toyota-ads

Akhlak Rasulullah

muhammad14

Alkisah, Rasulullah SAW pernah ditanya, “Perbuatan apakah yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam surga?” Beliau menjawab, “Bertakwa kepada Allah dan berbudi pekerti yang baik” (HR Tirmidzi).

Hal ini berarti pentingnya akhlak mulia bagi seorang mukmin semata-mata demi mendatangkan ridha dan cinta Allah SWT serta meraih cinta dari hamba Allah lainnya di alam fana ini. Sebagaimana Allah mencintai orang-orang yang bertakwa dan menebarkan kebaikan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam konsep struktur ajaran Islam, akhlak menempati urutan kedua setelah ajaran inti, yakni tauhid. Artinya, akhlak Islami seharusnya dijiwai oleh makna laailaahaillallah. Sementara, syariah menempati urutan ketiga dari inti tauhid demikian. Oleh karena itu, syariah dalam Islam harus dijiwai tauhid sekaligus akhlak. Adapun masalah-masalah kehidupan–misalnya kebebasan dan sebagainya–harus terikat atau dijiwai syariat Islam.

Dengan demikian, perilaku umat Islam hendaknya sesuai syariat Islam, yang berintikan akhlak dan berpusat pada tauhid. Dengan demikian, kita memandang manusia bukan hanya soal jasmani, melainkan juga rohani manusia berasal dari pancaran cahaya Allah.

Diutusnya Rasulullah SAW ke muka bumi membawa risalah paling utama, yakni innama bu’its tu li utamima makarimal akhlaq, yang intinya untuk perbaikan akhlak manusia. Oleh karena itu, pengurus takmir masjid, khatib, mubaligh, dan dai sebagai pewaris ajaran Nabi Muhammad SAW mengemban misi penting menerjemahkan akhlak sebagai perilaku sehari- hari sebagaimana risalah kenabian. Peran itu sangat penting digembleng melalui masjid, pesantren, dan perguruan Islam untuk melakukan gerakan perbaikan etika, akhlak, dan moral guna menyelamatkan bangsa dari bahaya kehancuran.

Kata akhlak merupakan bentuk jamak dari kata al- khuluq, atau al-khulq, yang secara etimologis berarti (1) tabiat, budi pekerti, (2) kebiasaan atau adat, (3) keperwiraan, kesatriaan, kejantanan, (4) agama, dan (5) kemarahan (al-gadab).

Karena akhlak merupakan suatu keadaan yang melekat di dalam jiwa, maka suatu perbuatan baru disebut akhlak kalau memenuhi beberapa syarat. Pertama, perbuatan itu dilakukan secara berulang-ulang. Bila dilakukan sesekali saja, tidak dapat disebut akhlak. Kedua, perbuatan itu timbul dengan mudah tanpa dipikirkan atau diteliti lebih dulu sehingga benar-benar telah menjadi suatu kebiasaan.

Akhlak menempati posisi yang sangat penting dalam Islam sehingga setiap aspek dari ajaran agama ini selalu berorientasi pada pembentukan dan pembinaan akhlak yang mulia, yang disebut akhlakul karimah. Hal ini antara lain tercantum dalam hadis Rasulullah SAW, Sesungguhnya saya diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. (HR Ahmad, Baihaki, dan Malik). Pada riwayat lain Rasulullah SAW bersabda, Mukmin yang paling sempurna imannya adalah orang yang paling baik akhlaknya (HR Tirmizi).

Akhlak Nabi SAW disebut dengan akhlak Islam karena bersumber dari Alquran dan Alquran datang dari Allah SWT. Karena itu, akhlak Islam berbeda dengan akhlak ciptaan manusia (wad’iyah). Ayat Alquran paling sarat memuji Nabi Muhammad SAW adalah ayat berbunyi, “Wa innaka la’ala khuluqin `azhim”, yang artinya sesungguhnya engkau (hai Muhammad) memiliki akhlak yang sangat agung.

Kata khuluqberarti akhlak secara linguistik mempunyai akar kata yang sama dengan khalqyang berarti ciptaan. Bedanya kalau kalau khalqlebih bermakna ciptaan Allah yang bersifat lahiriah dan fisikal, maka khuluqadalah ciptaan Allah yang bersifat batiniah.

Seorang sahabat pernah mengenang Nabi Muhammad SAW yang mulia dengan kalimat kana rasulullah ahsanan nasi khalqan wa khuluqanbahwa Rasulullah SAW adalah manusia yang terbaik secara khalqdan khuluq. Dengan demikian, Nabi Muhammad SAW adalah manusia sempurna dalam segala aspek, baik lahiriah maupun batiniah.

Kesempurnaan lahiriah beliau sering kita dengar dari riwayat para sahabat yang melaporkan tentang sifat-sifat beliau. Hindun bin Abi Halah, misalnya, mendeskripsikan sifat-sifat lahiriah beliau bahwa Nabi Muhammad SAW adalah seorang manusia yang sangat anggun, yang wajahnya bercahaya bagaikan bulan purnama pada saat sempurnanya. Badannya tinggi sedang.

Akhlak Nabi Muhammad SAW adalah cerminan Alquran. Bahkan, beliau sendiri adalah Alquran hidup yang hadir di tengah-tengah umat manusia. Membaca dan menghayati akhlak beliau berarti membaca dan menghayati isi kandungan Alquran. Itulah mengapa Siti Aisyah berkata akhlak Nabi adalah Alquran.

Oleh : Aji Setiawan, Sumber : Republika

Artikel Pilihan  

Ayo bagikan sebagai sedekah…

caldera-rafting

Rafting Seru Discount 10%  

Toyota C-HR
Promo Toyota Termurah Seluruh Indonesia dari Auto2000, Dealer Resmi Toyota
Kebahagiaan Bersama Cucu

Warisan 1 Milyar

Kartu Kredit Syariah DAFTAR SEKARANG
Hello. Add your message here.