BAI’AT ALI BIN ABI THALIB DAN AZ-ZUBAIR TERHADAP ABU BAKAR

islamic-background12

Al-Hafizh Abu Bakar al-Baihaqi berkata, “Kami diberitahukan oleh Abul Hasan Ali bin Muhammad al-Hafizh al-Isfirayini, dia berkata, telah berkata kepada kami Abu Ali al-Husain bin Ali al-Hafizh, dia berkata, telah berkata kepada kami Abu Bakar Muhammad Ibnu Ishaq bin Khuzaimah, dan Ibrahim bin Abi Thalib, keduanya berkata, telah berkata kepada kami Bandar bin Bassyar,94 telah berkata kepada kami Abu Hisyam al-Makhzumi, dia berkata, telah berkata kepada kami Wuhaib, dia berkata, telah berkata kepada kami Dawud bin Abi Hind, dia berkata,’ Kami diberitakan dari Abu Yadhrah dari Abu Sa’id al-Khudri, dia berkata, ‘Ketika Rasulullah saw. wafat, orang-orang berkumpul di rumah Sa’ad bin Ubadah. Sementara di tengah mereka hadir Abu Bakar dan Umar. Maka seorang pembicara berdiri dari kalangan Anshar sambil berkata, ‘Tahukah kalian bahwa Rasulullah saw. dari golongan Muhajirin, dan penggantinya dari kaum Muhajirin juga, sedangkan kami adalah penolong Rasulullah saw. sekaligus penolong orang yang meng-gantikan posisinya, maka berdirilah Umar dan berkata, ‘Sesungguhnya pembicara kalian benar! Jika kalian katakan selain itu, maka kami tidak akan membai’at kalian, lalu Umar segera meraih tangán Abu Bakar sambil berkata, ‘Inilah pemimpin kalian, bait’atlah dia!’ Umar mulai membai’atnya lalu diikuti oleh kaum Muhajirin dan Anshar.

Setelah itu Abu Bakar naik ke atas mimbar, kemudian ia mencari az-Zubair di antara kaum muslimin namun tidak menemukannya. Maka seseo-rang perintahkan untuk memanggil Zubair. Tak lama kemudian Zubair datang menghadapnya. Abu Bakar berkata, ‘Wahai pengawal dan sepupu Rasulullah saw., apakah kamu ingin memecah belah persatuan kaum muslimin?’ az-Zubair menjawab, ‘Janganlah engkau menghukumku wahai khalifah Rasul!’ Az-Zubair segera berdiri dan membaiatnya. Kemudian Abu Bakar tidak pula melihat Ali, maka beliau perintahkan agar memanggil Ali. Tak lama kemudian Ali datang. Abu Bakar berkata padanya, ‘Wahai sepupu Rasulullah saw. dan menantunya apakah engkau ingin memecah belah persatuan kaum muslimin?’ Ali menjawab, ‘Tidak, janganlah engkau menghukumku wahai Khalifah Rasulullah saw.!’ Maka Ali segera membai’atnya. Begitulah yang sebenarnya terjadi dan seperti itulah kira-kira maknanya.”

img_20191004_160252_923

Abu Ali al-Hafizh berkata,”Aku mendengar Muhammad Ibnu Ishaq bin Khuzaimah berkata, Muslim bin Hajjaj datang kepadaku menanyakan perihal hadits ini, maka aku tuliskan hadits ini dalam sebuah kertas kemudian aku bacakan untuknya, maka dia berkata, ‘Hadits ini senilai dengan satu ekor unta?’ Kujawab, ‘Seekor unta? Tidak! bahkan hadits ini senilai dengan badrah (7000 dinar).”

Ali bin ‘Ashim meriwayatkan dari jalur al-Jurairi, dari Abu Nadhrah dari Abu Sa’id al-Khudri, kemudian dia menyebutkan kisah yang semakna dengan di atas. Sanad ini shahih dari hadits Abu Nadhrah al-Munzir bin Malik bin Quta’ah, dari Abu Sa’id Sa’ad bin Malik bin Sinan al-Khudri.

