

Ziarah kubur dengan tujuan mengingat akhirat adalah hal yang dianjurkan. Dengan mengingat kematian, tersadarlah kita bahwa tak ada yang abadi di muka bumi ini. Maka, tak ada lagi yang pantas kita sombongkan.

Ketiga, bersegera melakukan kebaikan. Rasulullah SAW menganjur kan untuk bersegera dalam melakukan setiap kebaikan, hin dari kemalasan. Nabi SAW bersabda, Sebaik- baik shalat adalah di awal waktunya. Rasulullah SAW kemudian mengajarkan kita untuk berdoa, Ya Allah, aku berlindung padamu dari kelemahan dan rasa malas.

Pepatah berkata, pemalas selalu menanti hari mujur.Padahal, bagi seorang yang rajin, tiap hari adalah hari mujur!Lalu, jika kita tetap merasa banyak keinginan hati yang belum terpenuhi, berbaik sangkalah pada Allah SWT. Barangkali, ada hak-hak orang lain yang belum kita tunaikan.

Bahkan, kata Ibnul Qayyim, “Apabila musibah yang engkau dapatkan panjang sekali, padahal tak pernah berhenti engkau berdoa, yakinlah bahwa Allah tidak saja hendak menjawab doa-doamu itu. Namun, Allah hendak memberimu karunia lain yang bahkan engkau tak memintanya”. Semoga kita terhindar dari hati yang keras dan membatu.  Wallahu a’lam.

Oleh : Inayatullah Hasyim (Republika)

About Auther:

Info Biografi