Anak-anak Nabi Adam Alaihissalam

islamic-background18

Tatanan kehidupan manusia beranjak menuju kesempurnaan ketika Hawa mengandung dan melahirkan anak-anaknya. Itulah bunga-bunga pertama yang mekar di taman dunia. Mereka memberikan warna baru dalam hidup manusia. Hawa dan Adam melimpahi mereka dengan kasih sayang. Mereka hidup berbahagia. Keduanya sangat mencintai mereka dan bahagia melihat pertumbuhan mereka di muka bumi. Keduanya berharap, kelak keturunan mereka akan mengisi dan memakmurkan seluruh pelosok bumi. Mereka akan berjalan di semua penjuru bumi menikmati semua rezeki yang dilimpahkan Allah kepada mereka. Adam dan Hawa menyambut kelahiran akan-anak mereka dengan bahagia meskipun kadang-kadang kelelahan merawat rnereka. Bahkan kadang-kadang ia dan istrinya jatuh sakit demi menjaga kehidupan mereka. Hawa merasakan rasa sakit dan penderitaan yang luar biasa ketika mengandung dan melahirkan. Namun, kepedihan dan rasa sakit itu hanya beberapa saat ia rasakan. Setelah itu, ia rasakan kebahagiaan yang sangat besar karena mendapat anugerah keturunan yang menenangkan jiwa. Ia merasa damai dan bahagia melihat pertumbuhan anak-anaknya.

Pada kehamilan yang pertama Hawa rnelahirkan anak kembar, yaitu Qabil dan saudara perempuannya, Pada kehamilan berikutnya ia pun melahirkan sepasang anak kembar, yaitu Habil dan saudara perempuannya. Dalam belaian kasih orang tuanya mereka tumbuh hingga menjadi pemuda dan pemudi yang kuat dan segar. Anak perempuan tumbuh rnenjadi wanita dengan segala sifat kewanitaannya. Begitu pun anak laki-laki yang tumbuh dengan segala sifat yang khas laki-laki. Mereka menjadi pekerja yang gigih mencari rezeki di muka bumi. Mereka giat berusaha memperoleh kehidupan yang baik. Qabil menjadi petani, sedangkan saudaranya, Habil menjadi penggembala kambing. Kehidupan yang nyaman, bahagia, dan damai meliputi kedua pasangan kembar itu. Mereka menikmati kedamaian, kasih sayang, dan perlindungan dari orangtua mereka.

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, dan bulan berganti tahun, kedua pasangan kembar tumbuh semakin besar dan dewasa, Qabil dan Habil menjadi pemuda-pernuda yang kuat dan segar, begitu pun saudara perempuan mereka. Anak-anak Hawa dan Adam itu mulai merasakan kecenderungan kepada lawan jenisnya masing-masing. Seiring waktu, mereka mulai merasakan adanya kebutuhan terhadap pasangan dan pendamping hidup. Naluri laki-laki Qabil dan Habil tumbuh semakin kuat. Hasrat mereka untuk mendapatkan pasangan semakin besar. Mereka ingin memiliki istri sebagai teman hidup sehingga dapat merasakan kehidupan yang lebih tenang dan tenteram. Sering kali mereka memikirkan dan membayangkannya seraya terus berusaha mewujudkannya.

Allah, dengan segala kebijaksanaan-Nya, hendak menguji manusia, bahkan sejak awal mereka menetap di muka bumi. Dia menghamparkan rezeki-Nya di muka bumi sehingga manusia bisa mendapatkannya dengan mudah. Dia menghiasi seluruh muka bumi dengan pandangannya yang indah dan elok. Tanah yang subur terhampar luas untuk ditanami dan didayagunakan oleh semua manusia. Adam dan keluarganya berkembang menjadi keluarga yang tenteram dan bahagia. Hasil bumi dan ternak yang mereka gembalakan tumbuh pesat sehingga mereka dapat memenuhi kebutuhan hidup.

Allah menetapkan bahwa manusia akan terbagi-bagi ke dalam berbagai kelompok dan suku bangsa. Dengan demikian, mereka akan memilih beragam kecenderungan, warna kulit, bahasa, dan postur tubuh yang berbeda-beda. Di antara mereka ada yang berbahagia dan ada yang sengsara. Untuk mewujudkan hikmah-Nya, Allah mewahyukan kepada Adam untuk menikahkan kedua pasangan kembar itu secara menyilang. Qabil dinikahkan dengan saudara perempuan Habil dan Habil dinikahkan dengan saudara perempuan Qabil.