BEBERAPA FAEDAH PENTING

Dalam riwayat ini banyak sekali manfaat besar yang dapat dipetik di antaranya, tentang bai’at Ali terhadap Abu Bakar. Kejadian ini terjadi di hari pertama ataupun di hari kedua setelah Rasulullah saw. wafat. Itulah pendapat yang benar, sebab Ali bin Abi Thalib tidak pernah berpisah dengan Abu Bakar ash-Shiddiq ra. sesaatpun, dan Ali sendiri tidak pernah berhenti shalat di belakangnya. Sebagaimana yang akan kami sebutkan nanti. Bahkan Ali turut keluar bersamanya menuju Dzul Qashshah ketika Abu Bakar ash-Shiddiq ra. menghunus pedangnya ingin menumpas orang-orang yang murtad, sebagaimana yang kelak akan kami terangkan. Namun karena Fathimah sedikit kesal terhadap Abu Bakar disebabkan persepsinya yang salah mengenai warisan Rasulullah saw., ia tidak mengetahui bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda, “Kami tidak mewarisi apa-apa, dan apa yang kutinggalkan adalah sedekah” Oleh karena itu Abu Bakar ash-Shiddiq ra. Tidak memberikan warisan Rasulullah saw. kepadanya, kepada para istrinya maupun paman-pamannya berdasarkan hadits yang jelas ini, sebagaimana kelak akan kami terangkan pada waktunya. Fathimah memohon padanya agar Ali dapat mengurus tanah Rasulullah saw. yang berada di Khaibar dan di Fadak, namun Abu Bakar tidak mengabulkan per-mintaannya, sebab dia berpendapat bahwa di atas pundaknyalah kewajiban mengurus seluruh tanah milik Rasulullah saw. Abu Bakar adalah orang yang jujur, baik, mendapat petunjuk, dan selalu mengikuti kebenaran.

Akhirnya muncul dari dalam diri Fathimah rasa marah dan kesal ter-hadapnya -apalagi Fathimah adalah seorang wanita yang tidak ma’shum wajar jika ia memboikot Abu Bakar ash-Shiddiq ra. hingga wafat. Oleh karena itu Ali berusaha menjaga perasaan istrinya dengan berbuat apa-apa yang dianggap dapat menyenangkannya. Namun ketika Fathimah wafat persis enam bulan sejak wafatnya Rasulullah saw., Ali memandang perlu memperbaharui bai’atnya terhadap Abu Bakar, sebagaimana yang kelak akan kita sebutkan dalam Shahihain dan kitab-kitab lain-lainnya insya Allah. Walaupun sebelum-nya Ali telah membai’at Abu Bakar sebelum Rasulullah saw. dimakamkan.

Hal tersebut menguatkan kebenaran perkataan Musa bin Uqbah dalam kitab Maghazinya dari Sa’ad bin Ibrahim, dia berkata, Telah berkata kepada-ku bapakku, bahwa bapaknya -Abdurrhman bin Auf- pernah bersama Umar dan Muhammad bin Maslamah mematahkan pedang Zubair, kemudian Abu Bakar berpidato dan memohon maaf dari para hadirin sambil berkata, Sesungguhnya aku tidak pernah berambisi untuk menjadi pemimpin baik siang maupun malam. Dan aku tidak pernah pula meminta hal tersebut baik sembunyi-sembunyi maupun terangterangan.” Maka orang-orang Muhajirin menerima perkataannya.

Ali dan Zubair berkata, “Kami tidak merasa marah kecuali karena kami tidak diikutkan dalam musyawarah pemilihan kalian, tetapi kami tetap berpandangan bahwa Abu Bakarlah yang paling pantas menjadi pemimpin. Dialah orang yang menemani Rasulullah saw. bersembunyi di dalam gua. Kita telah mengetahui kemulian dan kebaikannya. Dialah yang diperintahkan Rasulullah saw. untuk menjadi imam shalat manusia ketika Rasulullah saw. hidup.” Sanad ini dinilai baik, Alhamdulillah Rabb al-Alamin. 

Oleh : Ibnu Katsir

Ayo bagikan sebagai sedekah…

About Auther:

Info Biografi