Adam menyampaikan wahyu itu kepada anak-anaknya. Ia berharap mereka menerima keputusan tersebut. Seandainya manusia tidak dilengkapi dengan hawa nafsu yang cenderung pada kerusakan dan kejahatan, tentu keputusan Allah itu dapat terlaksana dengan mudah. Namun, sejak awal manusia dilengkapi dengan hawa nafsu yang membuatnya serakah dan tamak. Nafsu senantiasa mengajak manusia kepada keburukan. Karena itulah orang yang dapat mengendalikan hawa nafsunya dan menumpulkan ketajamannya sehingga akalnya lebih berkuasa atas hawa nafsunya, ia akan dimuliakan oleh Allah di dunia dan akhirat. Sebaliknya, orang yang selalu memperturutkan hawa nafsu sehingga akal sehatnya dikuasai hawa nafsunya maka ia akan menjadi manusia yang paling merugi di dunia dan akhirat. Mereka akan merasakan penderitaan meskipun menganggap mereka telah berbuat baik. Itulah sifat khas manusia.

Saat Adam menyampaikan perintah Allah itu, Qabil memberontak dan tidak mau mengikuti kehendak ayahnya. la merasa kesal karena mendapat pasangan yang lebih buruk. la marah karena Habil mendapat pasangan yang lebih cantik. la tidak rela dengan ketetapan ayahnya. Seharusnya, menurut Qabil, ia dinikahkan dengan pasangan kembarnya yang lebih cantik dibanding kembaran Habil.

Kecantikan dan keindahan lahiriah telah membetot nafsu manusia untuk memilikinya. Namun, kehendak hawa nafsu tersebut pada gilirannya akan menghempaskan manusia ke jurang kebinasaan dan kehinaan. Sejak generasi manusia pertama, kecantikan telah menjadi sebab pertikaian dan permusuhan. Kecantikan melahirkan dendam kesumat dan kebencian. Kakak beradik itu saling memusuhi karena Qabil menuruti hawa nafsu dan menentang kehendak ayahnya. Ia menolak kehendak dan keputusan Allah yang ditetapkan atas mereka.

Adam terguncang. Hati dan jiwanya bergolak. Setelah terusir dari surga, kali ini ia kembali dilanda cobaan. Ia berpikir keras mencari jalan keluar agar kedua putranya merasa puas dan tetap hidup rukun. Ia ingin perintah Allah dijalankan. Namun ia juga ingin kedua putranya puas dan bahagia. Ia terus didera rasa gelisah sehingga Allah memberinya jalan keluar. Allah memerintahkan agar kedua putra Adam itu mempersembahkan kurban kepada-Nya. Masing-masing harus mempersembahkan satu kurban kepada Allah. Siapa di antara keduanya yang kurbannya diterima oleh Allah, dialah yang lebih berhak untuk mendapatkan pilihan yang dikehendakinya.

Habil mempersembahkan kurban hasil ternaknya herupa seekor unta, sedangkan Qabil mempersembahkan hasil taninya, yaitu gandum. Hasrat dan angan-angan memenuhi dada mereka, berharap persembahannya diterima Allah sehingga kaluar sebagai pemenang dalam persaingan itu. Habil lebih beruntung dibanding Qabil. Persembahannya diterima Allah. Ia ikhlas mempersembahkan kurbannya dan memberikan yang terbaik dari hasil ternaknya. Sebalikuya, persembahan Qabil tidak diterima karena tidak tulus berkorban dan sejak awal menentang keputusan ayahnya.

Keputusan itu sama sekali tak memberikan kepuasan kepada Qabil. Ia kalah dan terhina. Harapannya pudar sudah. Segala keinginannya tak terpenuhi. Hawa nafsu tetap berkuasa dalam dirinya. Akal sehatnya terbelenggu dan ditabiri keserakahan hawa nafsu. Semakin hari, dendam dan kebencian semakin menutupi hatinya. Ia mengancam saudaranya dan berkata, “Aku sungguh akan membunuhmu. Aku tidak sudi melihatmu hidup bahagia sementara aku diliputi kehinaan dan kesengsaraan. Aku tidak rela hidup sebagai saudararnu. Hidupmu dipenuhi harapan dan kebahagiaan, sedangkan hidupku dirundung kemurungan dan penderitaan.”

Habil menjawab dengan hari yang teriris pedih, “Saudaraku, alangkah baiknya jika engkau mengetahui penyakit dan kekuranganmu sehingga kau bisa mengobati dan menghilangkannya. Carilah jalan keselamatan yang dapat kau tempuh. Sesungguhnya Allah hanya menerima kurban dari orang-orang yang bertakwa.” Habil, yang dilahirkan lebih akhir dibanding Qabil, dianugerahi kesempurnaan tubuh dan akal oleh Allah. Ia senantiasa berusaha memegang amanat dan tanggung jawab. Ia dianugerahi kebijaksanaan dan kecermatan. Selama hidupnya, ia selalu mencari rida Allah, berbakti kepada orang tuanya, dan menerima segala ketetapan Allah. Baginya, semua kehidupan dunia dan segala kenikmatannya hanyalah sementara, yang pasti akan berubah, rusak, dan sirna. Segala sesuatu yang berubah pasti akan sirna. Ia sangat mengasihi saudaranya, sering menasihatinya, serta selalu melindungi dan membimbingnya. Baginya, segala kekuatan dan kesempurnaan manusia berasal dari Allah yang suatu keti ka akan diambil-Nya kembali. Ia tidak takut terhadap ancaman saudaranya. Ia telah memasrahkan hidup dan matinya kepada Allah. Ia membiarkan hidupnya mengalir sesuai dengan takdir dan ketetapan Allah. Ia tak punya keinginan sedikit pun untuk balik mengancam atau menyerang saudaranya. Ia pun tidak resah mendapat perlakuan yang menyakitkan dari saudaranya itu. Allah menganugerahinya kesucian dan ia memeliharanya dengan segenap kekuatannya. la hanya takut kepada Allah.

Berbeda dengan saudaranya, Qabil memiliki perangai yang lebih buruk. Ia tidak berpengalaman dan sering dilanda kebingungan menghadapi segala kesulitan hidup, ia selalu menggantungkan dirinya pada kasih sayang orang tua dan saudara-saudaranya. Sifatnya egois, tidak memedulikan kebutuhan maupun perasaan orang lain. Ia sering membangkang dan menentang kehendak atau perintah orang tuanya.

Meskipun diperlakukan dengan buruk, Habil tetap menyayangi saudaranya dan terus menasihatinya. Ia berharap, kata-katanya dapat menjadi obat yang menyembuhkan sakit batin saudaranya. Habil berkata, “Saudaraku, kau telah bertindak sewenang-wenang dan menyimpang dari jalan yang benar. Tekadmu salah, keinginanmu keliru, dan pandanganmu jauh dari kebenaran, Tidak ada hal yang paling layak engkau lakukan saat ini kecuali memohon ampunan kepada Allah dan kembali dari kesesatanmu. Namun jika tekadmu sudah bulat dan keputusanmu telah mantap, lakukanlah apa yang ingin kaulakukan, Aku serahkan segala urusanku kepada Allah. Aku tak mau menentang kehendakNya dan aku tak mau hatiku disentuh pengaruh yang membuatku membangkang kepada-Nya. Lakukanlah apa yang ingin kau lakukan dan tanggunglah segala dosa serta akibatnya. Jika kau ikuti bujukan hawa nafsu, niscaya kau akan menjadi penghuni neraka. ltulah balasan bagi orang yang berbuat aniaya.”

Pertalian darah di antara mereka tidak dapat meredam amarah dan kebencian yang telah bersarang dalam hati Qabil. Dendam telah menyala dalam dadanya, tak dapat dipadamkan. Tak ada lagi kelembutan dan cinta kasih yang berembus dalam jiwanya. Dendam dan kebenciannya itu sama sekali tak terpadamkan oleh nasihat, bujuk rayu, dan kata-kata lembut orangtua dan saudaranya. Ia tak lagi merasa takut kepada Allah. Ia abaikan nasihat orangtuanya. Akibatnya, ia menjadi manusia pertama yang berbuat kezaliman dan kejahatan di muka bumi.

Pada suatu hari, peristiwa yang memilukan itu terjadi, Qabil melakukan kejahatan dan kezaliman yang dipicu oleh pikiran yang kotor dan jiwa yang tunduk pada hawa nafsu. Habil mati dibunuh saudaranya sendiri yang hatinya diliputi kebodohan dan cinta buta. Ia dibunuh ketika berada jauh dari tempat tinggalnya. Maut merenggut keceriaan dan kebahagiaan yang selalu meliputi dirinya. Adam tak mengetahui peristiwa itu. Ia merasa kehilangan karena selama beberapa hari tak bertemu dengan putranya, Habil. Semakin hari, ia merasa semakin kesepian, begitu pun istrinya, Hawa. Akhirnya ia pergi untuk mencari putranya. Sepanjang perjalanan, ia berharap dapat menemukan putranya, atau jejak-jejak kepergiannya. Hatinya diliputi kerinduan, kegelisahan, dan keinginan untuk segera bertemu. Sebelum pergi, Adam menanyakan kabar Habil kepada Qabil. Namun Qabil menjawabnya dengan angkuh dan sambil lalu, “Aku bukan wakilnya. Aku pun bukan penjaga atau pelindungnya.” Setelah mencari beberapa lama dan menelisik keterangan dari Qabil Adam mengetahui bahwa Habil telah dibunuh saudaranya sendiri. Ia terdiam dirundung pilu dan kepedihan. Kepergian putranya itu membangkitkan duka yang mendera jiwanya. Ia bersedih ditinggalkan Habil, Ia marah dan berduka melihat kesombongan Qabil.

Kukatakan pada diriku sendiri dengan penuh rasa duka

Semoga kata-kataku menjadi pelipur kepedihan dan lara

Salah satu tanganku telah melukaiku tanpa dia kehendaki

Habil adalah manusia pertama yang dibunuh di muka bumi. Setelah membunuh saudaranya, Qabil kebingungan, bagaimana menyembunyikan jasad Habil. la panggul mayat saudaranya itu berjalan dari satu tempat ke ternpat lain. Jasad saudaranya itu hanya ditutupi dedaunan dan kulit pohon. Selama berjalan, Qabil merasa resah, gelisah, dan gundah. Ia terjebak dalam pertarungan antara rasa sayang dan dendam. Lelah berjalan, ia duduk beristirahat sambil terus berpikir, bagaimana menyembunyikan mayat saudaranya itu. Ia duduk tersiksa diliputi perasaan berdosa. Ia habiskan malam itu berbantalkan kesedihan, kegelisahan, dan kehinaan. Keesokan harinya, mayat Habil yang dibiarkan tergeletak menebarkan bau busuk yang menusuk penciuman. Qabil semakin gelisah dan bingung. Ia belum juga menemukan cara untuk menyembunyikan jasad saudaranya.

Allah berkehendak mengilhamkan cara yang paling baik untuk memelihara jasad manusia yang suci. Dia berkehendak menyelamatkan kemuliaan manusia meskipun jasadnya telah terbujur kaku. Allah memberikan pelajaran yang keras kepada putra Adam ini. Ia tak layak mendapatkan wahyu atau ilham sehingga ia harus menjadi murid seekor burung gagak. Allah mengajarkan cara untuk memelihara jasad manusia melalui seekor burung. Anak manusia itu harus tunduk di hadapan seekor gagak yang mengajarinya cara memelihara mayat, kesombongan dan keangkuhannya luruh di hadapan makhluk yang kecil dan berbulu hitam. Kehorrnatan dirinya hilang, jiwanya menjadi kerdil dan hatinya terluka setelah mendapat pelajaran yang diperolehnya dengan penuh kehinaan.

Allah mengutus dua ekor burung gagak. Mereka berkelahi dan salah seekor burung itu membunuh burung lainnya. Burung yang menang menggali lubang dengan paruhnya kemudian meletakkan bangkai burung lawannya ke dalam lubang itu. Qabil menyaksikan peristiwa itu disertai kepedihan dan penyesalan yang mendalam. la berkata, “Celakalah Aku. Mengapa aku tidak dapat berbuat seperti yang dilakukan burung-burung gagak itu untuk menguburkan saudaraku ini.” [QS Al-Ma’idah: 31]

Oleh : M. Ahmad Jadul Mawla, M. Abu Al Fadhl Ibrahim

Baca juga : 

20191211_195839

About Auther:

Info Biografi